Mag-log inNaomi menghela nafas kesal melihat apa yang ia bawa. Tidak pernahnya begini, biasanya ia gunakan saat bermain dengan Lian dan hanya untuk fantasi saja tapi kali ini dia terkesan ingin menggunakannya sendiri.
Gila! Main sendiri? Sudah seperti tidak memiliki suami saja. Naomi menanggalkan pakaian tipisnya kemudian menghadap ke cermin. Naomi menatap dirinya dari pantulan cermin tersebut dan mengangkat mainan yang ia bawa. "Kurang apa aku, Mas?" Kedua mata Naomi terpejam kuat dan melempar mainan untuk memuaskan dirinya itu begitu saja. Namun tak lama Naomi menoleh menatap benda itu. "Tapi dibanding kamu, aku lebih baik memuaskan diriku dengan mainanku. Kamu yang memilih pembantu itu, Mas. Maka jangan harap kamu bisa mendapatkannya juga dariku. Seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku lebih dalam lagi." Sementara di bawah, Brilly baru saja masuk ke dalam rumah setelah dipikir sudah cukup waktu yang diberikan untuk memberi jeda. Orang pertama yang menyapa tentu saja Lian. "Tumben pulang? Masih ingat jalannya, Kak?" "Mungkin kemarin lagi tersesat dan sekarang baru tau jalan pulang. Mau kemana?" sahut Briily santai. "Makan, kamu mau ikut makan? Akh mungkin sudah kenyang. Kamu lebih suka makan di luar. Ya sejak Mommy dan Daddy meninggalkan rumah ini, kamu tidak pernah mau makan di rumah." "Mulai besok aku akan makan di rumah," kata Brilly dengan tatapan datar kemudian meraih ponselnya yang berdering meminta atensinya. Brilly mengambil ponsel itu kemudian melihat siapa yang menghubungi. Brilly menarik nafas dalam kemudian melirik Lian yang masih memperhatikan. "Kenapa kamu hanya sendiri? Kemana Naomi?" tanya Brilly seolah tak tau. "Dia sedang mandi. Tidak ingin makan juga, sudah kenyang katanya. Lagi pula aku sudah biasa makan sendiri. Tidak manja juga dengan istri," jawab Lian yang kemudian melangkah menuju ruang makan sedangkan Brilly kembali melirik ponsel yang terus berdering. Brilly berdecak kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lupa Brilly mengunci pintu kamar dan meletakkan tas juga sepatu. Brilly ingin mengabaikan panggilan itu yang terus berdering tapi penasaran juga ada apa dengan Naomi hingga berani menghubungi di saat ada Lian di rumah. Brilly membuka kancing kemeja sedangkan tangan satunya menerima panggilan suara dari Naomi. "Ada apa?" "Tidak ada, aku hanya ingin berterimakasih padamu Kak. Makasih sudah menyadarkanku." "Tidak perlu berterimakasih padaku. Itu sudah sebagian dari kewajibanku sebagai Kakak iparmu." "Oke. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya." "Tunggu!" "Ada apa, Kak?" "Kenapa tidak menemani suamimu?" "Tidak perlu! Tanpa aku, sudah ada yang akan menemani dan melayaninya, Kak. Jangan lupakan jika ada benalu yang diam-diam berhasil tumbuh di rumah ini!" "Oh jadi ada di sini." "Hhmm..." "Pantas saja kamu menggila tadi." "Ya, karena sainganku hanya seorang pembantu. Sekali lagi aku tanya. Kurang apa aku, Kak?" "Kamu mungkin memiliki banyak kelebihan, tetapi untuk menjadi selingkuhan tidak perlu cantik dan berkelas." "Apa maksudmu, Kak?" "Kamu tau jawabannya." Tut Naomi menarik ponselnya setelah Brilly mematikan dengan sepihak. Dia menghela nafas berat kemudian memijit pelipisnya. "Apa kelebihannya?" Naomi berpikir keras. Dia lama menghabiskan waktu di kamar mandi sampai tidak perduli Lian mengetuk pintu berulang kali. Naomi sedang tidak ingin diganggu. Dia harus menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Sampai dimana Naomi mengumpat kesal akan jawaban yang ia temukan. "Yang sempurna kalah dengan yang gatal. Sial! Dasar wanita sialand! Lonthe kamu Maryam!" Naomi mengusap wajah setelah mengatakan itu. Emosi kembali meluap tetapi saat keluar dari kamar mandi, Naomi berusaha untuk kembali memenangkan dirinya. Jangan sampai Lian tau kalau dia mengetahui kebusukan pria itu! Akan ada hari dimana Lian akan menyesal karena semua yang dibutuhkan hanya ada padanya dan wanita rendahan itu hanya bermodalkan lubang saja. "Aku ingin suatu saat nanti kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan, Mas! Tapi di saat itu, jangan berharap aku akan menerimamu seperti dulu." Naomi memasang kimono tidur untuk menutupi pakaian tipis yang ia kenakan. Dia menoleh melihat Lian yang sudah terlelap di ranjang. Nikmat sekali hidup pria itu. Naomi muak melihatnya. Dia merapatkan pakaiannya kemudian melangkah menuju kamar Gwen. Perlahan Naomi membuka pintu kamar itu dan tersenyum saat melihat Gwen sedang tertidur nyanyak. Naomi pun mendekati dan duduk di pinggir ranjang seraya mengusap kepala Gwen. "Assalamualaikum anak Mami." Cup "Sayang maafin Mami, Nak. Papimu terlalu gila. Jika kelak kamu tau apa yang terjadi pada kami. Mami harap kamu tidak marah pada Mami." "Kami memang tidak sempurna dan Papimu yang salah, tapi satu yang harus kamu tau, Nak! Mami tidak akan membiarkan kamu ikut merasakan sakit seperti yang Mami rasakan." "Mimpi indah, Sayang. Mami sayang kamu. Biarkan Mami yang membalas apa yang Papi lakukan pada kita. Kamu tetap fokus sekolah dan jangan khawatir akan susah. Sekali pun kelak kita dibuang, Mami pastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang." Naomi beranjak dari sana setelah sempat mengecek jadwal pelajaran putrinya dan juga melihat PR yang sudah dikerjakan. Dia juga merapikan meja belajar Gwen yang sedikit berantakan kemudian keluar dari sana menuju ruang makan. "Kak Brilly, ngapain?" tanya Naomi yang cukup terkejut melihat Brilly malam-malam di dapur. "Buat kopi," jawab Brilly tanpa menoleh ke arah Naomi. Tersenyum Naomi melihat respon dingin dari Brilly. Dia melangkah mendekati Brilly kemudian meraih cangkir dan cokelat yang akan dia seduh. "Jangan begadang! Aku lihat air matamu sudah mulai kering." "Apa aku harus menangisi bajingan itu terus, Kak? Hidupku lebih berarti dari sekedar menangisi pria yang sama sekali tidak memiliki rasa syukur memilikiku." Naomi meraih cangkir cokelatnya yang sudah diberikan air panas oleh Brilly dan segera ia aduk kemudian melangkah meninggalkan Brilly untuk kembali ke kamar. Namun saat melangkah menaiki tangga tak sengaja kimono tidurnya turun hingga memamerkan pundak hingga punggung polosnya. Naomi melangkah tanpa tau Brilly tengah memperhatikannya. Brilly menarik nafas dalam melihat itu. Pria itu mengusap wajahnya kemudian mengaduk kopi yang sudah di seduh tadi. "Kamu terlalu bodoh Lian! Kamu tidak pernah berubah. Sejak dulu kamu masih sama saja. Tidak bisa melihat lubang nganggur." Brilly pun bergegas menuju kamar membawa secangkir kopi untuk menemani malam pria itu. Namun saat melintasi kamar Lian. Langkah Brilly terhenti kala melihat Lian yang tertidur pulas tanpa adanya Naomi di sana. Brilly menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar. "Tapi kemana Naomi?""Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya Naomi balik. "Di awal kamu mengetahui Lian dengan Maryam bercinta." Naomi tercengang mendengar itu kemudian merapatkan selimutnya. Naomi menarik nafas dalam setelah mendengar apa yang Brilly katakan. Bagaimana mungkin? Naomi menggelengkan kepalanya dan melirik Brilly yang kini terpejam. Naomi pun menatap kembali pada langit-langit kamar dan berusaha untuk tetap berpikiran waras. "Kak bukankah Kakak yang menolak dan menyadarkan aku? Kenapa sekarang Kakak menanyakan itu lagi? Apa Kakak sudah berubah pikiran?" "Ya." Naomi kali ini menoleh, benar-benar menoleh ke arah Brilly yang kemudian bergerak melihatnya. Keduanya diam, sama-sama saling memandang dan tenggelam dalam malam
"Eugh...." Naomi melenguh saat ciuman Brilly semakin dalam menerobos masuk indera perasanya. Lidah Brilly mengabsen semua sisi tanpa ada yang terlewatkan. Jantung keduanya berdebar kencang apalagi Brilly yang terlihat sangat emosi sekali, seolah apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah pelampiasan akan amarah yang tak sepenuhnya keluar. Masih dengan posisi yang sama Brilly tidak sama sekali melepaskan hingga Naomi semakin mengeratkan kedua tangannya di leher pria itu. Kedua mata Naomi terpejam menerima serangan yang tak terduga. Sungguh Brilly hilang akal dan Naomi pun mulai terbuai. Dalam hati Naomi bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Tidak mungkin pertengkaran terjadi hingga menyebabkan Lian babak belur tanpa bisa melawan hanya karenanya saja. Namun diri yang hendak kembali memberontak tertahan dengan aroma yang menyeruak ke dalam indera penciumannya. Aroma mint yang khas dari Brilly mampu membuat Naomi tak lagi memberontak. Apalagi sapaan dari lidah Brilly
"Kak apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini? Lepaskan, Kak!" Naomi kembali berusaha memberontak dengan jantung yang tak lagi bisa tertata debarannya. Apa yang Brilly lakukan tadi di awal saja sudah membuat Naomi terkejut. Naomi tidak menyangka jika ada keributan separah ini hingga membuat Lian terkapar dan tidak mampu bergerak untuk mendekatinya lepas dari Brilly. Ditambah lagi dengan Brilly yang terang-terangan menahan dan memeluk tubuhnya hingga mereka tak berjarak. "Diam dan jangan banyak bicara! Suamimu pantas mendapatkan ini semua!" kata Brilly. "Kak tapi kamu sudah membuatnya hampir mati. Apa kamu tidak takut kalau sampai Papi tau?" tanya Naomi dengan tatapan penuh kecemasan. "Justru dia yang harusnya takut kalau sampai Papi tau apa yang telah dia perbuat!" Brilly menunjuk ke arah Lian dan Naomi menoleh mengikuti tangan Brilly. Kedua alis Naomi menukik menatap Lian yang sudah penuh luka. Tangan Lian menahan perut yang mungkin sekarang terasa amat saki
"Aku sibuk kerja. Perusahaanku sedang maju pesat. Dibanding kamu sangat santai sampai bisa menemani anak dan istriku jalan-jalan. Jangan kamu menilai hanya dengan sebelah mata! Nyatanya sekarang aku berada di titik tertinggiku." "Titik tertinggi?" Brilly berdecih setelah mengatakan itu. "Titik tertinggi sebagai apa? Ayah dan suami yang jahat? Aku baru tau ada pencapaian itu." Brilly beranjak dari sana untuk meninggalkan Lian. Malas! Pria itu tidak mau banyak debat dengan sang adik yang baginya tak punya otak. Berdebat dengan Lian cukup membuang waktu baginya. "Kenapa memangnya? Setidaknya aku tidak mandul! Aku rasa itu bukan pencapaian tetapi sesuatu yang sangat buruk sekali," seru Lian. Degh Langkah Brilly terhenti mendengar penuturan dari Lian. Kedua tangan terkepal kuat sampai wadah minum yang masih dipegangnya pun remuk dan sisa isinya tumpah di lantai. Brilly menoleh dengan melempar tatapan tajam pada Lian yang kemudian tersenyum tipis melihatnya "Jangan asal bi
"Angkat kaki kamu dari rumah ini!" BRUUGH Maryam menjatuhkan diri tepat pada kedua kaki Lian yang kini sudah berbalik dan enggan mempertahankan Maryam lagi. Kedua tangan Maryam memegang kedua kaki Lian seraya mendongak memperhatikan tubuh pria itu dari belakang. "Tuan ampuni aku! Aku mohon, Tuan. Demi Tuhan Maryam tidak tau kamar itu. Maryam sama sekali tidak pernah masuk sana. Nyonya pun tidak sengaja tau karena ingin mengambil sesuatu yang ada di dalam sana." "BOHONG!" Lian menarik kakinya hingga Maryam pun terpental dan hampir saja terbentur kaki meja. Beruntung wanita itu dengan cepat menghalaunya. Namun Maryam meringis setelah itu dan mengeluhkan diri. Maryam mendongak menatap Lian yang kemudian melirik tajam penuh amarah. Kedua mata Maryam sudah basah setelah Maryam mengemis di kaki Lian tanpa malu. "Kamu pikir aku percaya? Aku tau seberapa bulusnya akalmu! Aku sudah tidak memerlukanmu lagi maka jangan harap aku akan menyentuhmu! Cepat atau lambat Naomi ak
"Obat? Kak jangan bercanda!" kata Naomi kemudian menghindari Brilly. Naomi membalikkan tubuhnya tetapi Brilly yang mendekati membuatnya melirik ke belakang. Tanpa sentuhan pria itu mampu menyapa tubuhnya hingga terasa meremang. Naomi membuang muka enggan terperosok pada pesona sang Kakak ipar. Jangan! Jangan sekarang! Naomi bahkan sedang memulihkan hati. Eh tapi kok jangan sekarang? Maksudnya kalau nanti-nanti bisa gitu? Naomi memejamkan kedua matanya dengan kuat. "Kalau semakin sakit, berpeganganlah yang kuat padaku!" "Untuk apa, Kak? Aku mungkin akan meminta Lian melepaskanku dengan cara baik tanpa meninggalkan luka untuk Gwen. Aku sudah meminta berdamai padanya. Mungkin aku yang akan pergi tetapi tidak dengan Gwen. Putriku akan tetap diposisinya." "Justru kalau bisa kamu yang jangan sampai tergeserkan!" sahut Brilly dan Naomi sontak menoleh ke arah pria itu. Naomi mengerutkan keningnya. "Apa maksud Kakak? Maksud Kakak aku akan tetap menjadi nyonya dengan kamu yang aka







