INICIAR SESIÓNPagi ini, Naomi mengurus Gwen sendiri. Apalagi di rumah tidak ada Mami dan Daddy yang sudah beberapa pekan sangat memperhatikan mereka. Tidak adanya mereka terasa sepi. Kedua mertuanya tidak pulang. Mereka menginap di rumah sakit menunggu Brilly yang mana hanya sendiri karena Gani harus pulang. Sebenarnya Brilly sudah meminta keduanya untuk pulang. Brilly justru kasihan pada Naomi dan Gwen. Namun Mami dan Daddy lebih mengkhawatirkan Brilly yang hanya sendiri. Di rumah ada Maryam yang walaupun musuh Naomi sebelumnya tetapi wanita itu sama sekali tidak berani macam-macam sskarang. Apalagi Daddy sudah sangat wanti-wanti pada Maryam. Sampai berani mengganggu Naomi, nyawa taruhannya. "Kita berangkat berdua, Mi? Om belum pulang?" "Belum bisa pulang, Nak. Oma dan Opa ada di rumah sakit menemani Om Brilly. Doakan Om Brilly lekas sembuh ya." "Iya, Mi. Kasihan Om Brilly, tapi Gwen siapa yang jemput sekolah, Mi?" "Nanti Mami yang antar jemput Gwen, Sayang. Kalau bukan Mami,
"Assalamualaikum... Brilly.... Ya ampun, ini kaki kamu kenapa? Kepala kamu, tangan kamu, begitu kok ya bilang baik-baik saja. Ini buruk, Brilly." Mami sangat terkejut sekali dengan kondisi Brilly saat ini. Beliau berlari mendekati Brilly yang terlihat lemas di ranjang pesakitan. "Hanya terjepit mobil, Mi." "Hanya lagi!" sahut Mami gemas sekali. Apapun yang menjadi alasan dari Brilly membuat Mami amat sangat sewot sekali. Pasalnya memang keadaan Brilly yang sebenarnya itu cukup buruk. "Kamu tuh tebuat dari apa sich? Perasaan Mami melahirkan kamu sama seperti Lian. Kenapa kamu tuh udah babak belur begini, masih bisa bilang nggak apa-apa? Ini tuh sakit semua, Nak." Gani dan Daddy hanya diam saja kalau sudah Ibu Ratu marah-marah. Brilly sendiri hanya meringis mendengar ocehan tersebut. Tidak ada pembelaan yang keluar dari mulut Brilly. Pria itu sangat mengerti dan menghormati Mami. "Lain kali itu hati-hati! Jangan sampai begini! Kamu tuh memangnya punya nyawa berapa? Apa
Naomi dan Gwen turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami dan Daddy yang sedang menikmati makanan mereka. Sebenarnya sudah sejak tadi Naomi dan Gwen dipanggil tetapi Naomi baru keluar setelah kondisi hatinya sudah lebih baik. Masih tentang Brilly yang kecelakaan. Mungkin kedua mertuanya mencoba menutup akan itu. Mereka tidak ada yang mengabarinya tetapi Gwen tidak bisa diam. Gwen berlari mendekati Oma dan Opanya dengan langkah kecil yang membuat kedua orang tua tersebut menoleh memerhatikan. "Gwen sudah bangun?" "Iya Oma, Oma, Om di rumah sakit. Kepala Om sakit. Tadi Gwen telepon Om," kata Gwen mengadu pada Omanya. Mami terkejut mendengar celotehan putrinya sedangkan Naomi tidak ikut bicara dan menempatkan diri di samping Mami. Naomi tau, mungkin Mami dan Daddy tidak mau membuatnya panik tapi mereka tidak tau kalau Naomi sudah mendengar semuanya tadi. "Oh ya? Ya ampun, Gwen sudah bicara sama Om Brilly? Terus gimana, Nak? Bagaimana kabar Om Brilly sekarang?
"Om kenapa itu kepalanya? Kok ada putih-putihnya? Apa Om jatuh? Om dimana sekarang? Apa Om sedang di rumah sakit? Gwen jenguk ya?" Brilly mengulum senyum mendengar itu, mendengar ocehan putrinya yang sangat ingin tau. Brilly menatap penuh kerinduan. Bisa jadi dalam waktu seminggu dia tidak bisa bertemu dengan Gwen. "Iya Om sakit. Doakan Om cepat sembuh ya!" "Gwen mau kesana." "Jangan dulu, Nak! Kasihan Mami baru sembuh. Nanti ya kalau Mami sudah sehat dan kuat lagi. Tunggu saja sampai Om pulang. Mami biar istirahat di rumah." "Tapi Mami sudah sehat, Om. Mami sudah bisa gendong Gwen tadi." Brilly menatap gemas putrinya, tetapi sepertinya bukan hanya pada putrinya saja melainkan pada Naomi yang kini diam memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Naomi masih diam, Naomi masih enggan bicara pada Brilly. Naomi hanya menelponkan pria itu untuk putrinya. Namun ada hal yang Naomi ingin tau. Kenapa Brilly bisa sampai kena musibah seperti ini. Ah! Andai dia tidak tau takdir,
"Gimana, Tuan? Apa Tuan akan tetap pulang? Tadi dokter mengatakan jika Tuan harus tetap dirawat di sini sampai sembuh." "Ck, loe ngomong sama siapa?" "Hahahaha... Lagian loe tegang banget! Perkara Naomi selalu buat loe begini." Gani menggelengkan kepala setelah mengatakan itu. Pria itu pun menatap Brilly dengan tatapan mengiba. "Anak gue rewel, Gan." "Gue tau, tapi luka loe juga butuh diobatin. Loe mau bikin mereka khawatir? Kasihan Naomi sama Gwen kalau tau loe begini. Lagian tadi gimana nyetir mobilnya?" "Rem gue tiba-tiba blong. Loe nggak lihat gue sampai begini? Mana kepala gue pusing benget lagi," keluh Brilly kemudian mendesah kasar merasakan tubuhnya saat ini. "Untungnya juga loe nggak koma apalagi amnesia. Masih bisa ngomong aja udah anugerah sang ilahi. Lihat mobil loe rengsek begitu bikin gue ngeri. Tuhan masih baik sama loe. Setau gue di sana nggak ada pohon, lah ini tau-tau ada pohon. Kalau sampai nabrak mobil orang gimana coba? Bakal ada kecelakaan be
Naomi merasa sangat bersalah sekali dengan Gwen akibat perceraian ini. Perpisahan yang tentunya tidak akan ada yang mau tapi harus terlaksana karena ini jalan keluar terbaik dari yang paling baik tetap akan menyakiti anak yang belum tau apa-apa. "Mi aku bawa Gwen ke kamar dulu ya!" kata Naomi dengan kedua mata yang memanas. Menjadi seorang Ibu yang kini harus apa-apa sendiri adalah hal terberat tetapi terpaksa Naomi jalani. Bukankah dia sudah terbiasa? Hanya bedanya kali ini benar-benar harus pisah rumah. "Iya, Sayang. Nanti Mami minta tolong Daddy untuk kembali menghubungi Brilly. Tenang ya, Sayang! Jangan terlalu banyak pikiran! Mungkin Gwen memang sedang sangat merindukan Lian dan Brilly. Tumbenan biasanya anteng, tapi hari ini tidak bisa dibujuk. Sama Daddy pun menolak." "Iya, Mi. Aku ke kamar dulu. Makasih ya, Mi. Tolong hubungi Mas Lian atau Kak Brilly." "Iya, Nak. Mami usahakan diantara mereka datang menemui Gwen. Naomi segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Duh tapi gimana dengan Gwen kalau aku tinggal pergi?" Naomi menggigit ujung tangannya seraya mondar mandir di balkon kamar. Jangan sampai Gwen ditinggal kemudian Maryam bertemu dengan putrinya. Naomi tidak mau sampai Gwen mendengar apa yang mungkin nanti bisa berdampak buruk pada putrinya. N
"Ini hasilnya Tuan." Brilly tersenyum sinis melihat hasil yang sudah ada di tangan. Apa yang pria itu minta sudah ada di tangan dan akan di uji lab. Entah firasat itu benar atau tidak. Yang jelas semua membutuhkan bukti yang akurat. Selama menunggu hasil, Brilly menahan agar Naomi tidak pergi.
"Shit! Kamu menggodaku Maryam. Apa yang kamu lakukan sialand? Tanganmu lancang, Wanita murahan!" umpat Lian kala tangan Maryam bergerak dan mulai meraba menimbulkan rasa yang luar biasa hingga membangkitkan gairah pria itu. Lian marah saat Maryam senakal sebelumnya. Maryam tidak berhenti dan ter
"Mau bagaimana pun aku, mereka ini orang-orang penting bagiku. Jadi tidak perlu menceramahiku, Brilly! Jika aku pergi, harusnya kamu pun ikut pergi." "Bagaimana kalau aku tidak mau, hhm?" tanya Brilly dengan kedua tangan menyilang di dada. Brilly justru menantang Lian dan akan tetap tinggal d







