LOGIN"Alvian..." Dokter Wira melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Alvian. "Kamu sudah melihatnya sendiri, bukan?"Alvian menoleh dengan tatapan pilu."Dok... kenapa seperti ini?"Dokter Wira menghela napas panjang, menatap lurus ke jalanan yang sepi. "Trauma yang dialami Lily selama belasan tahun dibentuk oleh rasa sakit dan penolakan. Saat jiwanya terlalu lelah menghadapi kenyataan, pikiran bawah sadarnya akan memunculkan sosok Lily kecil yang ceria—sosok yang hanya menginginkan kasih sayang, es krim, dan perlindungan tanpa takut disakiti."Alvian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti gelombang besar. Pagi tadi, dengan keangkuhan dan rasa terluka yang kekanak-kanakan, dia membangun tembok dingin dan menarik diri dari Lily. Dia menghukum gadis itu yang sedang berusaha bersikap rasional, tanpa menyadari betapa rapuhnya jiwa Lily saat ini."Dia bilang... hatinya lagi sedih banget," batin Alvian dengan suara bergetar parau, m
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit, napas Lily memburu cepat. Pandangannya memburam, diwarnai rasa panik yang merayap hingga ke ujung jarinya. Bayangan Bi Inah, satu-satunya sosok hangat yang merawatnya di tengah kekejaman Tuan Malik—berputar liar di kepalanya. "Lily! Dengar suara saya, Lily! Tarik napas pelan-pelan!" Dokter Wira menepuk-nepuk pipi Lily, berusaha menariknya keluar dari serangan panik yang hebat. "Bi Inah pasti selamat! Tolong jangan menyerah pada traumamu sekarang!" "Bi Inah... Dok... Bi Inah di mana?" bisik Lily terbata-bata, jemarinya mencengkeram lengan baju Dokter Wira dengan sangat kuat. Matanya dipenuhi ketakutan yang teramat dalam. "Mereka... mereka jahat, Dok... Bagaimana kalau Bi Inah..." "Tidak, Lily! Jangan berpikiran buruk!" potong Dokter Wira tegas namun lembut. "Pak Maman, hubungi tim Alvian sekarang! Tanyakan keberadaan Bi Inah!" Pak Maman dengan tangan sedikit gemetar langsung memencet tombol panggilan di ponselnya, menyalakan
Lily terjaga semalaman setelah kepergian Alvian. Seluruh lampu dimatikan. Tersisa dirinya yang menangis pilu dibalik pintu. Hubungannya dengan Alvian usai sudah. Dia hanya sebatas teman. Lily seolah di sadarkan bahwa dirinya tak bisa berharap lebih. Entah jam berapa dia tertidur. Namun ke esokan harinya.Pagi itu, sinar matahari merayap perlahan melalui celah jendela, menerangi debu-debu halus yang melayang di udara. Lily perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat dan sembab. Tubuhnya kaku dan pegal akibat tertidur dalam posisi meringkuk di lantai dingin di balik pintu sepanjang malam.Kesadaran kembali menyapa, membawa serta rasa hampa yang membeku di dadanya. Kegelapan semalam telah berganti terang, tetapi hawa dingin dalam jiwanya tak kunjung beranjak.Kringgg!! Kringgg!!Suara dering telepon rumah berdenting nyaring, memecah kesunyian rumah lama Dr. Wira yang lengang. Suara itu berulang kali berbunyi tanpa henti, memaksa Lily untuk bergerak.Dengan sisa-sisa tenaga, Lily
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang tengah. Suasana di rumah lama Dr. Wira terasa hening.Lily keluar dari kamar dengan langkah pelan. Dia sudah mengganti pakaiannya dan mencoba menata hatinya untuk menyapa Alvian seperti biasa. Namun, begitu melangkah ke area dapur, pandangannya tertuju pada sosok pria yang sedang berdiri di dekat meja makan.Alvian tampil begitu rapi dengan kemeja hitam yang tergulung hingga siku. Tidak ada lagi raut jahil, tidak ada lagi cengiran percaya diri. Wajah pria itu datar, dingin, dan nyaris tak berekspresi."Pagi, Alvian..." tegur Lily ceria.Alvian membalikkan badan dengan tenang. Tatapan matanya yang semalam begitu hangat dan penuh perlindungan, kini tampak berjarak, seolah dia telah membangun tembok tebal yang tak tersentuh."Pagi," balas Alvian singkat. Suaranya datar tanpa nada, begitu formal hingga membuat Lily refleks menahan napas. "Sarapan sudah ada di meja. Tadi Dokter Wira menyempatkan diri untuk me
Malam itu, jagat maya digemparkan oleh berita tentang kebakaran di rumah Malik. Layar kaca televisi, portal berita daring, hingga seluruh platform media sosial mendadak dihebohkan oleh berita tunggal yang langsung memuncaki trending topic nomor satu.Skandal Kebakaran & Kejahatan yang berlangsung bertahun-tahun telah terkuak.Di ruang keluarga, rumah lama milik Dr. Wira, suara pembawa acara berita berita malam bergema nyaring dari layar televisi besar."Berita utama malam ini. Kediaman pengusaha ternama Tuan Malik di kawasan elit terlahap api, asap tebal membumbung tinggi. Dalam insiden tragis itu, polisi juga menemukan sesuatu yang tidak biasa. Sebuah dokumen rekaman digital yang bocor ke kepolisian kini tersebar luas di internet mengungkap sisi gelap keluarga tersebut..."Kamera televisi menampilkan cuplikan rekaman drone berkualitas tinggi yang diambil dari jendela lantai dua—memperlihatkan pertengkaran sengit, pengakuan pembunuhan masa lalu, hingga terbongkarnya rahasia besar bahw
Lily masih memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Napasnya memburu, matanya melotot menatap Alvian yang santai telentang di atas balon udara penyelamat."Alvian! Kau gila, ya?!" jerit Lily sambil memukuli dada pria itu dengan tas ransel berisi dokumen penting. "Kalau balonnya pecah gimana?! Kalau kita jatuhnya meleset gimana?!""Tenang saja, yang menyiapkan semua ini adalah seorang profesional. Mereka tak mungkin salah. Ayo cepat bangun. Balonnya akan segera disingkirkan.""Apa?" Netra Lily membulat sempurna."D-disingkirkan? Lalu bagaimana dengan mereka?" Lily, menatap ke atas, di jendela kini. Papanya dan Lyora sambil berebut ingin terjun lebih dulu."Lily, kamu ini baik atau bloon sih?"Lily terpaku menatap wajah Alvian yang tampak santai "Mereka jelas-jelas ingin membunuh kamu. Mereka merencanakan kematian dan kehancuran kita berdua. Sekarang kamu malah bertanya bagaimana dengan mereka?'""Alvian, aku tahu semua itu. Aku tahu mereka jahat, tapi aku nggak mau kamu ikut jahat







