Home / Romansa / TERJERAT GODAAN OM ADRIAN / Pemandangan Berbeda Di Taman Belakang

Share

Pemandangan Berbeda Di Taman Belakang

Author: SweetWater
last update Last Updated: 2026-02-05 18:00:00

Saat ini Safira sudah berada di kamarnya. Lampu meja menyala redup, tirai jendela tergerai setengah, membiarkan cahaya kota merayap masuk dengan dingin. Ia berbaring miring, memunggungi jam dinding yang jarumnya terus bergerak nyaring di telinganya.

Ucapan Adrian terus berputar di kepalanya, seperti bisikan yang menolak pergi.

Semua pilihan ada di tanganmu.

Safira menarik selimut lebih tinggi, seolah kain tipis itu mampu melindunginya dari pikirannya sendiri. Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang lain menyelip di sela-selanya, yang membuatnya marah pada diri sendiri.

Kenapa kata-kata itu tidak sepenuhnya ia benci?

“Kalau aku diam… apakah benar semuanya akan baik-baik saja?” Pikirnya pahit.

Namun, bayangan Adrian kembali muncul. Tatapan itu. Suara rendah yang tenang tapi menekan. Cara ia membuat Safira merasa seolah hanya ada dua pilihan dalam hidupnya.

Safira memejamkan mata kuat-kuat.

Ia ingin membenci Adrian. Ingin mengutuk godaan itu. Tapi tubuhnya mengkhianatinya dengan reaksi-reaksi kecil yang tak bisa ia kendalikan.

Ia menggigit bibir, menahan perasaan yang saling bertabrakan di dadanya.

Safira membalikkan tubuh, menatap langit-langit kamar. Pilihan itu masih menggantung, belum terjawab. Dan ia tidak berniat ingin tahu apa jawabannya.

Setidaknya … untuk saat ini.

***

Siang itu udara terasa hangat dan cerah. Taman belakang di penuhi aroma tanah basah dan bunga yang sedang mekar. Safira berdiri di samping Vivian, memegang selang air sambil menyiram deretan bunga mawar dan anggrek yang tersusun rapi.

“Arahkan airnya ke akar, Safira. Jangan ke daunnya terlalu lama,” ujar Vivian lembut.

“Iya, Tante.” Safira mengangguk sambil menyesuaikan arah semprotan. “Seperti ini?”

“Ya, tepat sekali.” Vivian tersenyum puas. “Kamu cepat sekali belajarnya. Bunganya langsung kelihatan segar.”

Safira ikut tersenyum. “Aku juga suka merawat tanaman sejak kecil, Tante. Rasanya menenangkan.”

“Oh, ya? Pantas saja kamu kelihatan cocok di taman.” Vivian menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu kembali terkekeh kecil. “Apalagi dengan dress itu. Kamu jadi semakin terlihat seperti pecinta bunga sungguhan, Safira.”

Safira refleks menunduk, sedikit tersipu. Ia menatap Dress bermotif bunga yang ia kenakan, ringan dan jatuh pas di tubuhnya, mengikuti setiap geraknya tanpa ia sadari.

“Ah, Tante bisa saja.” Safira jelas tampak malu.

“Aku serius, Safira. Jangan bilang kalau kamu tidak memercayai ucapanku.” Vivian membuat wajah kecewa dan hal itu justru membuat Safira terkekeh kecil.

“Sama sekali tidak,” ucap Safira yang membuatnya dan Vivian terkekeh bersama.

Sementara itu, dari balik pintu kaca ruang keluarga, Adrian berdiri dengan segelas air di tangannya. Niatnya ia hanya ingin sekadar lewat. Namun, langkahnya terhenti begitu saja saat matanya menangkap pemandangan di taman belakang.

Safira.

Gadis itu berdiri di bawah terik matahari siang, menyiram bunga dengan selang di tangannya. Dress bermotif bunga yang di kenakannya bergerak mengikuti setiap langkahnya. Kain tipisnya melekat di pinggang, menonjolkan lekuk tubuh yang sejak awal berhasil mengganggu pikiran Adrian.

Vivian mungkin hanya melihat motif bunganya, tanpa memikirkan setipis apa kain yang membalut tubuh Safira. Namun, bagi Adrian justru itulah yang paling menarik perhatiannya.

Adrian menghela napas pelan.

Ia menyandarkan bahu ke kusen pintu, matanya tak lepas dari Safira. Rambut gadis itu di ikat setengah, lehernya terbuka membuat kulit putih mulusnya terekspose dan mengganggu ketenangannya. Ada kesederhanaan di sana. Tampilan polos tapi menggoda. Sangat berbeda dengan Vivian yang selalu tampil rapi. Namun, justru terlihat biasa saja di mata Adrian.

Sial! Bahkan Adrian kini mulai terlalu sering membandingkan istrinya dengan gadis polos itu.

Lagi-lagi ia menatap Safira, cara gadis itu tersenyum kecil saat Vivian memujinya, pada caranya berdiri seolah taman itu memang miliknya.

Adrian mengatupkan rahang. Dan tanpa banyak berpikir, ia melangkah maju, membuka pintu kaca, membiarkan cahaya dan suara taman menyambutnya.

“Oh?” Vivian menoleh. “Adrian?”

Safira ikut menoleh dan napasnya seketika terasa lebih pendek.

Adrian sedang berjalan menuju ke arahnya. Kemeja rumahnya tergulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan, tapi terkesan santai. Tatapannya langsung tertuju pada Safira.

“Kamu ke taman?” Vivian mengernyit heran. “Biasanya kamu tidak pernah mau keluar rumah kalau cuaca panas begini.”

Adrian tersenyum tipis. “Aku hanya butuh udara sebentar.”

“Masa?” Goda Vivian. “Atau kamu bosan di dalam?”

“Mungkin,” jawab Adrian sambil melangkah mendekat. “Atau mungkin karena pemandangan hari ini terlihat lebih menarik.”

Kalimat itu terdengar ringan. Vivian tertawa kecil, menganggapnya bercanda.

“Kamu ini bisa saja,” ujarnya sambil menggeleng.

Namun, Safira tahu tatapan itu tidak sedang bercanda.

Adrian berhenti tidak jauh dari Safira. “Kamu tidak kepanasan, Safira?” Tanyanya, nada suaranya rendah.

“Tidak, Om,” jawab Safira cepat, berusaha tetap fokus menyiram bunga.

“Dress itu …” Adrian menghela napas pelan. “Membuat tampilanmu jadi kelihatan segar. Pilihan yang pas sekali.”

Vivian tersenyum bangga. “Iya, kan? Safira memang cocok sekali dengan dress itu.”

Safira tersenyum kaku. Dadanya berdebar lebih cepat.

Belum sempat suasana mereda, ponsel Vivian berdering. Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja taman dan menjawabnya.

“Ya? Ada apa?” Tanya Vivian. Ekspresinya perlahan berubah serius saat mendengarkan. “Hm, baiklah. Pastikan semua dokumennya sudah lengkap. Aku akan segera ke sana,” ujarnya lalu menutup panggilan.

“Dari kantor?” Adrian bertanya.

“Ya.” Vivian menoleh pada Adrian. “Aku harus segera pergi. Ada pekerjaan yang harus aku urus.”

“Sekarang?” Lagi-lagi Adrian kembali bertanya.

Vivian mengangguk. “Ini penting,” ujarnya lalu tersenyum tipis. “Oh iya, kalian lanjutkan saja menyiram bunganya. Jangan sampai mawar putihku layu.”

Safira mengangguk cepat. “Iya, Tante.”

Vivian melangkah pergi, masih dengan senyum yang sama. “Adrian, tolong temani Safira, ya. Aku mungkin akan pulang terlambat.”

“Baiklah,” jawab Adrian singkat, matanya mengikuti langkah Vivian yang menjauh.

Begitu Vivian menghilang, taman terasa berubah. Masih cerah, masih indah tapi udara di antara Adrian dan Safira mendadak terasa berat.

Adrian mendekat setapak. “Vivian benar,” ujarnya pelan. “Kamu memang cocok memakai dress itu.”

Safira menggenggam selang lebih erat. Tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk.

Diam-diam Adrian terkekeh saat melihat reaksi Safira. Ia tidak ingin membuat gadis itu takut. Jadi ia akan bersikap sedikit lebih santai. Tidak perlu terburu-buru, dan tidak perlu memaksa. Yang penting tepat sasaran. Adrian sudah tahu karakter Safira. Gadis polos itu hanya perlu di beri sedikit dorongan sebelum akhirnya terjerat ke dalam perangkapnya.

“Kamu tahu,” Adrian kembali bersuara, nadanya lebih rendah, “Seperti itulah Vivian. Dia sering sekali pergi. Kadang berhari-hari. Membuatku terbiasa sendiri.” Ia tersenyum miring. “Terlalu lama.”

Safira menoleh, ragu. “Tapi Tante Vivian pergi karena pekerjaan, kan.”

“Ya. Selalu pekerjaan,” sahut Adrian santai.

“Berarti … Tante Vivian tipe wanita pekerja keras.”

“Aku tahu.” Adrian menatap bunga di depan mereka, lalu kembali menatap Safira. “Dan aku menghargainya. Tapi tetap saja rumah tanpa teman bicara itu terasa hampa.”

Angin berembus pelan, menggerakkan ujung dress Safira. Adrian memperhatikannya tanpa berusaha menyembunyikan.

“Kamu tidak keberatan menemaniku di sini, kan?” Tanyanya ringan, seolah tak ada makna lain.

Safira menggeleng pelan. “Tidak, Om. S-saya tidak keberatan.”

Adrian tersenyum samar. “Bagus.” Ia lalu melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga Safira bisa mencium aroma parfumnya. “Kamu tahu, Safira. Kamu membawa sesuatu yang berbeda. Yang membuat rumah ini tidak terasa sesunyi biasanya.”

Safira terdiam. Menelan ludah susah payah. Lagi-lagi kalimat Adrian berhasil membuatnya kehilangan kata-kata.

Ia kembali menyiram bunga, mencoba menenangkan diri. Namun, di taman yang tampak damai itu, Safira kembali sadar godaan Adrian tidak pernah benar-benar berhenti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Bayangan Yang Membuat Adrian Bergairah

    Malam itu, kamar Adrian terasa begitu sunyi. Lampu menyala temaram, hanya cahaya kuning lembut dari lampu tidur yang memantul di dinding kamar. Adrian berbaring di ranjang besar itu, memejamkan mata, tapi ia tak kunjung terlelap juga. Tiba-tiba ia terbayang wajah Safira. Senyumnya, sorot matanya, bibirnya yang terasa lembut dan kenyal, juga pada bagian tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuat Adrian tergoda. Ia teringat jelas bagaimana pinggang itu terasa di bawah telapak tangannya. Lembut, hangat, dan terlalu pas untuk di genggam. Ingatan itu berlanjut tanpa bisa ia hentikan. Kilasan saat jemarinya sempat menyentuh lekuk tubuh Safira membuat napasnya berubah berat. Seketika tangannya mengepal di atas seprai. Tubuhnya bereaksi hanya karena bayangan itu. Ia terangsang. Hanya karena Safira. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Peringatan Yang Lembut

    Rafael baru saja ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tangannya sudah meraih piring yang tersedia di atas meja ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah Safira.Meja di depan gadis itu masih kosong. Tidak ada piring. Bahkan sendoknya pun belum tersentuh. Hanya ada gelas berisi air putih yang hampir habis.Rafael mengernyit samar. Sepertinya Safira juga belum makan. Rafael lalu kembali menatap Safira. “Kamu belum makan?”Safira sedikit terkejut mendengar suaranya. “Belum,” jawab Safira pelan.Tanpa mengatakan apa-apa, Rafael langsung meletakkan piring kosong yang tadi ia ambil tepat di depan Safira. “Makanlah,” katanya santai.Safira berkedip bingung. “Aku bisa mengambil sendiri—”“Aku tahu,” potong Rafael. “Tapi aku sedang ingin menjadi pria baik pagi ini. Sebelum nanti kamu menganggapku menyebalkan lagi.”Nada bercandanya membuat Safira menahan senyum. Ada rasa hangat yang muncul t

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Hanya Tinggal Selangkah

    Adrian kembali mencium Safira. Kali ini tidak tergesa. Tidak agresif. Namun, lebih dalam.Bibirnya menyentuh bibir Safira perlahan, seolah memberi kesempatan gadis itu untuk menarik diri jika memang ingin. Namun, Safira justru diam dan tidak bergerak menjauh.Napas mereka bertemu.Hangat.Pelan-pelan Adrian memperdalam ciuman itu. Jemarinya di tengkuk Safira menahan dengan lembut, ibu jarinya sesekali mengusap kulit di sana, menciptakan sensasi halus yang membuat tubuh Safira merinding.Safira sempat menahan napas. Namun, ketika bibir Adrian bergerak lebih lembut dan sabar, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangannya mencengkeram bahu pria itu.Ia membalas. Masih ragu, tetapi nyata.Adrian jelas merasakannya.Ciuman itu berubah menjadi lebih intim. Tidak sekadar sentuhan bibir, tetapi juga permainan ritme yang lambat, hangat, dan menenangkan sekaligus memabukkan. Safira bisa merasakan kelembapan d

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Jangan Memintaku Untuk Berhenti

    Selepas kepergian Rafael, rumah tiba-tiba terasa sangat sepi. Safira sempat berniat langsung masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia justru ingin duduk sejenak menikmati udara malam di taman belakang.Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih cukup aman. Biasanya jika Adrian lembur, pria itu pasti pulang larut malam.Akhirnya Safira melangkah menuju taman belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi pepohonan dan kolam kecil di sudut halaman. Udara malam terasa hangat, sesekali angin membawa aroma bunga dari kebun kecil di sekitar.Safira duduk di bangku taman, memeluk lutut sambil melamun menatap permukaan kolam yang tenang. Ia sendiri tidak sadar sudah berapa lama berada di sana, sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Safira menoleh cepat, lalu membeku.Adrian berdiri di sana dengan pakaian santai. Kaos putih lengan panjangnya tergulung hingga siku, beberapa k

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Merasa Nyaman Dengan Rafael

    Safira baru saja selesai menata makan malam di atas meja ketika Rafael masuk ke ruang makan. Alih-alih ikut duduk, ia justru berbalik seolah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Rafael menahan dengan suara santai. “Kamu tidak ingin makan malam?” Tanya Rafael, menatapnya penuh selidik. Safira tampak salah tingkah. “A-aku makan nanti saja.” “Kenapa harus nanti?” Rafael langsung menarik kursi lalu duduk. “Makan saja sekarang bersamaku. Lagipula kamu sudah menyiapkan semua ini.” “Tapi—” “Tidak ada tapi. Duduklah,” potong Rafael tegas. Safira masih berdiri, ragu. Tangannya saling meremas ujung baju, jelas sedang berpikir mencari alasan lain. Rafael mengembuskan napas pelan, lalu menatapnya lebih serius. “Safira, aku menyuruhmu duduk.” Tatapannya tetap mengunci gadis itu yang belum juga bergerak. Lalu sudut bibirnya terangkat nakal. “Atau

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Tak Ada Tempat Untuk Sembunyi

    Suara langkah kaki terdengar pelan di lorong kantor divisi keuangan yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore waktu pulang. Safira berdiri sambil menenteng map laporan yang baru saja ia revisi. Ia menarik napas lega, berusaha melepaskan ketegangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menumpuk di pundaknya.Hari-hari ini melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang tak ada habisnya, tetapi juga karena pikirannya sendiri yang terus di penuhi hal-hal yang sulit ia abaikan, terutama tentang Adrian.Safira mengembuskan napas perlahan.Namun, belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.“Aku pikir, kamu sudah pulang sejak tadi.” Safira menoleh, menatap Rafael yang baru saja kembali untuk mengambil jas yang masih tertinggal di ruangannya. Suara pria itu terdengar datar, tapi dengan senyum miring yang khas.Safira me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status