Masuk"Kalian mengira ini alarm palsu?"Yessica tidak mencium bau asap. Beberapa saat lalu mereka masih berada di dapur. Semuanya dalam keadaan mati."Kita tidak akan tahu sampai kita keluar dan memastikan semua orang aman." Giancha kembali menuruni tangga. "Aku akan memeriksa sistem setelah kita tahu situasinya aman."Ketika tiba di lantai dasar, Yessica sudah kehabisan napas dan membutuhkan waktu sejenak. Giancha membuka pintu yang mengarah ke bagian belakang gedung."Ayo."Yessica menghirup udara segar saat keluar dan melihat sekeliling. Hampir tengah malam. Lampu-lampu di belakang gedung saling bertumpuk, tetapi cahayanya masih berusaha melawan kegelapan yang terasa menekan mereka.Kairo menarik Yessica ke sisinya, sementara tangan Andree melepaskan genggamannya. Tatapan mata gelap Andree memberinya rasa aman, tetapi pria itu menjauh darinya.Yessica merinding ketika Kairo membungkuk mendekati telinganya.
"Kecuali kamu mau melakukan sesuatu yang lain." Kairo melirik ke belakang sesaat sebelum mendekat. "Apa pun yang kamu mau, Sayang. Aku selalu senang melayaninya."Yessica tersenyum kepadanya, tetapi Stefan benar. Bagian bawah tubuhnya terasa sakit, sensitif, dan berantakan. Mereka bisa beristirahat satu malam."Mungkin di malam kita.""Hmm."Jari-jari Kairo menggoda pinggul Yessica, memainkan ujung celana dalamnya dan menariknya sedikit hingga menekan tubuh Yessica. Tatapan Kairo terkunci pada mata Yessica. Ia menundukkan kepala hingga bibirnya berada di dekat telinga Yessica saat berbicara."Apa pun yang kamu mau. Mau jadi pelacur nakalku? Atau mungkin kamu mau aku jadi bad boy-mu?"Rasa merinding menjalar di sepanjang tulang belakang Yessica. Ia bersandar pada Kairo, mendambakan kehangatan dan sentuhannya."Kita putuskan nanti."Kairo memutar kepala dan bibirnya menyentuh pergelangan tangan Yessica, mengirimka
Ada rasa senang yang langsung muncul dalam diri Yessica, mengetahui Stefan akan memerintah dan mengendalikannya. Ia sangat menginginkan hal itu. Yessica mencintai kemandiriannya, tetapi menyerahkan kendali kepada Stefan memberinya sesuatu yang tidak pernah ia tahu ternyata ia butuhkan. Dengan senang hati, ia berdiri. "Angkat tangan." Stefan berhenti tepat di depannya. Yessica mengangkat kedua tangan dan Stefan menarik kausnya melewati kepala. Saat ia mulai menurunkan tangan, Stefan memberinya tatapan peringatan. Yessica segera meluruskannya kembali sambil tersenyum kecil. "Bagaimana kram perutmu?" Jari-jari Stefan menelusuri perut Yessica di atas celana jeans yang dipakainya sejak tadi. Sentuhan ringan itu membuat tubuh Yessica bergetar. "Obat pereda nyeri dan rasa hangatnya bekerja." Napas Yessica tercekat ketika jari-jari Stefan menggelitik sisi tubuhnya se
"Saudara laki-laki Marry tidak sadarkan diri. Dia harus membawanya ke rumah sakit." Giancha berdeham. "Bagus Yessica ada di sana untuk menemaninya." Tatapan Yessica terangkat ke arah Giancha, tetapi Giancha tetap memusatkan perhatian pada Andree. Jari-jari Yessica menggenggam tangan Giancha lebih erat. "Bagus." Andree mengangguk, lalu menunjuk ke arah ruang rapat. "Kalau begitu, ayo bekerja." "Ayo," kata Giancha dengan suara serak sambil berjalan bersama Yessica menuju ruang rapat. Stefan mengangkat pandangan saat mereka masuk. Ketegangan di bahunya langsung mereda begitu melihat Yessica. "Yessica, kamu bisa mengerjakan berkas-berkas ini." Stefan menegakkan tubuh dan menunjuk kursi yang di depannya sudah ada setumpuk berkas. "Kami sedang mencari pola di antara proyek-proyek ini. Jadi, kami memeriksa berkas lama dan mencoba mengeliminasi anggota tim yang bisa
"Tentu." Yessica menggigit bibir dan menatap kakaknya. "Dia akan baik-baik saja?" Mata Marry tetap kering, tetapi bibir bawahnya bergetar. Dia menahan air mata dan berusaha tetap kuat. Tatapannya melunak saat bertemu dengan mata Yessica. "Aku harap begitu. Terima kasih sudah ikut denganku." Dia berbalik menghadap Junna, jemarinya berada di pergelangan tangan pria itu. Yessica turun ke tangga. Seseorang sudah mengetuk pintu. Dia bergegas ke sana, mengira paramedis datang terlalu cepat. Saat melihat melalui kaca pintu, Yessica melihat Giancha. Bibir pria itu mengatup tipis. Rasa lega langsung memenuhi dirinya. Yessica sebenarnya bisa menangani semua ini sendiri, tetapi dengan Giancha di sini, dia tidak perlu melakukannya. Dia membuka kunci pintu dan membiarkan Giancha masuk. Setelah menguncinya kembali, Yessica menarik napas dalam-dalam dan berbalik menghadapnya. "Kami sedang menunggu paramedis. Dia pingsan di atas. Bar sudah ditutup, jadi aman." Kata-kata Yessica keluar dengan
"Junna." Marry mengembuskan napas berat. "Dia tidak membalas pesanku. Aku sudah mencoba meneleponnya dalam perjalanan ke sini, tapi tidak ada jawaban. Tadinya aku mau mampir ke bar, tapi aku tidak mau terlambat menemuimu dan ..." "Mau aku ikut ke bar bersamamu?" Semuanya mulai masuk akal. Yessica memang tidak seharusnya keluar dari gedung, tetapi Marry benar-benar ingin memastikan keadaan kakaknya. Yessica tidak tahu kenapa Marry begitu khawatir, tetapi semuanya dari gadis itu menunjukkan bahwa dia hampir panik. "Aku tidak bisa memintamu melakukan itu." Marry menggeleng dan mengangkat ponselnya. Dia tersenyum saat menurunkannya. "Aku akan coba lagi setengah jam lagi. Aku yakin dia baik-baik saja." Marry berjalan menuju lift sambil kembali menatap layar ponselnya yang kosong. "Kita bisa mampir sebentar saja," Yessica tiba-tiba berkata. "Tidak jauh." Marry berbalik menghadapnya de
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan







