Home / Young Adult / TO GET HER / 27. Hadiah Perkenalan

Share

27. Hadiah Perkenalan

last update Huling Na-update: 2025-10-03 20:33:39

Chpater 27

Hadiah Perkenalan

Aneesa mengerjapkan matanya, di atas meja cahaya lilin berkedip, bayangannya menari di permukaan gelas kristal wine. Sebuah kotak perhiasan yang logonya sangat dikenali kini berada di depannya.

Barron mengajaknya makan malam tentu saja Aneesa mengerti maksud Barron, makan malam berduaan di tempat yang privat dan romantis tidak dilakukan dua orang yang masih ingin brtahan dalam hubungan pertemanan, sejak Barron cukup intens mengirimkan pesan singkat dan memberikan perhatian Aneesa tahu jika pria itu sedang mendekatinya. Aneesa juga tidak menampik jika dirinya ingin memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk menjajal kehidupan asmara dan mencicipi manisnya cinta karena usianya sudah cukup matang ditambah belakangan ini memiliki banyak waktu senggang sehingga sepertinya sudah waktunya membuka diri untuk sebuah kehidupan baru.

Apalagi pria yang mendekatinya adalah seorang Barron Smith, pria yang didambakan oleh gadis-gadis di Amerika atau bahka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dom
Ahhhh marcello ayo dong. Aneesa udah mau buka hati buat baron ini ih lama banget kamuuu
goodnovel comment avatar
zian
makasih cherry
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • TO GET HER   END

    END Malam di Monaco selalu punya caranya sendiri untuk terasa hidup—bukan bising, melainkan berkilau. Lampu-lampu pelabuhan memantul di permukaan laut seperti deretan perhiasan yang dijatuhkan dengan sengaja. Dari balkon apartemen mereka, kota itu terlihat tenang, nyaris sopan, menyembunyikan hiruk-pikuk siang hari di balik cahaya keemasan. Aneesa tiba saat jam hampir bergeser ke tengah malam. Lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan, tatanan rambutnya belum sepenuhnya dilepas. Ia menutup pintu perlahan, lalu berhenti sejenak ketika mendapati Marcello di ruang tengah—masih mengenakan kaus sederhana, duduk di sofa dengan tablet terbuka dan segelas air di meja. "Sayang, akhirnya kau pulang," kata Marcello dan bangkit. Senyumnya langsung menghapus lelah yang sejak tadi menempel di wajah Aneesa. "Akhirnya konser berakhir," jawab Aneesa sambil mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi Marcello, aroma panggung masih tersisa. "Kenapa belum tidur?" "Aku menunggumu," ka

  • TO GET HER   127. 'Berandalan' Lain

    Chapter 127 'Berandalan' Lain Pagi itu datang tanpa keramaian. Hamparan tanah luas berwarna keemasan terbentang di bawah matahari musim panas yang masih jinak, diselingi pohon-pohon ek yang berdiri berjauhan, seolah menjaga jarak satu sama lain. Udara kering, bersih, dan tenang—jenis pagi yang tidak meminta apa pun selain kehadiran penuh. Dehesa pribadi milik keluarga kerajaan terhampar sejauh mata memandang, tertutup dari dunia luar, dijaga sunyi dan tradisi. Marcello menuntun kudanya lebih dulu, langkahnya mantap dan akrab, seperti seseorang yang tahu kapan harus bergerak dan kapan membiarkan alam memimpin. Aneesa menyusul di sisinya. Ia mengenakan pakaian berkuda sederhana—kemeja terang, celana gelap, sepatu tanpa hiasan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya bersih dari riasan dan perhiasan. Tidak ada sorotan di sana, hanya mereka, pagi, dan ruang yang terasa luas tanpa tuntutan. Maximilian dan Serafina bergerak sedikit di depan, menunggangi kuda-kuda mereka dengan cara yang sa

  • TO GET HER   126. Sama-sama Kalah

    Chapter 126 Sama-sama Kalah Lake Como, Italia. Lima bulan kemudian. Narnia berdiri di tepi ruang pesta dengan segelas sampanye yang nyaris tak disentuh. Dari tempatnya, ia bisa melihat segalanya dengan jelas—gaun-gaun mahal, senyum-senyum yang dipaksakan, dan Agnes yang tampak sempurna menjadi pusat perhatian. Pernikahan megah, nyaris tak bercela. Terlalu rapi, terlalu terencana, seolah setiap detail sudah disepakati jauh sebelum perasaan ikut dilibatkan. Ia menatap Barron lebih lama dari seharusnya. Pria itu berdiri di samping Agnes, tubuhnya tegap, wajahnya tenang, namun sorot matanya kosong. Narnia mengenali tatapan itu. Tatapan seseorang yang hadir secara fisik, tapi pikirannya berada di tempat lain, bukan di pesta pernikahan ini. Agnes terlihat bahagia—atau setidaknya, pandai memainkan peran itu. Senyumnya halus, geraknya anggun, tangannya menggenggam lengan Barron dengan kepastian yang nyaris agresif. Narnia menelan senyum kecil, ia tahu betul Agnes selalu menang kare

  • TO GET HER   125. Gadis Paling Beruntung

    Chapter 125 Gadis Paling Beruntung Senin pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menyelinap tipis melalui celah tirai, jatuh ke dinding kamar yang nyaris kosong. Marcello terbangun lebih dulu, masih setengah sadar, menyadari keheningan yang berbeda dari hotel-hotel yang biasa ia tempati. Kamar itu terasa tenang—bukan dingin, hanya sunyi dengan cara yang menenangkan. Aneesa masih terlelap di sisinya, napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal, wajahnya tampak lebih lembut tanpa beban apa pun. Marcello sejenak memandangi wajah pujaan hatinya, seolah pagi itu memberinya waktu yang jarang—waktu tanpa jadwal, tanpa sorotan, tanpa siapa pun yang menuntut apa pun darinya. Aneesa bergerak pelan, membuka mata ketika cahaya mulai terasa terlalu terang untuk diabaikan. Ia menoleh dan mendapati Marcello sudah terjaga, sedang menatapnya. Senyum kecil muncul di bibirnya dan berkata, “Selamat pagi, Sayang.” Ujung jemari Marcello menyentuh pelipis Aneesa dengan lembut, bibirnya menyunggin

  • TO GET HER   124. Pengantinku

    Chapter 124 Pengantinku Air mata Marcello benar-benar terdorong keluar, sementara Serafina juga menyeka air matanya dan Marcello merangkul adiknya dengan penuh kasih sayang. Begitu juga Vanilla dan Nick yang saling berpelukan dengan lembut. Marcello lalu beringsut dan memeluk ayahnya. "Pa, terima kasih." Nick menepuk-nepuk punggung Marcello. "Papa bangga dengan semua pencapaianmu, dan sekarang kau memilikinya. Seseorang yang membuatmu merasa benar-benar pulang," katanya lembut. Marcello lalu memeluk ibunya, tanpa mengatakan apa pun. Hanya kebahagiaan yang pasti dipahami dan dirasakan ibunya. "Nak, kau selalu membuat Mama khawatir, tetapi kau selalu membuktikan kalau kau pantas mendapatkan apa pun yang kau inginkan pada kami. Dan sekarang kau mendapatkannya," kata Vanilla seraya memeluk Marcello dengan penuh kehangatan seorang ibu. Marcello mengangguk. "Maafkan aku, selalu membuatmu khawatir." "Ingatlah sekarang kau tidak bisa lagi hidup sesuka hatimu. Ada tanggung jawab da

  • TO GET HER   123. Dunia Baru

    Chapter 123 Dunia Baru Marcello meninggalkan perjamuan sederhana yang diadakan oleh tim Haas, sebuah perayaan kecil yang biasa dilakukan setelah melakukan setelah seri berakhir. Dua pekan lalu jamuan itu dihadiri oleh wajah-wajah murung yang bahkan seperti tidak memiliki gairah hidup lagi, namun malam ini canda tawa menghangatkan suasana. Berita tentang dirinya yang dinobatkan sebagai ‘aset nasional’ menghiasi berbagai portal berita online, penggemarnya sedang merayakannya, begitu pula rakyat Spanyol. Marcello merasakan kebahagiaan sekaligus beban di pundaknya bertambah, namun ia yakin dengan kemampuannya. Ditambah dengan sponsor yang terus berdatangan, kekhawatiran akan runtuhnya tim karena dirinya perlahan memudar. Marcello menghela napas dalam-dalam beberapa kali sepanjang mengemudian supercar ayahnya menuju ke tempat tinggal orang tuanya. Sebastian bilang, ibunya mengadakan pesta untuknya dan Aneesa sudah berada di sana. Namun, ketika tiba di sana Serafina justru langsung me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status