Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB - 160 PASUKAN DARI KEGELAPAN

Share

BAB - 160 PASUKAN DARI KEGELAPAN

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-14 11:31:52
Angin di hutan tiba-tiba berhenti.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara serangga.

Semua seolah menghilang dalam satu waktu.

Aruna berdiri di depan makhluk batu raksasa yang baru saja bangkit dari dalam tanah. Tanah di sekitarnya masih retak, dan lubang besar di belakang makhluk itu terlihat seperti luka terbuka di permukaan bumi.

Namun perhatian Aruna kini tidak lagi tertuju pada makhluk batu itu.

Melainkan ke arah hutan yang lebih dalam.

Energi itu semakin jelas.

Semakin deka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    LANJUTKAN BAB 199 - YANG TIDAK INGIN SEIMBANG

    Malam turun perlahan.Langit yang tadi terlihat biasa kini terasa… berat.Bukan karena awan.Bukan karena gelap.Namun karena sesuatu yang tidak terlihat—namun terasa.Aruna berdiri di tepi desa.Menatap ke arah barat.Arah di mana getaran itu berasal.Kini—lebih jelas.Lebih dekat.Dan lebih… agresif.Pelangi berdiri di sampingnya.“Aku bisa merasakannya juga sekarang…”Suaranya pelan.Namun penuh ketegangan.Aruna mengangguk.“Dia tidak mencoba menyatu…”Ia berkata.“…dia mendorong.”Sunyi.Lebih tajam dari sebelumnya.Bima datang dari belakang.Membawa napas berat.“Warga udah pada masuk rumah…”Ia berkata.“Suasananya… nggak enak.”Embun mengikuti.Memegang lengannya sendiri.“Aku merinding terus…”Bagas berdiri tak jauh.Matanya menyipit ke arah yang sama.“Ini beda dari yang di hutan.”Hileon mengangguk.“Strukturnya tidak stabil…”Ia berkata.“…namun lebih kuat dalam tekanan.”Zareth tersenyum tipis.“Karena dia tidak mencari keseimbangan.”Ia melangkah maju.Sedikit.“Dia me

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 198 - TITIK AWAL YANG BARU

    Langit di atas desa terlihat sama.Namun rasanya—tidak lagi sama.Aruna berdiri di tengah jalan kecil yang membelah permukiman.Matanya menatap jauh.Namun bukan sekadar melihat—ia merasakan.Segala sesuatu di sekitarnya kini seperti memiliki “suara”.Bukan suara yang bisa didengar telinga.Namun sesuatu yang bisa dipahami.Tanah.Udara.Bahkan ruang di antara keduanya.Semua… berbicara.Dan itu—tidak pernah terjadi sebelumnya.Pelangi berdiri di sampingnya.“Aku masih belum terbiasa…”Ia berkata pelan.Aruna menoleh sedikit.“Dengan apa?”Pelangi tersenyum tipis.“Perasaan kalau semuanya… hidup.”Sunyi.Aruna mengangguk.“Karena sekarang memang begitu.”Bima duduk di pinggir jalan.Mengusap wajahnya.“Gue kangen hidup normal…”Embun langsung menimpali,“Aku juga…”Bagas tetap berdiri.Tatapannya ke arah ladang.“Normal itu relatif.”Ia berkata.“Dan sekarang… ini normal yang baru.”Hileon mengangguk pelan.“Adaptasi.”Zareth tersenyum tipis.“Selamat datang di tahap berikutnya.”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BABA 197 - GELOMBANG YANG MENJALAR

    Perjalanan keluar dari hutan tidak lagi seperti sebelumnya.Tidak ada lagi rasa dikejar.Tidak ada lagi tekanan yang menyesakkan dada.Namun justru—itulah yang membuat semuanya terasa… asing.Aruna berjalan di depan.Langkahnya tenang.Namun pikirannya—tidak berhenti bekerja.Koneksi di dalam dirinya masih aktif.Namun kali ini—tidak menyerang.Tidak membanjiri.Melainkan… memberi.Memberi gambaran.Memberi arah.Memberi rasa.Ia bisa merasakan kehidupan di sekitar mereka.Setiap akar yang tumbuh.Setiap aliran kecil di dalam tanah.Bahkan—perubahan yang lebih halus.Yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.“Ini… terlalu jelas…”Ia berbisik pelan.Pelangi yang berjalan di sampingnya langsung menoleh.“Apa?”Aruna menggeleng sedikit.“Aku bisa merasakan… lebih jauh dari hutan ini.”Sunyi.Pelangi mengerutkan kening.“Seberapa jauh?”Aruna menutup mata sejenak.Mencoba memahami.Namun begitu ia membuka—tatapannya berubah.Lebih serius.“Desa…”Ia berkata pelan.“…sudah mulai terpeng

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 197 - DUNIA YANG TIDAK LAGI SAMA

    Kesadaran Aruna kembali perlahan.Seperti naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu dalam.Suaranya datang lebih dulu.Pelan.Jauh.Namun semakin jelas.“Aruna…?”Itu suara Pelangi.Lembut.Penuh khawatir.Aruna membuka matanya.Cahaya redup dari ruang inti menyambutnya.Namun tidak lagi menyilaukan.Tidak lagi menekan.Lebih… tenang.Lebih stabil.Ia menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya—napas itu terasa ringan.“Aku… di sini…”Suaranya pelan.Namun jelas.Pelangi langsung mendekat.Matanya berkaca-kaca.“Kamu bikin jantungku hampir berhenti…”Aruna tersenyum tipis.“Maaf…”Bima terduduk tak jauh dari mereka.“Gue udah siap-siap bikin pidato perpisahan…”Embun langsung menepuk bahunya.“Jangan ngomong gitu!”Bagas berdiri dengan tangan di pinggang.Namun ekspresinya sedikit lebih santai dari sebelumnya.“Yang penting dia kembali.”Hileon masih memperhatikan sekeliling.Namun sorot matanya berubah.Tidak setegang sebelumnya.“Ada perubahan.”Ia berkata.Zareth tersenyum tipi

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 195 - KESADARAN YANG MULAI MENUNDUK

    Di dalam inti—tidak ada waktu.Tidak ada arah.Tidak ada batas yang jelas antara satu hal dengan yang lain.Hanya—kesadaran.Aruna berdiri di tengah jaringan yang tak berujung.Cahaya dan bayangan berputar di sekelilingnya.Namun tidak liar.Tidak bertabrakan.Kini—keduanya mengalir.Tenang.Seimbang.Dan di hadapannya—sosok itu.Tidak lagi sebesar sebelumnya.Namun juga tidak melemah.Justru—lebih fokus.Lebih padat.Seperti seluruh sistem kini terpusat padanya.“Kamu tidak melawan.”Suaranya terdengar jelas.Tanpa gema.Tanpa gangguan.Aruna menggeleng pelan.“Aku tidak perlu.”Sunyi.Sosok itu memperhatikannya.Lebih lama dari sebelumnya.“Semua sebelumnya mencoba menghentikan dengan kekuatan.”Ia berkata.“Kamu tidak.”Aruna menatapnya.“Kamu bukan sesuatu yang bisa dihancurkan begitu saja.”Ia menjawab.“Kamu sistem.”Sunyi.Sosok itu tidak menyangkal.Namun—ada perubahan kecil.Seperti sesuatu yang… dipertimbangkan.“Kalau begitu…”Ia berkata pelan.“…apa yang kamu lakukan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 194 - BATAS YANG DI UJI

    Benturan itu belum berhenti.Cahaya merah dan perpaduan cahaya-bayangan milik Aruna terus saling menekan di tengah ruang inti. Getarannya menjalar ke setiap akar, ke setiap dinding, bahkan ke udara yang terasa seperti ikut berdenyut.Pelangi berusaha berdiri tegak.Meski tubuhnya masih gemetar—ia tidak mundur lagi.“Aruna!” teriaknya.Namun suara itu nyaris tenggelam dalam gemuruh energi.Aruna tidak menjawab.Bukan karena tidak mau—namun karena tidak bisa.Seluruh fokusnya terkunci pada satu hal—menahan.Menyeimbangkan.Tidak membiarkan arus itu menembus.Di dalam dirinya—koneksi itu bergetar hebat.Seperti jaringan yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.Ia bisa merasakan semuanya—akar-akar yang bergerak,jalur energi yang berubah,bahkan denyut inti itu sendiri.Namun—itu terlalu banyak.“Kalau aku kehilangan fokus…”Ia berbisik dalam hati.“…semuanya runtuh.”Sosok di depannya melangkah maju lagi.Tekanannya bertambah.“Kamu mulai goyah.”Suaranya tenang.Namun tajam.Aruna

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status