LOGINAku berdiri kaku. Memperhatikan wanita itu menarik diri dariku dengan gaya elegan. Apa dia pikir kesehatan suaminya sebuah permainan?
Cindy mengangkat alis melihatku bergeming. "Kenapa? Sekarang kau jadi ragu?" Nada ejekan itu sangat memprovokasi. "Aku bisa melakukannya lebih baik darimu," suaraku akhirnya pecah, meski sedikit bergetar, aku berusaha menatap balik matanya. "Peduli pada orang yang kau sayangi bukanlah hal sulit, Bu Dokter. Apalagi jika itu keluargamu sendiri. Hanya orang bodoh yang tidak bisa melakukannya." Sekelebat amarah tampak jelas berkilat di matanya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa kata-kataku menusuk balik. Namun, seperti biasa, Cindy Arsen terlalu pandai menutupinya. Dia hanya mengangkat dagunya sedikit, bibirnya melengkung dalam senyum tipis yang manis. Manis seperti racun. "Aku benar-benar tak sabar melihat itu... Audrey," ujarnya ringan. Setelah itu, dia berbalik, langkahnya cepat. Meninggalkan aroma persaingan mendadak di antara kami. Aku hanya berdiri di sana, kedua tanganku masih mengepal, tubuhku bergetar menahan ledakan emosi yang rasanya sudah menggedor-gedor dadaku, ingin keluar kapan saja. Meski ujung-ujungnya aku hanya bisa tertawa pahit serta bergumam lirih. "Aku akan membuatmu menyesal sudah menantangku!" ** Aku kembali ke bangsal dengan napas yang belum sepenuhnya stabil setelah adu argumen dengan Cindy Arsen di koridor. Tatapan beberapa perawat masih mengikuti langkahku, seolah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku memilih tak mengindahkan mereka. Yang penting sekarang hanya satu: memastikan Sam baik-baik saja. Saat masuk, aku mendengar dua perawat berbincang pelan tentang perpindahan Sam ke ruang rawat. Aku langsung menawarkan diri untuk membantu. Namun Sam, dengan wajah tenangnya yang khas, menolak. “Aku bisa sendiri,” katanya pendek. Seolah-olah luka di pelipis, perban di lengan, dan wajah yang pucat tak ada artinya. Aku mengembuskan napas kesal, kemudian tanpa basa-basi meminta kursi roda pada salah satu perawat. “Tolong, ambilkan. Dia tidak perlu memaksakan diri,” ujarku tegas. Sam sempat menatapku tajam, mungkin merasa harga dirinya direnggut. Aku balas menatapnya dengan sorot tak kalah tegas. “Duduk,” pintaku kali ini, lebih seperti perintah. Aku bukan Cindy yang tak punya empati. Aku di sini karena peduli. Dia boleh keras kepala, tapi aku lebih keras kepala ketika menyangkut kesehatannya. Perawat yang semula tampak ragu kini justru menatap heran melihatku memaksa pria itu. Tak ingin memperpanjang keributan yang bisa menarik perhatian pasien lain, Sam akhirnya menyerah. Dia duduk dengan wajah datar, tangan bersedekap di pangkuan, sementara aku mendorong kursi rodanya menuju ruang rawat. Dalam diam, hatiku masih mendidih. ** "Pulanglah, kau tak perlu menungguiku di sini." Suara Sam terdengar lagi, kali ini lebih pelan, seolah mencoba mengulur kesabaran yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Entah untuk keberapa kalinya dia mengucapkan hal yang sama sejak sore tadi. Namun, aku tetap duduk di kursi plastik yang sudah mulai dingin karena pendingin ruangan. Tak ada niat untuk beranjak meski malam terus merambat naik. Aku sudah membulatkan tekad. Aku akan merawatnya sampai sembuh. "Pria sebaik ini tidak pantas ditelantarkan begitu saja. Jika istrinya tidak mau peduli, aku yang akan memperhatikannya. Lagi pula, wanita itu sendiri yang memberiku semacam lampu hijau untuk 'mengurus' suaminya. Bukankah itu semacam izin tak resmi?" pikirku penuh tekad. Hanya saja, aku punya agenda sendiri. Akan kubuat wanita itu menyesal karena telah menyia-nyiakan pria seperti Sam Arsen. Sam hanya menghela napas, lalu menatapku dari ranjang rumah sakit dengan wajah yang entah harus aku artikan sebagai pasrah atau malas berdebat. Selang infus terpasang di tangannya. Aroma antiseptik samar-samar bercampur dengan wangi buah yang tadi dibawa sekretarisnya saat menjenguk sebentar. Aku sengaja menyibukkan diri dengan mengupas buah itu, mengirisnya rapi, lalu menatanya di piring plastik kecil yang disediakan pihak rumah sakit. Jemariku sedikit gemetar saat meletakkan piring itu di meja samping ranjang, bukan karena gugup, melainkan karena aku terlalu berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu perhatian. "Silakan dimakan, Paman," ucapku singkat, berusaha menjaga nada tetap netral. Sam menatap buah itu, lalu menatapku lagi, seolah hendak mengatakan sesuatu tetapi memilih diam. Apa dia tak senang aku berada di sana? Keheningan itu membuatku gelisah. Aku pun memberanikan diri bertanya, meski sudah bisa menebak jawabannya. "Mau kuambilkan sesuatu di rumah? Mungkin pakaian, peralatan mandi, atau apa pun yang Paman butuhkan?" Dia menggeleng. "Sekretarisku bisa melakukannya kalau aku butuh." Jawaban itu sederhana, bahkan terdengar wajar. Tapi kalimatnya terasa seperti dinding tak kasatmata yang kembali didirikan di antara kami. Aku terdiam, menelan kekecewaan yang tiba-tiba mengganjal di tenggorokan. Sungguh, aku tidak punya hak untuk marah. Namun di saat yang sama, aku juga tak bisa berhenti bertanya-tanya, apakah sikap dinginnya itu karena dia benar-benar tidak ingin merepotkan, atau karena kehadiranku memang tidak diinginkan? Aku hanya bisa duduk kembali, meremas jemari sendiri di atas pangkuan, menatap sosoknya yang kini lebih memilih memejamkan mata. Luka di pelipisnya sudah diperban rapi, namun kulit pucatnya jelas menunjukkan betapa tubuh itu sedang berjuang memulihkan diri. “Kenapa kau sekeras kepala ini, hm?” tanyanya dengan suara yang lebih lembut, berbeda dari biasanya. “Tidakkah kau punya urusan lain?” Aku menatapnya, sedikit kesal karena dia seolah tak mengerti. “Paman, aku di sini bukan karena tidak punya kegiatan. Aku memilih untuk ada di sini. Kalau bukan aku, siapa lagi? Apa kau menunggu istrimu?" Sontak mata Sam terbuka. Pria itu menatapku penuh tanda tanya. "Kita sama-sama tahu dia tidak akan datang, bagaimana aku bisa membiarkan Paman berjuang sembuh sendirian? Bahkan tahu Paman sekarat pun dia masih tidak peduli." Tatapan pria itu berubah jadi sebuah peringatan. “Audrey…” suaranya merendah, nyaris seperti desisan yang menahan sesuatu, entah marah atau kaget. “Jangan asal bicara.” Aku menelan ludah. Hanya satu kalimat, tapi entah mampu membuat suasana kamar itu seketika menegang. “Sean akan sedih kalau tahu Paman seperti ini,” lanjutku, mencoba menutupi rasa gugup yang diam-diam merayap. “Dokter bilang, Paman setidaknya butuh istirahat total beberapa hari ke depan. Itu tidak akan mudah—” “Audrey!” sergahnya kali ini, nadanya sedikit meninggi. Tapi aku tak melihat amarah di sana, justru semacam kepanikan. Seolah aku baru saja menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya kusentuh. Aku balas menatapnya, jantungku ikut-ikutan berpacu. “Apa? Aku hanya bicara yang sebenarnya.” Sam memejamkan mata sebentar, mengembuskan napas berat. Jemarinya yang bebas dari infus tampak mengepal. “Kau tidak mengerti dunia orang dewasa,” ucapnya lirih. “Dan sudah kubilang… jangan memikul beban yang bukan tanggunganmu.” Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Seperti api yang sengaja disulut. Kenapa dia masih berpura-pura kuat, padahal jelas-jelas rapuh? Aku merunduk sedikit, membiarkan jemariku menyentuh pinggiran ranjangnya. “Lalu kenapa?" tanyaku lebih lembut kali ini. “Apa sulitnya membiarkan seseorang… peduli?” “Karena kalau dibiarkan… kau mungkin tidak akan pernah rela melepasnya lagi,” gumamnya mengalihkan pandangan. Aku terdiam, napasku tercekat. Detik itu, aku benar-benar tak tahu siapa yang seharusnya lebih takut. Dia yang berusaha menjaga jarak, atau aku yang justru semakin ingin mendekat? Dia mengembuskan napas panjang lalu berkata, “Pulanglah. Ibumu pasti cemas.” Aku menggeleng cepat. “Sudah kuberitahu padanya. Aku izin menginap di sini.” Sam sontak menoleh padaku. Sorot matanya berubah. Ada keterkejutan yang tak bisa dia sembunyikan, tapi tak satu kata pun keluar setelahnya. Mungkin dia tak menyangka aku akan bertindak sejauh ini. **Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi
Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti
Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a
"Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka
Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B
Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.
"Apa yang kalian lakukan barusan..." Napas Sean tercekat. Bibirnya gemetar mempertanyakan apapun yang dia saksikan tadi. Sam menghela napas dan akhirnya menjawab. “Seperti yang kau lihat... dia bersama Ayah.”Bersamaan dengan itu dia meraih tanganku dan menggenggamnya di depan Sean. Kejadiannya sa
Dia memperdalam ciuman itu dan membuatku makin terhanyut. Tanganku merayap naik ke tengkuknya. “Kau benar-benar akan membuatku lupa waktu,” erangku lemah.“Biarkan saja,” bisiknya di sela desahan napas yang kian memburu. Aku menarik wajah. Mencoba mengatur napas yang kacau. Dia ikut berhenti, mat
"I-ini... rumah untukku?" tanyaku terbata. Aku menatapnya tak percaya.Sam mengangguk mantap. "Ya, untuk kalian berdua." Tangannya sekali lagi bergerak mengelus perutku.Mataku tiba-tiba jadi terasa panas. Air bening menggumpal perlahan di pelupuk mata. Tapi berusaha kutahan. aku tak mau merusak mo
"Aku tak menyangka kau akan membawaku pulang," ucapku tersenyum pada Sam. Tanganku bergelayut manja di lengannya saat kami berdiri berdampingan di balkon kamar. "Mulai sekarang ini rumah kita," jawabnya merangkulku erat.Rumah peristirahatan itu seperti pulau kecil yang terlepas dari dunia luar. K







