LOGINAdrian dan Safira melangkah masuk ke rumah hampir bersamaan. Mereka baru saja pulang bekerja. Hari pertama bekerja langsung menguras tenaga Safira. Jauh dari bayangannya tentang pekerjaan kantoran yang rapi dan ringan.
Tanpa sadar ia menghela napas terlalu keras. Adrian yang berjalan lebih dulu menoleh. Pria itu menatap Safira yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu lelah, Safira?” “Eh, i-iya, Om. Sedikit,” jawab Safira jujur, berusaha tersenyum. “Ini pertama kalinya saya benar-benar terjun ke dunia kantor.” “Wajar,” kata Adrian tenang. “Nanti juga terbiasa.” Safira hanya mengangguk, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ingin makan malam, rupanya dapur masih kosong. Tidak ada seorang pun di sana. Namun, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Safira baru ingin duduk saat ia mendengar langkah kaki berat memasuki ruang makan. Ia menoleh, menatap Adrian yang baru memasuki ruang makan. “Makan, Safira.” Pria itu berujar santai. Lalu menarik kursi tempat biasa ia duduk. Safira mengangguk dan memilih duduk di kursi yang agak berjarak. Ruang makan kembali sunyi, hanya suara sendok dan piring yang beradu pelan. Diam-diam Safira melirik Adrian. Entah kenapa, meski beberapa hari terakhir mereka sering makan bersama, rasa canggung itu tak kunjung hilang. Ia berdehem, mencoba memecah keheningan. “Tante Vivian pulang jam berapa hari ini, Om?” Adrian menghentikan gerakan sendoknya. Lalu mendongak, menatap wajah yang kini tengah tersenyum malu-malu. “Entahlah. Jam pulangnya selalu tidak pasti.” “Oh.” Safira meremas jemarinya. “Jadi selama ini Om Adrian memang sering makan sendiri?” Ia buru-buru meralat, gugup. “Maksud saya, karena Tante Vivian jarang di rumah.” Safira menggigit bibir dalamnya. Ia menyesal sudah berbicara terlalu jauh. Ia takut kalau Adrian akan tersinggung. Namun, Adrian justru tersenyum tipis. “Dulu, iya.” Tatapannya menetap pada Safira, tenang tapi terasa dalam. “Tapi sekarang tidak lagi.” Safira terdiam. “Karena ada kamu,” lanjut Adrian pelan. “Aku jadi tidak merasa sendiri.” Safira kehilangan kata-katanya. Ia tidak tahu harus merespons seperti apa. Takut salah ucap, takut salah pengertian. Hingga saat makan malam selesai Vivian belum juga pulang. Safira memilih untuk membereskan meja makan, membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Meski ia sudah di larang beberapa kali, tapi ia tidak peduli. “Ternyata kamu memang serajin ini. Bahkan di hari pertama kamu bekerja tadi, aku lihat kamu cukup cepat belajar.” Safira yang sedang mencuci tangan segera mematikan keran. Ia menoleh dan menatap Adrian yang ternyata sudah berdiri tidak jauh di belakangnya. “T-terima kasih atas pujiannya, Om,” sahut Safira pelan. Ada sesuatu dalam cara Adrian menatapnya. Dan itu membuat Safira merasa gelisah tanpa tahu sebabnya. Tatapan itu bukan sekadar pujian. Adrian melangkah mendekat, menyisakan jarak beberapa langkah saja. Sorot matanya tajam, namun hangat, seolah menyimpan makna lain. “Safira, kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu menarik.” Safira mengernyit. “M-maksud, Om Adrian?” Jantung Safira berdegup keras. Ia hendak mundur, tapi punggungnya sudah menyentuh meja wastafel. Adrian semakin dekat, tangannya terulur, menyentuh ringan jemari Safira yang masih basah. “Om…” bisik Safira panik, suaranya bergetar. “Tenang saja,” jawab Adrian, jemarinya menelusuri punggung tangan Safira dengan lembut. “Aku hanya berusaha berkata jujur padamu. Rasanya sangat tidak nyaman kalau aku terus memendamnya.” Safira menelan ludah. Wajahnya memanas, napasnya tersengal. Situasi ini terlalu dekat, terlalu berbahaya. Adrian menunduk sedikit, seolah hendak berbisik di telinganya. Aroma parfum maskulin yang khas menyerbu indra Safira, membuatnya makin sulit menguasai diri. Namun, sebelum kata berikutnya terucap, sebuah suara memecah ketegangan. “Adrian?” Suara Vivian terdengar jelas dari arah pintu dapur. Safira tersentak. Ia buru-buru menarik tangannya, jantungnya berdegup keras. Sementara Adrian hanya menoleh dengan tenang, seolah tak ada apapun yang perlu di sembunyikan. Vivian melangkah memasuki dapur dengan senyum tipis. “Safira? Kamu sedang di sini juga rupanya. Jangan bilang kalau kamu sedang melakukan pekerjaan Bi Ida lagi?” “Em, i-iya, Tante. Maaf…” jawab Safira gugup. Takut Vivian salah paham dengan posisinya yang berada terlalu dekat dengan Adrian. Vivian tersenyum lagi. “Kan sudah aku bilang. Kamu tidak perlu melakukannya.” “B-baik, Tante,” sahut Safira lirih. “Aku … tidak berjanji,” tambahnya pelan. “Baru pulang?” Adrian yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, nadanya datar. “Iya. Aku capek sekali,” keluh Vivian. “Sepertinya aku butuh mandi air hangat malam ini.” “Kalau begitu, pergilah. Kamu memang perlu merilekskan tubuhmu,” jawab Adrian singkat. Vivian terkekeh kecil. Ia lalu mengangguk, sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan pada Adrian maupun Safira. “Baiklah. Aku akan mandi sekarang.” Ia mengecup pipi Adrian sebelum melangkah pergi. “Dan Safira, sebaiknya kamu juga segera beristirahat. Jangan sampai Bi Ida kebingungan karena semua pekerjaannya sudah kamu kerjakan.” Safira mengangguk patuh. Ia menatap Vivian yang berbalik keluar dapur, meninggalkan ia dan Adrian dalam ruangan yang kembali hening. Safira meremas kedua tangannya. Sementara Adrian masih menatapnya, bibirnya melengkung samar. “Sepertinya takdir akan senang bermain-main dengan kita, Safira.” Gadis itu menoleh, menatap Adrian dengan ragu. “Kenapa Om Adrian berbicara seperti itu?” “Kenapa memangnya? Aku hanya berbicara fakta.” Safira menggeleng, sedikit menjauhkan tubuhnya. “Om tidak boleh seperti ini. Kita bisa membuat Tante Vivian salah paham.” “Lalu?” Safira mengernyit bingung. “Kalau Tante Vivian tahu apa yang Om Adrian katakan pada saya, bukanya … itu bisa membuatnya salah paham.” Adrian tersenyum tipis, wajahnya tetap terlihat tenang. “Kalau kamu memilih diam,” ujarnya pelan, “Vivian tidak akan pernah tahu. Dan mungkin juga tidak akan ada salah paham. Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Vivian tetap memercayaimu. Dan kamu tetap aman di sini.” “Tapi—“ “Tapi kalau kamu mulai bicara yang tidak perlu,” potong Adrian cepat. Ia melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Safira terpaksa menegakkan tubuh. Tatapannya tajam, menusuk. “Seperti yang kamu katakan. Vivian akan salah paham.” Safira menahan napas. “Vivian itu sensitif. Kamu tahu sendiri betapa baiknya dia padamu. Sedikit saja salah paham dia bisa berpikir terlalu jauh,” ucap Adrian bukan bermaksud mengintimidasi, melainkan seolah memberi perlindungan. “Hanya ada satu kemungkinan terburuk jika itu terjadi,” lanjut Adrian dengan suara rendah dan penuh tekanan. “Dia akan kecewa. Dan dia akan melihatmu sebagai anak yang tidak tahu balas budi.” Wajah Safira memucat. Jemarinya saling meremas. “T-tapi saya tidak seperti itu,” ucapnya lirih, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Kamu gadis yang cerdas,” ucap Adrian, tatapannya lembut namun tajam. “Pasti kamu mengerti mana yang akan menyakiti Vivian. Dan mana yang justru menjaga perasaannya.” Jemari Safira saling meremas. Ia terdiam, pikirannya berputar. Ia tidak sanggup membayangkan tatapan kecewa Vivian. Satu-satunya orang yang memberinya tempat tinggal, pekerjaan, dan harapan untuk bertahan di kota ini. Safira tahu, tanpa Vivian, semuanya bisa runtuh begitu saja. Ia membutuhkan semua itu. Untuk masa depannya. Adrian menunduk sedikit, suaranya kini terdengar lebih pelan, nyaris membujuk. Ujung jari telunjuknya menyentuh lengan Safira sekilas. “Jadi, Safira… semua pilihan ada di tanganmu. Pikirkan baik-baik.”Malam itu, kamar Adrian terasa begitu sunyi. Lampu menyala temaram, hanya cahaya kuning lembut dari lampu tidur yang memantul di dinding kamar. Adrian berbaring di ranjang besar itu, memejamkan mata, tapi ia tak kunjung terlelap juga. Tiba-tiba ia terbayang wajah Safira. Senyumnya, sorot matanya, bibirnya yang terasa lembut dan kenyal, juga pada bagian tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuat Adrian tergoda. Ia teringat jelas bagaimana pinggang itu terasa di bawah telapak tangannya. Lembut, hangat, dan terlalu pas untuk di genggam. Ingatan itu berlanjut tanpa bisa ia hentikan. Kilasan saat jemarinya sempat menyentuh lekuk tubuh Safira membuat napasnya berubah berat. Seketika tangannya mengepal di atas seprai. Tubuhnya bereaksi hanya karena bayangan itu. Ia terangsang. Hanya karena Safira. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di
Rafael baru saja ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tangannya sudah meraih piring yang tersedia di atas meja ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah Safira.Meja di depan gadis itu masih kosong. Tidak ada piring. Bahkan sendoknya pun belum tersentuh. Hanya ada gelas berisi air putih yang hampir habis.Rafael mengernyit samar. Sepertinya Safira juga belum makan. Rafael lalu kembali menatap Safira. “Kamu belum makan?”Safira sedikit terkejut mendengar suaranya. “Belum,” jawab Safira pelan.Tanpa mengatakan apa-apa, Rafael langsung meletakkan piring kosong yang tadi ia ambil tepat di depan Safira. “Makanlah,” katanya santai.Safira berkedip bingung. “Aku bisa mengambil sendiri—”“Aku tahu,” potong Rafael. “Tapi aku sedang ingin menjadi pria baik pagi ini. Sebelum nanti kamu menganggapku menyebalkan lagi.”Nada bercandanya membuat Safira menahan senyum. Ada rasa hangat yang muncul t
Adrian kembali mencium Safira. Kali ini tidak tergesa. Tidak agresif. Namun, lebih dalam.Bibirnya menyentuh bibir Safira perlahan, seolah memberi kesempatan gadis itu untuk menarik diri jika memang ingin. Namun, Safira justru diam dan tidak bergerak menjauh.Napas mereka bertemu.Hangat.Pelan-pelan Adrian memperdalam ciuman itu. Jemarinya di tengkuk Safira menahan dengan lembut, ibu jarinya sesekali mengusap kulit di sana, menciptakan sensasi halus yang membuat tubuh Safira merinding.Safira sempat menahan napas. Namun, ketika bibir Adrian bergerak lebih lembut dan sabar, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangannya mencengkeram bahu pria itu.Ia membalas. Masih ragu, tetapi nyata.Adrian jelas merasakannya.Ciuman itu berubah menjadi lebih intim. Tidak sekadar sentuhan bibir, tetapi juga permainan ritme yang lambat, hangat, dan menenangkan sekaligus memabukkan. Safira bisa merasakan kelembapan d
Selepas kepergian Rafael, rumah tiba-tiba terasa sangat sepi. Safira sempat berniat langsung masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia justru ingin duduk sejenak menikmati udara malam di taman belakang.Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih cukup aman. Biasanya jika Adrian lembur, pria itu pasti pulang larut malam.Akhirnya Safira melangkah menuju taman belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi pepohonan dan kolam kecil di sudut halaman. Udara malam terasa hangat, sesekali angin membawa aroma bunga dari kebun kecil di sekitar.Safira duduk di bangku taman, memeluk lutut sambil melamun menatap permukaan kolam yang tenang. Ia sendiri tidak sadar sudah berapa lama berada di sana, sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Safira menoleh cepat, lalu membeku.Adrian berdiri di sana dengan pakaian santai. Kaos putih lengan panjangnya tergulung hingga siku, beberapa k
Safira baru saja selesai menata makan malam di atas meja ketika Rafael masuk ke ruang makan. Alih-alih ikut duduk, ia justru berbalik seolah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Rafael menahan dengan suara santai. “Kamu tidak ingin makan malam?” Tanya Rafael, menatapnya penuh selidik. Safira tampak salah tingkah. “A-aku makan nanti saja.” “Kenapa harus nanti?” Rafael langsung menarik kursi lalu duduk. “Makan saja sekarang bersamaku. Lagipula kamu sudah menyiapkan semua ini.” “Tapi—” “Tidak ada tapi. Duduklah,” potong Rafael tegas. Safira masih berdiri, ragu. Tangannya saling meremas ujung baju, jelas sedang berpikir mencari alasan lain. Rafael mengembuskan napas pelan, lalu menatapnya lebih serius. “Safira, aku menyuruhmu duduk.” Tatapannya tetap mengunci gadis itu yang belum juga bergerak. Lalu sudut bibirnya terangkat nakal. “Atau
Suara langkah kaki terdengar pelan di lorong kantor divisi keuangan yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore waktu pulang. Safira berdiri sambil menenteng map laporan yang baru saja ia revisi. Ia menarik napas lega, berusaha melepaskan ketegangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menumpuk di pundaknya.Hari-hari ini melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang tak ada habisnya, tetapi juga karena pikirannya sendiri yang terus di penuhi hal-hal yang sulit ia abaikan, terutama tentang Adrian.Safira mengembuskan napas perlahan.Namun, belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.“Aku pikir, kamu sudah pulang sejak tadi.” Safira menoleh, menatap Rafael yang baru saja kembali untuk mengambil jas yang masih tertinggal di ruangannya. Suara pria itu terdengar datar, tapi dengan senyum miring yang khas.Safira me







