Share

3

Author: Re_
last update Last Updated: 2026-01-14 18:43:00

Cahaya sore menembus jendela tinggi ruang kerja itu, jatuh lembut di atas meja kayu mahogani yang dipenuhi dokumen. Marquess Aiden duduk tegak di kursinya, alisnya sedikit berkerut saat matanya menelusuri baris demi baris laporan tanah perbatasan. Ujung jarinya menahan kertas agar tetap rapi sementar pena berhenti sejenak tanda fikirannya sedang menimbang keputusan penting.

Rak buku menjulang dibelakangnya , penuh jilid tebal hukum dan sejarah. Di dinding potret para Marquess terdahulu menatap seolah mengawasi setiap gerak geriknya, suasana hening, hanya dipecahkan oleh gesekan kertas dan detak jam.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucap Aiden tanpa mengangkat kepala.

Pintu terbuka perlahan, Raymond asistennya melangkah masuk, sikapnya tertib namun tampak sedikit tegang. Ia membawa map bersegel lilin merah,berbeda dari berkas-berkas biasa.

“Tuan,” katanya hati-hati, ”sebuah dekret resmi dari Dewan Kerajaan.”

Aiden akhirnya mengangkat pandangan, tatapannya jatuh pada segel itu, sejenak ekspresinya berubah. Ia meletakkan pena, menerima map dan memecahkan segelnya dengan satu gerakan tenang.

Isi dekret itu singkat namun sarat makna. Perintah pernikahan, tertulis jelas alasan politik dan nama keluarga yang akan dipersatukan.

Ia menghela nafas perlahan. “Baik,” ujarnya akhirnya. “Tinggalkan ini di sini.”

Raymond membungkuk dan mundur dengan hati-hati hendak meninggalkan ruangan itu ketika Aiden memangilnya,

“Raymond, apa kau mengenal Baron Jonas Alfred?”

Baru setahun menggantikan posisi Marquess Alaric von Ravensield-Ayahnya yang baru saja mangkat membuat pria yang banyak menghabiskan waktu di medan perang dan wilayah perbatasan itu tak banyak mengenal bangsawan ibu kota.

“Baron dari kota Eleanor, Tuan? Dia terkenal memuji keputusan siapapun yang terlihat lebih kuat posisinya dan mendekati pihak-pihak berpengaruh.”

Aiden menghela nafas tipis. Sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat, “seseorang yang hidup dari sanjungan,” katanya singkat.

“Benar, Tuan. Dia menjilat yang berkuasa dan menghindari siapapun yang terlihat akan jatuh, terakhir kali saya dengar Baron Jonas beberapa kali bertemu dengan Granduke Verral Oliver.”

Aiden bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela, memandang jauh keluar. Granduke Verral Oliver. Bangsawan tua yang paling berpengaruh di kerajaan Eldravia. Pria yang dia curigai sebagai dalang kematian ayahnya.

***

“Jadi Tuan Aiden akan menikah?”

“Sepertinya begitu, aku dengar-dengar, Tuan Marquess akan menikah dengan putri Baron dari Eleanor.”

“Apa kau pernah mendengar tentang Lady yang akan menjadi istri Tuan Aiden?”

“Orang sepertiku mana tahu, seharusnya kau tanya pada Tuan Lynn, bukankan dia populer di kota.

Garry menatap para pelayan di ruang makan yang tengah asyik bergosip, pemuda berpakaian kesatria itu mengambil tiga potong roti gandum dan segelas susu, tak lupa menaruh beberapa apel kering di piring,

“Sedari tadi aku mendengar berita aneh, Tuan Aiden akan menikah,”ujarnya sambil duduk dan meletakkan piring di meja panjang.

“Menurutmu aneh, Tuan Aiden menikah?” tanya Phillip keheranan, ikut meletakkan piring berisi roti gandum dan apel kering.

“Tidak hanya aneh, tapi tidak mungkin.” Garry mencelupkan roti ke dalam susu lalu mengunyahnya, “Tuan Aiden allergi wanita.”

“Apa kau pernah melihatnya?” tanya Phillip menggigit roti. ”Maksudku Tuan Duke bentol-bentol atau kemerahan saat bertemu wanita?”

Garry meninggikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Phillip,

‘Pertanyaan macam apa itu?’

“Maksudku bukan seperti itu.”

“Setahuku allergi itu, ruam merah dan gatal-gatal, adikku Madison juga pernah bentol-bentol saat alerginya kambuh.” ucap Phillip dengan wajah serius.

“Tuan Aiden tidak menyukai wanita, kecu-“

“Jadi, Aku membenci wanita.” Suara tegas itu memotong ucapan Gary sebelum dia sempat menyelesaikannya, mereka sontak menoleh ke belakang.

“Komandan! eeh ... Tuan Aiden.” Garry dan Phillip saling melempar pandang dengan wajah pias.

Marques Aiden Cassian Hawthorne yang juga komandan mereka di medan pertempuran berdiri di belakang Garry dengan alis terangkat.

Saking terkejutnya kedua kesatria itu bahkan sampai berdiri. Ruangan sunyi senyap, tanpa mereka sadari para pelayan yang bergerombol dan bergosip tadi bahkan sudah pergi.

“Aku mendengar kalimat aneh barusan, kau juga mendengarnya Nigel?”

Aiden melipat tangan di belakang punggung. Wajahnya tetap datar, tapi sorot matanya-geli.

“Ya, Tuan,” jawabnya tanpa ragu. “Seharusnya saat kalimat itu diucapkan, pedang saya sudah bergerak,” jawab Nigel kesatria bertubuh tinggi dan berkulit gelap yang mengawal Aiden.

“Untung, kau masih menahan diri.” Aiden menghembuskan nafas pendek, hampir tersenyum.

“Ka-kami hanya berdiskusi,Tuan,” jawab Gary pelan.

“Tentang?”

Phillip berbisik polos, “Allergi Tuan terhadap wanita.”

Raymond menahan nafas, Nigel menegang.

“Kalian,” katanya tenang, “terlalu banyak waktu luang.”

“lain kali, Garry, jika kau ingin berdiskusi tentang sesuatu, pastikan objeknya tidak berdiri di belakangmu.” Aiden Berbalik meninggalkan ruang makan.

“Mulai hari ini sampai dua bulan kedepan. Kau bertugas jaga malam,” perintahnya tanpa menoleh, suaranya tenang, terlalu tenang.

Gary menelan ludah, “Perintah dilaksanakan, Tuan.”

Setelah beberap detik Aiden pergi, Garry menjatuhkan diri di bangku,

“Aku,” katanya lemah, “Sangat berdosa.”

Hah!

Nigel menghela nafas keras.

“Kenapa Nigel?” tanya Raymond yang berjalan di sisinya.

“Aku bosan,” jawabnya singkat. “Pedangku terlalu lama menganggur.”

Raymond mendecak, “Hentikan kegilaanmu.”

“Kalian baru pulang dari medan perang lima bulan lalu, karena itulah Yang Mulia Raja menganugerahkan pernikahan pada Tuan,” ujar Raymond,

“Belum puas dengan itu .Sekarang kau ingin menghabisi seluruh penghuni kastel ini?” ucapnya melanjutkan.

“Mereka membicarakan Tuan di belakang,” jawab Nigel datar.

“Bocah sialan itu-Garry, akan kupatahkan lidah liarnya, lalu kulemparkan ke hutan, biar binatang buas yang menghabisinya.”

“Kali ini kau banyak bicara.”Raymond menatap lurus mata Nigel.

“kau hanya ingin mengadu kekuatan dengan Garry, kan? Kau marah karena dia mendapatkan sarung tangan Tuan.”

Nigel menghembuskan nafas kasar. Ucapan Raymond terlalu tepat sasaran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana gadis berambut ,merah itu memelototi Marie hingga perintahnya dipatuhi.‘Tidak bermoral?Hazel hampir tertawa.“Konyol. Keluarga Hadwin mendidikku dengan sangat baik sehingga aku tahu kepantasan yang dilakukan saat menerima tamu.’Hazel menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyumnya masih terjaga.Miranda tampak panik membantu Shilla yang kehilangan arah sambil mengeluarkan sumpah serapah. Jonas memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seolah beban itu terlalu berat untuk ditanggung, sementara Lily tersenyum bangga. “Papa, usir anak kampung itu,” Shilla menunjuk Hazel dengan tangan gemetar, “Aku tidak ingin melihatnya lagi!” Wajahnya kini merah padam.“Tenanglah Shilla,” ujar Miranda cepat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status