แชร์

Bab 04. Menggila

ผู้เขียน: weni3
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-13 19:03:30

Naomi menghela nafas kesal melihat apa yang ia bawa. Tidak pernahnya begini, biasanya ia gunakan saat bermain dengan Lian dan hanya untuk fantasi saja tapi kali ini dia terkesan ingin menggunakannya sendiri.

Gila! Main sendiri? Sudah seperti tidak memiliki suami saja. Naomi menanggalkan pakaian tipisnya kemudian menghadap ke cermin.

Naomi menatap dirinya dari pantulan cermin tersebut dan mengangkat mainan yang ia bawa.

"Kurang apa aku, Mas?" Kedua mata Naomi terpejam kuat dan melempar mainan untuk memuaskan dirinya itu begitu saja. Namun tak lama Naomi menoleh menatap benda itu.

"Tapi dibanding kamu, aku lebih baik memuaskan diriku dengan mainanku. Kamu yang memilih pembantu itu, Mas. Maka jangan harap kamu bisa mendapatkannya juga dariku. Seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku lebih dalam lagi."

Sementara di bawah, Brilly baru saja masuk ke dalam rumah setelah dipikir sudah cukup waktu yang diberikan untuk memberi jeda. Orang pertama yang menyapa tentu saja Lian.

"Tumben pulang? Masih ingat jalannya, Kak?"

"Mungkin kemarin lagi tersesat dan sekarang baru tau jalan pulang. Mau kemana?" sahut Briily santai.

"Makan, kamu mau ikut makan? Akh mungkin sudah kenyang. Kamu lebih suka makan di luar. Ya sejak Mommy dan Daddy meninggalkan rumah ini, kamu tidak pernah mau makan di rumah."

"Mulai besok aku akan makan di rumah," kata Brilly dengan tatapan datar kemudian meraih ponselnya yang berdering meminta atensinya.

Brilly mengambil ponsel itu kemudian melihat siapa yang menghubungi. Brilly menarik nafas dalam kemudian melirik Lian yang masih memperhatikan.

"Kenapa kamu hanya sendiri? Kemana Naomi?" tanya Brilly seolah tak tau.

"Dia sedang mandi. Tidak ingin makan juga, sudah kenyang katanya. Lagi pula aku sudah biasa makan sendiri. Tidak manja juga dengan istri," jawab Lian yang kemudian melangkah menuju ruang makan sedangkan Brilly kembali melirik ponsel yang terus berdering.

Brilly berdecak kemudian masuk ke dalam kamar. Tak lupa Brilly mengunci pintu kamar dan meletakkan tas juga sepatu.

Brilly ingin mengabaikan panggilan itu yang terus berdering tapi penasaran juga ada apa dengan Naomi hingga berani menghubungi di saat ada Lian di rumah.

Brilly membuka kancing kemeja sedangkan tangan satunya menerima panggilan suara dari Naomi.

"Ada apa?"

"Tidak ada, aku hanya ingin berterimakasih padamu Kak. Makasih sudah menyadarkanku."

"Tidak perlu berterimakasih padaku. Itu sudah sebagian dari kewajibanku sebagai Kakak iparmu."

"Oke. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya."

"Tunggu!"

"Ada apa, Kak?"

"Kenapa tidak menemani suamimu?"

"Tidak perlu! Tanpa aku, sudah ada yang akan menemani dan melayaninya, Kak. Jangan lupakan jika ada benalu yang diam-diam berhasil tumbuh di rumah ini!"

"Oh jadi ada di sini."

"Hhmm..."

"Pantas saja kamu menggila tadi."

"Ya, karena sainganku hanya seorang pembantu. Sekali lagi aku tanya. Kurang apa aku, Kak?"

"Kamu mungkin memiliki banyak kelebihan, tetapi untuk menjadi selingkuhan tidak perlu cantik dan berkelas."

"Apa maksudmu, Kak?"

"Kamu tau jawabannya."

Tut

Naomi menarik ponselnya setelah Brilly mematikan dengan sepihak. Dia menghela nafas berat kemudian memijit pelipisnya.

"Apa kelebihannya?"

Naomi berpikir keras. Dia lama menghabiskan waktu di kamar mandi sampai tidak perduli Lian mengetuk pintu berulang kali.

Naomi sedang tidak ingin diganggu. Dia harus menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Sampai dimana Naomi mengumpat kesal akan jawaban yang ia temukan.

"Yang sempurna kalah dengan yang gatal. Sial! Dasar wanita sialand! Lonthe kamu Maryam!"

Naomi mengusap wajah setelah mengatakan itu. Emosi kembali meluap tetapi saat keluar dari kamar mandi, Naomi berusaha untuk kembali memenangkan dirinya.

Jangan sampai Lian tau kalau dia mengetahui kebusukan pria itu! Akan ada hari dimana Lian akan menyesal karena semua yang dibutuhkan hanya ada padanya dan wanita rendahan itu hanya bermodalkan lubang saja.

"Aku ingin suatu saat nanti kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan, Mas! Tapi di saat itu, jangan berharap aku akan menerimamu seperti dulu."

Naomi memasang kimono tidur untuk menutupi pakaian tipis yang ia kenakan. Dia menoleh melihat Lian yang sudah terlelap di ranjang. Nikmat sekali hidup pria itu.

Naomi muak melihatnya. Dia merapatkan pakaiannya kemudian melangkah menuju kamar Gwen. Perlahan Naomi membuka pintu kamar itu dan tersenyum saat melihat Gwen sedang tertidur nyanyak.

Naomi pun mendekati dan duduk di pinggir ranjang seraya mengusap kepala Gwen. "Assalamualaikum anak Mami."

Cup

"Sayang maafin Mami, Nak. Papimu terlalu gila. Jika kelak kamu tau apa yang terjadi pada kami. Mami harap kamu tidak marah pada Mami."

"Kami memang tidak sempurna dan Papimu yang salah, tapi satu yang harus kamu tau, Nak! Mami tidak akan membiarkan kamu ikut merasakan sakit seperti yang Mami rasakan."

"Mimpi indah, Sayang. Mami sayang kamu. Biarkan Mami yang membalas apa yang Papi lakukan pada kita. Kamu tetap fokus sekolah dan jangan khawatir akan susah. Sekali pun kelak kita dibuang, Mami pastikan kamu tidak akan kekurangan kasih sayang."

Naomi beranjak dari sana setelah sempat mengecek jadwal pelajaran putrinya dan juga melihat PR yang sudah dikerjakan. Dia juga merapikan meja belajar Gwen yang sedikit berantakan kemudian keluar dari sana menuju ruang makan.

"Kak Brilly, ngapain?" tanya Naomi yang cukup terkejut melihat Brilly malam-malam di dapur.

"Buat kopi," jawab Brilly tanpa menoleh ke arah Naomi.

Tersenyum Naomi melihat respon dingin dari Brilly. Dia melangkah mendekati Brilly kemudian meraih cangkir dan cokelat yang akan dia seduh.

"Jangan begadang! Aku lihat air matamu sudah mulai kering."

"Apa aku harus menangisi bajingan itu terus, Kak? Hidupku lebih berarti dari sekedar menangisi pria yang sama sekali tidak memiliki rasa syukur memilikiku."

Naomi meraih cangkir cokelatnya yang sudah diberikan air panas oleh Brilly dan segera ia aduk kemudian melangkah meninggalkan Brilly untuk kembali ke kamar.

Namun saat melangkah menaiki tangga tak sengaja kimono tidurnya turun hingga memamerkan pundak hingga punggung polosnya. Naomi melangkah tanpa tau Brilly tengah memperhatikannya.

Brilly menarik nafas dalam melihat itu. Pria itu mengusap wajahnya kemudian mengaduk kopi yang sudah di seduh tadi.

"Kamu terlalu bodoh Lian! Kamu tidak pernah berubah. Sejak dulu kamu masih sama saja. Tidak bisa melihat lubang nganggur."

Brilly pun bergegas menuju kamar membawa secangkir kopi untuk menemani malam pria itu. Namun saat melintasi kamar Lian.

Langkah Brilly terhenti kala melihat Lian yang tertidur pulas tanpa adanya Naomi di sana. Brilly menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar.

"Tapi kemana Naomi?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 177. Tamat

    Dada Naomi naik turun kala dirinya mendarat di ranjang. Mana kamar utama yang ingin dia lihat? Saat ini, seolah bukan itu yang menjadi hal utama karena Brilly tengah berada di atas tubuhnya, mengkukungnya dengan posesif. Mungkin penampilan Naomi pun sudah tak beraturan lagi sekarang. Namun rupanya Brilly tak memikirkan itu. Tatapan mata penuh cinta dan rasa ingin dapat Naomi lihat dengan jelas dari kedua mata Brilly. "Kak kamu mau apa? Katanya mau mengajakku melihat kamar? Kenapa malah posisinya begini?" tanya Naomi lirih kemudian menggigit bibir bawahnya. Perasaan Naomi tak menentu. Jantung semakin berdebar kencang dan nafas mulai memburu kala kecupan dari Brilly dia rasakan di lehernya. Naomi mendongak mendapati itu. Kedua matanya terpejam dan tubuhnya melengkung menantang. "Aku merindukanmu, Sayang." "Apa itu tidak buru-buru namanya, Kak?" "Tentu saja tidak, kamu sudah menjadi milikku sekarang. Melihat kamar dan room tour bisa nanti tapi yang ini sudah tidak bisa

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 176. SAH

    "Saya terima nikah dan kawinnya Naomi binti......" Kalimat sakral itu menggetarkan hati Naomi dan membuatnya berdebar hingga jantung tak karuan rasa. Naomi sesak nafas mendengar kalimat tersebut. Brilly dengan lancar mengucapkan kalimat itu. Semua terasa begitu cepat dan berpihak padanya. Ya Tuhan.... Ikhlas mana yang Kau kabulkan hingga memberikan pengganti dengan mudahnya? Di masjid besar ini, Naomi terduduk dengan jarak yang cukup jauh dari pria yang kini tengah mengucapkan kalimat sakral untuknya. Air mata kebahagiaan keluar tanpa bisa dia hindarkan. Genggaman tangan Naomi begitu kuat memegang telapak tangan Mami. Dia memejamkan kedua mata dan menunduk. Rasa syukur terucap kala kata sah menggema. "Alhamdulillah...." "Alhamdulillah," ucap Naomi kemudian menganggukkan kepala dan mengambil ujung tisu untuk menahan air matanya. "Selamat ya, Nak. Mami doakan kamu bahagia, Sayang." Naomi menoleh kemudian memeluk Mami. Semua di luar dugaan. Naomi pikir akan ada aca

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 175. Mendadak

    Apa yang dikatakan oleh Brilly itu benar adanya. Sebuah perkataan Brilly yang akan menikahi Naomi besok. Hal itu sangat membuat Naomi terkejut. Dia tidak pernah berpikir kalau akan menikah diwaktu yang sangat amat cepat . Naomi diberikan waktu menjanda benar-benar hanya dalam waktu hitungan bulan. Hanya untuk menuntaskan masa iddah saja. Memang sejak awal, percintaannya dengan Brilly sangat mendadak. Semua yang berkaitan dengan Brilly selalu mendadak. Mendadak jadi dekat, mendadak dibela, mendadak diperhatikan, mendadak disayang, mendadak ditinggal, sampai mendadak dilamar dan sekarang mendadak pula dinikahinya. Naomi yang merasa baru saja terpejam sudah harus kembali terjaga kala suara ketukan di pintu kamarnya begitu sangat mengusik raga. Naomi yang semula masih bergelut dengan mimpi tiba-tiba harus bangun karena panggilan dari seseorang. "Iya, sebentar!" seru Naomi dengan suara yang terdengar lemas. Naomi beranjak dari tidurnya. Dia masih sangat mengantuk sekali. Langk

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 174. Melamar

    "Kamu diajak jalan-jalan? Kenapa nggak ikut?" Deg Naomi terkejut, baru saja keluar dari kamar mandi, sudah diteror pertanyaan dari seseorang yang selama ini mengganggu pikirannya. Naomi mengusap dada kemudian melangkah menuju lemari pakaian. Dia lebih dulu mengambil pakaian ganti seraya memikirkan dari mana Brilly tau tentang pesan itu. "Aku nggak mau buat kamu cemburu. Kenapa sich, Kak? Harusnya kamu lebih tenang. Eh iya, tau dari mana?" tanya Naomi kemudian berbalik menatap Brilly. Kedua alisnya menukik memeluk pakaian ganti. Namun tidak ada jawaban dari Brilly membuat Naomi memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Mau kemana?" "Pakai pakaianku dulu, Kak." "Kenapa jauh-jauh? Di sini saja bisa." Naomi menoleh dan menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Brilly katakan. Dia menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar mandi. "Nggak mau ah! Kamu lagi mode gragas soalnya." BRAAAKK Naomi menutup pintu kamar mandi dengan rapat

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 173. Lamar Aja!

    "Naomi..." "Mami..." Naomi memeluk Mami sesampainya dia di rumah. Rumah yang biasa sepi mendadak ramai kembali. Bahagia sekali Naomi melihat keberadaan Mami, Daddy dan tentunya Brilly. Sepertinya bukan hanya dia saja yang bahagia tetapi Gwen pun sama. Gwen terlihat amat sangat bahagia sekali hingga tak ingin lepas dari Daddy. "Maafkan Mami ya, Nak. Mami bukannya nggak mau mengabari kamu tapi katanya Brilly mau ngasih kejutan. Ya sudah Mami nurut aja." "Iya nggak apa-apa, Mi. Kejutannya berhasil kok, Mi. Ngejut banget pokoknya, Mi. Kak Brilly sukses buat aku menangis setiap malam. Nggak nyangka aku juga kalau Kak Brilly sampai begitu." Naomi merenggangkan pelukannya pada Mami dan menoleh ke arah Brilly yang hanya diam memperhatikannya dengan kedua tangan menyilang di dada. "Kalau begitu pantasnya aku ambekin atau gimana, Mi?" tanya Naomi yang kemudian berdecak mendengar itu. "Kalau kaya Mami sich langsung minta lamar aja, Naomi. Pas tiga bulan langsung menikah.

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 172. Sayang, ampun!

    "Hah? Aku nggak nakal. Aku masih ingat kamu. Aku juga nggak terima dia. Kami memang sering bertemu tetapi itu kebutuhan anak-anak. Bukan karena urusan orang tuanya," elak Naomi kemudian melangkah mundur sedikit memberi jarak untuk menjelaskan pada Brilly. "Kakak juga kenapa nggak ngabarin aku? Aku menghubungi Kakak, Mami, Daddy, sampai aku datang ke kantor Kakak untuk mendatangi Gani. Katanya Kakak sakit parah, tapi aku lihat Kakak malah sudah sembuh total. Kakak bisa berjalan. Kakak berdiri gagah. Kakak sengaja membohongi aku?" "Kenapa memangnya? Salah kalau aku ingin memberikan kejutan untukmu dan sengaja mengetes kesetiaanmu, hhm?" "Jadi Kakak nggak percaya sama aku? Kak Brilly nggak percaya kalau aku setia di sini nunggu Kakak? Iya? Kakak pikir aku mudah tergoda dengan laki-laki lain?" cecar Naomi. Mereka baru bertemu tetapi berujung ribut. Betul-betul seperti Tom and Jerry. Jauh dicari setelah dekat malah debat dan semua itu berawal dari rasa cemburu serta adanya oran

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 169. Kak, Pulang!

    "Bagaimana caraku mengatakan pada Ridwan kalau aku sudah punya calon?" Naomi bukan bingung, tapi bimbang dengan keadaan sekarang. Ingin mengatakan jika memiliki calon suami baru, tapi yang meragukan adalah tidak adanya kabar dari Brilly. Naomi tau Brilly sedang sakit, tapi ada hal ketakutan da

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 159. Kembali Operasi

    "Mami jangan sedih! Kata Om Brilly, nggak akan lama. Om cuma cari obat. Mami nggak boleh menangis lagi ya." Gwen mengusap air mata Naomi. Keduanya sudah ada di dalam mobil saat ini. Memang sejak tadi Naomi masih menangis saja. Bukan Naomi terlalu berlebihan tetapi memang suasana hatinya sedang s

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 151. Bukan Mantan-mantanan

    "Ikh Gwen terlalu kecil untukmu jadikan Intel, Kak. Jangan begitu! Nggak ada yang nyaman sama laki-laki lain. Lagian aku nggak mudah jatuh cinta kok. Kalau mau mungkin sejak dulu kami jadian. Apalagi dari tampan dan baik sama aku tapi memang kamu nggak saling suka. Kami hanya berteman. Eh kebetulan

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 136. Membutuhkanmu

    "Assalamualaikum... Brilly.... Ya ampun, ini kaki kamu kenapa? Kepala kamu, tangan kamu, begitu kok ya bilang baik-baik saja. Ini buruk, Brilly." Mami sangat terkejut sekali dengan kondisi Brilly saat ini. Beliau berlari mendekati Brilly yang terlihat lemas di ranjang pesakitan. "Hanya terjepi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status