Mag-log inRenata langsung menatap Darren yang mengulurkan handphone padanya. Namun, tatapan Yuda justru tertuju ke lengan atas kemeja putih Darren.
"Ini ponselmu!" Darren mengulurkan handphone Renata. Dengan gerakan kaku, Renata menerima benda pipih itu. "Terima kasih, Mas!" "Tidak apa-apa. Hei, Bro!" Darren langsung menyapa Yuda. Namun, Yuda masih menatapnya datar. "Kenapa handphone Rena ada sama kamu?" selidiknya. Renata langsung menggigit bibir takut. Dia tidak berani menatap Yuda maupun Darren. Darren tersenyum sekilas, sambil mengusap tengkuknya. "Oh, tadi kami berpapasan di depan toilet. Sepertinya, Rena buru-buru, sampai handphonenya jatuh!" Mata Yuda menyipit semakin curiga. Lalu, pandangannya kembali berhenti pada lengan atas Darren. Kemeja putih itu ternoda lipstick. Darren menunduk mengikuti arah pandangan Yuda. Dia baru menyadarinya, lalu menatap sekilas pada Renata yang masih mematung. Darren menelan ludah. Ternyata, pelukan tidak disengaja tadi meninggalkan bekas di sana. Senyum sinis Yuda berubah seringaian muak. "Kebetulan lagi?" selidik Yuda pada keduanya. Jari-jari tangan Renata saling meremas di depan tubuh. Hal itu tidak lepas dari perhatian Yuda. Sadar ada yang aneh dari keduanya, rahang Yuda langsung mengeras. Melihat gelagat Yuda, Darren berdehem, lalu tertawa kecil, "Ehm, ah ha ha! Jeli juga kamu, Bro. Aku malah baru melihatnya. Ulah cewekku ini!" Alis Yuda terangkat sebelah. "Oh, cewek?" Diliriknya Renata yang tampak menarik napas gelisah. "Punya cewek kenapa tidak diajak kemari?" "Dia tidak suka ke tempat seperti ini. Oh, apa kalian mau pulang?" Yuda tidak menjawab. Dia justru menarik tangan Renata, membawanya keluar dari gedung. Darren mengangkat bahu tak acuh menatap kepergian suami istri itu. Lantas, Darren melirik lengan kemejanya lagi. Sedetik kemudian, Darren teringat sesuatu. Tanda memar di leher Renata! Bergegas, Darren meninggalkan gedung menuju tempat parkir. "Kamu sudah mulai berbohong padaku, Rena!" Suara Yuda pelan, tetapi sinis. Yuda meluruskan sebelah lengan di samping Renata. Renata yang bersandar di pintu mobil menatapnya ketakutan. "Ak-aku tidak bohong, Mas!" "Tidak bohong? Kalau begitu, jelaskan kenapa handphonemu ada pada Darren dan bekas lipstikmu di bajunya?" "Mas, aku ... aku tadi buru-buru. Handphoneku jatuh!" "Ponselmu jatuh, tapi kamu tidak mengambilnya?" Mata Renata terpejam rapat. Yuda mencengkeram dagu istrinya. "Jawab, Rena! Apa yang kamu lakukan dengan Darren di toilet?" Renata langsung menatap kabur pada Yuda karena terhalang air mata. "Mas Yuda jangan menuduhku sembarangan! Aku dan Mas Darren tidak ..." "Bohong!" bentak Yuda tidak peduli tempat. "Ingat, kamu itu istriku, Rena! Gadis kampung yang kunikahi, sampai kamu seperti ini!" Renata termangu. Bukan hanya bentakan Yuda yang membuat hatinya sakit, tetapi ucapan pelan penuh penghinaan itu. Di samping mobilnya, tangan Darren terkepal erat mendengar keributan itu. Namun, Darren tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya orang asing. Menjadi sahabat Yuda tidak berarti Darren bisa mencampuri urusan pribadi mereka. Suara Yuda masih terdengar di antara tangisan lirih Renata. "Masuk!" Yuda membuka kasar pintu mobil. Dengan langkah cepat, Yuda mengitari body depan mobil dan membuka pintu kemudi. Sebelum memakai seat belt, Yuda menatap sekali lagi pada istrinya. "Aku hanya minta kamu jujur, Rena." "Apa yang harus kukatakan, Mas? Bukannya aku dan Mas Darren sudah menjelaskan?" "Baiklah! Aku akan cari tahu sendiri!" Bergegas, Yuda melajukan mobilnya sedikit kencang. Tidak peduli dengan ketakutan Renata. Wanita itu memejamkan mata sambil berpegangan pada handle pintu. Di belakangnya, mobil Darren mengikuti tanpa Yuda sadari. Berulang kali Darren menarik napas panjang. Ada rasa bersalah dan dilema sudah menjadi penyebab pertengkaran mereka. Namun, Darren tidak menyukai perlakuan kasar, terutama pada perempuan. Pada akhirnya, mobil Yuda berhenti kasar di halaman. Sedangkan Darren menghentikan mobil di seberang jalan. Darren menatap pada bangunan rumah megah berlantai dua yang tampak sepi. Tidak ada penghuni lain di sana kecuali Yuda dan Renata. Mereka hanya memperkerjakan ART sampai sore hari saja. "Aah, sakit Mas!" Suara samar itu mengejutkan Darren yang masih ada di dalam mobil. Darren membuka pintu dan berdiri di samping mobil. Wajahnya mendongak menatap ke arah lampu temaram di lantai dua rumah Yuda. Di kamar mewah yang seharusnya nyaman itu, Renata sering menerima siksaan. Renata meringkuk di atas ranjang sambil memejamkan mata. Plak! Dasi Yuda melayang ke tubuh polos istrinya itu. Renata berjingkat, lalu mendesis lirih. Air matanya membasahi pipi. "Maaf, Mas! Aku tidak melakukan apa pun!" lirih Renata, ketika Yuda mulai naik ke ranjang. Tidak ingin Renata berteriak, Yuda menutup mulut wanita itu dengan dasi, lalu mengikat lengannya menjadi satu di atas kepala. "Ah ... Rena. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu bohong?" Ciuman, gigitan kecil, dan cengkeraman Yuda lampiaskan pada tubuh molek Renata. Renata hanya bisa merintih tertahan. Matanya terpejam, merasakan siksaan di bawah sana. Plak! Renata berjingkat, disusul rasa panas di pahanya. Telapak tangan Renata saling mengepal erat merasakan perih dan sakit hampir di sekujur badan. "Ehmmph!" "Rileks, Sayang!" ucap Yuda sambil terus mencapai puncak kenikmatannya sendiri. Di luar sana.... Setelah tidak mendengar suara apa pun lagi, Darren memutuskan pergi dari situ. Dia terkekeh pelan menyadari kebodohannya. Bodoh karena terlalu ingin ikut campur urusan orang lain. Yuda segera melepas ikatan tangan dan mulut Renata, ketika aktivitas itu selesai. Yuda tersenyum puas, lalu mencium bibir Renata berkali-kali. "Terima kasih, Sayang!" Renata langsung melengos. Rasa cinta itu menjadi muak melihat senyum Yuda di atas air matanya. Karena Renata hanya diam, Yuda segera memeluknya. "Aku tidak tahu, sampai kapan penyiksaan ini berakhir?" Suara Renata parau di depan dada Yuda. Yuda mendongakkan kepala Renata. "Apa maksudmu?" Renata tersenyum miris. Dia beranikan diri menatap mata Yuda. "Apa kamu ingin membuatku mati perlahan, Mas?" ****Air mata Darren menetes tidak tertahankan. Dengan hati-hati, dia menyentuh perut Renata yang bergerak.Setelah itu, diciumnya perut buncit itu sembari mengucapkan doa dan harapan.Dulu keinginan merasakan tendangan kecil seperti itu buyar akibat kecelakaan. Sekarang, Darren tidak mau melewatkan momen itu. Rasa bahagia tidak tergambarkan karena sebulan lagi menjadi seorang ayah. Bahkan, Darren semakin posesif pada istrinya itu."Bagaimana rasanya kalau dia nendang gini? Sakit?"Renata tersenyum, lalu mengusap perutnya yang menonjol di sebelah kiri. "Tidak sakit hanya geli saja. Ini kayaknya lutut, Mas. Lucu sekali!" "Ajaib, ya. Ah, aku calon ayah paling bahagia. Banyak kisah mengharukan sebelum kita sampai di tahap ini, Sayang."Tangan Renata berganti mengusap dagu Darren yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lalu, diciumnya lembut bibir kemerahan laki-laki tampan itu."Apa yang ingin kamu katakan pada anak kita nanti?" Bibir Darren mengkerut sejenak, lalu tersenyum jahil. "Em, mungkin aku
"Lin, kamu mau bareng apa tidur di sini?" Suara dan tatapan Yuda sama datarnya.Alina terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia segera pamit pada Renata dan Darren. Renata juga berpesan pada keduanya untuk hati-hati.Namun, karena buru-buru, sepatu Alina tersangkut gamisnya sendiri. "Auuuh!" Alina terkejut, hampir terjungkal di anak tangga teras. Beruntung, Yuda sigap menangkapnya. Pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Darren dan Renata yang berdiri di depan pintu."Sepertinya mereka berjodoh," bisik Darren pada Renata.Renata mengangguk dan tersenyum kecil. Dia ingat kedekatannya dengan Darren dulu berawal dari kejadian seperti itu. Renata berharap, Yuda berjodoh dengan Alina. Dia yakin, Yuda sudah berubah dan tidak seperti dulu.Yuda segera melepas tangannya dari bahu Alina setelah memastikan wanita itu aman. Pipi Alina merona karena malu, lalu melambai kecil pada Renata."Assalamualaikum!" pamit Alina, sebelum memasuki mobil."Waalaikumsalam, hati-hati, Lin, Mas Yuda!" Yu
Renata mengerjap pelan, ketika mendengar bacaan ayat-ayat suci dari masjid pondok. Dia menoleh, menatap Darren yang masih lelap dalam mimpi. Dengan hati-hati, Renata menyingkirkan tangan Darren dari perutnya. "Ehmm ..." Darren menggumam samar dan memeluk Renata lagi. "Mas, aku mau mandi dulu. Sudah telat shalat tahajjud." Darren langsung membuka mata. "Ya sudah. Kalau gitu, kita mandi bareng saja!" ajaknya sembari duduk. "Ngawur. Aku duluan!" Segera, Renata mengambil pakaiannya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Dia memakainya cepat dan bergegas ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Renata justru bertemu Darren di dapur. Suaminya itu tampak berbincang dengan Bu Ayu dan dua orang kerabat. Darren tersenyum jahil, ketika melihat Renata buru-buru memasuki kamar. Setelah shalat malam, sambil menunggu waktu subuh, Darren kembali keluar dari kamar. Dia segera mengetuk kamar kakaknya. Cindi yang masih tidur, mengerutkan kening sambil membuka pintu. "Mbak, sudah subuh tu
Tatapan Darren menyipit, bibirnya melekuk senyum jahil. Dia mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Renata dengan lembut. Namun, Renata segera menggeser tubuh. Darren yang sadar, langsung menangkupkan telapak tangan di dada. Melihat itu, Renata justru tertawa kecil. "Pulang sana, Mas! Basah semua itu. Seperti anak kecil saja, pakai acara basah-basahan!" "Kalau tidak gitu, kamu mana mau datang? Aku pulang dulu, ya!" Darren menatap sekali lagi pada Renata, lalu membuka pintu mobil. "Besok pagi, aku jemput ke sini, ya, Calon Istri!" ucapnya dengan senyum bahagia. Renata mengangguk samar, kemudian mengikuti anak-anak yang kembali ke pondok. Darren menunggu mereka sampai melewati gerbang. Setelah itu, Darren melajukan mobil kembali ke rumah. * Pak Susilo menatap dingin pada Renata dan Darren. Mulanya dia masih bersikukuh dengan egonya. Namun, Darren tidak menyerah. Niat untuk membawa Renata pulang ke Jakarta sebagai istrinya sudah bulat. Bu Yanisah menangis haru di pelukan Renata, se
Tatapan Renata nanar. "Kamu sudah tahu, Mas?"Darren terdiam sembari menekan emosi, lalu mengangguk samar. Almira memang pernah mengakui, saat Darren menceraikannya di depan keluarga. Karena beberapa pertimbangan, akhirnya Darren memilih tidak memperpanjang kasus itu.Bagaimanapun, janin itu telah pergi. Darren tidak mau terus larut dalam duka. Melihat diamnya Darren, Renata menggeleng samar dengan hati sangat kecewa."Kenapa kamu tidak mengatakan padaku, Mas?""Maafkan aku, Rena. Aku ..."Tatapan nanar Renata berubah sinis pada Darren dan Almira. "Kalian sama saja. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku sudah kehilangan janin dalam kandunganku. Lebih baik, aku juga kehilanganmu, Mas!""Astaghfirullah, Rena! Dengarkan dulu, Sayang!"Bergegas, Renata keluar dari ruangan itu. Setengah berlari, dia meninggalkan Darren dan Almira. Tidak dihiraukannya panggilan Darren. Renata segera memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Di sana, dia kembali menumpahkan tangis."Jahat sekali
"Ada, dia mencintaimu, Renata! Bahkan, sudah disiapkan cincin pernikahan untukmu."Bibir Renata kembali melekuk senyum satu sudut. "Maaf, Mbak. Aku tidak mau membicarakan ini. Aku hanya ingin memperbaiki diri!" sahutnya, kemudian berlalu.Langkah Renata semakin cepat, lalu memasuki kamar. Setelah itu, dia segera menutup dan mengunci pintunya. Renata duduk di tepi ranjang, lalu mengambil handphone.Dengan ragu, dia menyalakannya. Hanya bermaksud melihat aktivitas chat dari Alina ataupun Darren. Renata menelan ludah, mendapati banyak sekali daftar panggilan dan pesan dari mereka. Bahkan, beberapa panggilan dan pesan dari Yuda."Maafkan aku, Mas. Aku sudah jahat padamu. Tapi aku butuh waktu di sini. Aku malu bertemu kalian."Ternyata, di saat yang sama, Darren sedang online. Dia pun tampak mengetik pesan. Renata mendengus kasar penuh sesal karena kepergok Darren. Seharusnya, dia tidak terbawa oleh perasaan."Astaghfirullah. Dia tidak boleh tahu!"Buru-buru, Renata menutup handphone. Namu







