Share

TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER
TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER
Penulis: Melisa Satya

bab 1

Penulis: Melisa Satya
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 01:21:16

Suara langkah kaki terdengar mendekat di lantai dua. Semakin lama, suara langkah itu semakin cepat dan membuka kasar pintu tawanan di ujung ruangan. Dia Jesika, anak Nyonya Lyora yang selalu menyempatkan diri untuk datang menemui Lily. Bukan karena simpati melainkan untuk memastikan agar saudara tirinya tetap gila di bawah pengawasannya.

"Makanannya sudah datang, cepat datang dan habiskan. Jangan membuat lantai kamarmu menjadi kotor."

Brak!

Suara nampan aluminium yang dibanting ke lantai berbunyi nyaring, disusul suara tawa terkekeh puas dari dua orang wanita.

Lily tetap berjongkok di sudut kamarnya yang remang-remang. Rambutnya yang panjang tampak kusut masai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Tangannya memegang sebuah boneka kain usang tanpa mata, sementara mulutnya meracau membisikkan kata tanpa arti yang terdengar mengerikan.

"Lihat dia, Ma," cibir Jesika, saudara tirinya yang tampil memukau dengan gaun desainer terbaru.

"Sepuluh tahun berlalu, dan dia masih saja betah bicara dengan dinding. Rasanya menggelikan mengingat sepasang tangannya yang kotor itu memegang kendali terbesar di perusahaan Papa."

Ibu tirinya, yang berdiri di ambang pintu dengan melipat tangan, mendengus sinis. "Biarkan saja dia gila, Jes. Justru karena dia gila, kita bisa hidup seperti ratu di rumah ini."

Lily mendengarkan, namun tak ada emosi di wajah lesunya.

"Gadis sialan, hanya karena ibumu menyimpan warisan jadi papa harus bersusah payah mengurus perempuan sialan yang bau dan kotor sepertimu!"

"Makan! Jangan sisakan karena ini jatah makan terakhirmu hari ini, haha haha!"

Menjadi satu-satunya Nona Muda yang diperkenalkan disetiap acara oleh orangtuanya membuat Jesika sangat puas dan di atas awan. Dia sangat membenci Lily meski saudari tirinya itu bertingkah seperti orang tak waras.

"Abaikan dia, Jess. Makan atau tidak, itu bukan urusan kita. Lebih baik, kita segera turun. Papa bilang malam ini ada tamu agung yang sangat penting bagi bisnis kita datang berkunjung. Kita harus menyambutnya dengan sempurna."

"Tamu agung! Siapa, Ma?" tanya Jesika penasaran.

"Alvian Adhitama. Dia adalah satu-satunya penerus dari keluarga Adhitama Group. Pria paling berpengaruh di kota ini. Jika Papa bisa mengamankan investasinya, posisi perusahaan kita tidak akan tergoyahkan lagi."

"Oh ya?"

"Ya, dan kabar baiknya, Pak Alvian juga masih single loh, belum punya pacar atau tunangan."

Raut wajah Jesika tampak bersinar. Dia dan ibunya memang selalu tertarik dengan segala kemewahan, termasuk pasangan yang kaya raya. Tentu saja jika berhasil mendekati Alvian, maka status mereka akan semakin dihormati di wilayah itu.

"Oke tuh, Ma. Aku harus bilang Papa agar mau mengenalkan kami. Mama harus bantu aku, agar Alvian melirik aku nanti."

"Tentu saja sayang, ayo cepat kita keluar dan bersiap."

Klek. Srek.

Suara pintu kayu yang tebal itu dikunci dari luar. Dua lapis selot besi sengaja dipasang untuk memastikan nona muda yang gila tidak bisa berkeliaran.

Begitu derap langkah kaki di lorong luar benar-benar menghilang, keheningan mencekam langsung menguasai kamar tersebut.

Secara perlahan, gumaman aneh dari bibir Lily berhenti. Boneka kain usang di tangannya diletakkan dengan rapi di atas lantai. Lily menegakkan tubuhnya, dia berdiri dengan anggun dan menatap keluar jendela. Tatapan matanya yang semula kosong, dalam sekejap berubah menjadi setajam mata penuh dendam.

'Alvian Adhitama akan datang ke sini?' Lily membatin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah peluang emas yang dikirimkan takdir.

Dia berjalan mendekati nampan makanan yang tergeletak di lantai. Bau obat penenang yang menyengat langsung tercium oleh hidungnya yang sensitif. Selama sebelas tahun, sejak ibunya meninggal secara misterius dan wanita ular itu datang membawa anaknya, Lily telah belajar cara bertahan hidup. Menjadi gila adalah satu-satunya perisai yang dia miliki agar tidak dilenyapkan secara kejam.

Lily menumpahkan makanan beracun itu ke lubang toilet, lalu membilasnya tanpa ekspresi. Dia harus memanfaatkan kesempatan malam ini. Dia harus membuat Alvian menyadari keberadaannya, atau kesempatan untuk pergi tak akan pernah terwujud.

**

Satu jam kemudian, di aula utama kediaman keluarga Malik yang megah, suasana tampak sangat formal. Malik, ayah kandung Lily, berkali-kali menyeka keringat dingin di dahinya meski ruangan itu ber-AC penuh.

Di seberang meja sofa, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna. Alvian Adhitama. Pria itu memancarkan aura dominan yang mencekam, seolah dia adalah pesona tertinggi yang sedang menginspeksi wilayah kekuasaannya. Tatapan matanya tajam, dingin, meski begitu dia tetap tenang bijaksana.

"Tuan Alvian, suatu kehormatan besar bagi kami karena Anda sudi datang bertamu malam ini," ujar Malik dengan nada menjilat.

"Proyek kerja sama yang saya tawarkan kemarin, jika Adhitama Group bersedia mendanai—"

"Aku datang ke sini bukan untuk mendengar basa-basi, Tuan Malik," potong Alvian. Suaranya berat, dan penuh penekanan yang membuat Malik langsung terbungkam.

"Aku hanya tertarik pada bisnis yang bersih. Dan aku mendengar, saham mayoritas perusahaanmu sebenarnya bukan milikmu, melainkan milik mendiang istrimu yang diwariskan pada putrimu."

Mendengar hal itu, wajah Malik dan istri barunya langsung menegang. Jesika yang duduk di samping ibunya mencoba tersenyum manis untuk mencuri perhatian Alvian, namun pria itu bahkan tidak meliriknya sama sekali.

"Ah... itu... putri saya, Lily..." Malik berdehem gugup. "Dia... sayangnya tidak bisa mengelola bisnis. Dia mengalami gangguan jiwa sejak kecil, Tuan Alvian. Sangat disayangkan. Besok, pihak pengadilan akan meresmikan hak wali penuh atas saham itu kepada saya demi kelangsungan perusahaan."

Alvian menyipitkan mata.

Tepat setelah Malik menyelesaikan kalimatnya, sebuah keributan besar terdengar dari arah tangga utama.

"Lepaskan! Hahaha! Burung-burung itu mau terbang!"

Prang!

Sebuah vas bunga kaca yang mahal jatuh dari lantai dua, hancur berkeping-keping di dekat area ruang tamu. Para pelayan berteriak panik, mencoba mengejar sesosok gadis yang berlari turun dengan tawa melengking yang aneh.

Itu Lily. Dia mengenakan gaun putih longgar yang sedikit robek di bagian bawahnya, rambutnya berantakan, dan wajahnya kotor tercoret oleh abu rokok. Dia bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan akal, melompat-lompat menuruni tangga.

"Lily! Apa yang kamu lakukan?! Pelayan, cepat seret dia kembali ke kamarnya!" bentak Malik, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa di hadapan Alvian.

Ibu tirinya dan Jesika langsung memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.

"Maafkan putri tiri saya, Tuan Alvian. Penyakit gilanya memang sering kambuh seperti ini," Nyonya Lyora berucap dengan nada sedih yang palsu, berusaha mendapatkan simpati.

Lily terus tertawa, dia berlari mengitari ruangan. Pecahan beling yang berserakan dipijaknya tanpa merasa kesakitan. Darah mengotori lantai. Namun, Lily tetap ceria dan tersenyum. Larinya sangat terukur. Dia sengaja menabrak sudut meja dekat dengan tempat Alvian duduk, membuat cangkir kopi Alvian sedikit bergoyang.

"Auw!" Lily terjatuh di lantai, tepat di bawah kaki Alvian. Dia mendongak, memeluk lututnya sendiri, lalu menatap Alvian dengan mulut yang bergumam tidak jelas, seolah takut melihat pria asing itu.

"Sialan! Seret dia sekarang!" teriak Malik tertahan. Dua pelayan berbadan besar langsung maju dan mencengkeram lengan Lily dengan kasar.

Saat tubuh gadis gila itu ditarik paksa untuk berdiri, rambut panjangnya yang kusut tersingkap. Pada detik itulah, mata Lily dan Alvian bertemu secara langsung.

Hanya satu detik.

Lily menatap lurus ke dalam manik mata Alvian dengan tatapan yang sangat jernih, dingin, dan penuh arti. Itu adalah tatapan seorang wanita yang sedang menantangnya.

Alvian, yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, tiba-tiba menegakkan punggungnya. Alisnya bertaut samar. Sebagai pria yang terbiasa membaca ribuan orang di dunia bisnis, dia tahu persis. Gadis dihadapannya ini unik.

"Lily, kembali ke kamarmu!" Tuan Malik menariknya paksa, namun Alvian justru ikut melangkah menghampiri gadis itu.

"Papa! Papa aku mau boneka!"

"Papa! Mainlah denganku!"

"Haha haha!" Suara tawa Lily melengking tajam membuat semua orang terus menatapnya.

"Kakak ganteng!" Lily tanpa ragu bergelayut di tangan Alvian.

"Hey! Jangan menyentuhnya!" Tuan Malik dan Jesika kompak melotot segan pada Alvian. Namun, pemuda itu hanya diam, memperhatikan tangannya yang terus direngkuh oleh Lily.

Pegangan gadis itu tidak kuat, juga tidak menyakiti.

"Kakak ganteng, mainlah denganku!"

"Aku tidak punya teman!"

Tuan Malik dipenuhi keringat dingin.

"Lily! Lepaskan dia!" Jesika berusaha tidak mengumpat melihat kelancangan saudara tirinya.

"Tidak mau! Aku mau main dengan kakak ganteng!"

Tuan Malik mengepalkan tangan, dan saat itu juga para pelayan menyeret Lily kembali ke lantai atas dengan kasar.

"Ayo, Nona Lily. Kami antar ke kamar."

"Hey, hati-hati. Kakinya terluka." Semua orang terpaku untuk sejenak. Ucapan Alvian membuat semua mata menatap kaki Lily.

Suara tawa gadis itu kembali menggema. Alvian terus menatap punggungnya hingga gadis itu menoleh dan tersenyum.

"Baik, Tuan. Kami pasti akan mengobatinya."

"Aku tidak mau ke kamar, aku mau main di taman!"

"Aku mau menangkap kupu-kupu!"

"Kupu-kupu yang lucu!"

"Nona, jangan banyak bergerak. Kita obati dulu kakinya ya." Pelayan terus membujuk.

"Tidak mau!"

Meski demikian, Lily tetap dibawa pergi.

Di ruang tamu, Malik berulang kali membungkuk meminta maaf.

"Saya benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Alvian. Gadis gila itu benar-benar merusak suasana."

Alvian mengangguk santai.

"Oh iya, kenalkan ini putriku, Jesika. Dia satu-satunya putri kami yang akan bergabung dengan perusahaan."

Jesika tersenyum bahagia mengulurkan tangan. Alvian menyambutnya dengan tatapan biasa saja.

"Halo, Pak Alvian."

Nyonya Lyora tampak puas melihat perkenalan mereka.

Jabatan tangan mereka terlerai dan Alvian memasukkan kembali tangannya ke saku celana.

"Setelah melihat apa yang terjadi, aku rasa aku akan mempertimbangkan investasiku setelah melihat keputusan pengadilanmu besok pagi, Tuan Malik."

"Tapi, Tuan... Anda tak perlu meragukan kami."

Tanpa menunggu jawaban, Alvian melangkah keluar dari rumah mewah tersebut dengan kawalan para pengawalnya.

Tuan Malik tak berdaya. Dia pun hanya bisa pasrah dan menatap geram ke lantai dua.

"Pa! Ini semua gara-gara Lily. Papa jadi nggak bisa kerja sama dengan Alvian!"

Malik mengepalkan tangan.

"Pa, serahin Lily sama aku!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 17

    Tuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   16

    Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 15

    "Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 14

    Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 13

    Malam itu, Lily diam termenung di dalam kamarnya. Semenjak kedatangannya di villa milik Tuan Alvian. Kediaman itu tak lagi tenang. Lily tahu, apa yang terjadi siang tadi tak akan berlalu begitu saja. Jesika tak akan diam dan menerima penghinaan yang dilontarkan Alvian. "Kau belum tidur?" Alvian berdiri di ambang pintu. Menatapnya sejak tadi tanpa disadari oleh Lily. Gadis itu menatapnya sendu. Toples berisi kertas origami itu di simpan di atas meja, begitu dekat dengan tempat Lily berada. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" Lily menggeleng pelan. Alvian mendekat, bukan apa-apa. Dia hanya takut jika Lily berulah seperti kemarin malam dan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. "Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa. Jesika tidak akan bisa masuk seenaknya lagi." Lily tampak sedih, dia pun berbaring di tempat tidurnya menuruti permintaan Alvian. "Jesika akan datang membawaku pergi," ucap Lily pada akhirnya. Tatapannya menerawang jauh. Memperlihatkan sikap layaknya seorang

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 12

    "Aachh!!! Sialan!" Jesika murkah dan berteriak sarkas di ruang tamu setibanya di rumah. Para pelayan terkesiap, menatap penuh dengan rasa penasaran ke arahnya. "Mama dengar kata Alvian itu kan? Dasar sialan! Dia pikir dia siapa?" Nyonya Lyora merebahkan diri di sofa, kepalanya sungguh pening apalagi Jesika terus saja mengomel sepanjang perjalanan. "Beraninya dia! Mama juga, kenapa mama diam saja saat Alvian mengataiku anak haram! Aku ini anak mama bukan sih?" Kesalnya. "Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu yang suka bertindak sembrono. Andai saja kita datang bersama papamu, kejadiannya pasti tidak akan berakhir memalukan seperti tadi." Ucapan Lyora membuat putrinya terpaku. "Apa? Jadi, mama nyalahin aku?" Nyonya Lyora mengalami migran yang hebat, kepalanya pusing namun Jesika terus mencari masalah. "Mama serius mau nyalahin aku? Aku di katain dan Mama hanya bisa lepas tangan seperti ini? Mama bahkan ngga menampik ucapan Alvian sialan itu tadi. Mama ngga bela aku sama seka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status