Share

Bab 73. Mandul

Author: weni3
last update publish date: 2026-03-30 14:38:22

Brilly melepaskan pelukannya dengan perlahan kemudian menatap wajah Naomi yang terlihat memucat. Brilly menarik nafas dalam kemudian mengusap pipi Naomi yang basah.

"Sakitnya memang sampai ke tulang tetapi percayalah, banyak orang yang sayang padamu Naomi."

"Kenapa kamu bisa tidak sampai membunuh Lian, Kak?"

Karena ada hal yang membuat aku hancur lebih dari apa yang aku katahui atas perselingkuhan mereka."

Kedua alis Naomi menukuk mendengar itu dan menatap penuh tanya pada Brilly yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 133. Luka

    "Gimana, Tuan? Apa Tuan akan tetap pulang? Tadi dokter mengatakan jika Tuan harus tetap dirawat di sini sampai sembuh." "Ck, loe ngomong sama siapa?" "Hahahaha... Lagian loe tegang banget! Perkara Naomi selalu buat loe begini." Gani menggelengkan kepala setelah mengatakan itu. Pria itu pun menatap Brilly dengan tatapan mengiba. "Anak gue rewel, Gan." "Gue tau, tapi luka loe juga butuh diobatin. Loe mau bikin mereka khawatir? Kasihan Naomi sama Gwen kalau tau loe begini. Lagian tadi gimana nyetir mobilnya?" "Rem gue tiba-tiba blong. Loe nggak lihat gue sampai begini? Mana kepala gue pusing benget lagi," keluh Brilly kemudian mendesah kasar merasakan tubuhnya saat ini. "Untungnya juga loe nggak koma apalagi amnesia. Masih bisa ngomong aja udah anugerah sang ilahi. Lihat mobil loe rengsek begitu bikin gue ngeri. Tuhan masih baik sama loe. Setau gue di sana nggak ada pohon, lah ini tau-tau ada pohon. Kalau sampai nabrak mobil orang gimana coba? Bakal ada kecelakaan be

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 132. Brilly

    Naomi merasa sangat bersalah sekali dengan Gwen akibat perceraian ini. Perpisahan yang tentunya tidak akan ada yang mau tapi harus terlaksana karena ini jalan keluar terbaik dari yang paling baik tetap akan menyakiti anak yang belum tau apa-apa. "Mi aku bawa Gwen ke kamar dulu ya!" kata Naomi dengan kedua mata yang memanas. Menjadi seorang Ibu yang kini harus apa-apa sendiri adalah hal terberat tetapi terpaksa Naomi jalani. Bukankah dia sudah terbiasa? Hanya bedanya kali ini benar-benar harus pisah rumah. "Iya, Sayang. Nanti Mami minta tolong Daddy untuk kembali menghubungi Brilly. Tenang ya, Sayang! Jangan terlalu banyak pikiran! Mungkin Gwen memang sedang sangat merindukan Lian dan Brilly. Tumbenan biasanya anteng, tapi hari ini tidak bisa dibujuk. Sama Daddy pun menolak." "Iya, Mi. Aku ke kamar dulu. Makasih ya, Mi. Tolong hubungi Mas Lian atau Kak Brilly." "Iya, Nak. Mami usahakan diantara mereka datang menemui Gwen. Naomi segera menaiki tangga menuju kamarnya.

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 131. Rewel

    Lian beranjak dari tidurnya kemudian melirik Monic yang kini tengah berdiri di hadapan pria itu dengan kedua tangan bersilang di dada. Lian berdecih kemudian meraih tangan Monic tetapi ditampik begitu saja oleh wanita itu. "Tidak perlu menyentuhku lagi, Mas! Bukankah kamu sudah membuangku? Kenapa kembali setelah terusir? Kamu tuh seperti laki-laki pecundang, Mas! Kamu. munafik!" "Diam, Monic! Jangan merasa aku sangat membutuhkanmu! Setidaknya kamu memiliki rasa ingin berbalas Budi padaku. Bukankah aku yang dulu selalu menemanimu saat kamu merasa gelisah dan galau? Aku yang menemanimu di titik terendahmu! Lupa kamu?" "Jangan mengungkit, Mas! Aku nggak minta kamu untuk melakukan itu. Kamu yang membawaku di titik itu. Malu, Mas! Sekarang setelah melarat kamu kembali padaku. Pergi sana, Mas!" Lian beranjak dari ranjang kemudian menatap penuh wajah Monic. Lian tidak mengatakan apapun tapi dari wajah pria itu terlihat sangat gereget sekali pada Monic. Tangan Lian pun mencengkeram

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 130. Ngancem

    "Panggil Naomi aja. Lagian kita belum jadian." "Terus yang tadi di kamar, kamu pikir apa, hhm? Kamu memang suka sekali memancingku, Naomi!" sahut Brilly seraya menarik pinggul Naomi hingga membuat kedua matanya terbelalak kemudian mendorong dada Brilly yang begitu menempel dengannya seraya menoleh memperhatikan Mami dan Papi. "Kak! Iya, iya, kamu nich! Nanti mereka lihat loh! Lagian nggak sabaran banget sich? Aku belum selesai cerai, Kak." "Belum tapi milikmu pun sudah meminta bukan? Jangan salahkan aku jika aku nekat!" "Iya, kamu mah ngancem terus sekarang! Kalem dan sikap dinginnya sudah hilang?" tanya Naomi dengan menatap kedua mata Brilly. "Bukan hilang tapi denganmu aku nyaman." Naomi mengulum senyum mendengar apa yang Brilly katakan tetapi dia tetap melerai pelukan Brilly agar segera lepas dari pria itu. "Jangan begini, Kak! Nanti dilihat Mami dan Daddy. Lepas dulu! Aku ke Gwen ya. Terserah kamu mau panggil aku apa aja tapi jangan yang tadi! Seng? Seng apa?

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 129. Seng

    Pandangan mata Mami dan Daddy terpusat pada celana Brilly yang basah. Terlihat jelas sekali apalagi Brilly mengenakan celana yang tak mudah kering. Naomi pun semakin menundukkan kepalanya melihat itu. "Iya Brilly, kamu tuh kalau habis dari kamar mandi nggak dikeringkan dulu. Lihat! sampai basah begitu," kata Mami tetapi Daddy menatap penuh selidik bahkan Daddy sama sekali tidak mengalihkan pandangan beliau dari yang lain." Brilly yang diselidiki tetapi Naomi yang dibuat ketar ketir. Pria itu selalu saja membuat jantung Naomi berdebar kencang. Sungguh tidak bisa tenang kalau ada di dekat Brilly. Sekarang Brilly bukan lagi seperti dulu. Brilly terlalu mendebarkan untuknya. "Biasa Dad," jawab Brilly santai kemudian menoleh ke arah Mami kemudian mengusap pipi beliau. "Mami tentu tau, kalau sedang buru-buru pasti begini. Maafkan anakmu yang ceroboh Mi." Cup Brilly mengecup kening Mami dan Daddy berdecak melihat itu sedangkan Naomi diam memperhatikan dengan tatapan penasara

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 128. Karena Aku Memikirkanmu

    "Kak... Ahhh.... Sssttt... Maaf tapi aku hanya ingin melegakanmu juga. Lepaskan tanganmu, Kak!" "Jangan berharap apapun setelah aku mengikatmu, Sayang! Aku tidak mau menggunakan tangan, tapi aku ingin langsung memakanmu. Dia sudah sangat mengeras sekali. Itu akan lebih mudah untuk masuk." Naomi meremang sebadan-badan. Dia menarik nafas dalam kemudian memejamkan kedua mata dengan sangat rapat. Bagaimana ingin menolak jika di bawah sana masih berkedut tanda ingin lagi, tetapi Naomi tidak mau kalau sampai menghasilkan sesuatu yang akan menjadi bom waktu. "Kak ampun! Aku tidak akan menggodamu lagi. Lepaskan aku! Sudah, Kak! Aku sudah puas," kata Naomi dengan kedua kaki yang kemudian dirapatkan kembali. "Sudah?" tanya Brilly dengan kedua alis terangkat meminta jawaban yang pasti dari Naomi. "Sudah, Kak. Lepaskan aku!" "Oke, lain kali kalau kamu menginginkan itu. Kamu sudah tau bukan pada siapa kamu meminta?" "Iya tapi aku usahakan untuk tidak lagi meminta." Naomi m

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 66. Muak

    "Mami sama Papi mau pisah? Memangnya mau pisah rumah? Kok Mami minta Papi pergi? Mau kemana, Pi?" Sontak Naomi menoleh ke arah Gwen yang bertanya demikian. Naomi segera mendekati putrinya kemudian meraih kedua pipi Gwen dan menatap penuh kedua mata anaknya yang terlihat bingung. "Gwen, Mami m

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 64. Alasan

    "Kenapa, Kak? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya? Kakak juga suka sama dia? Katakan Kak kalau Kakak memang suka!" kata Naomi dengan tatapan tak terima pada Brilly. Naomi pun melepaskan Maryam begitu saja dengan cara yang tak bersahabat. Wanita itu ambruk di lantai dingin dengan penampilan yang

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 63. Hentikan, Naomi!

    PLAKK Kedua mata Maryam terbelalak setelah mendapatkan tamparan kerasa dari orang yang tidak pernah melakukan itu padahal sudah sangat dikhianati. Siapa lagi kalau bukan Naomi. "Nyonya?" Maryam amat sangat terkejut sekali. "Apa? Apa, Maryam?" "Aaagghhh!!!" Kepala Maryam mendongak kala

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 62. Bersenang-senang

    "Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status