Teilen

TAS 233

last update Veröffentlichungsdatum: 19.03.2026 00:54:40

"Kau terlihat terkejut," ucap Max mengamati perubahan ekspresiku.

Aku cepat menggeleng dan kembali tersenyum. "Silakan lanjutkan."

“Oke. Kau akan mulai dari hal paling dasar. Data, arsip, pencatatan koleksi. Kau akan melihat bagaimana sebuah karya masuk, diverifikasi, dinilai, lalu dipersiapkan untuk dilelang.”

Dia mengambil satu berkas dari meja terdekat dan melemparkannya ringan ke arahku. Aku refleks menangkapnya dengan gerakan gugup.

“Pelajari itu.”

Aku membuka sekilas. Isinya daftar karya.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 238

    "Aku lapar sekali," ucapku mengusap perut sambil berjalan lemas ke arah dapur.Pagi datang dengan udara yang masih lembap. Hujan memang sudah berhenti, tapi sisa dinginnya masih terasa di seluruh rumah.Aku baru saja ingin duduk di meja makan saat ibu keluar dari dapur."Antarkan sarapan ini ke kamar tamu."Aku langsung menoleh. "Dia masih di sini?""Iya. Jadi cepatlah.""Kenapa harus aku?" tanyaku refleks. "Dia bisa datang sendiri ke sini. Untuk apa dibawakan seperti—"Tatapan ibu langsung menajam. "Seperti raja?" potongnya.Aku terdiam serba salah."Hei, dia itu bosmu. Dia juga tamu di rumah ini. Kau harus tahu bagaimana bersikap pada tamu."Aku menghempaskan napas. Kesal, tapi tidak bisa membantah lagi. Segera kuambil nampan itu. Isinya roti lapis, telur dan segelas minuman hangat. Langkahku menuju kamar tamu terasa lebih berat dari seharusnya.Aku mengetuk pintu.Tidak ada jawaban.Aku mengetuk lagi.Masih tidak ada."Tuan Sinclair?" teriakku pada daun pintu."Masuk saja." suara M

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 237

    Tanganku terhenti seketika, tak jadi memutar gagang pintu.Kuberanikan diri menoleh kembali padanya. Max masih berdiri dalam posisi sebelumnya. Tatapan mata dan ekspresinya yang ambigu sungguh menyiksa otakku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.Aku tak paham apa sebenarnya yang dia inginkan. Di kantor, dia layaknya seseorang yang selalu bersikap sangat profesional. Namun di sini... dia berubah jadi orang yang membuatku sungguh was-was."Audrey?" Suara ibu kembali terdengar. Sambil menahan napas. Aku membuka pintu dengan cepat lalu keluar dari sana. Ibu yang ingin menyerahkan pakaian Max padaku jadi berdiri bingung sesaat setelah aku melewatinya."Kau mau ke mana?"Aku tak menjawab. Kulanjutkan langkahku menuju ruang tengah. Mencari udara segar. Hujan perlahan turun. Aku menoleh ke jendela dan kembali teringat pada Sam.Langkahku mendekati Max adalah agar aku bisa lebih dekat dengan Sam. Kini, aku mulai mempertanyakan keputusan itu dan berharap, semoga aku tak menyesalinya.Petir p

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 236

    "Aku sungguh minta maaf…" lirihku dari luar pintu kamar mandi di kamarku. "Aku tidak sengaja."Di dalam terdengar suara air keran yang berhenti. Lalu berganti suara Max yang menjawab tenang."Kau tidak perlu minta maaf berulang kali."Aku menunduk, menatap lantai. Mengingat kejadian tadi sungguh membuatku ingin menghilang saja. "Kalian juga harusnya tidak perlu repot mencuci pakaianku. Aku sudah meminta sopir membawakan pakaian yang baru. Yang tadi… bisa dicuci di rumah."Aku menarik napas pelan."Ibu tidak akan membiarkan itu," gumamku termanyun. Tadi saja, ibu menggedor kamarku tanpa belas kasih saat meminta Max masuk membersihkan diri. Setelah dia pulang, Ibu pasti akan mengomeliku habis-habisan."Pintu kamar mandi terbuka.Aku refleks mengangkat kepala dan langsung membeku.Max keluar dengan gaya santainya seperti biasa, sambil merapatkan handuk di pinggangnya. Rambut serta wajahnya sedikit basah. Dadanya yang bidang tertutup singlet tipis, tapi tetap terlihat jelas.Dia berjala

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 235

    Jemarinya yang hangat masih menempel di kulit jariku."Maaf!" Aku refleks menarik tanganku menjauh. Tapi gerakan yang terlalu cepat itu justru membuatku kehilangan keseimbangan hingga nyaris tersungkur dari kursi.Max sigap menahan tubuhku. "Hati-hati," ucapnya dengan wajah cemas. Aku membeku. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya ada tatapan serta sesuatu yang sulit dijelaskan menggantung di antara kami."Apa kau selalu ceroboh seperti ini?" Max yang lebih dulu bersuara. Pertanyaannya itu langsung mengingatkanku pada Sam hingga aku lekas menarik tubuhku kembali.Dia melepaskan tangannya perlahan walau tatapannya belum benar-benar pergi.Aku langsung memalingkan wajah, memperbaiki posisi dudukku kembali.Ruang rapat mulai ramai oleh suara kursi yang digeser dan berkas yang ditutup. Orang-orang berdiri, saling berjabat tangan, lalu keluar satu per satu.Untungnya tidak ada yang memperhatikan kami."Kau tidak apa-apa?"Suara Max terdengar lagi. Kali ini tidak sepelan se

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 234

    Aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk melihat siapa yang datang. Tatapanku pertama kali menemukan ibu yang duduk tegak di sofa. Lalu perlahan bergeser ke sofa di seberangnya.“Hai, Audrey. Kau baru pulang?”Aku terhenyak sesaat. Rasa tegang yang sempat mengikat dadaku perlahan mereda saat menyadari siapa tamunya. Setidaknya bukan sosok yang sejak tadi menghantui pikiranku.Sarah tersenyum menatapku, ramah seperti biasa, seolah tidak ada yang aneh dengan kehadirannya di sini.“Dia menunggumu sejak tadi,” ucap ibu datar.Tidak ada senyum. Tidak ada juga kemarahan. Tapi jelas dari wajahnya, ibu tidak menyukai kedatangan mendadak ini.“Maaf sudah membuatmu menunggu,” kataku, lalu segera menghampiri.Sarah menyentuh tanganku dengan hangat saat aku duduk di sampingnya. Di meja, secangkir teh dan beberapa kudapan sudah tersaji rapi.“Tidak apa-apa,” jawabnya ringan. “Aku kebetulan lewat dan teringat padamu. Maaf tidak sempat menjengukmu di rumah sakit.”Aku sempat melirik ibu, yang masih

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 233

    "Kau terlihat terkejut," ucap Max mengamati perubahan ekspresiku.Aku cepat menggeleng dan kembali tersenyum. "Silakan lanjutkan."“Oke. Kau akan mulai dari hal paling dasar. Data, arsip, pencatatan koleksi. Kau akan melihat bagaimana sebuah karya masuk, diverifikasi, dinilai, lalu dipersiapkan untuk dilelang.”Dia mengambil satu berkas dari meja terdekat dan melemparkannya ringan ke arahku. Aku refleks menangkapnya dengan gerakan gugup.“Pelajari itu.”Aku membuka sekilas. Isinya daftar karya. Nama seniman, tahun, kondisi, estimasi harga.“Ini baru permukaan,” lanjut Max. Dia berjalan pelan mengitari meja. “Nanti kau akan ikut rapat. Mendengar negosiasi. Melihat bagaimana kami menentukan siapa yang layak diundang… dan siapa yang tidak.”Aku menggigit bibir. “Dan acara?”Max melirikku.“Tentu saja.” Nada suaranya ringan, tapi penuh arti. “Ada gala lelang preview tiga bulan dari sekarang.”Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.Max menyadarinya. Aku yakin itu.“Kau akan membantu persi

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status