تسجيل الدخولKasur bergerak saat Stefan naik ke atasnya. Kehangatan tubuh pria itu mendekat dari belakang.
"Tapi kami tetap laki-laki. Kami ingin menjadi orang yang ada di pikiranmu saat kamu mencapai puncak. Sekarang, kamu sedang memikirkan siapa?""Kamu, Pak."Tidak ada hal lain yang mampu dipikirkan Yessica selain Stefan. Ia hanya membayangkan kehadiran pria itu. Stefan memisahkan kedua pahanya dengan lembut. Pikiran Yessica sudah benar-benar kacau, hanya menunggu Stefan membSialnya leher pria itu benar-benar sempurna. Ototnya tegang dan denyut nadinya terasa di bawah bibir Yessica. Yessica sangat menginginkan sentuhan Stefan. Dia merasa membutuhkannya untuk bertahan. "Kenapa kamu tidak menyentuhku?" "Tuan Putri, aku tahu kamu merasa sangat nikmat, tapi fokuslah. Kalau kamu menginginkan kami, kami milikmu. Tapi kalau kamu ingin melanjutkan malam ini seperti yang sudah kita rencanakan, kamu harus merasakan kami." Kata-kata Stefan menembus bagian kecil dalam pikiran Yessica yang tahu bahwa dirinya sedang condong menuju sakau, atau sesuatu seperti itu. Sebagian dirinya tidak peduli, tetapi bagian terbesar dalam dirinya tidak ingin meninggalkan ruang permainan. Yessica ingin tetap di sana. Dia ingin mereka semua berada di dalam dirinya. Bersama-sama. Yessica sudah siap. "Aku di sini." Yessica duduk nyaman di pangkuannya. Tangannya memegang wajah Stefan sambil menatap mata biru indah pria itu. Stefan masih akan menidurinya jika Yessica ingin menyerahkan
Kairo mengangkat kepala, dan rambut gelapnya jatuh mengelilingi mereka, mengisolasi keduanya. Ada kilatan di mata Kairo yang membuat rahim Yessica berdenyut di sekeliling rudalnya. Tak satu pun dari mereka berbalik untuk melihat Stefan.Begitu Yessica menatap Stefan, dia akan menyerah. Dia akan tunduk karena itulah yang diinginkan Stefan. Yessica menyukai saat dirinya berada di bawah kendali Stefan, tetapi Kairo senang memberinya kendali, atau setidaknya melawannya untuk mendapatkannya. Sekarang, Yessica ingin membuat Kairo klimaks."Kamu ingin menyerah, Sayang," kata Kairo lembut. Dia menegaskan setiap kata dengan dorongan pinggulnya ke tubuh Yessica. Setiap tusukan membawanya semakin tinggi, semakin dekat ke puncak."Kamu akan melakukan apa pun agar semua pria ini menidurimu seperti jalang yang baik.""Mungkin." Yessica melengkungkan tubuh ke arah Kairo dan kembali mencengkeram rudalnya. "Setidaknya aku akan klimaks seperti jalang yang baik."
Stefan menurunkan bibirnya dan menyentuh bibir Yessica dengan lembut. "Siap, tuan Putri?" Yessica menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Ya." Stefan menggenggam tangan Yessica dan membawanya masuk ke ruang permainan. Pencahayaannya redup, tetapi masih cukup terang untuk kamera yang sudah dipasang di sudut ruangan dengan tripod. Fokusnya mengarah pada bangku kulit dengan bagian tengah yang rendah dan kedua sisi yang melengkung tajam ke atas. Kairo, Andree, dan Giancha sudah telanjang, menunggu mereka. Bagian dalam tubuh Yessica pun bergetar mengetahui apa yang akan segera terjadi. Yessica mengharapkan sedikit rasa sakit, tetapi kenikmatan selalu datang bersamanya. Dia sudah tidak sabar melihat apa yang mereka siapkan untuknya. "Kamu menggoda sekali." Kairo melangkah mendekati Yessica. Jari-jarinya menyelip di bawah tali daster dan menyentuh bahu Yessica yang telanjang. Tangan lainnya menyusup ke bawah daster untuk mencengkeram pinggul Yessica. Tubuh Yessica seketika meri
Yessica berbalik dan berlutut sambil menatap rudal Stefan. "Buka yang lebar." Stefan mendekat sementara Yessica melakukan apa yang diperintahkannya. "Sekarang siapa yang memegang kendali?" "Kamu." Yessica tidak ragu saat menjilat bibir dan kembali membuka mulut untuk Stefan. "Isap rudalku." Yessica membungkuk dan menjilat pistonnya sebelum memasukkannya ke dalam mulut, menggerakkan lidah dan mengisapnya. Mata birunya bertemu dengan mata Stefan, dan Stefan mencengkeram rambutnya. Yessica berhenti mengisap dan merilekskan tubuhnya, memberinya kendali penuh. "Masukkan jari-jarimu ke dalam rahim dan puaskan dirimu sendiri perlahan." Sambil menunggu Yessica mengikuti perintahnya, Stefan menggerakkan mulut Yessica di sekeliling rudalnya, membuatnya memasukkan rudal itu dalam-dalam sebelum menariknya kembali. Jari-jari Yessica bergerak di antara pahanya, dan dia mengerang di sekeliling rudal Stefan. Stefan mengobrak abrik mulut Yessica perlahan, sementara Yessica menatapnya, mengisa
Yessica mendorong tubuhnya ke belakang, menusukkan dirinya sendiri pada rudal Stefan. Stefan pun menahan erangan karena betapa nikmatnya tubuh Yessica membungkusnya. Erangan Yessica memenuhi kamar. Bokongnya menekan perut Stefan saat Yessica mengambil rudalnya sedalam yang dia mampu, sebelum bergerak maju kembali. Rahim Yessica yang basah mencengkeram rudal Stefan dan tidak ingin melepaskannya. Yessica mengerang saat ia hampir menariknya keluar seluruhnya. Tatapan mereka terkunci, dan dia kembali mendorong tubuhnya ke belakang ke arah Stefan. Stefan sampai harus memejamkan mata sejenak karena merasakan betapa sempurnanya rahim Yessica. Tangannya menyusuri bagian dalam paha Yessica sebelum membuka bibir rahimnya dan memainkan kacang nikmatnya. "Ini enak banget," bisik Yessica. Dia bergerak maju-mundur, membiarkan rudal Stefan keluar beberapa sentimeter sebelum kembali mengambilnya dengan penuh gairah. Stefan mengusap kacang nikmat Yessica. Bagian itu berdenyut di bawah sentuhannya,
Yessica terbaring di atas meja sambil terengah-engah. Tangannya menggenggam tangan Stefan. Yessica mengembuskan napas ketika Kairo menarik diri. Kairo mencium bokong Yessica, sementara jari-jarinya mengumpulkan santan kental yang mengalir di pahanya lalu mendorongnya kembali ke dalam rahimnya."Gadis pintar." Stefan meremas tangan Yessica sebelum melepaskannya.Tubuh Yessica sedikit merinding mendengar pujian itu. Yessica merasa tidak sanggup bergerak ketika Kairo memasukkan jari-jarinya ke dalam dirinya, membuat tubuh Yessica bergetar berulang kali.Stefan berdiri dan berjalan ke belakang Yessica. Kairo memberi ruang, tetapi Stefan tidak mendekat atau menyentuh Yessica. Dia hanya menatap rahim dan Liang Sekunder Yessica yang sudah berantakan.Yessica menggeliat di bawah tatapan Stefan. Dia tergoda meminta Stefan mengambil foto agar Yessica bisa melihat apa yang dilihat pria itu."Kairo, siapkan kamera di ruang permainan. Andree dan Gianc
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi







