Share

4

Author: Re_
last update publish date: 2026-01-14 18:44:00

Gadis itu merentangkan tangan. Rambut peraknya jatuh bergelombang ringan mengikuti hembusan angin pagi, berkilau samar saat di sentuh cahaya matari. Wajahnya tampak tenang, dihiasi sepasang mata bundar berwarna biru jernih, seperti pantulan langit pagi yang bersih dan damai.

Usianya menginjak 18 tahun saat ini, angka yang sempurna untuk mengekspresikan kebebasan, setidaknya begitulah anggapan Hazel.

“Kau ingin aku membawamu, Bracken?” Manik matanya beralih pada seekor kuda berwarna cokelat gelap yang sedang merumput.

“Aku tahu,” bisiknya menepuk leher kuda ringan. Dengan satu dorongan lincah, tubuhnya mendarat di punggung Bracken.

Kuda itu melaju bebas, menjejak tanah dengan irama yang kuat, melewati pagar kayu tua dan pohon-pohon rindang. Hazel tertawa kecil. Rambut peraknya terikat longgar, sebagian terlepas dan berkibar liar mengikuti derap kuda yang berlari mantap.

Dikejauhan, Lily berlari kecil menyusuri tepi padang, memanggil namanya. Hazel menoleh, mengangkat satu tangan sebagai isyarat.

“Ikut bersamaku,” ujarnya seraya mendekat

“Nona, saya-“

“Tak ada penolakan.”

Hazel menarik lily ke atas punggung Bracken, lalu menghentakkan tumitnya. Barcken melesat kencang. Angin menerpa wajah mereka tanpa ampun. Lily berteriak tanpa sadar. Suaranya pecah tertelan deru angin sementara Jemarinya mencengkeram mantel hazel sekuat tenaga.

Ketika Bracken berhenti. Lily tampak pucat, tapi begitu Hazel turun dan menoleh, Lily langsung memukul lengan Hazel pelan,

“Nona benar-benar-“ Lily terdiam. Lalu menghela nafas kesal,

“Mau membuat jantung saya berhenti saja.”

“Kalau jantungmu berhenti, kau tidak akan mengomel sepanjang hari.”

“Nona, ini tidak lucu. Saya ketakutan,” ucap gadis itu sedikit terengah, rambut coklet pendeknya tampak berantakan.

“Kesalahanku,” katanya. “Aku lupa kau lebih cocok duduk manis sambil menjerit.”

“Nona!”

Hazel tertawa lepas, senang rasanya menjahili pelayan terdekatnya itu.

“Oh, ya. Kenapa kau mencariku,” tanyanya kemudian.

“Tuan Hadwin memanggil Nona.”

“Kembalilah Bracken.” Hazel mengusap surai Bracken dan menempelkan dahinya sesaat sebelum pergi.

Sesampainya di ruang dalam, suasana terasa berat. Tuan Hadwin berdiri kaku sementara Nyonya Hadwin dibelakangnya tampak tegang, namun mencoba bersikap tenang.

“Akhirnya kau kembali,” Nyonya Hadwin menghembuskan nafas pelan, setengah lega.

“Lily apa yang terjadi?”bisiknya pada Lily yang berjalan disampingnya

“Saya tidak tahu,”jawab Lily pelan.

“Sepertinya ada sesuatu,” tanya Hazel kemudian.

“Tidak.” Nyonya Hadwin duduk, berusaha mengelak.

Hazel menatap Hadwin yang masih membeku. Pria tua itu mengeraskan rahang, matanya memerah.

“Pak Tua, apa yang terjadi?”

Tak ada jawaban.

“Ooh, Ayolah. Jangan menyembunyikan sesuatu padaku. Tolong.”

Hazel berjongkok dan menggenggam tangan Nyonya Hadwin,

“Bibi, katakanlah,”pintanya.

Hanya-“ suara Nyonya Hadwin menggantung.

“Hanya?”

Nyonya Hadwin menarik nafas, “Kau akan pergi.” katanya pelan.

“Pergi?” ulang Hzel bingung, “Ke mana?”

Tatapan Nyonya Hadwin jatuh ke meja, tempat sebuah kertas putih tergeletak. Hazel mengambil lalu membacanya. Jarinya mengepal, rahangnya mengeras. Surat dari Baron Jonas itu berisi perintah yang memaksa, ia harus menikah dengan Marquess Aiden, atas perintah Yang Mulia Raja.

“Kereta kuda sudah menunggumu di depan,” ucap Nyonya Hadwin dengan suara bergetar.

“Jadi karena ini aku diusir?” Hazel menghembuskan nafas kasar,

“Kalian ingin aku menemui Baron sampah itu.”

“Dia Ayahmu, Nak,” lirih Nyonya Hadwin menguatkan diri.

“Apa aku pernah punya Ayah?” Hazel mengangkat tangannya, “Aku rasa tidak.”

Ia membanting surat itu, lalu menginjaknya tanpa ragu. Ia kemudian duduk di sebelah Nyonya Hadwin.

“Aku kira sesuatu yang penting,” ocehnya sambil tersenyum dingin.

Hening kembali menyelimuti ruangan, tapi entah kenapa udara terasa menekan dada.

“Kau akan melakukannya. Menikahi Marques Aiden.” Nyonya Hadwin menatap lurus mata biru Hazel.

“Kenapa Bibi memaksaku?”

Nyonya Hadwin diam sejenak, Air matanya jatuh. Jemarinya mengencang dipangkuan. Matanya meredup, seolah memikul beban berat untuk diungkapkan.

“Jika menolak, akan dianggap berhianat.”Suaranya serak.

Hazel tertawa pahit,

“Jadi, aku harus mengikuti keinginannya. Baron itu?”

Hening menggantung,

“Menentang Yang Mulia Raja sama dengan mati. Tuan Baron akan-”

“Laki-laki itu bahkan tidak pernah menganggapku, lantas atas dasar apa aku harus perduli, Bibi?” ujar Hazel dengan rahang mengeras, menunjukkan kemarahan dan kekecewaan.

“Tidak,” kata Hadwin tiba-tiba, parau dan berat, seolah kata itu dipaksa keluar dari dadanya. “Hazel anak kita.”

Nyonya Hadwin menutupi wajahnya, menahan isak tangis,

“Aku juga tidak menginginkan dia pergi. Tapi itu demi keselamatannya.”

“Hazel hanya dijadikan alat. Marquess Aiden terlalu bersinar,” ucap Hadwin lirih, sarat amarah yang tertahan.

Sebagai mantan prajurit, dia tahu persis bagaimana kekuasaan bekerja,pernikahan ini bukan tentang ikatan, melainkan strategi.

“Aku harus melindungi Hazel meski harus mengorbankan nyawa.”

Hazel menegang, ketakutan kini merayap di dadanya, bukan karena membangkang perintah Raja, melainkan karena kata-kata Hadwin.

“Pak Tua, apa maksudmu?” suaranya bergetar.

“Kau ingin mati karena aku?”

Keputusan besar yang dia ambil sejak awal adalah untuk menghukum Baron jonas, bukan untuk mencelakai keluarga Hadwin.

“Aku sudah berjanji padamu, hazel.”

Tuan Hadwin mengenang masa lalu, saat pertama kali ia menemukan Hazel di Willow Brook, lalu mengusap sudut mata,

“Aku sudah memutuskan, dan aku tidak menyesal.”

Mendengar itu Nyonya Hadwin menyentuh lengan Hazel, lembut, gemetar,

“Pergilah,”bisiknya, nyaris tak bersuara. “Demi keselamatan kita semua.”

Hazel terpaku, bayangan keluarga Hadwin, orang-orang yang telah melindungi dan membesarkannya, terlintas jelas. Pedang algojo, hukuman penggal, dan kehancuran yang tak bisa di tarik kembali.

Andai saja dia bisa menghukum Baron terkutuk itu tanpa harus melibatkan keluarga Hadwin. Penolakannya masih membara, tapi kini bercampur ketakutan dan rasa tanggung jawab. Demi keselamatan keluarga Hadwin dia harus menerimanya.

“Aku akan melakukannya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    14

    Ruang kerja Aiden tertutup rapat, peta terbentang di atas meja, lilin menyala terang. Empat kesatria berdiri berhadap-hadapan dengan Aiden, sementara Raymond berdiri sedikit di belakang , diam mengamati.Nigel melangkah maju lebih dulu.“Tuan, kami datang untuk membicarakan Eleanor,” kata Nigel mantap.“Katakan,” kata Aiden singkat.“Ravenford harus menyerang Eleanor.”Garry menunduk sebentar sebelum angkat suara,“Kita serang selagi mereka lengah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”Aiden memandang peta , lalu mengangkat kepala,“Apa alasan sebenarnya kalian ingin perang?”Nigel menarik nafas,“Kami tahu Tuan telah banyak berkorban demi Ravenford.”“Jelaskan.”“Pernikahan Tuan,” lanjut Nigel.“Itu bukan keputusan yang lahir dari keinginan pribadi.”Aiden terdiam, tidak membantah.Rowan berkata pelan, “Menikahi putri Baron Eleanor, itu adalah bentuk kompromi politik yang memaksa.”Garry menambahkan lirih,”Dan Tuan, menahan ketidaksukaan pada putri Baron demi kestabilan wilay

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Aiden masuk. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Hazel duduk di dekat jendela dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Di balut cahaya pagi, tampak kecil dan rapuh di kursi besar itu.“Kau seharusnya masih beristirahat,” katanya.“Tuan.” Hazel hendak bangkit memberi salam, namun tubuhnya terhuyung begitu dia berdiri. Aiden bergegas, tangannya hampir menyentuh bahu Hazel, namun dia menahannya. Gadis itu bertopang pada sandaran kursi dengan tangan gemetar.“Aku masuk karena pintunya terbuka,” katanya pelan. “Kau tidak perlu memberi salam. Aku tidak butuh itu,” ucapnya dingin.“Terimakasih atas kebijaksanaan Tuan. Tubuh ini sering tak menuruti keinginan saya,” jawab Hazel lemah.“Duduklah,”perintahnya,“Kemarin. Kau tampak lebih baik. Wajahmu bahkan memerah. Apa kau makan dengan benar, di mana pelayanmu?”“Astaga. Ternyata, Tuan sangat perhatian. Saya merasa tersanjung.” Hazel menyuguhkan senyum lembut.“Aku hanya-, Aku tak ingin rengekanmu terdengar sampai Eleanor,” sahut Aiden c

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status