/ Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 87 – Ketika Desa Memilih Diam

공유

Bab 87 – Ketika Desa Memilih Diam

작가: Vika moon
last update 게시일: 2026-02-06 11:17:58
Malam datang tanpa aba-aba.

Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, namun udara terasa berat seperti menggantung di dada setiap orang yang masih terjaga. Lampu-lampu rumah menyala redup, sebagian bahkan sengaja dimatikan lebih awal. Desa itu seperti sepakat untuk tidak menarik perhatian.

Aruna duduk di ruang tengah posko, menatap lantai kayu yang penuh guratan usia. Sejak sore, ia hampir tidak berbicara. Bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena pikirannya dipenuhi suara-suara yang ti
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 267 - ORANG YANG TIDAK BISA DI LUPAKAN

    Setelah nama Liora disebut, suasana di sekitar mereka berubah menjadi jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang dipenuhi kenangan.Pelangi masih duduk dekat Asa. Cahaya lembut dari sosok itu kini bergerak lebih lambat, seperti sedang tenggelam jauh ke dalam ingatan yang selama ini terkunci.“Asa…” panggil Pelangi pelan.Asa bergerak kecil.“…iya…”Pelangi tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Suara Asa memang masih pelan dan belum sepenuhnya stabil, namun sekarang setiap kata terasa jauh lebih hidup.“Kamu masih ingat banyak tentang mereka?”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…sedikit…”Pelangi mengangguk.“Nggak apa apa… pelan pelan aja.”Sosok tinggi itu masih berdiri di kejauhan. Kini auranya tidak lagi terasa mengancam seperti awal kemunculannya, namun tetap ada kesedihan dingin yang menyelimuti dirinya.Aruna menatap sosok itu.“Kau juga mengenal mereka?”Sosok itu tidak langsung menjawab.Namun beberapa detik kemudian ia berk

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 266 - NAMA NAMA YANG MASIH TERTINGGAL

    Setelah kata “hilang” keluar dari Asa, ruang di sekitar mereka kembali dipenuhi kesunyian yang berat. Tidak ada lagi ledakan cahaya ataupun tekanan besar seperti sebelumnya. Namun justru ketenangan itu terasa lebih menyakitkan.Pelangi masih berdiri dekat Asa sambil memegang cahaya lembut itu perlahan. Kini ia mengerti satu hal.Yang paling menghancurkan Asa bukan kekuatannya.Melainkan rasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan seseorang.Pelangi menunduk pelan.“Asa…” bisiknya.Asa tidak langsung menjawab.Cahayanya bergerak kecil.Lemah.Seperti seseorang yang terlalu lelah mengingat sesuatu.Sosok tinggi itu masih berdiri di tempatnya. Tidak lagi memberi tekanan seperti sebelumnya, namun auranya tetap terasa dingin.Aruna menatap sosok itu.“Siapa yang hilang?”Sosok tinggi itu diam cukup lama.Lalu berkata pelan.“Orang orang yang dulu memilih tinggal di sisinya.”Pelangi langsung menoleh.“Memangnya dulu Asa nggak sendirian?”Sosok besar langsung mencatat.“Kemungkinan adany

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 265 - MASALALU YANG TAK MAU MATI

    Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di sini,” jawab Pelangi cepat.Ia tidak berani menoleh terlalu lama, takut jika rasa takut Asa semakin besar.Sosok tinggi itu tetap diam di tempatnya. Tubuhnya tersusun dari bayangan samar yang terus bergerak perlahan, seperti asap gelap yang tidak pernah benar benar membentuk sesuatu.Aruna maju satu langkah.“Kau belum menjawab semuanya,” katanya tenang.Sosok itu menoleh perlahan.“Aku tidak datang untuk menjawab.”Sosok besar langsung mencatat.“Niat komunikasi rendah.”Pelangi mengerutkan kening.“Kalau gitu ngapain datang…”Sosok itu kembali melihat ke arah Asa.“Untuk memastikan kesalahan tidak terulang.”Kalimat itu membuat Asa langsung bergetar lebih kuat.“…ja…ngan…”Pelangi langsung b

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 264 - JEJAK SEGEL YANG MULAI TERBUKA

    Setelah percakapan itu, suasana di sekitar mereka tidak benar benar kembali tenang. Memang tidak ada ledakan cahaya ataupun perubahan besar, namun ada sesuatu yang terasa menggantung di udara. Tentang segel. Tentang seseorang atau sesuatu yang pernah mencoba menghapus Asa. Pelangi masih duduk di dekat cahaya itu sambil memikirkan kata kata yang tadi keluar dari Asa. Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh. “Kalau Asa disegel…” katanya pelan. Aruna menoleh. “Maka ada alasan mengapa itu dilakukan.” Sosok besar langsung menambahkan. “Tidak ada tindakan penyegelan tanpa tujuan.” Pelangi menghela napas. “Masalahnya… alasan apa…” Asa bergerak kecil di sampingnya. Cahayanya lebih stabil sekarang, namun sesekali masih bergetar ketika kata kata tertentu disebut. Pelangi langsung menyadarinya. “Kamu takut kalau ngomongin itu ya…” Asa diam beberapa saat. Lalu terdengar pelan. “…dingin…” Pelangi mengerutkan kening. “Dingin?” Aruna berpikir sejenak. “Mungkin

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 263 - SAAT ASA MULAI MENGINGAT

    Cahaya di sekitar Asa kini jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Denyutnya masih ada, namun tidak lagi liar ataupun terlalu kuat. Ia bergerak mengikuti ritme yang tenang, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan keseimbangannya sendiri.Pelangi masih duduk di tempatnya sambil memperhatikan Asa tanpa melepas senyum kecil dari wajahnya.“Aku masih belum biasa dengar kamu ngomong…” katanya pelan.Asa bergerak perlahan mendekat.Kini sosoknya lebih jelas dibanding sebelumnya. Meski masih tersusun dari cahaya dan kabut halus, bentuk itu mulai menunjukkan garis yang lebih utuh.“…Pe…la…ngi…”Pelangi tertawa kecil.“Iya iya… aku di sini…”Aruna berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan setiap perubahan dengan tenang.“Perkembangannya semakin cepat,” katanya.Sosok besar langsung menambahkan.“Sinkronisasi identitas meningkat.”Pelangi mengangguk kecil.“Iya… rasanya dia kayak nyerap banyak hal sekaligus…”Asa diam beberapa saat.Seperti sedang memikirkan sesuatu.Lalu perlahan berkata.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 262 - SUARA YANG AKHIRNYA TERDENGAR

    Cahaya itu belum sepenuhnya mereda. Ia masih berdenyut pelan di sekitar Asa, seperti jantung yang baru saja bangun setelah tertidur sangat lama. Ruang di sekeliling mereka ikut berubah. Tidak lagi terasa kosong atau sunyi biasa, melainkan seperti dipenuhi gema yang sangat halus.Pelangi masih berdiri di tempatnya, menatap perubahan itu tanpa berkedip.“Aku masih nggak percaya…” bisiknya.Aruna berdiri di sampingnya dengan tenang.“Karena yang terjadi memang bukan hal kecil.”Sosok besar menambahkan.“Transformasi berhasil melewati tahap awal.”Pelangi tersenyum kecil.“Berarti… Asa sekarang beda ya…”Cahaya di depan mereka bergerak perlahan.Tidak liar.Tidak juga tidak stabil.Justru terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.Dan di tengah cahaya itu…bentuk Asa mulai terlihat lebih jelas.Masih belum sempurna.Namun kini tidak lagi hanya seperti kabut tanpa arti.Ada garis samar yang membentuk sosok.Pelangi menatap dengan kagum.“Kamu… mulai punya bentuk…”Asa bergerak pelan.Dan un

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 44 – Rahasia yang Terlalu Berat

    Kata-kata Embun masih menggantung di udara ketika Aruna perlahan melepaskan genggaman tangannya. Wajah Aruna menegang, bukan karena takut semata, melainkan karena amarah yang bercampur panik. Dadanya naik turun, napasnya terasa berat.“Kamu… kamu ambilnya?” suara Aruna bergetar, nyaris tidak percay

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 43 – Rapat di Bawah Tatapan Kosong

    Pagi itu, meja kayu panjang di ruang tengah rumah Pak Seno telah dipenuhi kertas, bolpoin, dan beberapa cangkir teh yang masih mengepul. Udara terasa hangat, namun suasana justru menegang oleh sesuatu yang tak kasatmata. Aruna sudah duduk di ujung meja sejak beberapa menit lalu, punggungnya tegak,

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 42 – Bisikan yang Menuntut Kembali

    Malam turun tanpa suara, tapi tidak tanpa rasa.Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu temaram, Embun duduk bersandar di ujung ranjang. Selimut melingkari tubuhnya, tapi dingin tetap merayap, menyelinap masuk hingga ke tulang. Udara di kamar itu terasa lebih berat dari biasanya seolah ada sesuat

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 41 Sesuatu Yang Tak di Ucapkan

    Pagi itu meja makan kembali dipenuhi aroma nasi hangat dan lauk sederhana buatan Bu Seno. Namun suasananya berbeda. Tidak ada canda ringan, tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruang itu. Yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh piring pelan, teratur, namun terasa hampa.Aruna duduk

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status