Share

Bab 03. Muak

Auteur: weni3
last update Dernière mise à jour: 2025-10-13 18:46:06

"Sayangnya aku tidak perduli, Kak. Aku sakit, bahkan aku sudah lama tidak dia sentuh lagi. Apa aku masih harus setia jika sudah diperlakukan seperti ini? Tidak, Kak! Katakan aku gila, aku tidak perduli itu. Kalau Kakak tidak mau ya sudah. Aku akan mencari pria lain yang mau denganku," ujar Naomi kemudian keluar dari mobil itu.

Dia berlari menuju mobilnya tapi dengan cepat Brilly pun mengejar dan menahan Naomi yang hendak masuk ke dalam mobil.

"Lepas, Kak! Aku ingin mencari kesenanganku sendiri seperti adikmu mencari kesenangannya! Jangan ganggu aku kalau Kakak tidak mau membantuku! Aku ingin bersenang-senang seperti dia yang bersenang-senang di belakangku!"

Naomi bersikeras pergi dari sana tetapi Brilly lagi-lagi menggagalkannya. Pria itu merebut kunci mobil Naomi agar tidak bisa pergi. Bukan apa, Brilly tidak ingin Naomi tersesat. Ada Gwen yang masih sangat membutuhkan ibunya.

Bagaimana jika Naomi nekat tapi justru dimanfaatkan oleh orang lain? Apalagi Naomi yang memiliki segalanya. Cantik, pintar, karier bagus dan body goals. Apa lagi yang kurang? Tentu saja hal itu sangat diminati banyak orang.

"Jangan macam-macam, Naomi! Kamu tidak bisa sembarangan mengenal laki-laki!" ujar Brilly tegas yang masih berusaha untuk menahan pergerakan Naomi.

"Aku nggak perduli, Kak! Aku sudah muak dengan pernikahanku. Biar saja rusak sekalian! Kalau Kakak tidak mau menjadi selingkuhanku maka jangan halangi aku untuk mencari yang lebih dari Lian!" sahut Naomi tak kalah tegas kemudian menyentak tangannya dan merebut kunci mobil dari tangan Brilly tapi dengan cepat pria itu memasukkan benda kecil itu ke dalam saku celana.

"Kak kunci mobilku! Jangan Kakak pikir aku nggak berani ambil ya!" kata Naomi dengan tatapan yang menyala.

Naomi begitu emosi melihat Brilly yang sengaja menahan tanpa mau membantunya untuk membalaskan dendam pada Lian.

Naomi tau, itu sangat mustahil karena Brilly dan Lian adalah saudara kembar. Tak mungkin jika Brilly tega menerima penawarannya karena itu sama saja dengan mengkhianati adiknya.

Namun persetan dengan itu semua. Naomi hanya ingin merasakan apa yang Lian lakukan. Jika pria itu bisa, kenapa dia harus diam saja? Menerima dan langsung bercerai?

Mudah sekali! Dia ingin suatu saat Lian pun merasakan sakit hati yang sama, marah yang sama dan menggila sepertinya, tapi Naomi tidak memikirkan jika akan ada perang saudara setelahnya.

Dia tidak memikirkan bagaimana hubungan saudara kembar itu akan rusak karenanya. Yang terdekat ya Brilly, setidaknya dia menjatuhkan dirinya pada orang yang sudah kenal dekat dengannya. Tak perduli harga diri, selingkuh tidak buruk kala dia yang lebih dulu disakiti.

Jangan pikir Naomi akan melabrak, nangis-nangis dan mengajukan cerai begitu saja. Tidak! Dia tidak ingin menunjukkan air matanya di depan dua orang pengkhianat itu. Setelah Lian sakit hati, barulah dia menggugat cerai dan mengembalikan Maryam pada tempatnya.

Biarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu dan dia pun melakukan hal yang sama. Entah seberapa sakitnya andai Lian tau istrinya berselingkuh dengan saudaranya sendiri.

Ya, Naomi harus bisa membuat Brilly mau dengannya agar rasa sakit itu bisa terwujud berkali-kali lipat.

"Ambil kalau kamu bisa! Sekali kamu maju dan melebihi batasanmu. Kamu sama hinanya dengan suamimu!" tantang Brilly dengan ucapan yang cukup membuatnya tersentil.

Sontak Naomi terdiam tanpa pergerakan. Kedua matanya semakin memanas dan sesuatu mendesak dari kedua manik indah itu untuk kembali terjun bebas membasahi wajahnya.

"Tapi aku sakit," kata Naomi dengan suara bergetar dan terdengar semakin lirih. Nafas Naomi pun terasa semakin sesak hingga dadanya terasa sangat sakit dan semakin terjepit.

"Sabar! Jika memang tidak mampu maka lepaskan!"

"Tapi bagaimana dengan Gwen? Aku tidak ingin anakku menjadi korban atas kelakuan orang tuanya."

"Tenangkan dirimu! Kamu masih kacau dan butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Aku tau ini berat, tapi berpikirlah lebih jauh lagi dan ingat! Kamu perempuan. Kamu tentu paham apa yang aku maksud."

Naomi pun diam dan memutuskan untuk pulang. Bener, tidak semua masalah harus dihadapi dengan huru hara yang sama. Jika memang suaminya memutuskan untuk berselingkuh, itu artinya memang Lian tidak punya rasa bersyukur.

"Aku akan menghadapi ini semua. Mau sampai kapan kamu terus begitu, Mas! Kamu yang main api lebih dulu, maka jangan salahkan aku jika aku di sana hanya bertugas sebagai ibu, bukan istrimu lagi."

Sampai di rumah, semua terlihat baik-baik saja. Lian terlihat duduk di sofa seakan tengah menunggu kepulangannya. Sementara Brilly masih menunggu beberapa saat di luar pagar untuk membiarkan Naomi masuk lebih dulu.

Naomi rasanya malas pulang, malas bertemu dengan Lian apalagi tidur satu kamar dengan pria itu, tetapi ada Gwen di sana yang membutuhkan dirinya.

"Sayang kamu sudah pulang?" tanya Lian dengan wajah yang terlihat cerah. Rambut pria itu pun masih basah yang membuat Naomi semakin muak melihat suaminya.

"Hhmm... Ngapain di sini, Mas? Aku masuk kamar dulu." Naomi pun melangkah menuju kamarnya melewati Lian dan segera pria itu membuntuti di belakangnya.

"Menunggu kamu, apa lagi? Sudah makan malam? Aku lapar, sengaja tadi menunggu kamu pulang."

"Aku sudah makan, hatinya enak sekali tadi. Kamu tau 'kan kalau aku suka makan hati?" tanya Naomi seraya melepaskan pakaiannya setelah meletakkan tas juga sepatu di tempatnya.

Dia membiarkan Lian melihat tubuhnya yang mungkin sudah tak lagi membuat pria itu tergoda.

"Hhmm... Awas kolesterol! Kamu harus menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuhmu, Sayang." Lian pun mendekati dan hendak mengecup pipi Naomi tetapi dengan cepat dia menghindar.

"Aku gerah mau mandi. Rambut kamu masih basah. Keramas? Tumben malam-malam, biasanya kamu melakukan itu hanya setelah bercinta denganku Mas atau kamu melakukannya sendiri?" cecar Naomi membuat Lian tersenyum kaku ke arahya.

"Akh aku tau, kamu pasti tadi sangat menginginkan bukan? Makanya kamu nggak sabar. Aku juga ingin. Aku ke kamar mandi dulu, Mas. Jangan ganggu aku karena aku pun ingin merasakan pelepasan malam ini!" bisik Naomi dengan suara yang lirih menggoda.

"Mau aku bantu, Sayang?" tanya Lian yang membuat Naomi tersenyum getir.

"Nggak Mas, kamu makan saja! Katanya lapar? Minta Maryam untuk menyiapkan makan malam untukmu!"

Naomi pun mengambil sesuatu dari lemari pakaiannya dan tak ketinggalan ponsel yang ia bawa masuk sedangkan Lian hanya diam memperhatikan apa yang ia bawa.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Elis Sahadati
wanita lw udah tersakiti secepatnya dia akan mati rasa...mengingat perselingkuhan suami nya aja udah jijik apalagi di sentuh
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 61. Melumat

    "Eugh...." Naomi melenguh saat ciuman Brilly semakin dalam menerobos masuk indera perasanya. Lidah Brilly mengabsen semua sisi tanpa ada yang terlewatkan. Jantung keduanya berdebar kencang apalagi Brilly yang terlihat sangat emosi sekali, seolah apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah pelampiasan akan amarah yang tak sepenuhnya keluar. Masih dengan posisi yang sama Brilly tidak sama sekali melepaskan hingga Naomi semakin mengeratkan kedua tangannya di leher pria itu. Kedua mata Naomi terpejam menerima serangan yang tak terduga. Sungguh Brilly hilang akal dan Naomi pun mulai terbuai. Dalam hati Naomi bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Tidak mungkin pertengkaran terjadi hingga menyebabkan Lian babak belur tanpa bisa melawan hanya karenanya saja. Namun diri yang hendak kembali memberontak tertahan dengan aroma yang menyeruak ke dalam indera penciumannya. Aroma mint yang khas dari Brilly mampu membuat Naomi tak lagi memberontak. Apalagi sapaan dari lidah Brilly

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 60. Berontaklah, Sayang!

    "Kak apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini? Lepaskan, Kak!" Naomi kembali berusaha memberontak dengan jantung yang tak lagi bisa tertata debarannya. Apa yang Brilly lakukan tadi di awal saja sudah membuat Naomi terkejut. Naomi tidak menyangka jika ada keributan separah ini hingga membuat Lian terkapar dan tidak mampu bergerak untuk mendekatinya lepas dari Brilly. Ditambah lagi dengan Brilly yang terang-terangan menahan dan memeluk tubuhnya hingga mereka tak berjarak. "Diam dan jangan banyak bicara! Suamimu pantas mendapatkan ini semua!" kata Brilly. "Kak tapi kamu sudah membuatnya hampir mati. Apa kamu tidak takut kalau sampai Papi tau?" tanya Naomi dengan tatapan penuh kecemasan. "Justru dia yang harusnya takut kalau sampai Papi tau apa yang telah dia perbuat!" Brilly menunjuk ke arah Lian dan Naomi menoleh mengikuti tangan Brilly. Kedua alis Naomi menukik menatap Lian yang sudah penuh luka. Tangan Lian menahan perut yang mungkin sekarang terasa amat saki

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 59. Lepaskan, Istriku

    "Aku sibuk kerja. Perusahaanku sedang maju pesat. Dibanding kamu sangat santai sampai bisa menemani anak dan istriku jalan-jalan. Jangan kamu menilai hanya dengan sebelah mata! Nyatanya sekarang aku berada di titik tertinggiku." "Titik tertinggi?" Brilly berdecih setelah mengatakan itu. "Titik tertinggi sebagai apa? Ayah dan suami yang jahat? Aku baru tau ada pencapaian itu." Brilly beranjak dari sana untuk meninggalkan Lian. Malas! Pria itu tidak mau banyak debat dengan sang adik yang baginya tak punya otak. Berdebat dengan Lian cukup membuang waktu baginya. "Kenapa memangnya? Setidaknya aku tidak mandul! Aku rasa itu bukan pencapaian tetapi sesuatu yang sangat buruk sekali," seru Lian. Degh Langkah Brilly terhenti mendengar penuturan dari Lian. Kedua tangan terkepal kuat sampai wadah minum yang masih dipegangnya pun remuk dan sisa isinya tumpah di lantai. Brilly menoleh dengan melempar tatapan tajam pada Lian yang kemudian tersenyum tipis melihatnya "Jangan asal bi

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 58. BOHONG!

    "Angkat kaki kamu dari rumah ini!" BRUUGH Maryam menjatuhkan diri tepat pada kedua kaki Lian yang kini sudah berbalik dan enggan mempertahankan Maryam lagi. Kedua tangan Maryam memegang kedua kaki Lian seraya mendongak memperhatikan tubuh pria itu dari belakang. "Tuan ampuni aku! Aku mohon, Tuan. Demi Tuhan Maryam tidak tau kamar itu. Maryam sama sekali tidak pernah masuk sana. Nyonya pun tidak sengaja tau karena ingin mengambil sesuatu yang ada di dalam sana." "BOHONG!" Lian menarik kakinya hingga Maryam pun terpental dan hampir saja terbentur kaki meja. Beruntung wanita itu dengan cepat menghalaunya. Namun Maryam meringis setelah itu dan mengeluhkan diri. Maryam mendongak menatap Lian yang kemudian melirik tajam penuh amarah. Kedua mata Maryam sudah basah setelah Maryam mengemis di kaki Lian tanpa malu. "Kamu pikir aku percaya? Aku tau seberapa bulusnya akalmu! Aku sudah tidak memerlukanmu lagi maka jangan harap aku akan menyentuhmu! Cepat atau lambat Naomi ak

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 57. Sakit tau!

    "Obat? Kak jangan bercanda!" kata Naomi kemudian menghindari Brilly. Naomi membalikkan tubuhnya tetapi Brilly yang mendekati membuatnya melirik ke belakang. Tanpa sentuhan pria itu mampu menyapa tubuhnya hingga terasa meremang. Naomi membuang muka enggan terperosok pada pesona sang Kakak ipar. Jangan! Jangan sekarang! Naomi bahkan sedang memulihkan hati. Eh tapi kok jangan sekarang? Maksudnya kalau nanti-nanti bisa gitu? Naomi memejamkan kedua matanya dengan kuat. "Kalau semakin sakit, berpeganganlah yang kuat padaku!" "Untuk apa, Kak? Aku mungkin akan meminta Lian melepaskanku dengan cara baik tanpa meninggalkan luka untuk Gwen. Aku sudah meminta berdamai padanya. Mungkin aku yang akan pergi tetapi tidak dengan Gwen. Putriku akan tetap diposisinya." "Justru kalau bisa kamu yang jangan sampai tergeserkan!" sahut Brilly dan Naomi sontak menoleh ke arah pria itu. Naomi mengerutkan keningnya. "Apa maksud Kakak? Maksud Kakak aku akan tetap menjadi nyonya dengan kamu yang aka

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 56. Menjadi Gila

    Kedua tangan pria itu masuk ke dalam saku celana seraya memperhatikannya. Brilly dengan pembawaan yang tenang dan tatapan yang selalu hangat padanya membuat Naomi risih tatapi merasa sangat dimengerti. "Makasih sudah menemani Gwen, Kak. Untung ada Kakak. Semua yang tidak bisa aku kerjakan selalu digantikan oleh Kakak." "Hhmm... Mau tidur di sini?" tanya Brilly dan Naomi menganggukkan kepala. "Iya seperti malam sebelumnya." Naomi tidak menyangkal sampai dimana Brilly kembali melangkah mendekatinya. Kedua mata mereka bertemu dengan Naomi mendongak menatap Brilly yang lebih tinggi darinya. "Lain kali kalau bertengkar jangan terlalu kencang! Gwen hampir mendengar keributan kalian." Naomi meringis kala satu telunjuk Brilly menekan keningnya. Teguran dari pria itu membuatnya sadar kalau dia salah. "Iya aku salah, Kak. Aku terlalu emosi sampai lupa. Tadi Gwen sudah mengetuk pintu tetapi aku tidak kunjung keluar. Aku malah sibuk dengan Mas Lian." "Kalian terlalu cerobo

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status