Masuk"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Aditama binti Aditama dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Satu tarikan napas. Tanpa jeda. Suara Arlan Pradipta terdengar jelas melalui pelantang suara, mengisi setiap sudut ruangan ballroom hotel bintang lima tersebut. Ia menatap ayah mertuanya dan menjabat tangan pria paruh baya itu dengan gerakan konstan. Ekspresi Arlan sama persis seperti saat ia merampungkan presentasi rapat kuartal perusahaan. Selesai, efisien, dan mengikat secara hukum. "Bagaimana para saksi? Sah?" "Sah." Satu kata dari meja saksi itu mengakhiri masa lajang Tiara. Tiara duduk lurus menghadap meja akad. Sepanjang riasan wajahnya dikerjakan sejak subuh tadi, ia sudah menghitung persentase keberhasilan untuk kabur melalui pintu darurat hotel. Sayangnya, jumlah petugas keamanan berseragam safari hitam yang dibayar oleh keluarga Pradipta jauh lebih banyak daripada jumlah pintu keluar yang ada di gedung ini. Kini ia tidak bisa pergi ke mana-mana. Arlan menoleh, mengulurkan tangan kanannya. Tiara menyambut tangan itu dengan ujung jari, menunduk, lalu menempelkan punggung tangan Arlan ke dahinya dengan sangat cepat, seolah sedang melakukan absensi kehadiran. Arlan membalas dengan memasukkan cincin kawin ke jari Tiara. Di bawah kilatan puluhan lampu kamera wartawan, pria itu sedikit mendekatkan wajahnya. "Senyum," bisik Arlan pelan. "Jangan bikin gue kelihatan kayak lagi nikahin manekin di depan kamera." Tiara menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum simetris paksaan yang sering ia gunakan saat menghadiri acara amal. Berdiri selama tiga jam di atas pelaminan adalah jenis penyiksaan baru bagi Tiara. "Ciyee, Nyonya Pradipta," goda salah satu teman arisan ibunya yang ikut naik ke pelaminan untuk berfoto. Perempuan paruh baya itu mengedipkan sebelah mata. "Malam ini langsung lembur ya, Arlan. Jangan dikasih kendor." Tiara merespons dengan tawa pendek, sementara tangannya diam-diam meremas kain kebayanya sendiri di balik buket bunga. Antrean tamu berikutnya diisi oleh rekan-rekan Arlan. Angga, salah satu direktur muda dari perusahaan afiliasi, melangkah naik sambil memegang sebuah parsel kecil. Ia memeluk Arlan layaknya kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. "Selamat, Bro," ucap Angga. Tangannya menepuk punggung Arlan. Sambil memeluk, Angga menyelipkan sesuatu ke dalam saku jas Arlan. "Tisu magic sama vitamin. Gue beliin yang paling mahal. Hajar sampai pagi." Arlan melepaskan pelukan itu. Ia menatap Angga dalam diam. Tidak ada senyum atau balasan atas candaan tersebut. Arlan hanya menatap temannya itu lurus-lurus sampai tawa di wajah Angga perlahan surut dengan sendirinya. "Oke, gue turun dulu," pamit Angga canggung. Ia langsung berbalik dan bergegas turun menuju area prasmanan. Pintu ruang resepsi ditutup. Acara selesai. Arlan menarik simpul dasi kupu-kupunya hingga terlepas. Ia berjalan menuju area parkir khusus tamu VVIP tanpa menunggu langkah Tiara yang tertinggal di belakang akibat ekor gaunnya yang menyapu lantai. Di pelataran parkir, seorang supir sudah berdiri menanti di samping mobil Maybach hitam. "Biar saya yang bawa. Kamu pulang pakai mobil lain," kata Arlan. Ia mengambil alih kunci dari tangan supirnya. Tiara masuk ke kursi penumpang depan. Begitu pintu ditutup, hal pertama yang ia lakukan adalah menendang sepatu hak tingginya hingga terlempar ke bawah jok. Mobil mulai melaju membelah jalanan protokol ibu kota. Tiara memutar tubuhnya sedikit, tangannya berusaha menggapai resleting di punggung gaunnya. Setelah beberapa kali tarikan paksa, resleting itu turun hingga sebatas pinggang. Kain korset yang sejak sore mencengkeram tulang rusuknya akhirnya mengendur. Tiara merosot ke sandaran kursi, membiarkan gaun bagian atasnya melonggar dan mengekspos sebagian bahunya. Suara tarikan resleting yang cukup keras itu membuat Arlan menoleh dari kemudi. "Tarik lagi resleting lo," kata Arlan. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke jalan di depan. "Kaca mobil ini tembus pandang kalau kena cahaya lampu jalan dari luar." Tiara mengibaskan rambutnya yang mulai terasa lengket di bagian tengkuk. "Korset ini udah nyiksa gue dari jam tiga sore. Gue mau napas." "Kita masih di jalan raya raya, Tiara." "Terus kenapa? Lo takut khilaf?" sindir Tiara terang-terangan. "Sori aja, lo bukan tipe gue." "Gue cuma takut besok pagi media bokap lo bikin artikel 'Pewaris Pradipta Group Melakukan Tindakan Asila di Dalam Mobil'," balas Arlan praktis. "Angkat lagi baju lo." Tiara tidak membalas, tapi ia juga tidak menaikkan resletingnya. Ia memilih membuang muka ke arah jendela, mengabaikan pria di sebelahnya hingga mobil mereka memasuki area parkir apartemen. Arlan membuka pintu penthouse di lantai paling atas. Ruangan itu sangat luas, minim perabotan yang tidak perlu, dan didominasi warna monokrom. Tiara masuk tanpa alas kaki. Matanya menyisir ruangan sejenak sebelum berjalan lurus menuju satu-satunya pintu ganda yang ukurannya paling besar di ujung lorong. "Gue tidur di kamar ini," kata Tiara sepihak. Ia melempar tas tangannya ke atas kasur yang terlihat empuk, lalu berbalik menuju area dapur bersih. Arlan membiarkan saja. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di sandaran sofa ruang tengah. Sambil mengeluarkan ponsel dan dompet dari saku celana, tangannya tidak sengaja menyentuh sebuah kotak kecil di dalam saku jas. Pemberian Angga. Arlan mengeluarkan kotak persegi panjang berwarna gelap itu. Ia membaca label di kemasannya sekilas, lalu memutar pandangan untuk mencari letak tempat sampah terdekat. Dari arah dapur, Tiara berjalan mendekat. Gadis itu sudah memegang sebuah gelas kristal berisi wiski yang ia tuang sembarangan dari rak minuman milik Arlan. "Lo dapet suvenir apaan dari temen lo tadi?" tanya Tiara. Ia menunjuk kotak di tangan Arlan menggunakan gelasnya. Arlan menghentikan langkahnya. Pria itu menyembunyikan kotak tersebut di samping tubuhnya. "Bukan apa-apa." Jawaban singkat itu justru membuat Tiara semakin penasaran. Ia berjalan memutari sofa dan berdiri tepat di depan Arlan. Matanya tertuju pada tulisan di kemasan kotak yang dipegang pria itu. "Tisu... magic?" Tiara membaca lantang. Dahinya berkerut. Ia menatap wajah Arlan dengan ekspresi benar-benar bingung. Tiara menatap kotak itu lagi, lalu kembali menatap suaminya. "Tisu basah sekecil itu buat apaan, Lan? Semacam buat lap kacamata? Tapi lo kan nggak pakai kacamata." Arlan diam. "Atau buat lap muka?" Tiara melanjutkan tebakannya, mencoba mencari logika dari ukuran kotak tersebut. "Tapi muka lo kan lebar, mana cukup pakai tisu sebungkus kecil gitu?" Arlan, pria yang sehari-harinya terbiasa menganalisis pergerakan saham dan mematahkan argumen menjebak dari dewan direksi dalam rapat RUPS, kini hanya bisa berdiri mematung. Otaknya mencari padanan kata yang tepat untuk menjelaskan fungsi benda tersebut kepada seorang perempuan berusia dua puluh satu tahun yang baru saja resmi menjadi istrinya. Namun, tidak ada satu pun frasa yang cukup sopan dan masuk akal untuk diucapkan. Arlan memandangi kotak di tangannya, lalu menatap wajah Tiara yang masih menunggu jawaban dengan lugu. "Buat lap sepatu," jawab Arlan akhirnya. Ia meletakkan kotak tisu itu ke atas meja kaca di ruang tamu, mengambil ponselnya, dan langsung berjalan menuju kamar mandi di lorong. Tiara menatap kepergian Arlan yang terburu-buru, lalu kembali melihat kotak tisu di atas meja. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyesap wiskinya. "Temen-temen lo aneh banget," komentar Tiara pada ruang kosong di sekitarnya. "Ngado orang nikah kok lap sepatu sebungkus doang." BERSAMBUNG...Cuaca Jakarta terasa terik saat konvoi SUV hitam berlogo Pradipta Group itu memasuki pelataran lobi sebuah gedung apartemen mewah di kawasan SCBD. Pintu belakang terbuka, menampilkan Arlan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Tiara. Kedatangan mereka di penthouse lantai teratas itu tidak disambut dengan kehangatan. Ketegangan yang membeku sejak dari Temanggung masih tertinggal pekat di antara mereka. Arlan melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada seorang staf rumah tangga yang menunduk hormat. Pria itu sudah memegang tablet yang diserahkan oleh Dimas, bersiap untuk langsung menuju kantor pusat dan membereskan krisis perusahaan yang tertunda. Namun, sebelum melangkah menuju pintu utama, Arlan memutar tubuhnya. Ia menatap Tiara yang baru saja duduk di sofa ruang tengah. "Mulai hari ini, pengamanan di penthouse dilipatgandakan," ucap Arlan datar, memecah keheningan. "Gue udah perintahkan Dimas buat nutup semua akses kartu lift selain punya gue dan staf khusus." Tiara menghentikan
Ciuman itu terputus secara sepihak saat suara petir meledak brutal tepat di atas area perkebunan. Keduanya menarik diri dengan gerakan tiba-tiba. Napas Arlan dan Tiara sama-sama terengah-engah, memburu oksigen yang terasa menipis di dalam gubuk sempit tersebut. Tiara langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu mengeratkan kemeja kebesaran milik Arlan di bahunya, menatap kosong ke arah luar gubuk yang masih diguyur hujan badai. Kepalanya berputar cepat, setengah mati berusaha menata kembali kewarasannya dan mengumpulkan sisa gengsi yang baru saja hancur berantakan di bawah kungkungan suaminya. Di sebelahnya, Arlan mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan secara kasar. Pria itu menyadari sepenuhnya bahwa ia baru saja menyeberangi batas profesional pernikahan yang ia buat sendiri sejak awal mereka sepakat mengikat janji. Hening yang sangat canggung dan tegang menyelimuti keduanya. Hanya suara hujan yang mendominasi. Arlan menoleh, menatap profil samping istrinya. Pria itu baru
BAB 20 Puing-puing pagar besi yang bengkok dan sisa pembakaran di depan area perluasan pabrik itu masih mengeluarkan bau gosong yang menyengat. Beberapa garis polisi melintang di sekitar lokasi kejadian, membatasi akses bagi siapa pun yang tidak berkepentingan. Arlan berjalan pelan menyusuri titik pusat bentrokan yang menewaskan satu nyawa tadi malam. Wajah pria itu datar, tanpa emosi, layaknya seseorang yang sedang meninjau proyek konstruksi. Dimas dan dua orang tim legal Pradipta Group berjalan mengikuti di belakangnya. "Kerusakan infrastruktur tidak separah yang gue perkirakan," ucap Arlan memecah keheningan. "Tapi pemberhentian operasional sementara ini yang bakal menguras uang perusahaan miliaran per hari." "Betul, Pak," timpal salah satu staf legal dengan cepat. "Tim kami sudah menyusun draf laporan untuk kepolisian pusat. Sesuai instruksi Bapak semalam, seluruh tanggung jawab atas insiden kekerasan fisik ini dialihkan ke perusahaan penyedia preman outsourcing. Kontrak m
Keesokan paginya, sarapan di teras belakang villa berlangsung singkat. Reynald meletakkan serbet ke atas meja, lalu menatap adiknya yang duduk berseberangan. "Acara semalam emang berantakan banget," ucap Reynald santai, memecah keheningan sarapan pagi itu. "Sampah-sampah di bawah udah lo suruh orang bersihin? Gue nggak mau lihat ada sisa kotoran pas turun nanti." Arlan menyesap kopi hitamnya dengan wajah datar. "Udah diberesin Dimas subuh tadi. Nggak ada jejak apa pun yang tersisa di area ini." Di ujung meja, Tiara meletakkan garpunya dengan anggun. Gadis itu membuka tas selempang kecil di pangkuannya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok kretek ramping—salah satu lini premium khusus ekspor dari pabrik Pradipta—beserta sebuah pemantik emas. Cetrek. Ujung rokok menyala. Tiara menghembuskan asap tipis ke udara dengan gaya yang sangat natural. Reynald menatap Tiara, sedikit terkejut, namun sedetik kemudian pria itu tertawa kecil. "Gue lupa kalau putri tunggal keluarga Aditama punya cara
Satu jam kemudian, pesta rakyat itu berakhir. Rombongan kecil dari Pradipta Group kembali ke dalam mobil dan menempuh perjalanan singkat menuju villa. Setibanya di dalam bangunan berhawa hangat itu, Tiara langsung berpamitan masuk ke kamar tidur utama. Gadis itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum tipis ke arah kakak iparnya. Tersisa Arlan dan Reynald di ruang tengah. Arlan berjalan menuju meja mini bar di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menenangkan isi kepalanya. Di seberangnya, Reynald menjatuhkan tubuh ke sofa, menyalakan sebatang cerutu baru, dan menatap adiknya lekat-lekat. Riko baru saja melangkah keluar menuju pelataran, ditugaskan secara khusus oleh Reynald untuk menjemput salah satu penari Lengger tadi dan membawanya ke paviliun belakang. "Gue lihat jurnalis peliharaan lo tadi di pinggir lapangan," ucap Reynald menghembuskan asap tebal, memecah keheningan di antara mereka. Tangan Arlan yang sedang meme
Dua mobil SUV hitam pekat berhenti tepat di pelataran villa VIP Pradipta. Lampu sorot kendaraaan itu menembus kabut tipis Temanggung yang mulai turun menyelimuti lereng bukit. Arlan sudah berdiri menunggu di teras depan. Kemeja hitamnya yang beberapa menit lalu berantakan kini sudah terkancing rapi hingga ke leher, dilapisi oleh jaket musim dingin tebal berwarna gelap. Rambutnya juga sudah disisir ke belakang menggunakan sisa air di wastafel. Tidak ada satu pun jejak kekacauan yang tersisa di tubuhnya. Pintu mobil terbuka. Reynald turun lebih dulu. Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna camel, merapatkan kerahnya menahan hawa dingin yang langsung menusuk tulang. Di belakangnya, Riko turun dengan wajah kelelahan sambil membawa satu koper kecil. Pintu penumpang sebelah kiri kemudian terbuka. Tiara melangkah keluar dengan anggun. Gadis itu mengenakan sweter turtleneck putih yang dipadukan dengan mantel wol berwarna abu-abu muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang putr







