Share

TERGODA AYAH SAHABATKU
TERGODA AYAH SAHABATKU
Author: Sidney Fellice

TAS 1

last update publish date: 2025-09-23 16:08:29

"Duh, sempit sekali," keluh Irish sambil memaksa menaikkan resleting gaun seksinya. Jemarinya sibuk menarik ke atas, tapi kain ketat itu seperti melawan.

"Bantu aku, Audrey! Benda konyol ini susah rapat."

Aku memutar bola mata dan melangkah mendekat. "Kau memang senang menyusahkan diri. Sudah tahu pakaian ini tidak muat, kenapa masih kau pakai?"

"Diamlah! Gadis yang hanya memakai hoodie dan celana jeans panjang tidak berhak menceramahiku!" balasnya sengit.

Sret!

Resleting berhasil terpasang dengan susah payah. Aku meniup jempol tanganku yang sedikit kesakitan. "Untuk apa kau berpakaian seperti itu? Ini hanya pesta perpisahan pribadi Sean, bukan pesta dansa."

Irish menoleh dan tersenyum kecut. "Kita sudah lulus SMA dan kau masih berlagak polos? Ayolah Audrey, kapan kau benar-benar jadi seorang gadis?"

Aku tertegun. Oke, pakaianku memang tidak modis, tapi secara umur, aku ini gadis yang beranjak dewasa. Meski, aku akui, dunia mode bukan wilayahku.

"Buka bajumu!" perintah Irish tiba-tiba sambil melemparkan sebuah mini dress putih padaku.

"Tidak!" tolakku langsung. Gaun itu terlalu pendek. Satu langkah salah dan siapa pun bisa mengintip dari sela pahaku.

Irish membalikkan badan, menatapku dengan mata melotot. "Pakai sekarang, atau jangan pergi denganku!" ancamnya tanpa belas kasih.

Aku mendesah panjang. Tak punya pilihan. Ini perpisahan sahabat kami yang akan lanjut kuliah di luar negeri. Meskipun aku tak terlalu suka pesta, aku harus hadir. Selain itu… ada hal yang lebih menarik di sana dibandingkan pestanya sendiri.

**

Halaman rumah Sean Arsen sudah dipenuhi deretan kendaraan saat kami tiba. Suara musik dari halaman belakang berdentum hingga ke depan, bercampur riuh dengan teriakan teman-teman kami.

"Cepat, pestanya sudah mulai!" seru Irish langsung melompat keluar dari mobil. Dia terbirit-birit melewati pekarangan samping menuju tempat pesta. Aku mengikutinya dengan langkah lebih santai.

Mataku menyisir pekarangan rumah luas itu. Sangat indah di bawah sinar matahari senja. Rumput hijau terpangkas rapi, lampu taman mulai menyala satu per satu, ditambah aroma bunga dari kebun belakang samar terbawa angin.

Selama tiga tahun ini, aku dan Irish sering berada di sini untuk alasan belajar bersama. Padahal, itu cuma kedok.

Kediaman Arsen memang luar biasa mewah, dengan fasilitas lengkap. Sebagai dua gadis sederhana dari pinggiran kota, kami merasa sangat beruntung bersahabat dengan putra tunggal calon pewaris Arsen Construction. Hidup kami ikut sedikit terjamin.

Namun, di balik itu semua, ada hal yang jauh lebih menggiurkan. Yakni, ketampanan ayah Sean—Sam Arsen—pria yang bisa membuat wanita mana pun bertekuk lutut hanya dengan satu senyuman.

Aku tak percaya tiga tahun kebiasaan ini akan berakhir begitu saja. Saat Sean kuliah di luar negeri, tak ada alasan lagi untuk kami berkunjung ke sini. Dan tanpa alasan itu… kesempatan melihat Sam Arsen akan hilang.

Tanpa sadar, kakiku melangkah melintasi halaman luas dan berhenti di tepi kolam renang. Ini adalah spot favoritku. Tempat yang akan paling sering kukenang nanti.

Byur!

"Ah!" Aku menjerit kecil, jatuh terduduk ke belakang saat seseorang muncul tiba-tiba dari dalam air.

Tetesan air menyiprat ke wajahku, dingin dan membangkitkan detak jantung yang sudah sejak tadi tak normal.

"Audrey?!" suara bariton itu ikut terkejut.

Aku menatap… dan ya, tentu saja. Pria yang kini bertopang di tepi kolam dengan air menetes dari rambut pendeknya yang hitam dan tubuhnya yang kokoh, adalah Sam Arsen.

Salah satu alasan utama aku begitu rajin mengunjungi rumah ini. Dan mungkin… alasan terbesar aku setuju mengenakan mini dress konyol Irish malam ini.

Sam cepat keluar dari kolam dengan tubuh basah dan gerakan gesit. Tetesan air jatuh beruntai di sepanjang otot dadanya, mengikuti lekuk perutnya yang seperti sengaja dipahat. Tak lupa dia menyambar selembar handuk, menutupi area pribadinya yang hanya terbalut celana renang ketat.

Aku menelan ludah.

Ya Tuhan… bagaimana cara mengendalikan mata dan pikiranku? Pemandangan di hadapanku ini sungguh memukau. Wajah super tampan dan tubuh seksi yang kekar, dengan garis rahang tegas yang membuatnya terlihat semakin berwibawa. Perempuan normal mana pun pasti akan tergoda.

Aku mematung, lupa rasa sakit di tubuhku. Bahkan suara musik dari belakang seolah menghilang, hanya tersisa detak jantungku yang berdentum keras.

Sam menghampiri dengan wajah cemas. “Aku mengejutkanmu, ya?”

Kugelengkan kepalaku dengan cepat. “Tidak, lantainya licin.” Kuharap alasan itu tak membuatnya merasa bersalah lagi.

Tangan kekarnya membantuku berdiri. Jemarinya dingin, kontras dengan kulitku yang hangat bahkan seakan memanas tanpa sebab yang jelas. Masih terlihat cemas, dia bertanya, “Kakimu mungkin sakit? Duduklah.”

Aku menurut saja. Padahal biasanya aku akan lari menghindar begitu dia datang mendekat. Bukan karena takut, tapi malu. Takut dia melihat wajahku yang merona atau mendengar degub jantungku yang kian tak karuan karena kehadirannya.

Sejak awal bertemu, aku telah mengaguminya. Dia sosok pria yang nyaris sempurna. Tampan, kaya, cerdas, pekerja keras, setia, serta sayang keluarga. Dan aku tak tahu sejak kapan, rasa kagum itu mulai berubah arah dan menjadi tak terkendali. Aku mulai mengharapkan sesuatu yang tidak semestinya.

Mungkinkah konyol jika kukatakan bahwa aku tertarik pada ayah sahabatku?

"Kau sudah bertemu, Sean?" tanya Sam menatapku bingung.

Aku mendongak, mata kami bertemu.

Untuk pertama kalinya aku bisa sedekat ini dengannya. Jemarinya masih melingkari lenganku, hawa dingin dari kulitnya merayap ke tubuhku seperti arus listrik yang membuatku nyaris kehilangan napas.

Mata hazel itu menatapku begitu lekat, terlalu lekat, seolah mencoba membaca isi pikiranku. Aromanya… campuran cologne segar dan samar manis yang membuatku ingin memejamkan mata dan bergerak lebih dekat.

"Aku suka..." lirihku tanpa sadar, nyaris terdengar seperti desahan.

Kening Sam berkerut tipis. "Apa?" tanyanya bingung. Hampir berbisik di antara jarak kami yang terlalu dekat.

Sadar akan kebodohanku, aku buru-buru menggeleng. "Ah—itu... aku... aku suka pemandangan di… tempat ini!" suaraku bergetar, mencoba terdengar santai, tapi gagal total.

Sudut bibirnya terangkat, senyum itu… Tuhan, senyum itu berbahaya. Aku tak mau hilang kendali lagi.

Beruntung Sam segera melepaskan genggamannya. Meski kemudian, jemarinya yang besar dan panjang justru bergerak ke puncak kepalaku.

Sial.

Dia mengacak rambutku. Tapi kenapa, setiap sentuhannya terasa seperti mengacak seluruh isi hatiku hingga porak-poranda? Dan yang lebih parah, aku tak ingin dia berhenti. Walau...

"Audrey?"

Sapaan itu memecah gelembung kecil yang baru saja terbentuk di antara aku dan Sam. Kami serempak menoleh. Seorang wanita cantik berdiri tak jauh dari sana. Anggun, terawat, dan berwibawa.

Wanita itu... Cindy Arsen, ibu Sean.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
wah seru bgt kak, lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 291

    Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 290

    Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 289

    Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 288

    "Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 287

    Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 286

    Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 198

    “Untuk apa aku marah?” bisiknya pelan di atas rambutku. “Ini adalah risiko yang wajar jika terjadi.”Aku terdiam merasakan sapuan napasnya yang terasa hangat di pelipisku.“Aku hanya merasa… ini bukan waktunya untukmu,” lanjutnya dengan nada menyesal. “Kau akan terbebani dengan kehamilan ini. Sehar

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 197

    “Sam! Kau mau ke mana?” suara Cindy meninggi, memantul di sepanjang lorong.Sam tidak menoleh.Langkahnya mantap dan cepat. Tangannya tidak melepaskan genggamannya dariku.“Sam!” teriak Cindy lagi. Kali ini nadanya tidak lagi penuh kemenangan, melainkan kebingungan yang nyata.Begitu kami melewati

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 196

    “Sam?" Cindy maju selangkah. Entah untuk mengonfirmasi atau membantah. Tapi Sam lebih dulu kembali bersuara. "Ya, aku yang menyukainya." Penegasan Itu membuat Cindy membeku. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan perlahan mengeras. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Kini dia

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 195

    Cindy berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Napasnya memburu dan matanya langsung menyala ketika melihat jarak kami yang terlalu dekat.Posisi kami saat itu masih sama. Tangan Sam menangkup wajahku, sementara kedua tanganku menggenggam lengannya. Pintu kaca yang sedikit terbuka membuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status