LOGIN"Sayangnya aku tidak perduli, Kak. Aku sakit, bahkan aku sudah lama tidak dia sentuh lagi. Apa aku masih harus setia jika sudah diperlakukan seperti ini? Tidak, Kak! Katakan aku gila, aku tidak perduli itu. Kalau Kakak tidak mau ya sudah. Aku akan mencari pria lain yang mau denganku," ujar Naomi kemudian keluar dari mobil itu.
Dia berlari menuju mobilnya tapi dengan cepat Brilly pun mengejar dan menahan Naomi yang hendak masuk ke dalam mobil. "Lepas, Kak! Aku ingin mencari kesenanganku sendiri seperti adikmu mencari kesenangannya! Jangan ganggu aku kalau Kakak tidak mau membantuku! Aku ingin bersenang-senang seperti dia yang bersenang-senang di belakangku!" Naomi bersikeras pergi dari sana tetapi Brilly lagi-lagi menggagalkannya. Pria itu merebut kunci mobil Naomi agar tidak bisa pergi. Bukan apa, Brilly tidak ingin Naomi tersesat. Ada Gwen yang masih sangat membutuhkan ibunya. Bagaimana jika Naomi nekat tapi justru dimanfaatkan oleh orang lain? Apalagi Naomi yang memiliki segalanya. Cantik, pintar, karier bagus dan body goals. Apa lagi yang kurang? Tentu saja hal itu sangat diminati banyak orang. "Jangan macam-macam, Naomi! Kamu tidak bisa sembarangan mengenal laki-laki!" ujar Brilly tegas yang masih berusaha untuk menahan pergerakan Naomi. "Aku nggak perduli, Kak! Aku sudah muak dengan pernikahanku. Biar saja rusak sekalian! Kalau Kakak tidak mau menjadi selingkuhanku maka jangan halangi aku untuk mencari yang lebih dari Lian!" sahut Naomi tak kalah tegas kemudian menyentak tangannya dan merebut kunci mobil dari tangan Brilly tapi dengan cepat pria itu memasukkan benda kecil itu ke dalam saku celana. "Kak kunci mobilku! Jangan Kakak pikir aku nggak berani ambil ya!" kata Naomi dengan tatapan yang menyala. Naomi begitu emosi melihat Brilly yang sengaja menahan tanpa mau membantunya untuk membalaskan dendam pada Lian. Naomi tau, itu sangat mustahil karena Brilly dan Lian adalah saudara kembar. Tak mungkin jika Brilly tega menerima penawarannya karena itu sama saja dengan mengkhianati adiknya. Namun persetan dengan itu semua. Naomi hanya ingin merasakan apa yang Lian lakukan. Jika pria itu bisa, kenapa dia harus diam saja? Menerima dan langsung bercerai? Mudah sekali! Dia ingin suatu saat Lian pun merasakan sakit hati yang sama, marah yang sama dan menggila sepertinya, tapi Naomi tidak memikirkan jika akan ada perang saudara setelahnya. Dia tidak memikirkan bagaimana hubungan saudara kembar itu akan rusak karenanya. Yang terdekat ya Brilly, setidaknya dia menjatuhkan dirinya pada orang yang sudah kenal dekat dengannya. Tak perduli harga diri, selingkuh tidak buruk kala dia yang lebih dulu disakiti. Jangan pikir Naomi akan melabrak, nangis-nangis dan mengajukan cerai begitu saja. Tidak! Dia tidak ingin menunjukkan air matanya di depan dua orang pengkhianat itu. Setelah Lian sakit hati, barulah dia menggugat cerai dan mengembalikan Maryam pada tempatnya. Biarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu dan dia pun melakukan hal yang sama. Entah seberapa sakitnya andai Lian tau istrinya berselingkuh dengan saudaranya sendiri. Ya, Naomi harus bisa membuat Brilly mau dengannya agar rasa sakit itu bisa terwujud berkali-kali lipat. "Ambil kalau kamu bisa! Sekali kamu maju dan melebihi batasanmu. Kamu sama hinanya dengan suamimu!" tantang Brilly dengan ucapan yang cukup membuatnya tersentil. Sontak Naomi terdiam tanpa pergerakan. Kedua matanya semakin memanas dan sesuatu mendesak dari kedua manik indah itu untuk kembali terjun bebas membasahi wajahnya. "Tapi aku sakit," kata Naomi dengan suara bergetar dan terdengar semakin lirih. Nafas Naomi pun terasa semakin sesak hingga dadanya terasa sangat sakit dan semakin terjepit. "Sabar! Jika memang tidak mampu maka lepaskan!" "Tapi bagaimana dengan Gwen? Aku tidak ingin anakku menjadi korban atas kelakuan orang tuanya." "Tenangkan dirimu! Kamu masih kacau dan butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Aku tau ini berat, tapi berpikirlah lebih jauh lagi dan ingat! Kamu perempuan. Kamu tentu paham apa yang aku maksud." Naomi pun diam dan memutuskan untuk pulang. Bener, tidak semua masalah harus dihadapi dengan huru hara yang sama. Jika memang suaminya memutuskan untuk berselingkuh, itu artinya memang Lian tidak punya rasa bersyukur. "Aku akan menghadapi ini semua. Mau sampai kapan kamu terus begitu, Mas! Kamu yang main api lebih dulu, maka jangan salahkan aku jika aku di sana hanya bertugas sebagai ibu, bukan istrimu lagi." Sampai di rumah, semua terlihat baik-baik saja. Lian terlihat duduk di sofa seakan tengah menunggu kepulangannya. Sementara Brilly masih menunggu beberapa saat di luar pagar untuk membiarkan Naomi masuk lebih dulu. Naomi rasanya malas pulang, malas bertemu dengan Lian apalagi tidur satu kamar dengan pria itu, tetapi ada Gwen di sana yang membutuhkan dirinya. "Sayang kamu sudah pulang?" tanya Lian dengan wajah yang terlihat cerah. Rambut pria itu pun masih basah yang membuat Naomi semakin muak melihat suaminya. "Hhmm... Ngapain di sini, Mas? Aku masuk kamar dulu." Naomi pun melangkah menuju kamarnya melewati Lian dan segera pria itu membuntuti di belakangnya. "Menunggu kamu, apa lagi? Sudah makan malam? Aku lapar, sengaja tadi menunggu kamu pulang." "Aku sudah makan, hatinya enak sekali tadi. Kamu tau 'kan kalau aku suka makan hati?" tanya Naomi seraya melepaskan pakaiannya setelah meletakkan tas juga sepatu di tempatnya. Dia membiarkan Lian melihat tubuhnya yang mungkin sudah tak lagi membuat pria itu tergoda. "Hhmm... Awas kolesterol! Kamu harus menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuhmu, Sayang." Lian pun mendekati dan hendak mengecup pipi Naomi tetapi dengan cepat dia menghindar. "Aku gerah mau mandi. Rambut kamu masih basah. Keramas? Tumben malam-malam, biasanya kamu melakukan itu hanya setelah bercinta denganku Mas atau kamu melakukannya sendiri?" cecar Naomi membuat Lian tersenyum kaku ke arahya. "Akh aku tau, kamu pasti tadi sangat menginginkan bukan? Makanya kamu nggak sabar. Aku juga ingin. Aku ke kamar mandi dulu, Mas. Jangan ganggu aku karena aku pun ingin merasakan pelepasan malam ini!" bisik Naomi dengan suara yang lirih menggoda. "Mau aku bantu, Sayang?" tanya Lian yang membuat Naomi tersenyum getir. "Nggak Mas, kamu makan saja! Katanya lapar? Minta Maryam untuk menyiapkan makan malam untukmu!" Naomi pun mengambil sesuatu dari lemari pakaiannya dan tak ketinggalan ponsel yang ia bawa masuk sedangkan Lian hanya diam memperhatikan apa yang ia bawa."Maaf Nyonya, kenapa Nyonya pucat sekali? Mau saya belikan obat atau panggilkan dokter?" "Nggak usah sok perhatian, Maryam! Saya baik-baik saja," jawab Naomi. Sebenarnya bukan karena sakit, tapi karena Naomi kurang tidur. Semalaman Naomi larut memikirkan Brilly. Andai tidak memikirkan Brilly dan kabar dari pria itu tidak terputus, mungkin Naomi akan baik-baik saja saat ini. "Maaf Nyonya, tapi Tuan Brilly meminta saya untuk menjaga Nyonya. Kalau tidak, nanti saya yang kena hukum, Nyonya." "Kapan dia memintamu begitu?" tanya Naomi seraya mengangkat kedua alisnya. Menyangkut Brilly selalu membuat Naomi penasaran. Itu pun terjadi semenjak pria itu tak ada kabar. "Sebelum Tuan berangkat, Nyonya." "Apa akhir-akhir ini menghubungimu?" "Tidak Nyonya. Terakhir sebelum berangkat. Tuan sempat menghubungi saya melalui handphone milik Nyonya besar." Naomi membuang muka setelah mendengar jawaban dari Maryam. Kalau begitu, berarti kabar Brilly memang benar-benar hilang dan ti
Beberapa minggu belakangan ini, Naomi merasa jauh sekali dengan Brilly. Tidak ada kabar dari pria itu yang datang padanya. Jangankan kabar, Naomi mencoba menghubungi Mami dan Daddy saja sulit. Sengaja Naomi datang ke kantor Brilly untuk bertemu dengan Gani demi ingin menanyakan tentang keluarga mantan suaminya tetapi sama sekali tidak Naomi temukan Gani di kantor. "Pak Gani sedang meeting di luar, Bu. Kalau sekiranya penting, bisa meninggalkan pesan di sini." Naomi menarik nafas dalam mendengar itu. Padahal ini masih pagi sekali. Biasanya Brilly baru datang kalau jam segini tetapi dia sudah kehilangan jejak Gani. Apa serajin itu? Naomi gemas sekali rasanya dengan keadaan ini. Belum lagi Gwen yang menanyakan dan ingin sekali mendengar suara Brilly. "Nggak dech, Mbak. Ya sudah saya pamit dulu. Permisi." Naomi jadi bingung harus menghubungi siapa, meminta tolong pada siapa, dan menanyakan pada siapa tentang kabar Brilly. Apa dia harus datang ke sana? Gwen masih harus
Dengan girang Gwen keluar dari toko. Naomi sudah membelikan makanan yang Gwen inginkan. Ada roti, es krim dan juga menu makan siang. Keduanya pun kembali menuju mobil tetapi Gwen tak lupa untuk memberikan roti yang tadi sudah dibeli pada orang yang masih diam dengan kepala tertunduk dan membuka kedua tangan meminta uang belas kasih dari pengguna jalan. "Mi ayo!" "Iya sebentar, pelan-pelan jalannya, Nak!" kata Naomi kemudian mengantar Gwen untuk mendekati pria itu. Naomi menggenggam tangan Gwen saat putrinya hendak memberikan bungkusan roti. Naomi tetap waspada dan tidak melepaskan Gwen begitu saja. "Ini buat Om," kata Gwen sontak membuat tubuh pria itu menegang. Kedua mata Naomi pun menukik melihat reaksi dari pria itu. Sementara Gwen kemudian tersenyum dan berjongkok di hadapan orang tersebut untuk memberikan rotinya. "Ambil, Om!" Pria itu pun menganggukkan kepala kemudian mengambil roti dari tangan Gwen. Pria itu sama sekali tidak mengatakan terimakasih sampai
Untungnya ada Ridwan dan juga Alif yang menemani Gwen. Dengan adanya mereka di sana membuat Gwen pun anteng tidak keluar-keluar dari gerbang sekolah. Naomi berlari mendekati putrinya hingga kedatangannya menarik perhatian ketiga orang di sana. Naomi tersenyum lega setelah melihat wajah Gwen yang terlihat girang. "Mami! Yee... Mami sudah datang," seru Gwen kemudian memeluknya. "Maaf Mami telat ya, Nak. Mami dari rumah sakit terus di depan macet benget." "Iya nggak apa-apa, Mi. Aku ada yang menemani. Ada Pak Guru ganteng dan juga Kak Alif. Mereka di sini ikut menunggu Mami," adu Gwen dan Naomi menoleh pada Ridwan dan juga Alif. "Kalian pasti sangat lelah menunggu ya. Maafkan aku sudah merepotkan tapi makasih sekali karena sudah mau menemani Gwen." "Jangan kamu pikirkan itu! Yang penting Gwen aman. Tadi kebetulan aku yang mengajar di jam terakhir," jawab Ridwan terdengar adem sekali di telinga. "Kamu memang selalu perduli, Ridwan. Sekali lagi makasih ya. Aku jadi ngga
"Mami jangan sedih! Kata Om Brilly, nggak akan lama. Om cuma cari obat. Mami nggak boleh menangis lagi ya." Gwen mengusap air mata Naomi. Keduanya sudah ada di dalam mobil saat ini. Memang sejak tadi Naomi masih menangis saja. Bukan Naomi terlalu berlebihan tetapi memang suasana hatinya sedang sangat berantakan. "Kayaknya aku mau haid dech. Emosiku nggak bisa terkontrol banget. Udah dong nangisnya!" kata Naomi dalam hati. Naomi menarik nafas dalam kemudian membuangnya dengan perlahan. Dia mencoba untuk lebih bisa tenang menghadapi situasi ini. Perlahan Naomi meraih tubuh Gwen kemudian memeluk putrinya. "Selama nggak ada Om Brilly, Gwen nggak boleh nakal ya! Nggak boleh nyariin terus. Gwen 'kan sudah tau Om kemana. Kalau rindu, bisa telepon. Ya, Nak!" "Iya, Mi. Kita bertiga lagi sama Papi ya, Mi? Seperti dulu itu?" "Papi juga pergi, Sayang. Papi juga sedang mencari obat. Jadi kita berdua saja. Gwen bantu Mami dengan menjadi anak baik dan tidak rewel ya, Nak." "Jadi
"Naomi, kamu nggak mau pamit sama Brilly, Nak? Biar Gwen, Mami ajak beli makanan dulu. Sebentar lagi kami akan masuk ke dalam pesawat. Ayo, Nak!" tegur Mami karena sejak tadi Naomi hanya diam menyimak Brilly dan Gwen bicara. Gwen bahkan sempat menangis dan kekeh tidak mau ditinggal membuat hati Naomi semakin sesak saja melihat itu. Apalagi Gwen yang tak lagi bisa merasakan kasih sayang seorang ayah setelah Brilly pun ikut pergi. Adanya Brilly meringankan tugas Naomi untuk membujuk Gwen agar tidak meminta bertemu dengan Lian. Sekarang, pria itu begitu mudah mengucapkan kata pamit. Kenapa tidak mengatakan ini jauh-jauh hari? Setidaknya Naomi bisa mempersiapkan semuanya. Tentunya mempersiapkan hatinya. Sialnya, setelah dibuat nyaman malah ditinggal. "Naomi," panggil Brilly setelah Gani pun segera menjauh dan memberikan kesempatan untuk keduanya bicara. Bukan Naomi yang mendekati tetapi Brilly yang datang dengan menggulir ban kursi rodanya. Pria itu mendatangi Naomi yang masih d
"Kenapa, Kak? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya? Kakak juga suka sama dia? Katakan Kak kalau Kakak memang suka!" kata Naomi dengan tatapan tak terima pada Brilly. Naomi pun melepaskan Maryam begitu saja dengan cara yang tak bersahabat. Wanita itu ambruk di lantai dingin dengan penampilan yang
PLAKK Kedua mata Maryam terbelalak setelah mendapatkan tamparan kerasa dari orang yang tidak pernah melakukan itu padahal sudah sangat dikhianati. Siapa lagi kalau bukan Naomi. "Nyonya?" Maryam amat sangat terkejut sekali. "Apa? Apa, Maryam?" "Aaagghhh!!!" Kepala Maryam mendongak kala
"Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya
"Eugh...." Naomi melenguh saat ciuman Brilly semakin dalam menerobos masuk indera perasanya. Lidah Brilly mengabsen semua sisi tanpa ada yang terlewatkan. Jantung keduanya berdebar kencang apalagi Brilly yang terlihat sangat emosi sekali, seolah apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah pelampia







