Share

TAS 7

last update publish date: 2025-09-23 16:15:39

Koridor rumah sakit itu terlalu dingin untuk hari yang masih siang.

Aroma antiseptik menusuk hidung, dingin AC menusuk kulit, serta langkah kaki perawat lalu-lalang tanpa henti dari ruang IGD.

Aku baru saja selesai menelepon ibuku yang masih di tempat kerja, menjelaskan dengan terbata-bata tentang kecelakaan yang menimpa Sam ketika mengantarku pulang. Ibuku kaget bukan main.

“Astaga, Audrey… kau tidak apa-apa? Bagaimana dia?” suaranya panik di seberang, sampai aku harus meyakinkannya berulang kali bahwa aku baik-baik saja.

Kecelakaan itu, kata polisi yang menghubungiku lebih dulu, terjadi begitu cepat. Sam membanting setir hingga menabrak tembok. Dia berusaha menghindari seekor anak anjing yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan.

Tapi lebih dari itu, aku yakin pikirannya sedang tidak fokus. "Seharusnya aku menolak diantar pulang," sesalku tiada henti. Aku mengusap ujung mata yang basah ketika dokter keluar dari ruang IGD.

“Keadaannya tidak buruk. Hanya sedikit benturan, beberapa goresan dan lengannya harus dibebat. Dia mungkin butuh istirahat total beberapa hari,” jelasnya tenang.

Meski kata-kata itu seharusnya menenangkan, dadaku tetap penuh cemas. Aku buru-buru memasuki bangsal, langkahku berderap riuh di lantai dingin itu. Langsung menuju ke ranjang Sam yang tak jauh dari pintu masuk.

Pria itu bersandar lemah di ranjang pasien, wajahnya pucat dengan rambut sedikit acak. Namun senyum itu… senyum yang jelas sedang dipaksakan, tetap hadir di bibirnya.

“Hei, kau belum pulang?” tanyanya lirih, seolah tak ingin menambah beban siapa pun di ruangan itu.

Aku merasakan perih di dada. “Maaf… aku…” suaraku tercekat.

Dia mengangkat tangannya pelan, lengan yang lain tampak terbungkus perban. “Jangan merasa bersalah. Ini bukan salahmu.”

Aku menggeleng cepat, mataku panas lagi. “Kalau bukan karena aku, Paman tidak akan ada di jalan itu.”

Sam hanya menghela napas dan kembali tersenyum samar. “Kau tidak perlu memikul yang bukan tanggung jawabmu.”

Tapi aku tak bisa berhenti memikirkan Sean. Bagaimana aku akan menjelaskan ini? Dia bahkan belum sampai ke tempat tujuannya dan sudah ada kejadian besar seperti ini.

Seolah mengerti arah pikiranku, Sam berbisik, “Jangan beritahu Sean. Juga jangan ke Irish. Kau tahu dia tidak pandai menyimpan rahasia.”

Aku hanya bisa mengangguk, meski hati kecilku ragu. Aku duduk di kursi di sampingnya, berusaha menahan tangis yang kembali menggenang. Perlahan tanganku terulur, menyentuh lembut perban yang membungkus lengannya. Dia tampak rapuh, tidak seperti sosok tegas yang biasa kulihat.

Suara langkah tergesa tiba-tiba memecah kebisuan kami.

“Di mana dia?”

Aku spontan menoleh. Cindy Arsen berdiri di ambang pintu dengan wajah campuran cemas dan marah. Snellinya masih terpakai dengan rapi, rambutnya hanya diikat seadanya. Tanpa menyapaku, dia langsung menghampiri ranjang Sam, menyilangkan tangan di dada.

“Bagaimana mungkin kau seceroboh ini?” semprotnya tanpa basa-basi.

Aku terperanjat menatapnya. Bukan pertanyaan tentang keadaan sang suami yang pertama keluar, melainkan kemarahan.

Aku sontak bangkit dan melangkah mundur, memberi jarak. Rasa tidak enak segera merambati dadaku. Seharusnya dia bertanya bagaimana keadaan suaminya. Seharusnya dia memastikan Sam baik-baik saja, bukannya langsung menghakimi.

Akhirnya keputuskan keluar untuk memberi mereka privasi. Meski begitu, langkahku berhenti tak jauh dari pintu. Samar-samar kudengar suara Cindy yang semakin meninggi.

“Kalau Sean tahu kau kecelakaan, bagaimana? Dia mungkin akan kembali sebelum tiba di sana karena panik.”

“Sean tidak akan tahu… kecuali kau yang memberitahunya,” jawab Sam dingin.

“Kau sengaja, ya? Kau sengaja membuat masalah hanya untuk menunjukkan protes bahwa aku salah karena tidak datang ke bandara?”

Sam terdengar menarik napas panjang, mencoba meredam nada suaranya. “Cindy, jangan mulai lagi. Aku tidak sengaja. Menurutmu hal seperti ini bisa kurencanakan?”

“Apa yang tidak bisa kau rencanakan, Sam? Kau pikir aku tidak tahu pikiran apa yang kau tanamkan di kepala Sean hingga dia menurut padamu?"

"Sudah kubilang itu keputusannya sendiri!"

Cindy terdengar mendengus kecut.

"Meskipun kau tak suka keputusannya, sebagai ibu harusnya kau tidak egois. Kapan kau akan lebih mengutamakan putramu dibanding pekerjaan?"

"Jangan terus menerus menyalahkan pasienku. Aku juga punya tanggung jawab,” sela Cindy tak sabar.

“Aku tidak memperdebatkan tanggung jawabmu sebagai dokter. Tapi Sean juga membutuhkan ibunya. Dia butuh dukungan kita sekarang."

Kudengar suara Sam melemah.

"Dia pergi untuk pertama kalinya ke luar negeri. Baginya itu berat. Bukannya hadir, kau justru—”

Telepon tadi di bandara kini semakin jelas dalam ingatanku. Perdebatan mereka rupanya belum berakhir. Malah berlanjut di situasi seperti ini.

“Jangan balikkan ini seolah aku yang salah sepenuhnya. Aku sudah melakukan banyak hal, Sam. Kau hanya mencari kesempatan untuk mencuci otaknya dan membuatku terlihat buruk.”

Aku mengernyit. Tak habis pikir dengan cara berpikir Cindy Arsen. Aku tahu dia wanita yang gila kerja, sibuknya luar biasa, tapi aku tidak menyangka dia seorang istri yang sedingin itu. Dia bahkan belum menanyakan keadaan suaminya dengan sungguh-sungguh, seperti istri pada umumnya. Dia lebih memilih bertengkar.

Ada apa sebenarnya di antara mereka? Tidak mungkin semua ini hanya karena keputusan kuliah Sean.

"Kau sendiri yang membuat dirimu terlihat buruk. Coba tanya dirimu, berapa kali kau ada untuknya saat dia butuh? Haruskah kuingatkan kembali?"

“Jangan melewati batas, Sam. Ingat kesepakatan kita,” suara Cindy kali ini terdengar menahan amarah.

Lalu kudengar kalimat yang membuat keningku makin berkerut rapat.

“Aku sungguh tidak sabar menunggu Sean wisuda agar semua bisa selesai secepatnya. Aku mau mengakhiri ini.”

Selesai? Mengakhiri apa?

Aku menahan napas di balik tembok, menajamkan pendengaran, namun setelah itu perdebatan mereda menjadi gumaman yang tak jelas. Beberapa menit kemudian, Cindy keluar dengan wajah tak puas.

Aku langsung menghadangnya. Sebuah keberanian yang entah datang dari mana.

“Tante…” panggilku hati-hati.

Dia mengangkat alis. “Apa?"

Aku menelan ludah, lalu mengucapkan kalimat yang sejak tadi mengganjal. "Kejadian ini bukan salah Paman, tolong jangan salahkan dia."

Cindy menatapku tajam, lalu tiba-tiba tertawa hambar. “Oh, jadi sekarang kau membelanya juga?”

“Aku tidak di pihak siapa pun. Hanya… aku tidak mau dia merasa sendirian,” jawabku jujur.

"Jadi? Apa yang kau inginkan dariku?"

“Bisakah… tante sedikit lebih peduli pada Paman? Dia baru saja kecelakaan, dia butuh dukungan dan perhatian."

Cindy mendekat, menunduk sedikit hingga wajahnya sejajar denganku. Senyum tipisnya lebih dingin daripada AC koridor ini. “Kenapa aku harus melakukan itu?”

Tercekat. Aku sungguh tak menyangka dia akan menjawab seperti ini. “Tante… kau istrinya, kau yang harusnya…”

“Kalau kau sangat peduli padanya... silakan urus dia dengan baik untukku,” potong Cindy datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasih.

Aku terhenyak.

Dia sama sekali tidak marah, tidak mengusirku, hanya… menantang. Seolah mengatakan, "Kalau kau mau jadi penanggung jawabnya, ambil saja."

"Bagaimana bisa Tante berkata begini?" gumamku mulai kesal.

Cindy tertawa singkat. "Menurutmu?" Perlahan dia makin mendekat hingga jarak kami nyaris tak ada.

"Audrey... kau terlihat begitu perhatian pada suamiku."

Aku tertegun saat bibirnya mendekat ke telingaku dan berbisik tajam, "Mari kita lihat, sebaik apa kau bisa merawatnya."

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Irmyori Setiadi
ditantang nih audrey,, gas apa rem...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 291

    Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 290

    Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 289

    Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 288

    "Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 287

    Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 286

    Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 177

    Kakiku refleks mundur selangkah. Bukan karena aku tak mengenalnya. Tapi justru karena aku sangat mengenalnya dengan baik. Pintu terbuka dari dalam. Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk. Sabuk pengaman terpasang, pintu menutup dan mobil melaju seolah semuanya sudah diatur sejak awal. Dia

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 176

    Sean masuk terlambat. Aku terkejut. Kupikir dia akan beristirahat sampai lukanya pulih. Tapi melihat Sam yang sama sekali tak bereaksi, aku tahu, mereka pasti sudah berdebat sebelumnya. Sepanjang rapat, Sean terlihat keras kepala. Tak lagi mengangguk patuh. Seolah sedang menunjukkan sesuatu. Ent

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 175

    “Ini,” tunjukku pada kotak dan gelas yang kupegang. “Aku tidak butuh perhatianmu. Jangan lakukan ini lagi.”Dia mengernyit. “Aku tidak tahu maksudmu.”Aku mendengus. “Jangan berpura-pura. Fokus saja memberi perhatian pada calon tunanganmu.”Sorot mata Sean menegang. Tanpa menjawabku, dia berdiri da

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 174

    “Pindah?” Kepala divisi berkedip, seolah memastikan dia tidak salah dengar. “Anda bercanda?”Sean menoleh pelan. “Tidak.”“Tapi… kami tidak menerima pemberitahuan soal itu...”“Akan ku urus secepatnya,” jawab Sean datar.Kepala divisi masih berdiri kaku di tempatnya. Kehilangan kata. Karena awal ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status