MasukKeheningan di private lounge sebuah kelab eksklusif kawasan SCBD itu hanya dipecahkan oleh bunyi es batu yang berbenturan dengan dinding gelas kristal.
Arlan Pradipta duduk sendirian di sudut ruangan yang temaram. Jas hitamnya sudah ia lempar asal ke sofa. Lengan kemejanya digulung berantakan hingga siku, dan dasinya sudah lama entah berada di mana. Pria itu menenggak tandas cairan kuning keemasan di gelasnya. Rasa terbakar yang menjalar di kerongkongannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa kebas di dadanya yang menetap sejak ia melangkah keluar dari apartemen Senopati sebulan yang lalu. Di atas meja kaca tepat di hadapannya, tergeletak sebuah benda yang menjadi bukti mutlak bahwa ia benar-benar sudah kehabisan waktu. Sebuah undangan pernikahan final tebal berlapis beludru merah pekat. Di bagian depannya, terukir nama yang dicetak dengan tinta emas murni: Arlan Pradipta & Tiara Aditama. Bagi orang luar, undangan itu adalah simbol kemewahan penyatuan dua dinasti bisnis raksasa. Namun bagi Arlan, benda itu tidak lebih dari surat vonis mati yang akan dieksekusi kurang dari dua belas jam lagi. Besok pagi, tepat pukul delapan, ia harus mengucapkan ijab kabul. Pintu lounge berderit pelan. Seseorang melangkah masuk. Arlan tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang menyusulnya ke tempat ini pada pukul dua dini hari. Hanya ada satu orang di keluarganya yang tahu kode akses ruangan privat ini selain dirinya. Reynald Pradipta menarik kursi di seberang Arlan dan duduk dengan santai. Anak sulung keluarga Pradipta itu masih terlihat rapi. Jas abu-abunya tidak kusut sedikit pun, rambutnya tersisir sempurna, namun ada raut lelah di balik wajah diplomatisnya itu. "Gelas ke berapa nih?" tanya Reynald santai. Ia mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat kepada bartender untuk memesan minuman. Arlan mendengus pelan. Ia menuangkan kembali wiski dari botol ke gelasnya. "Bokap yang nyuruh lo ke sini buat ngecek gue?" "Bokap nggak tahu. Tahunya lo lagi tidur di penthouse nyiapin fisik buat besok," jawab Reynald. Matanya kemudian tertuju pada undangan merah di atas meja. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu mengambilnya, mengamati ukiran emas di sampulnya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. "Cetakannya lumayan," komentar Reynald apa adanya. "Selera orang Aditama bagus juga." "Itu bukan undangan, Bang," balas Arlan sinis, menatap tajam tumpukan kertas itu. "Itu dokumen serah terima sisa kewarasan gue." Reynald menerima gelas minumannya dari bartender. Ia menyesapnya pelan sebelum kembali menatap adiknya. "Terus, gimana calon istri lo? Denger-denger dari orang dalem, sebulan ini kerjaannya cuma bikin ulah?" Mengingat rentetan kejadian selama sebulan terakhir membuat rahang Arlan mengeras. "Bukan bikin ulah lagi, Bang. Anak itu gila." Alis Reynald terangkat naik. Ia bersandar ke kursinya, menunggu adiknya menumpahkan kekesalan. "Bayangin aja, Bang. Nyokapnya udah repot nyewa desainer buat fitting baju, dia sengaja dateng pake jeans robek sama jaket kulit gembel," jelas Arlan, meluapkan semua isi kepalanya yang penuh. "Sering cabut pas jadwal meeting sama vendor, dan selalu nyari ribut tiap kali kita terpaksa satu ruangan. Kelakuannya persis bocah SMP yang lagi ngambek minta mainan." "Dia sengaja mancing emosi lo biar lo muak, terus batalin pernikahannya," tebak Reynald tepat sasaran. "Dan sialnya gue nggak bisa batalin apa-apa!" Arlan meletakkan gelasnya dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi benturan keras di meja. "Gue butuh tenang, Bang. Tiap hari gue pusing ngurusin skandal narkobanya Devan, nutupin kasus Nadine dari media, belum lagi urusan proyek mangkrak di Kalimantan. Gue butuh rumah yang tenang pas pulang kerja, bukan malah ngurusin bocah pembuat masalah yang harus gue awasin tiap detik!" Reynald justru tertawa pelan mendengarnya. "Bagus dong. Seenggaknya rumah lo nanti nggak bakal sepi kayak kuburan." "Ini bukan candaan. Lo nggak tahu rasanya dipojokin sampai mau napas aja susah, Bang," desis Arlan. Emosinya benar-benar tersulut sekarang. "Lo tahu apa yang bikin gue paling muak? Bokap ngancem bakal ngancurin keluarganya Celine buat maksa gue tanda tangan perjodohan ini. Dia nargetin nyokap bokapnya di kampung. Gue bener-bener dibikin mati kutu." Keheningan sejenak mengambil alih ruangan itu. Reynald menatap adiknya lekat-lekat. Sisa tawa di wajahnya menguap, digantikan oleh pemahaman yang muram. "Jadi... urusan lo di Senopati beneran udah kelar?" tanya Reynald dengan suara lebih rendah. "Lo beneran udah lepas dari dia?" Satu pertanyaan itu sukses menelanjangi sisa pertahanan Arlan. Pria itu menunduk, memandangi pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan meja kaca. Rasa kebas yang sejak tadi ia coba bangun dengan alkohol hancur seketika, mengembalikan perih yang menyayat dari malam di apartemen itu. "Udah," jawab Arlan akhirnya. Suaranya terdengar parau. "Gue udah hancurin semuanya sebulan yang lalu." "Duit kompensasi lo diterima?" "Dilempar balik ke muka gue," Arlan tersenyum getir. Ia memutar gelasnya tanpa minat. "Dia milih biayain hidupnya sendiri daripada nerima duit tutup mulut dari kita. Dia bilang gue nggak usah repot mikirin dia lagi. Dia jauh lebih berani dari gue, Bang." Reynald menghela napas panjang. Sebagai kakak tertua, ia paham betul perasaan adiknya. Perasaan tidak berdaya, amarah yang ditelan paksa, dan keputusasaan karena harus tunduk pada sistem keluarga Pradipta. "Terus gue harus gimana sekarang, Bang?" tanya Arlan tiba-tiba. Ia menatap Reynald dengan sorot putus asa yang jarang sekali ia tunjukkan. "Gimana caranya lo bisa hidup kayak gini bertahun-tahun? Lo sama Mbak Shinta... kalian pisah kamar dari tahun kedua, hidup masing-masing. Ketemu cuma pas acara keluarga atau di depan wartawan. Itu bukan pernikahan." "Emang bukan," sahut Reynald jujur, tanpa basa-basi membela diri. "Itu kerja sama bisnis." "Dan lo nggak gila hidup pura-pura kayak gitu?" "Justru karena gue sadar ini murni bisnis, makanya gue nggak gila, Lan," jawab Reynald. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang siku di atas lututnya. Tidak ada nada menceramahi di sana. Reynald berbicara murni sebagai pria yang sudah lebih dulu mengubur harapannya di rumah Menteng. "Awalnya gue juga sama hancurnya kayak lo. Ngerasa hidup gue tamat. Sempet mikir buat ngelawan," cerita Reynald, matanya menatap lurus ke arah Arlan. "Tapi lama-lama gue sadar. Semakin gue ngarep pernikahan ini bakal kayak orang normal, semakin gue capek sendiri." Reynald menunjuk undangan beludru merah di atas meja itu dengan telunjuknya. "Nikah di keluarga kita ini nggak lebih dari merger aset di atas kertas. Nggak usah berekspektasi Tiara bakal jadi istri yang nungguin lo pulang bawain teh, dan lo juga nggak perlu capek-capek pura-pura jadi suami romantis," jelas Reynald pragmatis. "Gue sama Shinta bisa bertahan karena kita sadar posisi. Kita cuma partner bisnis yang kebetulan pakai cincin kawin yang sama." Arlan terdiam mendengarkan. Reynald mengambil gelasnya kembali. Ia menyesap sisa minumannya sebelum meletakkannya kembali ke meja dengan satu gerakan mantap. "Kita nggak punya kemewahan buat milih cinta sejati, Lan. Kadang cinta yang indah itu nggak harus datang pada pandangan pertama. Untuk orang-orang kayak kita, kenyamanan yang dipaksakan juga udah lebih dari cukup." Kalimat itu meluncur dari mulut Reynald tanpa nada sok bijak. Itu terdengar seperti fakta pahit yang sudah ia telan ribuan kali hingga rasanya hambar. Namun bagi Arlan, kalimat itu menghantam telak di kepalanya. Kenyamanan yang dipaksakan. Arlan menatap undangan itu sekali lagi. Realita memang sekejam itu. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkan kebebasan seperti orang biasa. Namanya adalah Arlan Pradipta. Takdirnya sudah dikunci bahkan sejak ia pertama kali bisa mengeja nama belakangnya sendiri. Ia harus berhenti mencari jalan keluar dari rumah yang sudah terbakar ini. Tugasnya sekarang hanyalah mencari cara agar tidak ikut hangus di dalamnya. Reynald berdiri dari kursinya. Ia menepuk jasnya pelan. "Habisin minum lo. Berhenti ngeratapi nasib di sini," ucap Reynald santai, kembali menjadi sosok kakak sulung yang pragmatis. "Besok pagi jam delapan lo akad. Lo harus berdiri di depan penghulu dengan muka seger, dan resmi bawa perempuan itu masuk ke hidup lo." Reynald menepuk pundak Arlan dua kali. Tepukan yang terasa berat dan penuh simpati yang tidak terucap, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Arlan terdiam cukup lama setelah kakaknya pergi. Ia mencerna setiap kata yang ditinggalkan Reynald. Secara rasional, kakaknya benar. Memaksakan diri mencari kebahagiaan di pernikahan ini hanya akan membunuhnya secara perlahan. Perlahan, ia mengambil gelas wiskinya. Arlan menenggak sisa cairan alkohol itu hingga habis dalam satu tarikan napas panjang. Rasa panas yang membakar kerongkongannya kali ini terasa menjernihkan pikirannya. Dengan gerakan tegas, Arlan berdiri. Ia meraih jas hitamnya dari sofa, lalu mengambil undangan beludru merah dari atas meja. Ia memasukkan undangan itu ke dalam saku jasnya. Patah hati ini akan ia kubur dalam-dalam di ruangan ini. Karena mulai besok pagi, setelah kalimat ijab kabul diucapkan, ia tidak lagi memiliki kemewahan untuk menangisi masa lalunya. BERSAMBUNG...Arlan menginjak pedal rem. Maybach hitamnya berhenti di belakang antrean lampu merah perempatan Senopati. Di kursi penumpang belakang, Nyonya Aditama terus mengusap-usap perut rata Tiara dengan raut wajah berbunga-bunga. "Mama apaan sih, geli tahu," keluh Tiara. Ia menepis tangan ibunya dan menyandarkan kepala ke kaca jendela, menahan sisa pusing di kepalanya. "Aku itu beneran cuma masuk angin, Ma. Nggak usah lebay sampai ditarik ke Brawijaya segala." "Heh, mulutnya dijaga! Pamali ibu hamil ngomong sembarangan," omel Nyonya Aditama, kembali menarik lengan Tiara agar duduk tegak. "Orang hamil muda itu emang bawaannya suka denial, Ra. Udah, kamu diam aja. Pokoknya kita pastikan ke Silvi sekarang." Arlan melirik dari kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Tiara. Keduanya sama-sama memasang ekspresi seperti narapidana yang sedang diantar menuju ruang eksekusi. Kepergian Tuan Aditama untuk rapat mendadak lima belas menit yang lalu membuat pertahanan mereka runtuh total. Di dal
Pukul delapan pagi.Arlan duduk di ujung sofa ruang tengah. Tangan kirinya memegang cangkir kopi yang sudah tandas, sementara tangan kanannya sibuk menggeser layar tablet. Ia mengusap pangkal hidungnya sekilas—menahan letih akibat tidur kurang dari tiga jam semalam—namun postur tubuhnya tetap tegak.Suara bel pintu utama berbunyi tiga kali berturut-turut.Arlan meletakkan tabletnya ke meja. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju panel interkom di dinding. Alisnya sedikit terangkat saat melihat wajah dua orang yang berdiri di luar melalui layar kamera pengawas. Ia segera menekan tombol pembuka kunci digital dan menarik gagang pintu."Pagi, Arlan," sapa Tuan Aditama tenang. Pria paruh baya itu berdiri mengenakan kemeja polo dan celana kain yang rapi.Di sebelahnya, Nyonya Aditama menyusul masuk sambil menenteng tas kertas berlogo toko roti premium. Kacamata hitam disematkan di atas kepalanya. Wanita itu langsung berjalan melewati Arlan menuju area dapur bersih dengan langkah percaya dir
Layar ponsel di tangan Tiara menunjukkan pukul 21.50. Sepuluh menit sebelum batas jam malam yang ditentukan Arlan semalam.Tiara menatap layar itu lekat-lekat. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol daya di sisi kanan ponselnya, menggeser layarnya, dan mematikan perangkat tersebut sepenuhnya. Ia kemudian melempar benda pipih itu ke dalam tas kecilnya."Gila. Lo beneran matiin hape, Ti?"Vanya yang sedang duduk menyilang kaki di atas karpet ruang tengah townhouse-nya menatap Tiara. Ia meletakkan botol vodka ke atas meja. "Sumpah, kalau cowok lo nyariin, nyusahin kita-kita nggak nih?""Biarin aja," jawab Tiara angkuh. Ia berdiri menghadap cermin full-body, merapikan gaun beludru hitam tanpa lengan milik Vanya yang sengaja ia pinjam. "Gue bukan tahanan kota yang harus absen napas setiap jam sepuluh. Dia pikir dia siapa bisa ngunci gue di penthouse?"Tasya berjalan menghampiri Tiara dari belakang. Ia menyisir rambut panj
Kafe premium di area fakultas bisnis itu cukup ramai saat Tiara melangkah masuk. Ia melempar tas desainer di bahunya ke atas meja bundar di sudut ruangan, lalu menjatuhkan diri ke kursi sofa dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi.Di hadapannya, Tasya nyaris tersedak es matcha latte-nya. Gadis dengan rambut diikat ponytail tinggi itu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran tingkat tinggi."Gila! Sumpah ya, Ti, gue kira lo bakal bolos sebulan buat honeymoon ke Swiss atau Maldives," cerocos Tasya tanpa jeda. Tangannya menopang dagu. "Gimana rasanya bangun tidur di penthouse triliuner? Arlan Pradipta aslinya sedingin di TV nggak, sih? Atau dia tiba-tiba soft boy kalau lagi berduaan?"Di sebelah Tasya, Vanya hanya tersenyum simpul. Gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang itu menyesap kopi hitamnya dengan tenang."Kasih napas anjir temen lo," tegur Vanya santai, menatap wajah Tiara yang terlihat kekurangan tid
Pukul sebelas malam, bunyi beep pendek dari panel kunci digital memecah keheningan di dalam penthouse.Pintu utama terbuka. Arlan melangkah masuk. Ia meletakkan tas kerja kulitnya ke atas meja konsol dekat pintu dengan sedikit bantingan, lalu melepas jas abunya dan menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi pantri.Kemeja pria itu sudah kusut di bagian siku dan punggung. Rambutnya tidak lagi seapi pagi tadi. Ia berjalan menuju dapur bersih, mengambil gelas, dan menuangkan air dingin dari dispenser.Saat Arlan berbalik sambil meminum airnya, langkahnya terhenti.Lampu gantung utama di ruang tengah sudah dimatikan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu pilar di sudut ruangan. Di bawah cahaya temaram itu, Tiara duduk bersilang kaki di atas sofa single. Ia mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap. Sebuah tablet menyala di pangkuannya, dan secangkir teh yang sudah setengah kosong terletak di atas meja kaca.Mendengar suara langkah Arlan, Tiara mematikan layar tabletny
Mobil Maybach hitam itu berhenti tepat di depan teras kediaman keluarga Pradipta di kawasan Menteng.Seorang petugas keamanan berseragam langsung membukakan pintu penumpang. Tiara turun. Pakaiannya rapi dan riasan wajahnya berhasil menutupi sisa lelah akibat kurang tidur semalam.Arlan keluar dari pintu kemudi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, lalu berjalan bersisian dengan Tiara memasuki rumah. Mereka melangkah melewati pintu utama tanpa saling bicara, langsung menuju ruang makan keluarga di sayap kanan bangunan.Di sana, Baskara Pradipta sudah duduk di ujung meja. Ayah Tiara, Tuan Aditama, duduk di sisi kanannya. Percakapan kedua pria paruh baya itu terhenti begitu Arlan dan Tiara masuk."Pengantin baru kita," sapa Baskara. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Duduk. Kita baru saja mau mulai."Arlan menarik salah satu kursi. Tiara duduk lebih dulu, disusul Arlan di kursi sebelahnya. Mereka berhadapan langsung dengan Tuan Aditama. Beberapa pelayan rumah segera bergerak mengh







