LOGINYessica bahkan tidak sadar dirinya mundur sampai punggungnya membentur meja dapur. Kairo mencengkeram tengkuknya. Bibir pria itu langsung menangkap bibir Yessica. Tangannya mencengkeram kemeja Kairo saat pria itu mengambil alih ciuman mereka. Yessica rela memberikan apa pun yang dibutuhkan pria itu. Selalu.
Kairo mengangkat Yessica ke atas meja dapur tanpa pernah melepaskan ciuman mereka. Jari-jari Yessica menyusup ke rambut Kairo yang diikat, tidak peduli jika ikatannya berantakan.Yessica bahkan tidak sadar dirinya mundur sampai punggungnya membentur meja dapur. Kairo mencengkeram tengkuknya. Bibir pria itu langsung menangkap bibir Yessica. Tangannya mencengkeram kemeja Kairo saat pria itu mengambil alih ciuman mereka. Yessica rela memberikan apa pun yang dibutuhkan pria itu. Selalu.Kairo mengangkat Yessica ke atas meja dapur tanpa pernah melepaskan ciuman mereka. Jari-jari Yessica menyusup ke rambut Kairo yang diikat, tidak peduli jika ikatannya berantakan. Ciuman itu terus berlanjut sementara Kairo menggesekkan rudalnya yang keras di antara paha Yessica, membuat gairahnya melambung tinggi. Jari-jari pria itu pun mencengkeram pinggul Yessica, menahannya agar tetap diam untuknya.Bibir Kairo meninggalkan bibir Yessica dan turun menyusuri lehernya, mencium, menggigit, lalu mengisap kulitnya. Yessica menarik napas. Dunia seolah hanya tersisa bibir Kairo di tubuhnya, tekanan rudal pria itu pada rahimnya, dan kebutuhan untuk merasakan pria itu
Malam pun tiba. Yessica masuk ke kamarnya dan meletakkan gelang itu di kotak perhiasan di dalam ruang ganti. Stefan telah memenuhi kotak itu dengan emas, perak, dan batu-batu berharga. Gelang emas matte milik Yessica terlihat sederhana di antara semua perhiasan itu, tetapi benda itu miliknya. Gelang tersebut adalah bagian dari rumah yang selalu dia bawa bersamanya.Neneknya adalah satu-satunya orang yang terasa seperti rumah bagi Yessica saat dia tumbuh dewasa. Aneh rasanya karena sejak tinggal bersama para pria itu, Yessica hampir tidak pernah memikirkan orang tuanya. Sesekali dia menerima pesan random dari ibunya. Pada dasarnya hanya sekadar tanda bahwa wanita itu masih hidup.Saat Yessica menutup laci dan berbalik hendak keluar dari ruang ganti, Andree berdiri di ambang pintu sambil memperhatikannya. Yessica sedikit terkejut dan menekan tangan ke dadanya yang berdebar."Andree."Andree masuk ke ruang ganti dan menutup pintu di belakan
Jari-jari Stefan memainkan helaian rambut yang membingkai wajah Yessica. Jantung Yessica terasa sesak memenuhi dadanya saat ia menatap mata Stefan."Ini akan berhasil kalau kita terus membicarakan kesepakatan antara kamu dan Gresellda. Jangan sembunyikan apa pun yang terjadi di antara kalian, dan kita akan baik-baik saja."Yessica bisa menelan rasa cemburunya. Ia tahu, selama Stefan terlihat bersama Gresellda, Stefan akan tetap pulang kepadanya. Yessicalah yang diinginkan Stefan.***Hampir pukul tiga sore ketika resepsionis mengirim pesan kepada Yessica dan mengatakan ada seseorang yang datang menemuinya. Yessica menatap pintu-pintu yang tertutup. Sore ini semua orang sibuk dengan panggilan telepon atau rapat. Satu-satunya waktu yang benar-benar mereka miliki hanyalah beberapa momen curian di kantor Stefan.Yessica membuka grup.Yessica: Resepsionis bilang ada yang datang menemuiku. Aku turun. Aku nggak akan pergi dari rese
Stefan memberinya senyum miring sambil membuka celananya dan mengeluarkan ereksinya. Gelombang panas baru menyapu tubuh Yessica. Ia membuka kedua kakinya dan membungkuk untuk mencium ujung rudal Stefan."Kamu mau aku melakukan apa yang kuinginkan? Atau kamu mau mengendalikannya?" Stefan mengusap jarinya di sepanjang bagian bawah rudalnya sebelum menggenggam bijinya dengan lembut.Sebuah ketukan terdengar di kantor. Sebelum Stefan sempat mengatakan sesuatu, pintu terbuka dan Giancha masuk."Aku perlu membicarakan berkas."Giancha berhenti dan mendongak. Mata hijaunya menggelap ketika melihat tangan Yessica di biji Stefan dan bibir Yessica yang basah. Ia menutup dan mengunci pintu, sementara tangannya sudah berada di ikat pinggang.Getaran itu terasa semakin intens karena Yessica tahu mereka berdua ingin menidurinya. Mulutnya terbuka ketika klimaks menerjangnya dengan jeritan. Ia memejamkan mata sementara gelombang demi gelombang menghantam
Yessica mengembuskan napas, mengambil tabletnya, lalu berdiri untuk mengikutinya ke kantor. Stefan sebenarnya tidak membutuhkannya. Ini jam kerja, jadi tentu saja yang ia perlukan adalah Yessica menjalankan pekerjaannya. Bahkan pakaian dalam yang sudah disiapkan Stefan untuknya pagi tadi lebih terasa fungsional.Pasrah harus menunggu sampai malam untuk mendapatkan Andree, Yessica duduk di kursi yang berseberangan dengan Stefan dan mengangkat pena, siap mencatat. Tatapannya bertemu dengan tatapan Stefan yang seolah sedang menunggunya."Bagaimana keadaanmu hari ini?" Stefan bersandar di kursinya. Mata biru gelapnya menyusuri seluruh tubuh Yessica, membuatnya langsung bergairah. Putingnya mengeras dan rahimnya menjadi basah.Yessica tidak yakin Stefan ingin tahu seberapa bergairah dirinya."Baik."Stefan mengeluarkan suara dari tenggorokannya seolah tidak percaya. "Sini, tuan Putri."Alis Yessica terangkat mendengar nada suaranya. I
Yessica menarik napas dalam-dalam dan menatap Soniawan. "Aku berterima kasih karena kamu mau membuat lingkungan kerja jauh lebih aman." Ia menggenggam tangan Giancha, kali ini benar-benar membutuhkan kekuatan dari pria itu. "Tapi selama Hayes masih ada di perusahaanmu, kamu akan selalu punya predator di sana."Yessica mengabaikan tatapan penuh amarah Hayes dan tetap fokus pada Soniawan. Tangannya gemetar saat meraih gelas air."Konseling hanya membantu orang yang memang ingin dibantu." Suara Yessica bergetar. "Putramu membuatku tidak mungkin bekerja di perusahaanmu. Dia tidak hanya sekali menjebakku di ruang fotokopi. Dan terakhir kali, ada seseorang yang berjaga supaya tidak ada yang bisa menghentikannya, dan aku tidak tahu apakah kamu bisa memperbaiki masalah itu.""Mungkin kalau kamu bukan pelacur, aku tidak akan punya masalah. Kamu melayani semua orang, kenapa tidak denganku?" dengus Hayes.Kata-kata itu terdengar sangat kasar d
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







