Share

Part 3 Tidak Nyaman

last update Last Updated: 2025-11-01 16:47:34

"Apa kamu dengar, Rena?" Yuda memastikan, karena Renata tidak kunjung menjawab.

Renata hanya mengangguk. "Iya, Mas. Maaf!"

Yuda menarik jemari tangan Renata ke dalam genggaman. Sebelah tangannya memegang setir. Renata hanya diam, tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Bahkan, sampai di rumah, mereka tidak lagi membahas perihal Darren.

Sebenarnya, Renata keberatan dengan sikap over Yuda. Namun, menjelaskan pada laki-laki itu, sama saja mengundang perbuatan kasar Yuda.

Entah apa yang ada di benak Yuda. Setiap kali istrinya diperhatikan laki-laki lain, dia selalu menunjukkan sikap posesif. Bahkan, rasa tidak suka Yuda dibawa dalam setiap hubungan intim.

Selalu saja ada alasan Yuda untuk menyakiti Renata di saat seharusnya romantis itu. Berulang kali, Renata menarik napas lelah. Dia meraba dadanya yang masih tampak jelas bekas tanda kepemilikan Yuda.

Tangan Renata bergerak pelan, dan berhenti di perut. Matanya terpejam, ketika ingat penolakan Yuda atas kehadiran anak. Setidaknya untuk saat ini. Namun, sampai kapan dia akan menanggung pertanyaan yang sama?

"Sudah isi belum, Ren? Kapan kalian memberi kami cucu? Nanti keburu kami mati!"

Pertanyaan ibu mertua yang kesekian kali, tanpa mampu dijawab Renata. Dia hanya minta mertuanya sabar. Padahal, Renata sendiri sudah tidak sabar memiliki anak.

Barangkali dengan punya anak, Yuda akan berubah. Harapan itu masih menggantung di angan Renata, entah kapan terwujud.

"Eh, Mas bikin aku kaget!" sungut Renata terkejut dari lamunan pedihnya.

Yuda melingkari perut Renata dari belakang, lalu mencium sudut bibir istrinya itu. Renata menatap ke arah cermin. Jika begini, Yuda adalah suami yang romantis. Namun, bisa berubah dalam sekejap menjadi suami yang membuat Renata ketakutan.

Renata tidak tahu apa penyebabnya. Dia tidak terlalu lama mengenal Yuda. Mereka berpacaran hanya setengah tahun, lalu memutuskan menikah. Yuda juga sosok yang tertutup tentang masa lalu. Sedikit pun, Renata tidak tahu, bagaimana masa lalu Yuda.

Renata hanya tahu, Yuda anak tunggal dan pewaris kekayaan keluarga Hilmawan. Hidup Yuda tidak kekurangan finansial ataupun kasih sayang.

"Malah melamun lagi!" ucap Yuda kembali menyentak lamunan Renata. "Sebenarnya, apa yang kamu pikirkan, hm?" tanyanya.

Tangan Renata bergerak, mengusap lengan Yuda. "Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, mungkin kita butuh waktu untuk benar-benar quality time!"

Kening Yuda mengerut tipis. "Kamu ingin kita bulan madu lagi?" tebaknya.

Renata langsung membalikkan badan. Dia mengusap pelan dagu kasar suaminya. "Ya, kenapa tidak? Apa kamu keberatan, Mas?" Renata penuh harap.

Alis Yuda terangkat sebelah. "Boleh. Aku atur jadwal. Sepertinya, kita harus berlibur selama satu minggu, Rena."

Sejenak, Renata menggigit bibir. Matanya mulai menyiratkan ketakutan. Quality time? Bulan madu? Itu artinya, dia harus siap menjadi objek nyata fantasi seks Yuda yang nyeleneh.

Renata menarik napas panjang. Tidak mengapa, asal dari bulan madu yang mungkin penuh penyiksaan di atas ranjang itu, dia akhirnya hamil.

Sejenak, senyum Renata tersungging tipis. "Terima kasih, Mas!"

Cup! Renata menghadiahi Yuda kecupan lembut di bibir dan pipi. Lantas keduanya tertawa lirih. Dengan gemas Yuda mengusap kepala Renata.

"Kamu sangat cantik! Ayo, berangkat!" Yuda mengulurkan tangan dan disambut Renata.

Acara malam itu diadakan di sebuah restaurant mewah. Ternyata, tidak hanya para pebisnis yang hadir. Namun, ada juga publik figur dan influencer negeri. Mereka mengadakan acara amal untuk penggalangan dana.

Salah satu band ibukota mengisi acara malam itu. Meskipun menjadi istri seorang milyuner, Renata tampak canggung berbaur dengan mereka. Dia memilin jarinya di atas pangkuan tanda tidak nyaman.

Yuda mencondongkan tubuh pada Renata. "Santai saja! Kamu bukan lagi gadis kampung. Tapi istri Yuda Eka yang terpandang. Jangan membuatku malu, Rena!" ucapnya di tengah suasana hingar bingar musik.

Renata menelan ludah, lalu mengangguk kaku. Yuda meraih tangan Renata dan menggenggamnya sedikit kencang. Tidak menghiraukan perasaan Renata yang tercabik, Yuda asyik berbincang dengan rekan-rekannya.

Dunia bisnis sangat asing dan tidak dimengerti oleh Renata. Maka, dia hanya menjadi pendengar setia. Sampai pada akhirnya, seorang perempuan menggeser kursi mendekati Renata.

"Pak Yuda, boleh saya ajak Bu Rena? Kami para istri tidak paham urusan suami!" kelakar wanita cantik dengan gaun sebatas lutut.

Yuda langsung menatap Renata minta persetujuan. "Oh, tentu saja, Bu Karin. Tidak apa, kalau kalian ingin kumpul dengan ibu-ibu lain!"

Renata tersenyum tipis, lalu berpamitan pada suaminya. Yuda menatap sekilas langkah dua wanita itu yang menjauh.

"Perempuan lebih nyaman dengan dunianya, Pak. Tidak apa-apa. Yang penting mereka happy, bisa menjaga marwah suami, dan setia. Saya bersyukur, sudah dua belas tahun ditemani Karina!" ucap rekan Yuda tanpa diminta.

"I-iya, benar, Pak. Sepertinya, istri saya langsung nyaman dengan Bu Karin!"

"Ya, semoga saja, mereka bisa berteman. Karina punya kegiatan positif di yayasan. Dia aktif mengikuti kegiatan bakti sosial. Kalau Bu Renata bersedia bisa gabung!"

"Tentu, nanti saya bicarakan. Tapi pagi dia mengajar. Saya sudah melarangnya, tapi Rena bersikeras."

"Jangan dikekang, Pak! Pernikahan itu bukan penjara bagi perempuan!"

Gleg! Yuda terdiam mati kutu mendengar ucapan itu. Dia mengangguk-angguk samar dan meraih cangkir kopi, lalu meneguknya sedikit.

"Bu Rena jarang ikut kegiatan, Pak Yuda?" tanya Karina tidak enak hati.

"I-iya, Bu. Jarang sekali!"

Karina tersenyum dan menatap prihatin pada Renata. Renata masih tampak canggung berbaur dengan orang-orang kalangan atas. Dia lebih nyaman bercengkrama dengan anak-anak.

Cukup lama Karina dan Renata membahas kegiatan masing-masing. Pada akhirnya, Renata pamit ke toilet. Dia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya.

Tiba-tiba handphone Renata berdenting. Pesan singkat masuk dari Yuda yang mencarinya. Bergegas, Renata keluar dari situ.

Bruk! Upss!

Karena buru-buru, Renata menabrak seseorang. Handphone dalam genggamannya terjatuh. Tubuh Renata oling. Beruntung, dengan sigap orang itu menangkapnya.

Mata Renata terpejam karena kaget. Namun, sedetik kemudian, aroma perfume maskulin itu segera menyadarkannya.

"Kenapa kamu buru-buru? Kamu tidak apa-apa?" Suara baritone itu menginterupsi keterkejutan Renata.

Lantas dia membuka mata dan bertemu pandang dengan Darren. Darren menunduk, menatap Renata yang masih bengong.

"Hei, Rena! Are you okey?" ulang Darren.

"Ah, em ... Mas Darren. Maaf!"

Buru-buru Renata melepaskan diri dari pelukan Darren. Tanpa bicara apa-apa, Renata bergegas pergi melupakan handphonenya. Darren hanya tersenyum dan mengambil handphone Renata.

"Dari mana sih, Sayang?" Yuda tampak cemas melihat kedatangan Renata.

"Maaf dari toilet!" Renata menunduk takut.

"Oh, aku pikir kamu ke mana. Makanya aku chat!"

"Ponselku ..." Tiba-tiba Renata ingat handphonenya. Dia mencari di dalam tas, tetapi tidak menemukannya.

"Kamu cari ini?"

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 70 Baby Rauf (Ending)

    Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 69 Garis Dua

    "Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 68 Membuka Lembaran Baru

    Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 67 Suamiku

    Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 66 Dilamar

    Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali

  • TERJEBAK DALAM PELUKAN TEMAN SUAMI    Part 65 Pertemuan

    "Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status