Mag-log inPernyataan Pak Sentot lewat interkom bagaikan dentuman meriam yang memutus pagutan panas di antara mereka. Mata Kirana membelalak seketika, namun bukannya panik, wanita itu justru menyunggingkan senyum misterius.
Sebaliknya, Rian nyaris melompat dari tempatnya berdiri dengan wajah pucat pasi. "Waduh, Gusti! Tuan rumahnya pulang?!" batin Rian berteriak histeris, badannya gemetaran seketika. "Mampus aku! Kalau tertangkap basah begini, bukan cuma gak dapet kerjaan aja, bisa-bisa badanku dijadiin adonan semen!" Rian buru-buru memundurkan langkah, berniat mencari pintu keluar atau jendela untuk melompat. Namun, dengan gerakan secepat kilat, tangan mulus Kirana mencengkeram pergelangan tangan tegap Rian. Wanita itu menarik Rian secara paksa menuju ke sudut ruangan, mengabaikan kepanikan sang pelayan muda. "N-Nyonya, saya harus kabur lewat mana?!" bisik Rian setengah tercekik, napasnya memburu kencang. "Jangan bodoh, semua pintu luar dijaga satpam," bisik Kirana serak tepat di depan telinga Rian. "Masuk ke sini sekarang kalau kamu tidak mau mendekam di penjara!" Kirana membuka pintu kayu jati sebuah walk-in closet atau lemari pakaian raksasa yang tersamar di balik dinding. Tanpa memberi kesempatan Rian untuk berpikir, Kirana mendorong tubuh tegap pemuda itu ke dalam kegelapan. Dan yang membuat jantung Rian makin berdegup gila, Kirana ikut menyelinap masuk lalu menutup pintunya dari dalam. Klek. Ruangan lemari sempit itu mendadak menjadi gelap gulita dan luar biasa pengap. Ukuran lemari yang terbatas memaksa tubuh Rian yang tinggi besar berdempetan kencang dengan tubuh Kirana. Aroma parfum mawar yang tajam bercampur dengan kehangatan kulit wanita itu langsung menyergap indra penciuman Rian. "Aduh, Gusti... ini mah bukan sembunyi, tapi nyetor nyawa!" desah Rian dalam hatinya yang makin kebat-kebit. "Udah lemarinya sempit, Nyonya Kirana nempelnya kencang banget lagi! Mana gaunnya cuma sutra tipis!" Rian berusaha keras merapatkan punggungnya ke dinding lemari untuk menyisa jarak, tapi usahanya sia-sia. Buah dada Kirana yang membusung kenyal menekan langsung dada bidang Rian yang masih setengah terbuka. Hembusan napas hangat sang Nyonya menyapu leher Rian, membuat bulu kuduknya berdiri hebat. Celakanya, di tengah kepanikan setengah mati itu, bagian bawah tubuh Rian justru mengkhianati kewarasannya. Si Bambang yang sempat tegang akibat ciuman brutal tadi, kini malah makin meledak keras merespons gesekan tersebut. Batang Rian yang mengeras sempurna mendesak kencang paha mulus Kirana dari balik celana kainnya. "Oiii, Asem lah! Jangan makin bangun oii, Si Bambang!" caci Rian meratapi nasib di dalam hatinya. "Ini Tuan rumah ada di luar! Kalau Si Bambang nyundul-nyundul gini terus, bisa ketahuan kita!" Brak! Suara pintu utama ruangan dibuka secara kasar dari luar membuat Rian menahan napasnya seketika. Langkah kaki berderap tegas menggunakan sepatu pantofel mahal bergema di atas lantai marmer. Itu adalah Tuan Bima Dirgantara, sang penguasa mansion sekaligus suami sah dari Kirana. "Kirana! Di mana kamu?!" suara Tuan Bima terdengar berat, dingin, dan penuh nada kemarahan. Rian memejamkan mata rapat-rapt, menggigit bibirnya sendiri hingga terasa asin demi menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang, sampai-sampai ia takut suara detak jantungnya bisa terdengar ke luar lemari. Ia bisa merasakan tubuh Kirana yang berada di pelukannya justru sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi gairah. "Sentot! Di mana istriku?!" bentak Tuan Bima lagi, suaranya kini terdengar sangat dekat dari depan lemari. "M-maafkan saya, Tuan Bima," suara Pak Sentot terdengar gemetar dari arah pintu. "Nyonya Kirana tadi bilang sedang istirahat di kamar atas, Tuan. Mungkin Nyonya berada di sana." "Cepat siapkan berkas proyek Surabaya Barat di mejaku! Aku tidak punya banyak waktu!" perintah Tuan Bima kasar. Langkah sepatu Tuan Bima berjalan mendekati meja kerja yang posisinya hanya berjarak dua meter dari lemari. Suara gesekan kertas dan denting gelas wiski yang dituangkan terdengar sangat jelas di telinga Rian. Rian makin merapatkan tubuhnya, memegang kedua bahu Kirana agar wanita itu tidak bergeser sedikit pun. Namun, Kirana justru memanfaatkan situasi mencekam itu untuk melancarkan aksi gilanya. Merasakan “Si Bambang” milik Rian yang mengeras kaku dan menekan pahanya, mata Kirana berkilat nakal dalam gelap. Bukannya takut tertangkap suaminya, sensasi bahaya ini justru membakar api gairah di dalam diri Kirana. Tangan lentik Kirana bergerak perlahan di dalam kegelapan, merayap turun dari dada bidang Rian. Jari-jarinya yang dingin menyusuri perut berotot Rian, lalu bergerak makin turun menuju celana kain pemuda itu. "Waduh, waduh! Nyonya mau ngapain ini?!" batin Rian melotot panik dalam kegelapan lemari. "Jangan dipegang Nyonya! Waduh Gusti, Si Bambang bisa meledak kalau dipegang begitu!" Tangan Kirana tanpa ragu mengusap permukaan "Si Bambang" yang terbungkus kain celana tipis Rian. Ukuran dan kekerasan milik pelayan mudanya membuat Kirana menahan napas, matanya terpejam menahan desahan. Jari-jari Kirana mulai meremas pelan batang tegak itu, membelainya dengan gerakan naik-turun yang sangat menyiksa. Sssshhh... Rian mendesis halus, kepalanya langsung mendongak ke atas menahan kenikmatan gila yang menyergapnya. Mata Rian terpejam-melek, jemarinya meremas bahu mulus Kirana dengan sangat kencang untuk melampiaskan gairah. Otaknya berteriak bahaya karena Tuan Bima ada di luar, tapi nikmatnya sentuhan Kirana membuat fisiknya pasrah total. "Gila... ini Nyonya gila banget!" umpat Rian dalam hati, napasnya keluar lewat hidung dengan sangat berat. "Suaminya lagi tuang wiski di luar, istrinya malah ngeremas Si Bambang di dalam lemari!" Kirana makin berani, jemarinya menyusup ke balik karet celana Rian, menyentuh langsung kulit panas "Si Bambang". Sentuhan kulit ke kulit itu membuat tubuh tegap Rian bergetar hebat, pinggulnya refleks berkedut menyambut genggaman Kirana. Kirana terkekeh sangat pelan tanpa suara, menikmati kepatuhan dan kenikmatan yang terpancar dari wajah tampan Rian. Sementara di luar lemari, Tuan Bima meneguk wiskinya dengan kasar sambil menggerutu penuh kekesalan. "Wanita tidak berguna! Di mana dia menyimpan kunci brankas dokumen itu?!" gumam Tuan Bima emosi. Suara langkah kaki Tuan Bima mendadak berputar arah, berjalan mantap menuju ke arah lemari pakaian! Setiap pijakan sepatunya di atas marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Rian yang sedang dalam puncak gairah. "Sentot! Apakah kunci cadangan disimpan di dalam lemari pakaian ini?!" bentak Tuan Bima keras. "I-iya, Tuan! Biasanya Nyonya menyimpannya di lacinya," jawab Pak Sentot panik. Tangan Tuan Bima terangkat, lalu memegang gagang pintu walk-in closet dari luar! Suara engsel pintu lemari mulai bergerak pelan saat Tuan Bima hendak menariknya lebar-lebar. Di dalam kegelapan, tangan Kirana masih memegang erat "Si Bambang" milik Rian yang tegang maksimal. Rian membelalakkan matanya dalam horor murni, tubuhnya membeku kaku menatap celah pintu yang mulai terbuka. Apakah rahasia panas mereka di balik lemari akan terbongkar secara mengenaskan malam ini?Di bawah naungan ribuan bintang dan gemuruh lembut ombak Laut Sulu, Rian melepaskan rompi taktis dan pakaian tempurnya, membiarkan tubuh tegapnya yang dipenuhi garis otot kencang dan sedikit bekas luka pertarungan terpampang gagah.Kirana menatap tubuh suaminya dengan napas yang memburu cepat. Dengan jemari halusnya yang gemetar oleh gairah, Kirana perlahan menurunkan tali gaun sutra putihnya dari bahu. Kain sutra halus itu meluncur turun ke atas lantai kayu jati, membiarkan keindahan raga Sang Permaisuri terpapar sepenuhnya tanpa sehelai benang pun.Kulit mulusnya yang seputih salju berkilau di bawah pendar sinar bulan. Dada indah yang membusung sempurna, lekuk pinggang yang ramping, paha mulus yang memikat, serta kehangatan tempat terlarangnya yang telah melimpahkan aroma gairah manis membuat atmosfer di area geladak privat itu kian memanas.Rian melangkah mendekat, memegang pinggul ramping Kirana, lalu merebahkan tubuh molek istrinya secara perlahan di atas tempat
Tepat saat Rian menyelesaikan kalimatnya, layar-layar monitor di ruang kendali yang sempat mati akibat peledakan EMP mendadak menyala kembali satu per satu. Namun, logo merah The Apex Dynasty yang biasanya menghiasi layar telah berganti sepenuhnya menjadi logo emas Adiguna Global Holdings.BZZZT!Sebuah pemberitahuan sistem berwarna merah berkedip di layar utama: [SISTEM DIKECUALIKAN. KEPEMILIKAN ASET DIALIHKAN SECARA MUTLAK. SELURUH PROTOKOL DARURAT DIBATALKAN.]Vance menatap layar itu dengan ketakutan yang tak terlukiskan. Tombol pemicu di tangannya mendadak mati, tidak lagi memberikan respon apa pun."B-Bagaimana bisa ... Akuisisi perusahaan butuh waktu berminggu-minggu,” bisik Vance gila, kakinya mundur hingga terbentur meja kerja."Bagi orang biasa, ya," ujar Rian dingin. "Tapi ketika aku menawar tiga kali lipat dari nilai pasar dan mengancam mempublikasikan skandal pencucian uang para pemegang saham utamamu dalam waktu lima menit ... mereka menjual pe
Dua menit kemudian, perahu merapat di dermaga beton yang temaram. Rian melompat naik lebih dulu, disusul Siska dan empat prajurit pilihan. Senjata mereka teracung mengawasi setiap sudut lorong utama yang dipenuhi pipa-pipa uap berkarat.Langkah kaki mereka mendarat tanpa suara di atas permukaan semen yang lembap. Tidak ada perlawanan. Tidak ada tembakan menyambut. Hanya keheningan abnormal yang menusuk tulang."Target berada di fasilitas server level minus tiga," bisik Siska sambil mengisyaratkan dua prajuritnya untuk menjaga area dermaga.Mereka bergerak menyusuri lorong beton menuju pintu gerbang tekanan udara (airlock gate) berdinding baja tebal. Saat Rian menapakkan kakinya melewati ambang pintu baja tersebut, sebuah suara klik mekanis bergetar di bawah lantai.Sret!Sebelum ada yang sempat bereaksi, pintu baja berbobot dua ton di belakang mereka meluncur turun dengan kecepatan luar biasa!BRUKKK!Debu dan percikan api memercik saat pintu baja menghantam lantai, mengunci Ri
Valerie yang berlutut di samping mereka memanjakan bagian atas tubuh Kirana, mencium bibir dan memanjakan puncak payudara Kirana dengan mulut dan jemari halusnya, menyempurnakan kenikmatan gila yang dirasakan oleh Kirana.Rian mempercepat genjotannya hingga menjadi sebuah gelombang gairah yang sangat brutal dan nikmat! Setiap pendorongan Si Bambang membawa kehangatan raksasanya mengocok cairan cinta Kirana hingga melimpah basah membasahi paha mulus dan seprai mahoni."Rian! Aku tidak kuat lagi! Aku mau keluar! Aaghhh! RIANNN!" jerit Kirana melengking tinggi saat gelombang orgasme pertamanya pecah dengan sangat hebat!Tubuh mulus Kirana kejang nikmat, rahimnya memompa keperkasaan Rian dalam kedutan-kedutan intensif yang sangat panas.Tanpa menarik keluar Si Bambang, Rian membalikkan tubuh Kirana hingga kini wanita cantik itu menungging anggun di atas tempat tidur, membelakangi Rian dan menghadap langsung ke arah kaca transparan yang memamerkan gemerlap kota.Dari posisi doggy styl
Satu jam kemudian.Badai hujan di luar telah mereda, menyisakan keheningan malam yang syahdu di atas Kota Surabaya. Awan hitam mulai terkuak, memperlihatkan bulan separuh yang memancarkan pendar keemasan di atas langit malam.Di lantai delapan puluh delapan Surabaya Financial Megatower, ruang Penthouse pribadi milik Rian Nugraha, atmosfer kemewahan dan dominasi mutlak memenuhi setiap sudut ruangan seluas seribu meter persegi itu.Penthouse ini merupakan puncak pencapaian arsitektur modern. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca transparan setinggi lima meter yang memamerkan pemandangan panoramic gemerlap lampu malam Kota Surabaya dari ketinggian tiga ratus meter di udara. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam renang infinity air hangat dan sebuah tempat tidur Super King Size berdinding kayu mahoni pilihan.Rian Nugraha telah membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa darah pertempuran. Pria itu kini hanya mengenakan celana panjang sutra hitam yang longgar, membiarkan dada tegap berotot
“DUARRR!” Pintu baja ruang kontrol tidak didobrak secara perlahan. Pintu itu hancur berantakan dipicu oleh muatan peledak C4 yang dipasang oleh Mayor Siska!Serpihan besi melayang di udara diiringi oleh kepulan asap tebal.Dari balik kepulan asap tersebut, melangkah keluar Rian Nugraha. Rompi taktisnya ternoda oleh ceceran darah musuh, matanya menyala dalam pendar membunuh yang sangat pekat. Rian melangkah masuk dengan ketenangan yang teramat dingin, pistol Pit Viper-nya tergantung santai di samping pahanya.Rendra terbelalak lebar, wajahnya seketika kehilangan seluruh warna darah saat melihat sosok pemilik imperium itu berdiri di hadapannya."T-Tuan Rian...!" jerit Rendra ketakutan, langkah kakinya mundur hingga terbentur konsol mesin sirkulasi. "B-Bagaimana mungkin Anda ... Anda harusnya berada di Bali!""Aku berada di mana pun tempat para pengkhianat mencoba merusak rumahku, Rendra," suara Rian mengalun sangat datar, namun setiap kata-katanya menghantam jiwa Rendra bagaikan pa







