LOGINAku spontan berdiri, menghadap ke arah ibu Sean yang masih menatap kami. Tangannya menenteng snelli, jelas ia baru pulang dari rumah sakit. Wanita hebat ini seorang dokter spesialis kandungan yang karirnya sedang menanjak.
Cindy mendekat dengan langkah mantap. Aku tahu, dia jarang sekali ada di rumah. Sean pernah bilang ibunya terlalu sibuk, bahkan sekadar menyapanya pun sulit. Tapi tiba-tiba akhir pekan ini dia muncul? "Selamat sore, Tante," sapaku cepat, mencoba mengatur napas dan tampak ramah. Cindy mengangguk, tersenyum tipis. "Apa kabar, cantik? Tidak terasa kalian sudah beranjak dewasa." Aku tersipu. "Baik… seperti yang Tante lihat. Tante sendiri bagaimana? Kelihatannya makin sibuk." "Yah, begitulah... banyak tanggung jawab yang harus kau selesaikan jika jadi seorang dokter," jawabnya datar meski senyumnya tak memudar sedikitpun. Tatapannya yang penuh perhatian seolah menusuk. "Oh ya, Audrey... kau mau kuliah di mana nanti?" Aku menggaruk leher, tersenyum malu. Sejujurnya aku belum punya rencana apapun setelah lulus ini. "Aku... masih mempertimbangkan beberapa pilihan." "Kudengar kau termasuk yang terpintar di angkatan Sean. Masuklah di kedokteran, kau pasti cocok di sana." Aku tercekat. Semua tahu kedokteran itu mahal. Bahkan dengan beasiswa, aku yang hanya hidup dari tunjangan pensiun mendiang ayah akan tetap kesulitan. Sebelum aku menjawab, Sam tiba-tiba menyela. Suaranya dalam dan tegas. "Kedokteran bukan satu-satunya jalan untuk orang cerdas. Dia bisa memilih yang lain sesuai passion-nya." Cindy Arsen mengangkat bahu. "Aku hanya menyarankan. Sayang jika kecerdasannya terbuang sia-sia karena salah pilih." Wanita itu lalu menoleh padaku. "Jangan seperti Sean yang asal memilih jurusan." Aku membeku, sementara Sam menatap istrinya dengan tatapan menajam serta rahang mengeras. Saat Cindy melangkah pergi, udara di antara kami mendadak terasa berat. Otakku langsung terkoneksi. Apa mereka berselisih paham soal jurusan kuliah yang Sean ambil? Setahuku, Sean mengikuti jejak ayahnya. Dia telah dipilihkan kampus ternama di luar negeri untuk kuliah arsitekturnya. Tujuannya tentu saja meneruskan perusahaan sang ayah. Tadinya kupikir dia sungguh beruntung. Namun, sepertinya aku sedikit keliru. Ada ketegangan yang tak terucapkan di sana dan aku bisa melihatnya dengan jelas. "Abaikan saja ucapan ibu Sean, dia memang sedikit... ambisius," ucap Sam setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan. Aku mengangguk pelan, ingin berterima kasih saat teriakan lain mengejutkan kami. "Audrey!" Irish datang dengan wajah setengah marah setengah khawatir. “Kau sedang apa di sini?” “Dia terjatuh,” jelas Sam mewakiliku. Irish meliriknya sejenak lalu menatapku. “Pestanya di belakang, bukan di sini.” Lalu sambil mengangguk ramah pada ayah Sean, dia menarikku mendekat. “Maaf, Paman… dia memang kadang linglung.” Aku mendelik kesal padanya. Tapi Irish tak peduli. Matanya sudah tertancap di wajah tampan Sam Arsen, tak berkedip menatap bahu kokoh yang siap menopang segala beban hidup itu. Dada bidang yang akan jadi sandaran ternyaman. Serta bibir seksi yang entah senikmat apa jika mencium. Ugh! Aku sungguh-sungguh tak bisa menahan pikiran liarku tiap melihatnya. Bahkan tanpa provokasi Irish seperti biasa. “Gaun yang cantik,” puji Sam disertai senyum menawannya pada Irish. Namun entah mengapa seolah hatiku yang meleleh. “Terima kasih, Tuan Arsen… mata Anda memang jeli.” Irish balas tersenyum senang sambil menyenggol bahuku. Aku masih terdiam. Menunduk. Meski ikut tersenyum. “Kau memotong rambutmu?” Aku mendongak saat ayah Sean kembali bersuara. Entah bertanya pada siapa. Tapi saat melihat semua mata tertuju padaku, aku terkejut. Bagaimana dia bisa tahu? Aku hanya mengikis sedikit di bagian depan agar beberapa helai menjuntai jadi poni tipis yang menutup pipi. Karena pipiku mudah merona seperti saat ini. Aku mengangguk dengan senyum kaku. Tak tahu harus menjawab apa. “Sangat manis, cocok dengan wajahmu.” Ya, itu hanya sebuah pujian basa-basi. Tapi bagiku, itu sebuah perhatian luar biasa yang membuat detak jantungku berpacu lebih cepat, seakan habis berlari ratusan kilometer. Pria ini memang sangat paham cara menyenangkan orang lain. Terutama, wanita. “Oke, selamat bersenang-senang anak-anak. Nikmati pesta perpisahan kalian.” Sam pamit sambil melambaikan tangan. "Sampai jumpa, Paman!" Saat dia menjauh, Irish berbisik padaku, “Kau benar-benar licik, Audrey Adams. Kau mengambil kesempatan bertemu Sam Arsen saat aku lengah…” Mata sahabatku itu menyipit menatapku penuh curiga. Aku menelan ludah, berusaha menjelaskan. “Ini tidak seperti yang kau pikir, aku tak tahu dia di sini. Dia muncul tiba-tiba dari dalam air dan mengejutkanku.” “Aha?” Kulihat senyum smirk terlintas di wajah Irish. Jelas dia tak percaya alasanku. Tapi kemudian, dia malah menyenggol lenganku sambil berbisik, “Jadi apa saja yang kau dapat lima menit bersamanya?” Aku tergagap dengan pipi yang kembali merona. Apa yang kudapat? Entahlah. Selain pertemuan dengan ibu Sean, pemandangan Sam di hadapanku tadi terlalu memukau. Aku tak bisa memikirkan hal lain apa pun selain terpesona. Padahal ini bukan yang pertama kali. Kami menghabiskan tiga tahun akhir pekan untuk mengintip arsitek sukses itu berenang. Namun tiap kali berhadapan dengannya, lidahku seperti membeku, sementara otakku menjelajah ke hal-hal yang tak seharusnya. “Dia terlihat seperti kuda pejantan liar yang sulit untuk ditaklukkan, tapi begitu menantang.” Irish kembali berbisik dengan gemas. Seolah tahu apa yang kupikirkan. Sementara sosok Sam semakin menjauh, meninggalkan jejak air di lantai batu yang berkilau terkena lampu senja. "Berhenti menatapnya seperti itu, air liurmu nyaris menetes," tegur Sean yang tiba-tiba muncul dari belakang kami. Suaranya membuatku sedikit terlonjak. Teguran itu jelas dia tujukan pada Irish, tapi entah kenapa aku yang malah refleks mengatupkan mulut, seakan aku tertangkap basah. "Ayo, teman-teman sudah menunggu dibelakang." Sean menjentikkan jari untuk mengalihkan perhatian kami ke dunia nyata. "Sean, tunggu!" ucap Irish tiba-tiba menghentikan langkah kami. "Aku tahu sebuah rahasia keluarga kalian," lanjutnya membuat aku dan Sean saling melirik heran. "Kau bukan putra Sam Arsen!" **“Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti
“Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea
"Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t
Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku
Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K







