Share

Kehadiran Rafael

Author: SweetWater
last update Last Updated: 2026-02-06 18:00:00

Di tengah acara makan malam yang hampir usai, suara pintu utama terdengar terbuka, di ikuti langkah kaki yang mendekat. Vivian menoleh dan senyum langsung merekah di bibirnya.

“Rafael!” Serunya ceria.

Safira refleks menoleh. Seorang pria muda berdiri di ambang ruang makan dengan postur tegap dan sikap santai penuh percaya diri. Rambut hitamnya sedikit berantakan, senyum miring tersungging di bibirnya. Sementara sorot matanya tajam dan langsung tertuju pada Safira

“Akhirnya kamu pulang juga.” Vivian bangkit dari kursinya dan langsung memeluk putranya tanpa ragu. “Mama sangat merindukanmu.”

Rafael membalas pelukan itu singkat namun hangat. “Ah, Mama berlebihan,” ujarnya bercanda.

Vivian langsung melepas pelukannya. “Seorang Ibu yang merindukan anaknya kamu bilang berlebihan,” ucapnya sambil menepuk lengan Rafael lembut. Tatapannya menelusuri wajah Rafael dengan cermat, seperti ingin memastikan putranya benar-benar ada di hadapannya. “Mama bahkan sampai lupa kapan terakhir kali melihatmu secara langsung.”

Rafael terkekeh kecil. “Bukannya setiap minggu kita video call?”

“Itu beda,” potong Vivian cepat. “Sekarang Mama bisa melihatmu secara langsung. Dan sepertinya kamu terlihat lebih kurus.”

“Itu hanya perasaan Mama saja. Menurutku tidak ada yang berubah,” ujar Rafael santai, bahunya terangkat ringan.

Vivian menggeleng pelan, senyum bangga tak lepas dari wajahnya.

Dari tempatnya duduk, Safira memperhatikan adegan itu dengan canggung. Ia merapatkan jemarinya di pangkuan, merasa seperti penonton di tengah kehangatan keluarga yang belum sepenuhnya ia pahami.

Vivian menoleh pada Adrian. “Kamu lihat? Anak kita akhirnya pulang juga.”

Adrian mengangguk singkat. “Hm. Kamu tampak sehat. Jangan hiraukan ucapan Mamamu,” ucapnya pada Rafael.

Vivian yang mendengarnya langsung memelotot. Sementara Rafael hanya tersenyum tipis. Lalu tatapannya kembali tertuju pada Safira. Kali ini lebih lama, tanpa berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya.

“Itu Safira,” ujar Vivian santai, seolah membaca arah pandang putranya. “Mama pernah memberitahumu, ingat?”

Safira refleks berdiri dan menundukkan kepala sopan. “Perkenalkan, aku Safira,” ucapnya pelan, berusaha tersenyum.

Rafael mengangkat alis. Melangkah mendekat. Namun, sorot matanya tetap tajam, seolah sedang menilai. “Safira?” Ulangnya. “Jadi kamu tamu baru di rumah ini?” Nada suaranya tenang, namun ada kesan dingin yang membuat Safira merasa tak nyaman.

Vivian segera tersenyum lembut. “Rafa, Safira akan tinggal bersama kita mulai sekarang. Dia anak sahabat Mama. Tante Diana. Kamu ingat, kan? Jadi anggap Safira seperti keluarga kita sendiri, ya.”

Safira sempat menatap Vivian, lalu kembali melirik Rafael. Tatapan pria itu membuat dadanya mengencang. Seolah kehadirannya bukan sesuatu yang di harapkan.

Rafael menarik kursi dan duduk di samping Adrian, bersandar santai. “Tiba-tiba ada orang asing yang tinggal di sini dan harus aku anggap sebagai keluarga,” ujarnya datar. “Jujur saja, rasanya agak aneh.”

Ucapan itu membuat Safira menunduk. Pipinya panas, bukan karena marah, tapi karena malu.

“Rafael,” Vivian menegur lembut. “Jangan berbicara seperti itu. Safira sudah kehilangan orang tuanya. Dia butuh tempat yang aman.”

Rafael mendesah, menatap ibunya dengan ekspresi yang melunak sedikit. “Aku mengerti, Ma. Tapi tetap saja rasanya aneh.”

Adrian yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan garpunya dengan tenang. Tatapannya singkat mengarah pada Rafael. Tegas tanpa sepatah kata apapun. Seketika itu juga, Rafael terdiam.

Safira menghela napas pelan. Teguran tanpa suara itu cukup menunjukkan betapa kuat wibawa Adrian, bahkan pada putranya sendiri.

Setelah makan malam usai, Vivian mengajak Rafael bicara di ruang keluarga. Safira memilih naik lebih dulu ke kamarnya, merasa sebaiknya memberi ruang bagi ibu dan anak itu.

“Rafael,” Vivian membuka suara begitu mereka duduk berdua. “Mama tahu kamu merasa aneh. Tapi Safira butuh tempat. Mama janji dia tidak akan merepotkanmu.”

Rafael menyandarkan tubuhnya di sofa, menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak bilang dia merepotkan, Ma. Hanya saja… aku tidak terbiasa ada orang asing yang tinggal di rumah kita. Apalagi seumuran denganku.”

Vivian tersenyum sabar. “Itu karena belum terbiasa. Percayalah. Mama ingin kamu bisa menerimanya. Anggap saja dia seperti adik.”

“Adik?” Rafael terkekeh kecil, ekspresi wajahnya berubah sinis namun playful. “Ma, aku bukan lagi anak kecil yang membutuhkan seorang adik. Lagipula daripada sebagai adik lebih baik sebagai—“

“Rafael.” Nada Vivian terdengar lebih tegas kali ini. “Jangan macam-macam. Aku minta kamu menjaga Safira. Jangan membuatnya tidak nyaman.”

“Tapi, Ma—“

“Rafael ….”

Rafael menatap ibunya lama, lalu akhirnya mengangguk setengah hati. “Baiklah. Akan aku coba. Tapi aku tidak berjanji bisa bersikap ramah setiap saat.”

Vivian menarik napas lega. “Itu sudah cukup. Mama percaya kamu bisa.”

Malam semakin larut. Rumah besar itu terasa tenang, hanya suara angin malam yang sesekali menyusup lewat celah jendela. Safira yang sulit tidur akhirnya turun ke dapur, hanya untuk mengambil segelas air.

Ia mengenakan kaos tipis dan celana pendek dengan rambut yang di biarkan terurai.

Ketika ia membuka kulkas dan menuang air ke gelas, suara berat tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

“Sepertinya kamu terlihat nyaman tinggal di sini.”

Safira terlonjak, hampir menjatuhkan gelas. Ia menoleh cepat dan menemukan Rafael bersandar santai di kusen pintu dapur, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Senyum miring menghiasi wajahnya.

“Ra—Rafael. Maaf kalau aku membangunkanmu,” ujar Safira terbata.

Pria itu melangkah masuk, gerakannya santai namun penuh percaya diri. “Tenang saja aku belum tidur,” ujarnya santai. “Kamu tahu, apa yang aku rasakan saat ini? Saat aku pulang, tiba-tiba sudah ada gadis asing yang tinggal di rumahku. Lalu … dia berpakaian seperti ini di tengah malam.”

Safira sadar dirinya hanya memakai kaos tipis. Pipinya memanas, tapi ia berusaha menjaga sikap. “M-maaf. Aku hanya ingin minum. Tidak ada maksud lain.”

Rafael berhenti di hadapannya, jarak mereka tinggal setengah meter. Ia menunduk sedikit, tatapan matanya turun ke arah pakaian Safira yang tipis, lalu kembali ke matanya. Senyum miring itu lagi.

“Kamu yakin bisa tinggal lama di sini? Apalagi dengan pakaian seperti itu,” bisiknya nakal.

Safira menggigit bibir, tidak tahu harus menjawab apa.

Rafael terkekeh pelan, seolah menikmati ekspresi gadis itu. Ia melangkah lebih dekat, membuat Safira mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh meja dapur.

“Tenang saja,” ujar Rafael rendah. Jemarinya meluncur perlahan ke lengan Safira, sentuhannya ringan namun penuh maksud. “Aku tidak akan mempermasalahkan pakaianmu.” Sudut bibirnya terangkat samar. “Justru … aku menyukainya. Sangat menggoda.”

Safira tersentak, napasnya tercekat. “Rafael!” Tegurnya pelan namun tegas. Ia segera menepis tangan pria itu dari pinggangnya. “Itu tidak sopan.”

Pria itu hanya mengangkat bahu, tetap dengan ekspresi santainya. “Aku hanya bercanda. Tapi aku juga serius, kamu terlihat terlalu polos. Aku jadi penasaran, polosmu itu asli atau pura-pura?”

Safira menunduk, berusaha menghindari tatapan tajam penuh godaan itu. “Aku … tidak mengerti maksudmu.”

Rafael tersenyum miring, jelas menikmati reaksi gugup Safira. “Tidak perlu mengerti. Nanti juga kamu tahu sendiri.”

Suasana semakin menegang. Safira berdiri kaku di depan wastafel, Rafael menatapnya penuh permainan.

“Rafael.”

Rafael menoleh cepat, begitu juga Safira. Adrian berdiri di sana, tegak dengan piyama satin biru tua. Tatapannya dingin, menusuk putranya.

“Apa kamu lupa dengan apa yang di katakan oleh Mamamu?”

Rafael mengangkat dagu, seolah ingin membantah. “Aku hanya ingin mengobrol dengannya saja, Pa.. Aku—“

“Jangan ganggu dia,” ucap Adrian singkat tapi penuh tekanan.

Hanya tiga kata, tapi cukup membuat suasana di dapur membeku.

Rafael sempat ingin membalas, bibirnya terbuka setengah. Namun, tatapan Adrian begitu menusuk, membuatnya terdiam. Dengan desahan kesal, Rafael akhirnya mengangkat tangan seolah menyerah, lalu melangkah mundur.

“Baiklah. Aku tidak akan mengganggu,” gumam Rafael, berbalik pergi dengan senyum miring masih tersisa di bibirnya. “Tapi aku tidak janji,” imbuhnya saat melewati Adrian. “Gadis polos itu terlalu menarik.”

Adrian tidak menjawab. Sorot matanya masih mengawasi Rafael sampai putranya itu keluar dari dapur. Baru setelah itu ia menghembuskan napas dalam.

Sial! Kehadiran Rafael terasa seperti penghalang. Adrian harus hati-hati selama putranya itu berada di rumah ini.

Ia lalu kembali menatap Safira, melangkah mendekati gadis itu. Jaraknya cukup dekat hingga Safira bisa merasakan wibawa kuat yang di pancarkannya. Ia menatap gadis itu lama dan dalam, membuat Safira salah tingkah.

“Kalau ada yang mengganggu, bilang saja padaku,” ucap Adrian dengan suara berat, pelan namun jelas.

Safira buru-buru mengangguk. “I… iya, Om.”

Adrian tersenyum tipis, lalu berbalik pergi meninggalkan dapur.

Safira masih berdiri terpaku, jantungnya berdetak tak beraturan.

Tunggu … kenapa jantungnya bisa berdetak seperti ini? Seharusnya Safira tidak boleh merasa seperti ini. Adrian itu suami Vivian. Safira berusaha menekankan kalimat itu.

Namun, tetap saja. Ia tak bisa menyangkal perhatian Adrian yang kian lama justru semakin sulit untuk ia abaikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Bayangan Yang Membuat Adrian Bergairah

    Malam itu, kamar Adrian terasa begitu sunyi. Lampu menyala temaram, hanya cahaya kuning lembut dari lampu tidur yang memantul di dinding kamar. Adrian berbaring di ranjang besar itu, memejamkan mata, tapi ia tak kunjung terlelap juga. Tiba-tiba ia terbayang wajah Safira. Senyumnya, sorot matanya, bibirnya yang terasa lembut dan kenyal, juga pada bagian tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuat Adrian tergoda. Ia teringat jelas bagaimana pinggang itu terasa di bawah telapak tangannya. Lembut, hangat, dan terlalu pas untuk di genggam. Ingatan itu berlanjut tanpa bisa ia hentikan. Kilasan saat jemarinya sempat menyentuh lekuk tubuh Safira membuat napasnya berubah berat. Seketika tangannya mengepal di atas seprai. Tubuhnya bereaksi hanya karena bayangan itu. Ia terangsang. Hanya karena Safira. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Peringatan Yang Lembut

    Rafael baru saja ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tangannya sudah meraih piring yang tersedia di atas meja ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah Safira.Meja di depan gadis itu masih kosong. Tidak ada piring. Bahkan sendoknya pun belum tersentuh. Hanya ada gelas berisi air putih yang hampir habis.Rafael mengernyit samar. Sepertinya Safira juga belum makan. Rafael lalu kembali menatap Safira. “Kamu belum makan?”Safira sedikit terkejut mendengar suaranya. “Belum,” jawab Safira pelan.Tanpa mengatakan apa-apa, Rafael langsung meletakkan piring kosong yang tadi ia ambil tepat di depan Safira. “Makanlah,” katanya santai.Safira berkedip bingung. “Aku bisa mengambil sendiri—”“Aku tahu,” potong Rafael. “Tapi aku sedang ingin menjadi pria baik pagi ini. Sebelum nanti kamu menganggapku menyebalkan lagi.”Nada bercandanya membuat Safira menahan senyum. Ada rasa hangat yang muncul t

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Hanya Tinggal Selangkah

    Adrian kembali mencium Safira. Kali ini tidak tergesa. Tidak agresif. Namun, lebih dalam.Bibirnya menyentuh bibir Safira perlahan, seolah memberi kesempatan gadis itu untuk menarik diri jika memang ingin. Namun, Safira justru diam dan tidak bergerak menjauh.Napas mereka bertemu.Hangat.Pelan-pelan Adrian memperdalam ciuman itu. Jemarinya di tengkuk Safira menahan dengan lembut, ibu jarinya sesekali mengusap kulit di sana, menciptakan sensasi halus yang membuat tubuh Safira merinding.Safira sempat menahan napas. Namun, ketika bibir Adrian bergerak lebih lembut dan sabar, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangannya mencengkeram bahu pria itu.Ia membalas. Masih ragu, tetapi nyata.Adrian jelas merasakannya.Ciuman itu berubah menjadi lebih intim. Tidak sekadar sentuhan bibir, tetapi juga permainan ritme yang lambat, hangat, dan menenangkan sekaligus memabukkan. Safira bisa merasakan kelembapan d

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Jangan Memintaku Untuk Berhenti

    Selepas kepergian Rafael, rumah tiba-tiba terasa sangat sepi. Safira sempat berniat langsung masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia justru ingin duduk sejenak menikmati udara malam di taman belakang.Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih cukup aman. Biasanya jika Adrian lembur, pria itu pasti pulang larut malam.Akhirnya Safira melangkah menuju taman belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi pepohonan dan kolam kecil di sudut halaman. Udara malam terasa hangat, sesekali angin membawa aroma bunga dari kebun kecil di sekitar.Safira duduk di bangku taman, memeluk lutut sambil melamun menatap permukaan kolam yang tenang. Ia sendiri tidak sadar sudah berapa lama berada di sana, sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Safira menoleh cepat, lalu membeku.Adrian berdiri di sana dengan pakaian santai. Kaos putih lengan panjangnya tergulung hingga siku, beberapa k

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Merasa Nyaman Dengan Rafael

    Safira baru saja selesai menata makan malam di atas meja ketika Rafael masuk ke ruang makan. Alih-alih ikut duduk, ia justru berbalik seolah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Rafael menahan dengan suara santai. “Kamu tidak ingin makan malam?” Tanya Rafael, menatapnya penuh selidik. Safira tampak salah tingkah. “A-aku makan nanti saja.” “Kenapa harus nanti?” Rafael langsung menarik kursi lalu duduk. “Makan saja sekarang bersamaku. Lagipula kamu sudah menyiapkan semua ini.” “Tapi—” “Tidak ada tapi. Duduklah,” potong Rafael tegas. Safira masih berdiri, ragu. Tangannya saling meremas ujung baju, jelas sedang berpikir mencari alasan lain. Rafael mengembuskan napas pelan, lalu menatapnya lebih serius. “Safira, aku menyuruhmu duduk.” Tatapannya tetap mengunci gadis itu yang belum juga bergerak. Lalu sudut bibirnya terangkat nakal. “Atau

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Tak Ada Tempat Untuk Sembunyi

    Suara langkah kaki terdengar pelan di lorong kantor divisi keuangan yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore waktu pulang. Safira berdiri sambil menenteng map laporan yang baru saja ia revisi. Ia menarik napas lega, berusaha melepaskan ketegangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menumpuk di pundaknya.Hari-hari ini melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang tak ada habisnya, tetapi juga karena pikirannya sendiri yang terus di penuhi hal-hal yang sulit ia abaikan, terutama tentang Adrian.Safira mengembuskan napas perlahan.Namun, belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.“Aku pikir, kamu sudah pulang sejak tadi.” Safira menoleh, menatap Rafael yang baru saja kembali untuk mengambil jas yang masih tertinggal di ruangannya. Suara pria itu terdengar datar, tapi dengan senyum miring yang khas.Safira me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status