共有

BAB 5

作者: ikediva
last update 公開日: 2026-07-03 18:08:54

"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Aditama binti Aditama dengan maskawin tersebut dibayar tunai."

Satu tarikan napas. Tanpa jeda.

Suara Arlan Pradipta terdengar jelas melalui pelantang suara, mengisi setiap sudut ruangan ballroom hotel bintang lima tersebut. Ia menatap ayah mertuanya dan menjabat tangan pria paruh baya itu dengan gerakan konstan. Ekspresi Arlan sama persis seperti saat ia merampungkan presentasi rapat kuartal perusahaan. Selesai, efisien, dan mengikat secara hukum.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah."

Satu kata dari meja saksi itu mengakhiri masa lajang Tiara.

Tiara duduk lurus menghadap meja akad. Sepanjang riasan wajahnya dikerjakan sejak subuh tadi, ia sudah menghitung persentase keberhasilan untuk kabur melalui pintu darurat hotel. Sayangnya, jumlah petugas keamanan berseragam safari hitam yang dibayar oleh keluarga Pradipta jauh lebih banyak daripada jumlah pintu keluar yang ada di gedung ini.

Kini ia tidak bisa pergi ke mana-mana.

Arlan menoleh, mengulurkan tangan kanannya. Tiara menyambut tangan itu dengan ujung jari, menunduk, lalu menempelkan punggung tangan Arlan ke dahinya dengan sangat cepat, seolah sedang melakukan absensi kehadiran.

Arlan membalas dengan memasukkan cincin kawin ke jari Tiara. Di bawah kilatan puluhan lampu kamera wartawan, pria itu sedikit mendekatkan wajahnya.

"Senyum," bisik Arlan pelan. "Jangan bikin gue kelihatan kayak lagi nikahin manekin di depan kamera."

Tiara menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum simetris paksaan yang sering ia gunakan saat menghadiri acara amal.

Berdiri selama tiga jam di atas pelaminan adalah jenis penyiksaan baru bagi Tiara.

"Ciyee, Nyonya Pradipta," goda salah satu teman arisan ibunya yang ikut naik ke pelaminan untuk berfoto. Perempuan paruh baya itu mengedipkan sebelah mata. "Malam ini langsung lembur ya, Arlan. Jangan dikasih kendor."

Tiara merespons dengan tawa pendek, sementara tangannya diam-diam meremas kain kebayanya sendiri di balik buket bunga.

Antrean tamu berikutnya diisi oleh rekan-rekan Arlan. Angga, salah satu direktur muda dari perusahaan afiliasi, melangkah naik sambil memegang sebuah parsel kecil. Ia memeluk Arlan layaknya kawan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

"Selamat, Bro," ucap Angga. Tangannya menepuk punggung Arlan.

Sambil memeluk, Angga menyelipkan sesuatu ke dalam saku jas Arlan. "Tisu magic sama vitamin. Gue beliin yang paling mahal. Hajar sampai pagi."

Arlan melepaskan pelukan itu. Ia menatap Angga dalam diam. Tidak ada senyum atau balasan atas candaan tersebut. Arlan hanya menatap temannya itu lurus-lurus sampai tawa di wajah Angga perlahan surut dengan sendirinya.

"Oke, gue turun dulu," pamit Angga canggung. Ia langsung berbalik dan bergegas turun menuju area prasmanan.

Pintu ruang resepsi ditutup. Acara selesai.

Arlan menarik simpul dasi kupu-kupunya hingga terlepas. Ia berjalan menuju area parkir khusus tamu VVIP tanpa menunggu langkah Tiara yang tertinggal di belakang akibat ekor gaunnya yang menyapu lantai.

Di pelataran parkir, seorang supir sudah berdiri menanti di samping mobil Maybach hitam.

"Biar saya yang bawa. Kamu pulang pakai mobil lain," kata Arlan. Ia mengambil alih kunci dari tangan supirnya.

Tiara masuk ke kursi penumpang depan. Begitu pintu ditutup, hal pertama yang ia lakukan adalah menendang sepatu hak tingginya hingga terlempar ke bawah jok.

Mobil mulai melaju membelah jalanan protokol ibu kota.

Tiara memutar tubuhnya sedikit, tangannya berusaha menggapai resleting di punggung gaunnya. Setelah beberapa kali tarikan paksa, resleting itu turun hingga sebatas pinggang. Kain korset yang sejak sore mencengkeram tulang rusuknya akhirnya mengendur. Tiara merosot ke sandaran kursi, membiarkan gaun bagian atasnya melonggar dan mengekspos sebagian bahunya.

Suara tarikan resleting yang cukup keras itu membuat Arlan menoleh dari kemudi.

"Tarik lagi resleting lo," kata Arlan. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke jalan di depan. "Kaca mobil ini tembus pandang kalau kena cahaya lampu jalan dari luar."

Tiara mengibaskan rambutnya yang mulai terasa lengket di bagian tengkuk. "Korset ini udah nyiksa gue dari jam tiga sore. Gue mau napas."

"Kita masih di jalan raya raya, Tiara."

"Terus kenapa? Lo takut khilaf?" sindir Tiara terang-terangan. "Sori aja, lo bukan tipe gue."

"Gue cuma takut besok pagi media bokap lo bikin artikel 'Pewaris Pradipta Group Melakukan Tindakan Asila di Dalam Mobil'," balas Arlan praktis. "Angkat lagi baju lo."

Tiara tidak membalas, tapi ia juga tidak menaikkan resletingnya. Ia memilih membuang muka ke arah jendela, mengabaikan pria di sebelahnya hingga mobil mereka memasuki area parkir apartemen.

Arlan membuka pintu penthouse di lantai paling atas. Ruangan itu sangat luas, minim perabotan yang tidak perlu, dan didominasi warna monokrom.

Tiara masuk tanpa alas kaki. Matanya menyisir ruangan sejenak sebelum berjalan lurus menuju satu-satunya pintu ganda yang ukurannya paling besar di ujung lorong.

"Gue tidur di kamar ini," kata Tiara sepihak. Ia melempar tas tangannya ke atas kasur yang terlihat empuk, lalu berbalik menuju area dapur bersih.

Arlan membiarkan saja. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di sandaran sofa ruang tengah. Sambil mengeluarkan ponsel dan dompet dari saku celana, tangannya tidak sengaja menyentuh sebuah kotak kecil di dalam saku jas.

Pemberian Angga.

Arlan mengeluarkan kotak persegi panjang berwarna gelap itu. Ia membaca label di kemasannya sekilas, lalu memutar pandangan untuk mencari letak tempat sampah terdekat.

Dari arah dapur, Tiara berjalan mendekat. Gadis itu sudah memegang sebuah gelas kristal berisi wiski yang ia tuang sembarangan dari rak minuman milik Arlan.

"Lo dapet suvenir apaan dari temen lo tadi?" tanya Tiara. Ia menunjuk kotak di tangan Arlan menggunakan gelasnya.

Arlan menghentikan langkahnya. Pria itu menyembunyikan kotak tersebut di samping tubuhnya. "Bukan apa-apa."

Jawaban singkat itu justru membuat Tiara semakin penasaran. Ia berjalan memutari sofa dan berdiri tepat di depan Arlan. Matanya tertuju pada tulisan di kemasan kotak yang dipegang pria itu.

"Tisu... magic?" Tiara membaca lantang. Dahinya berkerut. Ia menatap wajah Arlan dengan ekspresi benar-benar bingung.

Tiara menatap kotak itu lagi, lalu kembali menatap suaminya. "Tisu basah sekecil itu buat apaan, Lan? Semacam buat lap kacamata? Tapi lo kan nggak pakai kacamata."

Arlan diam.

"Atau buat lap muka?" Tiara melanjutkan tebakannya, mencoba mencari logika dari ukuran kotak tersebut. "Tapi muka lo kan lebar, mana cukup pakai tisu sebungkus kecil gitu?"

Arlan, pria yang sehari-harinya terbiasa menganalisis pergerakan saham dan mematahkan argumen menjebak dari dewan direksi dalam rapat RUPS, kini hanya bisa berdiri mematung. Otaknya mencari padanan kata yang tepat untuk menjelaskan fungsi benda tersebut kepada seorang perempuan berusia dua puluh satu tahun yang baru saja resmi menjadi istrinya.

Namun, tidak ada satu pun frasa yang cukup sopan dan masuk akal untuk diucapkan.

Arlan memandangi kotak di tangannya, lalu menatap wajah Tiara yang masih menunggu jawaban dengan lugu.

"Buat lap sepatu," jawab Arlan akhirnya.

Ia meletakkan kotak tisu itu ke atas meja kaca di ruang tamu, mengambil ponselnya, dan langsung berjalan menuju kamar mandi di lorong.

Tiara menatap kepergian Arlan yang terburu-buru, lalu kembali melihat kotak tisu di atas meja. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyesap wiskinya.

"Temen-temen lo aneh banget," komentar Tiara pada ruang kosong di sekitarnya. "Ngado orang nikah kok lap sepatu sebungkus doang."

BERSAMBUNG...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 12

    Arlan menginjak pedal rem. Maybach hitamnya berhenti di belakang antrean lampu merah perempatan Senopati. Di kursi penumpang belakang, Nyonya Aditama terus mengusap-usap perut rata Tiara dengan raut wajah berbunga-bunga. "Mama apaan sih, geli tahu," keluh Tiara. Ia menepis tangan ibunya dan menyandarkan kepala ke kaca jendela, menahan sisa pusing di kepalanya. "Aku itu beneran cuma masuk angin, Ma. Nggak usah lebay sampai ditarik ke Brawijaya segala." "Heh, mulutnya dijaga! Pamali ibu hamil ngomong sembarangan," omel Nyonya Aditama, kembali menarik lengan Tiara agar duduk tegak. "Orang hamil muda itu emang bawaannya suka denial, Ra. Udah, kamu diam aja. Pokoknya kita pastikan ke Silvi sekarang." Arlan melirik dari kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Tiara. Keduanya sama-sama memasang ekspresi seperti narapidana yang sedang diantar menuju ruang eksekusi. Kepergian Tuan Aditama untuk rapat mendadak lima belas menit yang lalu membuat pertahanan mereka runtuh total. Di dal

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 11

    Pukul delapan pagi.Arlan duduk di ujung sofa ruang tengah. Tangan kirinya memegang cangkir kopi yang sudah tandas, sementara tangan kanannya sibuk menggeser layar tablet. Ia mengusap pangkal hidungnya sekilas—menahan letih akibat tidur kurang dari tiga jam semalam—namun postur tubuhnya tetap tegak.Suara bel pintu utama berbunyi tiga kali berturut-turut.Arlan meletakkan tabletnya ke meja. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju panel interkom di dinding. Alisnya sedikit terangkat saat melihat wajah dua orang yang berdiri di luar melalui layar kamera pengawas. Ia segera menekan tombol pembuka kunci digital dan menarik gagang pintu."Pagi, Arlan," sapa Tuan Aditama tenang. Pria paruh baya itu berdiri mengenakan kemeja polo dan celana kain yang rapi.Di sebelahnya, Nyonya Aditama menyusul masuk sambil menenteng tas kertas berlogo toko roti premium. Kacamata hitam disematkan di atas kepalanya. Wanita itu langsung berjalan melewati Arlan menuju area dapur bersih dengan langkah percaya dir

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 10

    Layar ponsel di tangan Tiara menunjukkan pukul 21.50. Sepuluh menit sebelum batas jam malam yang ditentukan Arlan semalam.​Tiara menatap layar itu lekat-lekat. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari suaminya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol daya di sisi kanan ponselnya, menggeser layarnya, dan mematikan perangkat tersebut sepenuhnya. Ia kemudian melempar benda pipih itu ke dalam tas kecilnya.​"Gila. Lo beneran matiin hape, Ti?"​Vanya yang sedang duduk menyilang kaki di atas karpet ruang tengah townhouse-nya menatap Tiara. Ia meletakkan botol vodka ke atas meja. "Sumpah, kalau cowok lo nyariin, nyusahin kita-kita nggak nih?"​"Biarin aja," jawab Tiara angkuh. Ia berdiri menghadap cermin full-body, merapikan gaun beludru hitam tanpa lengan milik Vanya yang sengaja ia pinjam. "Gue bukan tahanan kota yang harus absen napas setiap jam sepuluh. Dia pikir dia siapa bisa ngunci gue di penthouse?"​Tasya berjalan menghampiri Tiara dari belakang. Ia menyisir rambut panj

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 9

    Kafe premium di area fakultas bisnis itu cukup ramai saat Tiara melangkah masuk. Ia melempar tas desainer di bahunya ke atas meja bundar di sudut ruangan, lalu menjatuhkan diri ke kursi sofa dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi.​Di hadapannya, Tasya nyaris tersedak es matcha latte-nya. Gadis dengan rambut diikat ponytail tinggi itu langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran tingkat tinggi.​"Gila! Sumpah ya, Ti, gue kira lo bakal bolos sebulan buat honeymoon ke Swiss atau Maldives," cerocos Tasya tanpa jeda. Tangannya menopang dagu. "Gimana rasanya bangun tidur di penthouse triliuner? Arlan Pradipta aslinya sedingin di TV nggak, sih? Atau dia tiba-tiba soft boy kalau lagi berduaan?"​Di sebelah Tasya, Vanya hanya tersenyum simpul. Gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang itu menyesap kopi hitamnya dengan tenang.​"Kasih napas anjir temen lo," tegur Vanya santai, menatap wajah Tiara yang terlihat kekurangan tid

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 8

    Pukul sebelas malam, bunyi beep pendek dari panel kunci digital memecah keheningan di dalam penthouse.Pintu utama terbuka. Arlan melangkah masuk. Ia meletakkan tas kerja kulitnya ke atas meja konsol dekat pintu dengan sedikit bantingan, lalu melepas jas abunya dan menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi pantri.Kemeja pria itu sudah kusut di bagian siku dan punggung. Rambutnya tidak lagi seapi pagi tadi. Ia berjalan menuju dapur bersih, mengambil gelas, dan menuangkan air dingin dari dispenser.Saat Arlan berbalik sambil meminum airnya, langkahnya terhenti.Lampu gantung utama di ruang tengah sudah dimatikan. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu pilar di sudut ruangan. Di bawah cahaya temaram itu, Tiara duduk bersilang kaki di atas sofa single. Ia mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap. Sebuah tablet menyala di pangkuannya, dan secangkir teh yang sudah setengah kosong terletak di atas meja kaca.Mendengar suara langkah Arlan, Tiara mematikan layar tabletny

  • TERIKAT KONTRAK TUAN MUDA   BAB 7

    Mobil Maybach hitam itu berhenti tepat di depan teras kediaman keluarga Pradipta di kawasan Menteng.Seorang petugas keamanan berseragam langsung membukakan pintu penumpang. Tiara turun. Pakaiannya rapi dan riasan wajahnya berhasil menutupi sisa lelah akibat kurang tidur semalam.Arlan keluar dari pintu kemudi. Ia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet, lalu berjalan bersisian dengan Tiara memasuki rumah. Mereka melangkah melewati pintu utama tanpa saling bicara, langsung menuju ruang makan keluarga di sayap kanan bangunan.Di sana, Baskara Pradipta sudah duduk di ujung meja. Ayah Tiara, Tuan Aditama, duduk di sisi kanannya. Percakapan kedua pria paruh baya itu terhenti begitu Arlan dan Tiara masuk."Pengantin baru kita," sapa Baskara. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Duduk. Kita baru saja mau mulai."Arlan menarik salah satu kursi. Tiara duduk lebih dulu, disusul Arlan di kursi sebelahnya. Mereka berhadapan langsung dengan Tuan Aditama. Beberapa pelayan rumah segera bergerak mengh

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status