Compartilhar

Bab 99 Curiga

Autor: Penulis Hoki
last update Data de publicação: 2026-06-01 23:23:31

Sore itu, langit Jakarta mulai meredup, menandakan jam pulang kantor telah tiba. Di lobi utama gedung Genta Pustaka yang megah, lalu lalang karyawan tampak padat. Namun, perhatian sebagian besar karyawati di lobi itu tanpa sadar tertuju pada satu titik yang sama.

Di dekat pilar pualam, berdirilah Reza.

Pria itu tidak mengenakan setelan jas mahal seharga ratusan juta seperti Dimas atau Vico. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos yang melekat ketat mencetak otot dada dan lengannya, dipadukan denga
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 100 Titik 12

    Setelah menembus kemacetan malam, mereka akhirnya sampai di rumah kecil mereka yang nyaman. Aura dingin Reza benar-benar menguap begitu dia menginjakkan kaki di dapur. Sambil bersenandung kecil, pria itu mulai sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Ruby memperhatikan suaminya dari meja makan, merasa hangat sekaligus bersyukur memiliki pria yang begitu memperhatikannya di tengah segala badai yang sedang mengancam dari luar. Rasa lelahnya sedikit berkurang melihat punggung tegap Reza yang sedang mengaduk masakan di atas wajan.Selesai makan malam yang sederhana namun nikmat, mereka berdua pindah ke ruang tengah untuk menonton televisi. Reza duduk di sofa sambil menarik Ruby ke dalam dekapan lengannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya. Jari-jari besar Reza mengusap rambut Ruby dengan lembut, menciptakan suasana damai yang sudah lama tidak Ruby rasakan.Sambil menatap layar televisi yang menampilkan acara bincang-bincang malam, Reza tiba-tiba membuka suara

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 99 Curiga

    Sore itu, langit Jakarta mulai meredup, menandakan jam pulang kantor telah tiba. Di lobi utama gedung Genta Pustaka yang megah, lalu lalang karyawan tampak padat. Namun, perhatian sebagian besar karyawati di lobi itu tanpa sadar tertuju pada satu titik yang sama.Di dekat pilar pualam, berdirilah Reza.Pria itu tidak mengenakan setelan jas mahal seharga ratusan juta seperti Dimas atau Vico. Ia hanya mengenakan kaus hitam polos yang melekat ketat mencetak otot dada dan lengannya, dipadukan dengan celana jins gelap dan jaket kulit hitam yang disampirkan di satu bahu. Namun, aura yang dipancarkannya sungguh luar biasa mendominasi. Wajah tampannya yang tegas bersorot sangat tajam dan dingin, seolah ada lapisan es tebal yang membekukan siapa saja yang berani menatapnya.Tari, sang editor muda yang haus perhatian, melihat kesempatan emas. Tari sengaja merapikan blusnya agar belahan dadanya lebih terlihat, lalu berjalan gemulai menghampiri Reza."Permisi... Mas ini suaminya Mbak Ruby, ya?" s

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 98 Uler

    Mendapat bentakan keras dari Dimas yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan, Vico sama sekali tidak terlihat gentar. Pria berjas maroon gelap itu justru terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar sangat meremehkan. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi dada, memberikan gestur menyerah yang jelas-jelas palsu."Oke, oke. Santai, Bro. Gue nggak akan ikut campur urusan lu sama... mainan baru lu ini," ucap Vico santai, sengaja menekan kata "mainan" untuk menginjak harga diri Ruby sekaligus memancing emosi Dimas.Tanpa menunggu balasan dari Dimas yang wajahnya sudah memerah padam menahan murka, Vico memutar tubuhnya untuk berjalan keluar. Namun, sebelum pria itu benar-benar melangkah melewati ambang pintu mahoni, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sekali lagi ke belakang.Bukan menatap Dimas, melainkan menatap langsung ke kedalaman mata Ruby.Dari balik dekapan posesif Dimas, tubuh Ruby menegang kaku saat matanya beradu pandang dengan mata elang Vico. Pria itu menyun

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 97 Dua iblis

    Pagi itu, cuaca Jakarta di luar jendela kaca gedung perkantoran mewah tempat Ruby bekerja tampak cerah, berbanding terbalik dengan awan badai yang menggelayut pekat di dalam hati wanita itu. Tubuh Ruby terasa remuk redam. Sisa pergumulan panjangnya dengan Reza semalam suntuk masih meninggalkan pegal yang luar biasa di setiap persendiannya. Namun, rasa lelah fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan tekanan psikologis yang harus ia hadapi begitu kakinya menginjak lantai marmer di lobi kantor.Sejak awal jam kerja, Ruby sudah merasakan firasat buruk. Dan benar saja, belum genap dua jam ia duduk di kubikelnya, interkom di mejanya berbunyi. Suara dingin Dimas Adiwijaya memerintahkannya untuk segera membawa dokumen laporan bulanan ke mejanya. Dengan langkah gontai dan jantung yang berdebar tak karuan, Ruby merapikan kerah kemejanya berulang kali, memastikan tidak ada memar atau tanda sekecil apa pun dari semalam yang terekspos. Begitu ia melangkah mendekati meja dimas. Dimas sedang ber

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 96 Penonton

    Kesabaran Reza telah menguap sepenuhnya. Pria itu tidak lagi memberikan waktu bagi Ruby untuk memproses ketakutannya. Reza langsung meraup bibir istrinya, memulai ciuman yang sangat brutal dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana. Ia melumat, menyesap, dan menggigit bibir Ruby dengan beringas, memaksa wanita itu untuk membuka mulut dan menerima invasi lidahnya.Ruby merintih tertahan, kedua tangannya meremas seprai kuat-kuat. Ciuman Reza benar-benar mendominasi, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-parunya.Setelah puas meluluhlantakkan bibir istrinya, wajah Reza turun menyusuri rahang. Ia menciumi leher Ruby, memberikan hisapan-hisapan kecil di atas kulit yang masih mulus—sengaja menghindari area yang membengkak.Tangan Reza tidak tinggal diam. Ia menyingkap bodysuit kulit sintetis itu, mengekspos payudara Ruby yang sedari tadi terkungkung rapat. Reza menghisap dan mempermainkan kedua puncak dada Ruby secara bergantian, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras dengan k

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 95 Takut?

    Suara putaran engsel pintu kamar mandi yang terbuka terdengar sangat nyaring di telinga Ruby, seolah-olah itu adalah gerbang menuju arena eksekusi. Uap hangat sisa air dari wastafel mengepul tipis, mengiringi langkah ragu-ragu dari kaki jenjangnya yang kini terbalut stocking jaring-jaring hitam.Ruby melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Wajahnya merah padam, menahan rasa malu yang luar biasa hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya bersilang di depan tubuh, berusaha mati-matian menutupi area dada dari bodysuit kulit sintetis yang potongannya terlalu rendah dan mengekspos belahannya dengan sangat eksplisit.Bando dengan dua telinga kelinci panjang yang bertengger di kepalanya terasa sangat konyol, dan jepitan garter di pahanya terasa dingin menyentuh kulit. Ia merasa seperti boneka mainan murahan, jauh dari kesan elegan yang biasa ia tampilkan.Begitu Ruby mengangkat wajahnya, napasnya seketika tercekat.Di ujung ranjang, Reza sudah duduk menunggunya. Pria itu telah menanggalkan selur

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status