MasukMereka tiba di Vila Puri yang mewah namun jauh dari kota. Vila ini adalah tempat dimana mendiang ibu Alvian menenangkan diri hingga akhirnya meninggal dunia. Tempat ini sangat berkesan bagi Alvian, namun entah mengapa pemuda itu justru membawa Lily ke tempat itu.
"Tuan Muda," sapa Bu Ratna pengurus vila sekaligus orang kepercayaan Alvian. "Tolong siapkan kamar untuk tamu saya." "Baik, Tuan." Bi Inah turun dari mobil, dia terus menggenggam tangan Lily yang masih hangat. "Pengawal, bawa dia masuk," perintah Alvian. "Baik, Tuan." Lily dipindahkan ke kamar tidur utama yang nyaman, ditemani oleh Bi Inah. Jaket yang dipakai gadis itu di lepas dan syal yang menutupi lehernya pun disingkirkan. Alvian telah menelpon dokter pribadinya dan bergabung di kamar utama. "Tuan, boleh saya minta air hangat untuk mengompres?" Bi Inah tampak sungkan dan begitu hormat. "Silahkan, segala yang Bibi butuhkan bicarakan dengan Bu Ratna." "Baik, Tuan. Terimakasih." Bi Inah segera pergi ke dapur, bersamaan dengan itu Dokter Wira tiba. "Siapa yang sakit? Setelah sekian lama dan mendapatkan panggilan. Aku yakin, orang ini penting bagimu," ucapnya pada Alvian. Alvian dan pengawalnya hanya menatap dokter itu, pandangan dokter Wira pun perlahan turun ke ranjang dan mendapati tubuh Lily yang lemas tak bergerak. "Dia siapa?" "Tidak penting dia siapa, yang penting cepat selamatkan dia. Kondisinya sangat rawan." "Baiklah, tunggu sebentar." Lily langsung mendapatkan pemeriksaan dari dokter pribadi Alvian, Bi Inah berdiri kaku memegang wadah berisi air hangat. Wanita tua itu tampak cemas dan menunggu hasil pemeriksaan. "Ada apa ini? Kenapa pasien terlihat sangat pucat?" Dokter Wira menyadari kondisi Lily tidak wajar. Alvian menggelengkan kepala. Baik dokter maupun pemuda itu seketika menoleh pada Bi Inah. Wanita tua itu bungkam karena takut pada kekuasaan Tuan Malik. Salah sedikit saja, dia pasti akan dipisahkan dengan Lily. Alvian menatap Wira, sadar jika mereka tak bisa memaksa wanita tua itu. "Jika ada penjelasan, kami bisa mengambil pertolongan lebih cepat," jelas dokter itu berharap Bi Inah mau bicara. Bi Inah yang tahu segalanya, memegang erat wadah yang ada di tangannya, kali ini untuk pertama kalinya dia tidak patuh dan melanggar aturan Tuan Malik. "S-semalam, Non Lily di tenggelamkan ke dalam bak mandi oleh Non Jesika." Alvian terbelalak. Bi Inah menjelaskan semuanya dan dokternya langsung mengecek tanda vital sang pasien. Wanita tua itu masih meracau dengan tangan gemetar. "Demamnya tinggi sejak semalam, saya sudah memberinya obat tapi ...." "Aku mengerti. Dokter Wira, tolong lakukan yang terbaik." Perintah Alvian dan duduk di tepi ranjang. "Kondisinya tidak sesederhana itu, Alvian. Dia butuh dibawa ke rumah sakit." "Tidak, jangan!" Bi Inah menggelengkan kepala. Alvian dan Dokter Wira terpaku menatapnya. "Tolong, jangan! Nona saya jangan dibawa ke rumah sakit." "Bi, ada apa sebenarnya? Kondisinya sekarat dan kau melarang kami membawanya ke rumah sakit. Apa ini permintaan Tuan Malik agar kejahatannya tidak diketahui semua orang?" "Bukan begitu, Tuan. Jika Nona ke rumah sakit sekarang, jemputan dari keluarga Tuan Malik pasti telah menunggu kita." "Nona ku sedang bertarung, dia sedang bertaruh dengan nyawanya sendiri." "Apa maksud bibi?" Pertanyaan Alvian membuat Bi Inah mematung. "Dia, gadis normal yang berusaha mempertahankan haknya?" Bi Inah berbalik, dia tak berani bicara lebih banyak. Takut hal ini akan menjadi Boomerang bagi Lily nantinya. "Gadis normal?" "Bi, jelaskan padaku. Apa maksudnya ini?" Wira melihat semua lebam dan luka di tubuh Lily. Dokter pribadi Alvian itu kini mulai mengobati lukanya dan memasang infus di sana. "Alvian, bekas luka di tubuh gadis ini adalah akibat kekerasan fisik, bukan luka karena kecelakaan atau tindakan mencelakai diri sendiri." "Dia gila, Dokter. Setidaknya itu yang dikatakan keluarganya padaku." "Ya, dia gila setelah mereka meracuni non Lily setiap malam. Mereka mencampurkan obat di makanan Nona Lily hingga kondisinya seperti saat ini." Perkataan Bi Inah sekali lagi membuat Alvian terperangah. "Tolong izinkan nona saya beristrahat di sini untuk beberapa hari. Tolong, Tuan." Alvian mengangguk tanda setuju dan Dokter Wira menyerahkan beberapa salep untuk di oleskan di area yang sensitif. "Ini, oleskan di leher dan pergelangan kakinya." Bi Inah mengangguk. "Alvian, mari kita bicara di luar." Dokter Wira berjalan pergi dan Alvian sekali lagi menatap gadis lemah itu. Langkahnya terayun meninggalkan kamar Lily. Di luar Dokter Wira sekaligus orang yang bisa di percaya Alvian itu bertanya serius. "Sebenarnya dia siapa? Tidak biasanya kau menolong orang sampai membawanya ke Vila ini?" Alvian berdecak, dia sendiri bingung kenapa mau repot mengurus masalah ini. "Entahlah, sebenarnya aku hanya kasihan. Dia adalah Lily Shopia. Anak semata wayang dari Nyonya Shopia. Dia adalah satu-satunya penerus yang akan mewarisi kekayaan ibunya. Tapi ...." "Tapi?" "Dia gila, dan ayahnya sepertinya tidak peduli padanya." "Gila? Kau serius?" Dokter Wira menyipitkan mata. "Entahlah, mungkin juga ini karena trauma atau karena kesedihan yang mendalam setelah di tinggal ibunya. Bisa jadi, dia hanya depresi tapi orang salah menganggap dia gila. Sama seperti...." Dokter Wira sangat tahu siapa yang dimaksud oleh Alvian. Tentu saja itu ibundanya nyonya Widia. "Jadi, itu alasannya mengapa kau ingin menolongnya?" Wira menatapnya penasaran. "Bukan itu." Alvian berbalik dan menatap pemandangan di luar balkon. "Aku dengar, Lily akan dibuang setelah menandatangani penyerahan surat ahli waris kepada ayahnya. Bisa jadi dia akan mendekam di rumah sakit jiwa." "Apa pedulimu?" Dokter Wira jelas tahu jika Alvian tak suka mencampuri urusan orang lain. "Kau tidak akan percaya jika aku ceritakan semuanya. Lebih baik, bantu aku rawat dia, dan kita lihat bagaimana langkah selanjutnya." "Kau gila, Alvian. Dia putri Tuan Malik. Kau mungkin sangat berkuasa tapi membawa anak orang seperti ini, apa kau tidak takut di tuntut?" Alvian tersenyum. "Dia tidak akan berani, kalaupun iya. Coba saja menuntutku." Di tengah pembicaraan yang berlangsung, Bu Ratna datang menyusul ke balkon. "Permisi Tuan Muda, gadis itu .... Dia bangun." Alvian dan Wira saling menatap. Mereka pun bergegas menuju ke dalam kamar. Lily membuka mata dan melihat sekeliling. Gadis itu sadar, dia tidak berada di rumah. Meski demikian, hatinya sedikit lega setelah melihat Bi Inah berada di sampingnya. "Tuan Muda," ucap Bi Inah hormat saat Alvian masuk. Lily menoleh ke arah pintu. Sejenak dia terpaku lalu sadar jika dirinya harus masih bersandiwara. "Kakak ganteng, aku dimana?" Wira terdiam, Bu Ratna dan pelayan yang lain pun bungkam di tempatnya. "Kakak ganteng, kamu membawaku pulang? Horeee, kakak ganteng nanti main bersamaku, ya!" Lily akan bangkit namun selang infus menghalangi ruang geraknya. Jarum yang menusuk di punggung tangannya seketika tersentak, lalu tercabut. "Auww sakit, tangan Lily berdarah." Suara lemah lembut itu terdengar seperti anak kecil yang sedang merengek. "Non Lily, jangan banyak gerak dulu." Bi Inah menahannya agar tetap di tempat tidur sedang Dokter Wira langsung memasang kembali infus di bagian yang lain. "Nona, jangan banyak gerak." "Tidak mau, jangan di tusuk. Aku takut." Alvian terus memperhatikan tingkahnya. "Jangan! Tangan Lily sakit." Gadis itu mulai menangis. Bi Inah dengan cepat memeluk dan menenangkannya. "Non Lily, tenang dulu. Ini semua agar nona cepat sembuh." Lily begitu lihay memerankan sandiwara nya. Sudut matanya terus mengawasi Alvian yang tak mendekat juga tak meninggalkan ruangan. "Kita dimana, Bi?" "Kita di rumah Tuan Alvian." "Oh ya, emm. Apa Kak Jesika juga ikut?" Sorot matanya teduh saat menanyakan perihal Jesika. "Tidak, Non. Non Jesika tidak ikut." Lily bernafas lega, dia menoleh dan menatap Alvian dengan senyumnya yang manis. Pemuda itu jelas tahu, sikap ini lebih sopan, lebih terarah dan juga tidak bar-bar seperti sebelumnya. "Horee, Kak Jesika tidak ada di sini. Lily bisa main sepuasnya."Tuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang
Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku
"Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m
Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik
Malam itu, Lily diam termenung di dalam kamarnya. Semenjak kedatangannya di villa milik Tuan Alvian. Kediaman itu tak lagi tenang. Lily tahu, apa yang terjadi siang tadi tak akan berlalu begitu saja. Jesika tak akan diam dan menerima penghinaan yang dilontarkan Alvian. "Kau belum tidur?" Alvian berdiri di ambang pintu. Menatapnya sejak tadi tanpa disadari oleh Lily. Gadis itu menatapnya sendu. Toples berisi kertas origami itu di simpan di atas meja, begitu dekat dengan tempat Lily berada. "Ada apa? Kenapa belum tidur?" Lily menggeleng pelan. Alvian mendekat, bukan apa-apa. Dia hanya takut jika Lily berulah seperti kemarin malam dan melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. "Tidurlah, tidak akan terjadi apa-apa. Jesika tidak akan bisa masuk seenaknya lagi." Lily tampak sedih, dia pun berbaring di tempat tidurnya menuruti permintaan Alvian. "Jesika akan datang membawaku pergi," ucap Lily pada akhirnya. Tatapannya menerawang jauh. Memperlihatkan sikap layaknya seorang
"Aachh!!! Sialan!" Jesika murkah dan berteriak sarkas di ruang tamu setibanya di rumah. Para pelayan terkesiap, menatap penuh dengan rasa penasaran ke arahnya. "Mama dengar kata Alvian itu kan? Dasar sialan! Dia pikir dia siapa?" Nyonya Lyora merebahkan diri di sofa, kepalanya sungguh pening apalagi Jesika terus saja mengomel sepanjang perjalanan. "Beraninya dia! Mama juga, kenapa mama diam saja saat Alvian mengataiku anak haram! Aku ini anak mama bukan sih?" Kesalnya. "Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu yang suka bertindak sembrono. Andai saja kita datang bersama papamu, kejadiannya pasti tidak akan berakhir memalukan seperti tadi." Ucapan Lyora membuat putrinya terpaku. "Apa? Jadi, mama nyalahin aku?" Nyonya Lyora mengalami migran yang hebat, kepalanya pusing namun Jesika terus mencari masalah. "Mama serius mau nyalahin aku? Aku di katain dan Mama hanya bisa lepas tangan seperti ini? Mama bahkan ngga menampik ucapan Alvian sialan itu tadi. Mama ngga bela aku sama seka







