共有

Bab 79 Jebakan

作者: Penulis Hoki
last update 公開日: 2026-05-22 03:05:05

Pintu lift privat terbuka dengan denting halus di area basemen parkir yang sepi dan remang-remang. Dimas, dengan ketenangan yang menakutkan, menuntun tubuh Ruby yang semakin lunglai. Langkah kaki Ruby terseret, kepalanya terkulai lemas di bahu jas Dimas. Kesadarannya telah terkoyak hebat oleh campuran alkohol pekat yang membakar perlahan di dalam darahnya.

Mobil milik Dimas sudah menunggu dengan pintu belakang yang telah dibukakan oleh sopir pribadinya.

"Bantu saya," perintah Dimas pendek pada
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 96 Penonton

    Kesabaran Reza telah menguap sepenuhnya. Pria itu tidak lagi memberikan waktu bagi Ruby untuk memproses ketakutannya. Reza langsung meraup bibir istrinya, memulai ciuman yang sangat brutal dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana. Ia melumat, menyesap, dan menggigit bibir Ruby dengan beringas, memaksa wanita itu untuk membuka mulut dan menerima invasi lidahnya.Ruby merintih tertahan, kedua tangannya meremas seprai kuat-kuat. Ciuman Reza benar-benar mendominasi, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-parunya.Setelah puas meluluhlantakkan bibir istrinya, wajah Reza turun menyusuri rahang. Ia menciumi leher Ruby, memberikan hisapan-hisapan kecil di atas kulit yang masih mulus—sengaja menghindari area yang membengkak.Tangan Reza tidak tinggal diam. Ia menyingkap bodysuit kulit sintetis itu, mengekspos payudara Ruby yang sedari tadi terkungkung rapat. Reza menghisap dan mempermainkan kedua puncak dada Ruby secara bergantian, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras dengan k

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 95 Takut?

    Suara putaran engsel pintu kamar mandi yang terbuka terdengar sangat nyaring di telinga Ruby, seolah-olah itu adalah gerbang menuju arena eksekusi. Uap hangat sisa air dari wastafel mengepul tipis, mengiringi langkah ragu-ragu dari kaki jenjangnya yang kini terbalut stocking jaring-jaring hitam.Ruby melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Wajahnya merah padam, menahan rasa malu yang luar biasa hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya bersilang di depan tubuh, berusaha mati-matian menutupi area dada dari bodysuit kulit sintetis yang potongannya terlalu rendah dan mengekspos belahannya dengan sangat eksplisit.Bando dengan dua telinga kelinci panjang yang bertengger di kepalanya terasa sangat konyol, dan jepitan garter di pahanya terasa dingin menyentuh kulit. Ia merasa seperti boneka mainan murahan, jauh dari kesan elegan yang biasa ia tampilkan.Begitu Ruby mengangkat wajahnya, napasnya seketika tercekat.Di ujung ranjang, Reza sudah duduk menunggunya. Pria itu telah menanggalkan selur

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 94 Dua pilihan

    Harapan tentang momongan itu adalah doa tulusnya untuk menyembuhkan luka akibat keguguran beberapa waktu lalu, sekaligus menjadi jangkar terkuat agar Reza tidak pernah berpaling darinya.Setelah doanya selesai dipanjatkan, Ruby membuka matanya, menatap Reza penuh cinta, lalu meniup lilin-lilin itu hingga padam."Yeeey!" Reza bersorak kecil, segera meletakkan kue itu di atas nakas di sebelah lampu tidur. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung merengkuh tubuh Ruby ke dalam pelukan yang sangat erat dan hangat. Reza mencium puncak kepala istrinya bertubi-tubi, menghirup aroma lavender yang selalu menenangkan jiwanya."Terima kasih, Za," bisik Ruby di pelukan suaminya, merasa bahwa malam ini, ia telah memenangkan kembali dunianya.Setelah sesi pelukan yang emosional itu, Reza melepaskan dekapannya. Seringai jahil yang menjadi ciri khasnya perlahan mulai terbentuk di sudut bibirnya. Tatapan matanya yang semula penuh haru kini berubah menjadi kilat nakal yang sangat familier bagi Ruby."Jan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 93 Make a wish

    Perjalanan pulang dari kantor menuju rumah malam itu terasa seperti lintasan waktu yang berjalan dengan kecepatan siput. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Ruby lebih banyak diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong pada kerlip lampu jalanan ibu kota yang berbaris membelah kemacetan. Di sebelahnya, Reza menyetir dengan tenang, sesekali bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio mobil, seolah sama sekali tidak ada hal istimewa yang terjadi hari ini.Hati Ruby berkecamuk hebat. Sepanjang hari, fokusnya telah diobrak-abrik oleh manuver psikologis Dimas Adiwijaya yang memberinya hadiah jam wecker sialan itu, sekaligus menyodorkan fakta menyakitkan bahwa suaminya sendiri melupakan hari ulang tahunnya.Setibanya di rumah, Ruby masih menyimpan setitik harapan. Mungkin Reza sedang menyiapkan kejutan. Mungkin di balik pintu rumah mereka yang gelap, akan ada taburan kelopak mawar atau teriakan 'surprise' yang akan mengusir semua pikiran kotor tentang Dimas. Namun, sa

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 92 Jam wecker

    Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus celah-celah kaca gedung Genta Pustaka dengan kejam, seolah menelanjangi setiap kegelisahan yang berkecamuk di dalam dada Ruby. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri koridor lantai redaksi. Semalam ia nyaris tidak tidur; tubuhnya masih terasa remuk redam akibat hukuman bertubi-tubi dari Reza, sementara otaknya terus bekerja merumuskan strategi gila untuk menghadapi Dimas Adiwijaya.“Ingat rencanamu, Ruby. Jangan menangis, jangan meronta. Menolak dia justru bikin dia makin napsu. Kamu harus jadi mangsa yang gampangan biar dia ilfeel dan pergi,” mantra itu terus digaungkan Ruby di dalam hatinya seperti sebuah kata penyelamat.Begitu sampai di depan pintu ruangan Dimas, Ruby menarik napas dalam-dalam, memoles wajahnya dengan ekspresi sedatar mungkin, lalu memutar knop pintu.Cklek.Belum sempat Ruby melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, sebuah pergerakan cepat dan tak terduga menyergapnya. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 91 Sampai pagi

    Suasana di ruang tamu yang mendadak benderang terasa begitu mencekam bagi Ruby. Jantungnya berdentum sangat keras, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tatapan mata Reza yang menuntut penjelasan tepat mengarah pada ruam kemerahan yang kini membengkak di pangkal lehernya—sebuah mahakarya keji yang ditinggalkan oleh Dimas Adiwijaya beberapa jam lalu di pantry kantor."By..." suara Reza terdengar berat, ada nada sangsi sekaligus bingung yang amat kentara. "Memangnya tadi pagi gigitan aku sakit banget, ya? Sampai membesar dan lebam kayak begini?"Pertanyaan itu bagaikan hantaman godam yang membuat seluruh pasokan oksigen di sekitar Ruby lenyap. Lidahnya seketika mendadak kelu, dan tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ruby gelagapan. Sudut matanya bergerak gelisah, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berputar dengan kecepatan penuh demi mencari alasan yang masuk akal.“Aku harus jawab apa? Kalau aku bilang ini bukan be

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status