LOGINSore itu, aku menghubungi Max.Dia mengangkat panggilanku tidak sampai dua dering."Ada apa?" tanyanya santai."Aku mau bertanya soal barang yang kutitipkan lewat sopir beberapa hari lalu."Max langsung terkekeh kecil. "Kau sepertinya sangat penasaran.""Tentu saja." Aku menatap lantai marmer yang mengilap di hadapanku. "Aku lebih butuh kebenaran daripada prasangka."Beberapa detik kami sama-sama diam.Lalu aku bertanya balik. "Kau sendiri, sudah menemukan bukti-bukti yang kau cari?"Max berdecak. "Kau akan terkejut kalau aku menunjukkannya."Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Aku tidak perlu penjelasan lebih panjang. Artinya semua dugaan kami selama ini benar. Dan Max sudah menemukan apa yang selama ini dia cari."Kau berhasil?" tanyaku pelan."Berkat kau, banyak petunjuk yang kudapat."Aku menggenggam ponsel lebih erat.Aneh. Bukankah ini seharusnya kabar baik? Namun justru dadaku terasa semakin berat."Aku bingung harus sedih atau senang," gumamku.Terdengar tawa kecil dari s
"Ada apa lagi sekarang?"Suara Max terdengar penasaran saat menerima teleponku.Aku berdiri di dekat jendela kantor sambil menatap keluar. Dadaku masih naik turun menahan emosi setelah berbicara dengan Cindy."Yang kau katakan hari itu... Ayo kita cari buktinya," ucapku tanpa bertele-tele.Max terdengar hampir tertawa, tetapi berhasil menahannya. "Kukira kau tidak percaya dengan teoriku. Kau bilang itu omong kosong."Aku mengangguk panjang. menyadari kekeliruanku sendiri. "Aku salah," akuku pelan. "Sekarang, aku rasa semua hal perlu diselidiki. Apalagi kalau menyangkut nama baik Sam."Max kemudian bertanya, "Kau yakin siap melakukannya?""Aku siap." Jawabanku keluar tanpa ragu."Kau juga siap menerima segala konsekuensinya?"Aku menggigit bibir. Suara Max kembali terdengar, lebih menekan."Termasuk kehilangan orang yang kau sayangi?"Aku benar-benar terdiam. Jantungku berdebar karena aku tahu apa yang dia maksud. Untuk sesaat, aku merasa ragu. "Audrey... kalau kau mau bertindak, kau
Hari itu, karena Max sudah masuk kantor, aku langsung menemuinya. Rasa penasaran yang kutahan-tahan tak lagi bisa kutekan lebih lama. Kepalaku nyaris meledak karena terus memikirkannya. "Kau pasti tahu siapa orangnya, kan?" Aku langsung melontarkan pertanyaan tanpa banyak basa-basi pada Max. Pria itu berdiri di dekat jendela menatap ke luar beberapa saat sebelum menjawab."Aku memang mencurigai seseorang." Dia menyilangkan tangan di dada. "Dan waktu itu di rumah duka, dia terlihat sangat gelisah setelah menerima telepon.""Siapa?" tanyaku cepat. "Siapa dia?""Dia salah satu dokter di rumah sakit." Max berhenti sejenak. "Namanya Dokter Andrew."Aku langsung tercengang. "Dokter?"Mataku membesar. "Mereka bekerja bersama?"Max mengangguk singkat."Jadi selama ini mereka selingkuh sambil bekerja?"Rasanya sulit dipercaya. Namun semakin kupikirkan, semua semakin masuk akal.Tiba-tiba aku teringat bagaimana reaksi Cindy saat mengetahui hubunganku dengan Sam. Dia memang marah, tetapi tid
Aku spontan duduk lebih tegak dengan tubuh menegang."Tidak. Tidak mungkin...," gumamku tak yakin.Dengan tangan gemetar, aku memutar ulang rekaman itu dari awal.Mendengarkannya sekali lagi.Lalu sekali lagi.Dan sekali lagi.Setiap kali hasilnya tetap sama. Aku tidak salah dengar. Isi percakapan itu benar-benar di luar dugaan. Bahkan setelah mendengarnya berulang kali, aku masih sulit mempercayainya.Karena jika isi percakapan itu benar...Maka banyak hal yang selama ini kuanggap sebagai kebetulan ternyata bukan kebetulan sama sekali.Dan yang lebih mengerikan...Kemungkinan besar seseorang telah berbohong kepada kami semua sejak awal.**Max pulang dari rumah duka keluarga Arsen lebih cepat setelah aku menghubunginya dan memintanya datang menemuiku.Sejak turun dari taksi tadi, aku terus duduk di teras rumah tanpa berpindah tempat. Pikiranku dipenuhi potongan-potongan kejadian dari masa lalu. Serta kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang terus berputar di benakku.Suara mesin mobil
Aku menatap pesan itu beberapa saat. Lalu menghela napas panjang."Baiklah," gumamku lesu.Kalau Max harus menyuruhku melakukan ini di tengah suasana duka seperti sekarang, pasti ada alasan kuat.Akhirnya aku menyusul Cindy. Kutemukan wanita itu berhenti di sudut yang jauh lebih sepi dari ruang utama.Kepalanya celingukan beberapa kali sebelum dia mengeluarkan ponsel.Untungnya, aku sudah bersembunyi di balik pilar besar sambil mengintip hati-hati. “Kenapa kau bersamanya?” suara Cindy terdengar samar. Dia mungkin marah. “Kau sudah tahu kau tidak seharusnya muncul di sini.”Aku langsung memfokuskan pendengaran. Sayangnya suara lawan bicaranya tidak terdengar sama sekali. Hanya suara Cindy yang sesekali sampai ke telingaku.Nada bicaranya menunjukkan bahwa percakapan itu bukan percakapan biasa. Entah dengan siapa dia bicara. Yang jelas, orang itu membuatnya sangat gelisah.Aku semakin penasaran. Dengan sangat hati-hati, aku mulai bergerak mendekat. Selangkah demi selangkah. Sebisa mung
Rahang Cindy beradu keras.Otot di wajahnya menegang, sementara tatapannya menyiratkan seolah dia ingin melumatku hidup-hidup saat itu juga. Dia jelas tidak terima ditantang seperti ini. Terlebih olehku.Aku menatapnya tanpa berkedip."Apa kau akan membuatku terkena serangan jantung juga?" tanyaku tajam.Mata Cindy langsung membesar karena marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Namun alih-alih menyangkal, dia justru mendekat dan berkata pelan dengan senyum tipis yang membuat bulu kudukku meremang."Kau benar. Aku memang memberitahu mendiang ayah mertuaku tentang perselingkuhan kalian."Tanganku langsung mengepal. Seharusnya aku tidak terkejut. Sejak awal aku sudah mencurigainya. Tetapi mendengar pengakuan itu keluar langsung dari mulutnya tetap membuat dadaku sesak.Dia benar-benar melakukannya. Sungguh jahat."Pria tua itu sangat terkejut," lanjut Cindy santai. "Dan tidak bisa menguasai dirinya."Senyumnya semakin sinis."Itu artinya dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya
“Paman, kita mau ke mana?” tanyaku mulai panik. Raut ketakutan tak lagi bisa kusembunyikan.Mobil terus melaju meninggalkan kota. Jalanan terasa lebih sepi.Paman Kyle menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Rumah paman sekarang bukan di kota lagi, Audrey.”Aku menoleh cepat. “Maksudnya?”
Ibu membalikkan badan, membawa tasku pergi. Langkahnya tergesa dan tegas, jelas tak ingin memberiku kesempatan bicara lagi. Aku bangkit dengan panik mengejarnya. “Kumohon, Bu! Kali ini saja!” Suaraku pecah, penuh ketakutan. Ibu tidak menoleh. Tangannya menarik kunci kamarku dan keluar. Aku tiba
“Jangan pilih aku, Sean,” pintaku dalam hati.Kepalaku menggeleng pelan ke arahnya. Gerakan kecil itu hampir tak terlihat, tapi aku berharap dia mengerti. Jangan seret dirimu lebih jauh. Jangan hancurkan hidupmu karena kesalahanku.Sean menatapku lama. Tatapannya berat, seperti mencari jawaban di w
“Ibu tak mau dengar apa pun!” Suara Cindy memecah udara seperti ledakan kecil yang menggema di ruang tamu rumah besar itu. Langit-langit tinggi dan dinding marmer justru membuat suaranya terdengar semakin keras, seolah seluruh rumah ikut berteriak bersamanya. Aku yang berdiri di samping Sean seg







