Mag-log inLangkah Alvian yang hendak memasuki pintu mobilnya mendadak tertahan.
Di tengah keheningan malam halaman luas keluarga Malik, suara tawa kecil terdengar. Bukan tawa melengking yang mengganggu seperti di aula tadi, melainkan suara cekikikan halus yang terdengar... murni. Alvian menolehkan kepalanya ke arah halaman samping yang dibatasi oleh pagar besi tinggi. Di sana, di bawah temaram lampu taman, tampak sosok Lily. Dia tidak lagi berlari-lari histeris. Gadis itu kini sedang berjongkok di atas rumput, ditemani oleh seorang pelayan paruh baya yang memegang sebuah lampion kertas berwana jingga yang mulai mengembang karena hawa panas api di dalamnya. "Wah! Apinya sudah besar, Bi! Ayo terbang! Terbang!" Lily bertepuk tangan dengan riang, melompat-lompat kecil layaknya anak usia sepuluh tahun. "Iya, Nona Lily. Pegang bagian bawahnya, kita lepaskan bersama-sama, ya," ucap pelayan itu dengan nada sabar, tampak sudah terbiasa melayani tingkah aneh nona mudanya. "Kupu-kupu ini akan sampai ke tempat bunda kan, Bi?" Alvian tetap berdiri diam di dekat mobilnya. Para pengawal pribadinya yang bertubuh tegap ikut menghentikan gerakan mereka, menjaga jarak, namun pandangan mata sang Bos terkunci sepenuhnya pada gadis bergaun putih yang berantakan itu. Dari jarak tiga puluh meter, Alvian bisa melihat bagaimana lampion itu perlahan terangkat dari tangan Lily. Cahaya api dari dalam lampion menyinari wajah pucat Lily, menghapus kesan kotor dari abu rokok yang coret-moret di pipinya. Untuk sesaat, di mata Alvian, gadis itu tidak terlihat gila sama sekali. Dia tampak seperti sebuah lukisan yang rapuh namun menyimpan misteri yang pekat. "Kupu-kupu apinya terbang tinggi! Hahaha! Pergi yang jauh! Jangan kembali ke rumah ini!" Lily berteriak ke arah langit, menatap lampion yang bergerak semakin tinggi membelah kegelapan malam. Kalimat itu terdengar ambigu di telinga Alvian. Jangan kembali ke rumah ini. Apakah itu hanya racuan orang gila, atau sebuah pesan tersirat bahwa gadis itu sangat ingin melarikan diri dari neraka berlapis emas ini? "Tuan Alvian? Apakah ada masalah?" tanya sekretaris pribadinya, memecah keheningan dengan nada sopan. Alvian tidak langsung menjawab. "Tidak ada," jawab Alvian datar. Suaranya dingin kembali seperti semula. "Masuk ke mobil." "Baik, Tuan." Begitu Alvian berbalik, Lily entah dari mana sudah berlari menghampirinya. "Kakak ganteng! Ayo terbangkan kupu-kupu bersamaku." Lagi, Lily bergelayut manja namun rengkuhannya tidaklah erat. Alvian terus menatapnya namun senyum Lily terus terpancar seolah dia begitu bahagia. "Ayo, terbangkan kupu-kupu bersamaku. Bibi bilang, kupu-kupu itu bisa sampai pada bunda." Para pengawal mendekat, mereka akan menahan tubuh Lily namun Alvian menaikan tangan kanannya seolah memberi perintah agar mereka tidak ikut campur. Lily melihat itu dan menatap para pengawal. "Hihi, teman-teman kakak ganteng baik baik. Tidak seperti teman papa. Mereka selalu menyeretku dan mengikatku di gudang." "Apa?" Lily menyentuh wajah Alvian dan tersenyum. Kini netranya sedikit berair membuat Alvian tak dapat mengalihkan pandangannya. "Kata Papa, besok aku akan dibawa ke tempat yang baru. Aku akan pindah rumah. Nanti tidak bisa bertemu dengan kakak ganteng lagi. Papa bilang, aku akan punya banyak teman baru di sana." "Non Lily!" Bi Inah datang setelah lengah menjaganya, Lily seketika bersembunyi dibalik punggung Alvian seolah meminta perlindungan. "Non Lily, Tuan Malik nyari Non di lantai dua." Lily menggelengkan kepala. "Papa mau pukul aku lagi, ya?" Alvian tercekat. "Aku hanya menerbangkan kupu-kupu. Aku tidak nakal, iyakan kakak ganteng?" Lily dengan sengaja mengekspos luka di tangannya. Luka lebam yang tak pernah sembuh karena diterpa hantaman setiap hari. Alvian meraba tangan gadis itu, saat kepala Alvian tertunduk memeriksa. Lily reflek mencium pipinya. Alvian dan semua orang terkejut, begitupun dengan Jesika yang baru-baru keluar untuk mencari saudara tirinya. "Lily! Lancang banget kamu ya!" Jesika murkah sedang Alvian hanya menoleh menatap wajah lugu gadis di sampingnya. "Kakak ganteng, aku menyukaimu." Senyum Lily yang tulus membuat Alvian terpaku. "Dasar gila!" Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Lily setelah Jesika menariknya kasar dan mendorongnya ke tanah. "Auwh!" Gaun Lily yang pendek tersingkap, bekas pasung di kedua kakinya tercetak jelas. "Sialan kamu ya! Kamu mau Papa malu ha!" Jesika akan kembali memberinya pelajaran namun Alvian menahan tangannya. "Hey, apa yang kamu lakukan?" "Maaf, Pak Alvian. Tapi dia hanya gadis gila yang mengotori pakaian anda." Pipi Lily merah akibat kerasnya tamparan itu, namun bukannya sedih dia justru tersenyum cengegesan. "Aku menyukai kakak ganteng ini, aku ingin mengajaknya menerbangkan kupu-kupu." "Dasar gila! Kamu terus menerbangkan lampion untuk mengadu ke ibumu kan. Ibumu yang sudah mati itu!" Wajah Lily yang tadinya ramah seketika marah. Dia bangun dan siap menerjang Jesika. "Bunda hanya tidur! Bunda dibawa ke rumah sakit sama papa!" "Dasar gila! Ibumu sudah mati 11 tahun yang lalu!" "Tidak! Bundaku masih hidup!" Lily berteriak histeris. Dia kumat lalu menjambak rambutnya sendiri. Jesika mengambil kesempatan untuk berlindung pada Alvian namun pemuda itu lebih dulu menghampiri Lily dan menenangkannya. "Tuan Alvian." "Hey, Lily. Namamu Lily kan?" Alvian berjongkok untuk menenangkannya. Wajah Lily seketika melembut, dia mengangguk layaknya anak kecil dan langsung menggandeng tangan Alvian. "Dia terus mengatakan jika Bundaku telah mati. Bundaku masih hidup, Bundaku sedang menjagaku dari atas sana." Tangan Jesika terkepal sempurna. Tuan Malik dan Nyonya Lyora ikut bergabung di luar. Melihat Alvian memegang tangan Lily. Ekspresi keduanya tampak bingung. Bagaimana tidak, Alvian terkenal kejam dan tidak suka disentuh, dan kini dia justru membiarkan Lily menggenggam tangannya. "Pak Alvian, orang gila ini hanya mencari perhatianmu," ucap Jesika berharap Alvian menjauhi saudara tirinya. "Kamu tahu dia sakit, lalu kenapa kau terus memancing emosinya?" Jesika dan kedua orangtuanya terkejut. Lily tersenyum penuh makna, dia telah menyelidiki Alvian dan ibu Alvian juga menderita depresi sebelum akhirnya tiada, pemuda itu memiliki sensitivitas dan kemarahan terpendam terhadap siapa pun yang menindas orang dengan gangguan mental. "Pak Alvian, saya tidak bermaksud seperti itu." Lily menarik tangan Alvian dan berbisik di telinganya. Alih-alih suaranya kecil, volume suara Lily justru bisa di dengar oleh semua orang. "Jesika tidak suka Lily. Jesika ingin Lily pergi." Malik dan istrinya seketika panik. "Apa Lily begini karena di tindas oleh kalian?" "Tidak Pak Alvian, tentu saja tidak." Tuan Malik maju dan menampar wajah Jesika. Plak! "Pa!" Protesnya. Nyonya Lyora seketika menarik putrinya agar mengalah. Semua itu tentu saja untuk mendapatkan simpati Alvian. "Kalian tidak usah bohong, tangan dan kaki Lily penuh lebam. Ini tentu saja bukan luka akibat jatuh semata." "Bukan kakak ganteng, papa selalu mengikat rantai di kedua kakiku. Makanya kakiku terlihat cantik." Mendengar kalimat polos yang membongkar kekejaman itu, ketegangan di halaman mansion Malik mencapai puncaknya. Alvian tidak mengatakan sepatah kata pun lagi. Dia berbalik, masuk ke dalam mobil Rolls-Royce miliknya tanpa memedulikan panggilan panik dari Tuan Malik. "Pak Alvian, dengar penjelasan saya. Pak Alvian!!" Jesika dan ibunya terlihat panik. Namun tidak bagi Lily. Gadis itu justru berteriak sembari melambaikan tangan. "Kakak ganteng nanti kesini lagi ya! Temenin Lily main!" Tuan Malik berbalik, wajahnya tampak merah padam. Lily bukannya takut dia justru melompat-lompat. "Yeeh, Bi Inah kakak ganteng mau main denganku!" ucapnya lalu berlari masuk ke dalam rumah. Jesika tak bisa mengejarnya karena saat ini, tatapan papanya seolah akan mengulitinya. "Pa. Ini bukan salahku! Aku tidak bermaksud menyusahkan papa." "Diam kamu!!" "Pa! ini semua salah Lily! Gadis sialan itu! Aku akan memberinya pelajaran!"Pintu lift eksekutif berdenting halus, lalu terbuka memperlihatkan koridor lantai paling atas Adhitama Tower yang terlapisi karpet tebal. Atmosfer di ruang ini terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kebisingan wartawan di lantai dasar tadi.Di ujung lorong, dua pintu kayu mahoni besar menuju Ruang Rapat Utama terbuka lebar. Di dalam sana, puluhan anggota dewan direksi, tim kuasa hukum, serta wajah-wajah tak asing sudah berkumpul.Alvian tidak melepaskan jemari Lily. Pria itu menggenggamnya makin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. Lily melirik genggaman itu sekilas, lalu membuang pandangan ke depan, menegakkan bahunya dan memasang raut wajah dingin tanpa celah.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan terhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua.Di ujung meja rapat oval yang panjang, Tuan Adhitama duduk di kursi pimpinan. Wajah wibawanya tampak mengeras, dengan sepasang mata tajam yang menatap putra tunggalnya dan L
Lily terkekeh hampa, menyandarkan separuh tubuhnya pada daun pintu. Tatapannya meneliti wajah Alvian—mencari celah kebohongan di balik sorot mata pria yang tampak lelah namun teramat kaku itu."Ratu?" ulang Lily dengan nada mengejek yang dingin. "Jangan menggunakan istilah manis untuk menutupi kebutuhan strategimu, Alvian. Katakan saja yang sebenarnya: tanpa kehadiranku, postingan buku nikahmu cuma akan dianggap gertakan kosong oleh dewan direksi dan Tuan Adhitama."Alvian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Rasa bersalah semalam membakar dadanya, namun keteguhan sikap Lily hari ini membuktikan bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terkunci dari dalam. Pria itu menahan diri untuk tidak memangkas jarak atau menyentuh jemari Lily yang terkepal di balik gaun tidurnya."Terserah bagaimana kamu menilai niatku, Lily," sahut Alvian dengan suara rendah yang ditahan mati-matian agar tetap stabil. "Tapi di Jakarta, Paman Bregas dan Aluna sudah menyiapkan dokumen pembatalan hak waris atas namam
Mobil rental yang dipesan Lily membelah kegelapan malam pesisir, meninggalkan rumah kolonial yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai rumah pengantin mereka. Di dalam kabin mobil yang hening, Lily menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Air mata yang sempat dia tahan di hadapan Alvian kini meluncur bebas, membasahi pipinya yang dingin.Setibanya di rumah lamanya, Bi Inah yang kaget melihat kepulangan Lily tanpa Alvian langsung menyambutnya dengan cemas. Namun Lily hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan."Loh Non, kok datangnya sendiri?""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau tidur di kamarku sendiri malam ini," bisik Lily parau sebelum melangkah naik ke lantai dua."Non, baik-baik saja?"Lily mengangguk sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.Dia melempar tasnya sembarangan lalu merosot di balik pintu, Lily memeluk kedua lututnya. Ingatannya berputar keras pada ucapan Alvian beberapa bulan lalu di rumah Dokter Wira—kalimat yang terpatri jelas di ingatannya tentang 'pert
Alvian mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, menikmati raut kebingungan yang bercampur haru di wajah istrinya."Alvian, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun.""Aku tahu, rumah ini bentuk pertanggungjawabanku sebagai suamimu, meski dalam ikatan yang kita sebut sebagai kerja sama ini, aku tetap ingin memberikannya."Lily menatap lembaran sertifikat itu dengan dada yang berdesir. Mata indahnya berkaca-kaca, memandang Alvian yang kini tak hentinya menatap wajahnya."Ada apa?"Alvian menggeleng sendu."Tidak ada, ayo masuk."Lily patuh, dia mengikuti kemana Alvian pergi. "Mari, Nyonya, Tuan. Saya siapkan teh hangat dan camilan sore dulu," pamit seorang pelayan menatap hormat.Alvian mengangguk. Dan mereka langsung naik ke lantai dua.Alvian terus berada di sisinya seolah takut jauh dari Lily."Dalam ikatan yang kamu sebutkan sebagai sandiwara ini, apakah ada yang ingin kamu perjelas?" tanya Lily."Ya, aku ingin selama kontrak kita kamu menjadi dirimu sendiri."
Lily menatap Alvian dengan mata membelalak penuh kejutan. Seluruh ketenangan yang dia pertahankan sejak tadi runtuh seketika, berganti dengan kilat panik dan canggung yang membuat pipinya kian memerah hangat."A-apa? Kamu tadi panggil aku, apa?" bisik Lily terbata-bata, dia reflek melangkah mundur satu tapak.Alvian justru terkekeh pelan. Senyum jahil yang sudah sangat lama tak terlihat di wajahnya kini kembali terbit dengan begitu menawan. Pria itu memangkas jarak, meraih jemari Lily yang bergetar halus lalu menyatukannya dengan genggaman tangannya."Kenapa? Kita kan sudah resmi menikah," ujar Alvian dengan nada santai namun terdengar begitu manis di telinga. "Di depan umum, kita harus membiasakan diri. Paman Bregas dan Aluna punya mata-mata di mana-mana. Kalau kita masih bersikap kaku seperti rekan bisnis, mereka bisa curiga."Bi Inah yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa haru melihat kepolosan Lily dan kejahilan Alvian yang terasa begitu alami
Alvian menghela napas lega lalu berdiri mengibaskan celananya. Dia menarik kursi di hadapan Lily dan duduk kembali, memajukan tubuhnya ke meja kayu dengan sorot mata yang penuh keseriusan."Katakan, Lily. Apa pun syarat yang kamu inginkan, aku akan menyetujuinya," ujar Alvian tanpa ragu.Lily menopang dagunya, menatap Alvian dengan pandangan matang dan lugas."Pertama, pernikahan ini murni kesepakatan strategi," tegas Lily pasti. "Hanya ada surat perjanjian di atas kertas yang disahkan oleh Bima secara rahasia. Tidak ada pesta besar-besaran, tidak ada ekspos media yang berlebihan, dan tidak ada tuntutan hak kewajiban suami istri dalam kehidupan pribadi kita."Alvian diam sejenak, sorot matanya terlihat berbeda lalu mengangguk mantap. "Disetujui. Aku menghormati ruang pribadimu sepenuhnya.""Kedua," lanjut Lily, jarinya mengetuk permukaan meja pelan, "Setelah Paman Bregas dan Aluna hancur secara hukum di pengadilan, serta seluruh sisa hak milik ibuku bersih tanpa celah, kita harus lan







