LOGIN“Sekarang sudah yakin kalau aku jatuh cinta padamu?”Ken langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Alsava. Alsava yang lagi fokus mengaduk kopi tersentak kaget, tapi dia tak bergeming menjauh.“Apa bukti cintaku masih kurang? Hm sepertinya kurang, kita belum honeymoon. Sejauh ini kemesraan kita sebagai suami istri masih kurang,” tambah Ken dengan sedikit nakal. Dia mengecup punggung Alsava membuat sesuatu berdesir di bagian perut Alsava.“Ide bagus,” saut Alsava penuh arti. “Tapi liburan kali ini ajak juga Asisten Lee.”Ken langsung membalikkan tubuh Alsava lalu mendongakkan dagu istrinya dengan jari telunjuk. “Kita mau honeymoon sayang, bagaimana bisa kamu memintaku mengajak Asisten Lee!” protes Ken.“Kita mengajaknya liburan Tuan Ken. Apa kamu nggak kasihan melihat dia sudah macam zombie yang kerja terus bagai kuda! Bisa-bisa dia mati dalam keadaan kerja,” balas Alsava yang makin membuat Ken keberatan.“Dia tidak akan mengganggu kita sayang,” bujuk Alsava setelah beberapa detik.
“Asisten Lee, pastikan semua bukti diamankan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang hilang!” perintah Davin. “Siap, Tuan Davin. Kali ini saya pastikan tidak ada yang lolos, kecuali kalau Tuan Ken menyuruh saya lembur lagi.” Lee melirik Alsava. “Nona, tolong ingatkan suami Anda bahwa saya juga manusia.” “Baiklah. Nanti aku minta Ken memberimu liburan sebulan.” Mata Asisten Lee langsung berbinar. “Saya suka sekali bekerja sama dengan Nona!” “Sudah, jangan banyak bicara!” tegur Davin. “Kita harus segera membawa mereka ke kantor polisi.” Marveen mendengus ketika dua orang mantan anak buahnya menariknya berdiri. “Kalian pikir penangkapan ini akan menghancurkan Tiger Dark? Klan gelap itu tidak akan runtuh hanya karena aku ditangkap!” “Kalau begitu, Anda bisa menjelaskan semuanya di depan penyidik,” sahut Alsava dingin. “Termasuk keterlibatan Anda dalam kematian ayahku.” Marveen terdiam. Alsava melangkah mendekat. “Bertahun-tahun aku tidak tahu siapa yang merenggut ayahku.
Setengah Jam sebelumnya.“Oh rupanya aku kedatangan tamu kehormatan. Putri mendiang Cavan Mallory." Marveen tertawa pendek, lalu meraih gelas anggurnya. "Kamu sangat mirip ibumu.”Alsava memutar bola mata malas. “Move On Om topeng emas. Ibuku cintanya sama Ayah bukan dengan Anda!” ejek Alsava malas. “Aku sudah lama menunggu moment berhadapan langsung dengan Anda seperti ini.”Marveen tersenyum, meneguk gelas anggurnya sedikit. Tatapan Marveen beralih ke Davin dan terakhir ke Adrian. Tatapannya menyipit seolah mengenali siapa yang ada dihadapannya saat ini.“Davin, hahaha sudah bosan bersembunyi rupanya kau. Apa kau tidak menceritakan kisah Aku dan Aileen yang sebenarnya?”Davin hanya diam. Enggan membalas.“Adrian. Orang yang Cavan percaya untuk menyimpan rahasia terakhirnya. Kupikir kau sudah mati di tempat persembunyian.”"Sudah waktunya aku datang Mr X. Aku selalu menjaga semua yang kau cari selama bertahun-tahun," sahut Adrian tenang.Marveen menaruh gelasnya. Tangan kanannya perl
"Salvator?" Davin mengumpat pelan. "Berapa lama?""Tiga menit. Mungkin kurang."Davin memukul bagian tengkuk Marveen, melumpuhkan si Mr X agar bisa mereka bawa pergi. Davin menyeret Marveen memaksanya berdiri lalu mengikat tangannya dengan kabel pengikat dari saku. "Jalur tangga darurat sudah tidak aman. Kita pakai jalur belakang.""Ada jalur belakang?" tanya Adrian."Sekarang ada." Davin menunjuk jendela besar di sisi ruangan. Di bawahnya, atap gudang barat terhampar, dan di sana, di balik bayangan, sebuah tangga besi tua menempel di dinding.Alsava sudah lebih dulu membuka jendela. Angin malam masuk membawa bau asin laut dan asap. "Om Adrian, ikut aku. Om Davin, bawa dia.""Kamu yakin?" Adrian memandang ketinggian itu dengan wajah pucat."Om mau menghadapi sepuluh orang Salvator, atau turun lewat tangga?"Adrian menelan ludah dan melangkah ke jendela.Baru saja kaki Alsava menyentuh ambang jendela, pintu ruangan terbanting terbuka. Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana dengan
Di lantai atas markas, Marveen duduk sendirian di ruang pribadinya. Sebatang cerutu menyala di tangannya, dan segelas anggur tergeletak setengah penuh di atas meja."Dorry bisa diandalkan," gumamnya. "Ken juga ternyata lebih berguna dari dugaanku."Ia tertawa kecil. Di luar pintu, koridor yang biasanya dipenuhi penjaga terasa terlalu sunyi, tetapi Marveen tidak menyadarinya. Pikirannya sibuk menghitung keuntungan dari pengiriman malam ini.Gagang pintu bergerak pelan."Dorry?" Marveen tidak menoleh. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku sampai...""Bukan Dorry."Suara itu perempuan, tenang dan dingin.Marveen membeku. Cerutunya berhenti di udara. Perlahan ia memutar kursi. Alsava berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Davin menutup jalan keluar dan Adrian melangkah masuk sambil membawa map di tangan."Selamat malam, Tuan Marveen," sapa Alsava santai. "Masih ingat siapa aku bukan?"Cerutu itu jatuh ke atas karpet. Marveen kaget, tapi dia segera kembali tenang. Kali ini, wajahnya tidak b
"Map sudah di tangan Tuan Ken." Mateo menyampaikannya lewat earpiece. Davin mengangguk lalu menatap Alsava dan Adrian serius. "Bagus. Kita langsung bergerak sekarang,” ucapnnya ke Mateo. Mateo langsung melaporkannya ke Tuan Ken. Mobil van hitam itu berhenti di balik tembok belakang markas. Adrian duduk di kursi tengah, memeluk tasnya. Alsava di sampingnya, jaket gelap menutupi bahunya. "Nona, kamu tidak harus ikut masuk," bisik Adrian. "Aku harus, Om." Alsava kekeh. Bahkan semangatnya sudah menyala jauh sebelum mereka bergerak. "Ayahmu pasti tidak mau kamu terluka." "Ayah juga tidak mau pembunuhnya dibiarkan bebas." Alsava menatap lurus ke depan. "Om Davin, rutenya?" Davin membuka sketsa yang digambar Ken. "Lewat pintu servis, naik tangga darurat, lalu koridor timur. Titik Marveen ada di ujungnya." "Berapa penjaga?" tanya Alsava lagi. "Kalau pengiriman berjalan lancar, hampir tidak ada. Tuan Ken akan membuat mereka sibuk,” balas Davin sambil melirik kearah luar. Memastikan b







