Share

TAS 6

last update publish date: 2025-09-23 16:14:38

Tubuhku menabrak seseorang dengan cukup keras. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terpental, ponselku hampir terlepas dari genggaman. Tas selempangku pun melorot hingga ke siku.

“Maaf!” suara berat yang begitu kukenal itu menyusul.

Aku mendongak refleks.

Sam.

Dia meminta maaf untukku pada orang yang kutabrak.

Sebelum aku sempat meraih tasku, tangan kokohnya sudah menarik lenganku. Dia menatap dengan mata yang masih menyimpan sisa emosi dari percakapan telepon tadi, tapi kini ada guratan cemas di sana.

“Kau terluka?” tanyanya, suaranya jauh lebih lembut dibanding beberapa detik lalu.

Aku tergagap. “T-tidak apa-apa. Hanya… terkejut.”

Tangannya masih di sana, menahan lenganku seolah memastikan aku tidak akan jatuh lagi. Hangat. Kali ini, aku tidak yakin siapa yang lebih gugup. Aku yang kepergok mengintip percakapannya, atau dia yang tak menyadari telah memamerkan sisi rapuhnya tepat di hadapanku.

"Soal tadi…" katanya pelan, nadanya seperti menyelidik.

"Tenang saja, aku tidak dengar apa-apa," jawabku cepat, mungkin terlalu cepat hingga terdengar memaksa.

Sam menatapku datar, jelas dia sadar aku bohong. Da tidak bicara sesaat, hanya membiarkan jeda itu menggantung seperti tali yang siap menjerat leherku kapan saja. Aku berusaha terlihat santai, padahal jantungku berdebar tak karuan.

"Apapun itu, jangan beri tahu Sean," katanya tegas. Nada suaranya mengunci, tak memberi ruang tawar.

Aku pun hanya mengangguk pelan.

**

Pesawat yang ditumpangi Sean akhirnya lepas landas, meninggalkan jejak tipis di langit yang perlahan memudar. Aku masih bisa merasakan pelukan eratnya saat kami berpisah di gerbang keberangkatan, seolah pelukan itu hendak menahan semua kata-kata yang tak terucap. Bahkan saat kami berjalan menuju area parkir, sensasi itu masih melekat di pikiranku.

“Ah... sial! Kenapa sekarang?” umpat Irish saat memeriksa ban mobilnya yang mendadak kempis, wajahnya cemberut saat berbalik menatapku.

"Aku bisa pulang naik taksi," ucapku mencoba menenangkannya.

“Tinggalkan saja di sini, panggil tukang derek. Aku akan mengantar kalian pulang,” suara Sam terdengar tenang dari belakang kami.

“Siap, Paman!” sahut Irish tanpa berpikir dua kali.

Bukannya sedih, dia justru terlihat seperti mendapat keberuntungan besar. Dengan cepat dia berjalan riang menuju mobil Sam sambil berjingkrak kecil.

Aku mengikuti langkahnya dengan senyum yang berusaha keras kusembunyikan. Jantungku mulai berulah lagi. Entah karena kelelahan setelah mengantar Sean, atau karena kenyataan bahwa aku akan satu mobil lagi dengan Sam.

Perjalanan dimulai dengan riuh suara Irish. Dia bercerita tentang berbagai hal termasuk rencananya mengambil jurusan desainer. Aku hanya sesekali menimpali, lebih sering mengangguk atau tertawa kecil di sela-sela obrolan.

Di depan, Sam hanya sesekali merespons, suaranya tenang dan tidak pernah kehilangan intonasi yang mapan. Matanya tetap fokus ke jalan, tetapi aku bisa merasakan setiap kali ia sedikit melirik ke spion tengah, memastikan kami baik-baik saja.

Waktu berjalan tanpa terasa. Pemandangan kota berganti menjadi jalanan perumahan yang lebih sepi. Irish akhirnya turun di rumahnya dengan lambaian tangan yang masih riang. Pintu mobil tertutup dan suasana mendadak berubah.

Sunyi.

Hanya suara mesin yang terdengar, pelan, nyaris menjadi latar bagi degup jantungku yang kini makin sulit kukendalikan. Aku duduk tegak di kursi belakang, memandang punggung Sam yang kokoh dari balik sandaran. Sesekali sinar matahari yang mulai tinggi memantul di kaca depan, menyinari sebagian wajahnya yang tegas.

Aku menelan ludah. Tak ada yang bicara. Untuk sekadar bernapas pun aku harus pelan-pelan, khawatir suaranya akan terdengar terlalu keras di ruang senyap itu. Perjalanan mendadak terasa lebih panjang daripada yang seharusnya, seolah waktu sengaja mempermainkan kami berdua.

Di titik ini, aku tidak yakin mana yang lebih sulit, mengendalikan pikiranku, atau menyembunyikan perasaan yang diam-diam mulai tumbuh setiap kali berada di dekatnya.

Keheningan di dalam mobil akhirnya pecah ketika Sam bertanya dengan suara tenang, “Kau sudah memutuskan akan melanjutkan kuliah ke mana?”

Aku menoleh sekilas, berusaha mencari jawaban yang tak kunjung matang. “Belum,” jawabku jujur, suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuharapkan.

Sam mengangguk ringan, matanya tetap fokus ke jalan. “Katakan saja kau mau lanjut ke mana, mungkin aku bisa bantu. Aku mengenal banyak akademisi karena sering mengisi acara kampus.”

Dia tidak menyombong, aku tahu itu. Sam memang kerap diundang menjadi pembicara di beberapa universitas, bahkan beberapa kali menjadi tamu kehormatan. Dan kabarnya juga, dia donatur tetap di salah satu kampus besar.

Namun, aku hanya mengangguk pelan dan berkata lirih, “Terima kasih… aku masih harus berdiskusi dengan ibuku.”

Hening kembali turun, kali ini lebih singkat karena akhirnya Sam berucap, “Pasti menyenangkan bisa saling bertukar pikiran dengan ibumu.”

Aku terkekeh kecil. “Ya, dia sangat protektif,” jawabku bangga, meski kemudian aku menyadari nada ucapannya barusan tidak sepenuhnya sebuah pujian. Ada sedikit satir yang samar, seolah menyimpan rasa iri yang tidak diucapkan.

Aku merasa bersalah dan mencoba mencairkan suasana. “Tapi Sean lebih beruntung karena memiliki Paman,” ujarku lebih keras.

Sam tidak langsung menjawab. Matanya tetap ke depan. Entah apa yang dia pikirkan di balik wajahnya yang tenang itu.

Tanpa sadar, aku melanjutkan, “Aku pasti sangat bangga jika jadi Sean. Memiliki orang tua hebat bukan keberuntungan yang bisa dirasakan setiap anak.”

Samar-samar di spion tengah, kulihat sudut bibir Sam terangkat sedikit. Senyum tipis itu membuatku sedikit lega. Ketegangan yang sejak tadi membebani dadaku perlahan menguap.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumahku. Aku menyempatkan diri berkata sebelum turun, “Jangan terlalu mengkhawatirkan Sean, dia melakukan semua ini karena ingin membanggakan kalian.”

Sam mengangguk singkat. “Terima kasih.”

“Aku yang harus berterima kasih, Paman sudah repot mengantarku.”

“Tak masalah. Aku hanya menggantikan Sean,” guraunya ringan, membuatku tertawa kecil.

Kulambaikan tangan dengan senyum seceria mungkin. Walau di dalam dada ada perih yang sulit kusembunyikan. Karena aku tahu, inilah saatnya kami berpisah.

Mobilnya perlahan menjauh, menelan jarak menuju belokan di ujung jalan.

Aku berbalik dengan langkah lesu, baru beberapa meter berjalan ketika suara hantaman keras memecah udara.

“Kecelakaan!” teriak seorang tetangga sambil menunjuk ke arah belokan jalan.

Aku terkesiap, jantungku seolah melonjak ke tenggorokan.

Mungkinkah…?

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Novitha Bayodo
bagus alur ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 247

    “Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 246

    “Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 245

    "Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 244

    Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 243

    “Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 242

    Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status