Compartir

2

Autor: Re_
last update Última actualización: 2026-01-14 18:42:03

5 bulan sebelumnya,

Brakk

Pintu terhempas keras. Engsel pintu yang mengkilap karena sering diurapi minyak bahkan hampir terlepas.

Baron Jonas yang tengah sibuk melihat dokumen mengerutkan kening, hampir memuntahkan sumpah serapah namun urang dia lakukan saat mendapati Shilla putri kesayangannya hampir menubruknya dengan nafas memburu.

"Shilla, ada apa?" tanyanya keheranan. "Tolong aku Papa, aku ... tidak mau mati." Gadis berambut merah itu melemparkan sepucuk surat yang dibawanya sebelum menjambaki rambutnya sendiri.

Terlihat jelas ketakutan dari bola matanya yang terbeliak ke sana ke mari.

Tak sabaran pria paruh baya itu menyambar surat yang terdapat di atas meja kerja lalu membacanya

"Yang Mulia Raja menikahkanmu dengan Marques Aiden?!" Suara Baron terdengar parau, sedikit gemetar dia menarik gagang kacamata berbingkai emas yang bertengger di hidung mancungnya. Meletakkan kaca mata itu di atas meja lalu menarik nafas panjang.

"Apa yang harus kita lakukan, Papa. Aku tidak mau menikah dengan Marques Aiden. Aku takut," cicit Shilla yang sudah luruh ke lantai. Kini kedua lengannya telah memeluk kaki dan meringkuk di depan meja kerja Ayahnya.

"Marie!!! panggil Baroness!!" perintah Baron cepat. Seorang pelayanan wanita yang bernama Marie bergegas mencari Baroness.

Tak butuh waktu lama bagi Marie untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, kini dihadapannya telah berdiri seorang wanita yang masih tampak cantik dengan untaian gelang emas di tangannya, dengan langkah anggun wanita itu menapakkan bokongnya di kursi panjang yg terletak di samping meja kerja Jonas.

"Kau tampak kacau, ada apa Sayang?" tanya Miranda menilik wajah kusut Jonas. "Hei ... Perhatikan tingkahmu, Shilla, Kau terlihat tidak beradab," tegur wanita itu lagi saat mendapati anak gadisnya meringkuk di lantai. "Marie, bawa anak nakal itu berdiri," lanjutnya tanpa menoleh Marie.

Pelayan bertubuh kurus itu membantu Shilla berdiri dan mendudukkannya di kursi panjang tempat Miranda berdiam.

"Ini mengerikan," keluh Jonas melangkah mendekati istrinya. " Yang Mulia Raja menikahkan Shilla dengan Marques Aiden."

"Apa?! Bagaimana mungkin? Tidak, darimana ide gila ini?" tariak Miranda kaget.

"Sst! Hentikan ucapanmu. Apa kau ingin dipenggal karena menghina Yang Mulia Raja!"

Ciut, Miranda menutup mulutnya. Kini bukan hanya tampang Baron yang kusut, wajah istrinya juga mulai mengkerut.

Keheningan yang terjadi selanjutnya menambah kegalauan di hati mereka. Hanya bunyi detak jarum jam dinding yang terdengar beringsut melintasi detik menjadi menit.

"Tidak ...," rauangan Shilla lantas berubah menjadi tangis kencang, Jonas dan Miranda saling adu pandang lalu menghela nafas lemah.

Maaf, Tuan Baron.” Marie menyela,meski hanya Baron yang di sebut, namun tiga kepala yang tampak bermuram durja itu kompak menolehnya.

"Ada apa Marie? Kau punya ide atau justru ingin menambah masalah di sini, apa kau tidak melihat berapa resahnya kami sekarang? tanya Miranda kesal.

Marie, pelayan yang sudah mengikuti Jonas sejak sebelum mereka menikah dulu, meski Miranda tidak pernah menemukan kejanggalan dalam hubungan mereka selain atasan dan bawahan , namun setiap kali melihat pelayan itu berinteraksi dengan suaminya, terkadang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Maaf Tuan, saya ingin menyampaikan pendapat, jika Tuan berkenan."

Jonas tampak tertarik, mengacuhkan suara keluhan istrinya, dia menatap Marie lurus.

”Katakan, Marie. Kau bebas mengeluarkan pendapatmu.”

“Ya.” Shilla mengangguk penuh minat.” Suaramu sangat diperlukan saat ini, Marie,” lanjutnya penuh harap.

Tatapan Marie beralih pada Miranda, seakan meminta persetujuan, namun Miranda membuang muka. Dia tak ingin terlihat cemburu karena itu mencederai wibawanya sebagai seorang bangsawan.

“Bagaimana menurut Nyonya Baroness?” tanya Marie lagi seakan memprovokasi. Entah apa maksudnya melakukan itu. Namun apapun alasannya, Miranda berusaha mengacuhkannya.

“Terserahmu saja,” jawab Miranda angkuh.

Marie diam sejenak sebelum melanjutkan. ” Yang Mulia Raja telah memerintahkan Marquess menikahi putri Tuan Baron, namun Nona Shilla meno–“

“Lalu?” potong Jonas putus asa. Sesaat telintas di benaknya ide gila apakah Shilla harus pura-pura mati agar bisa menghindari pernikahan ini dan hidup dalam persembunyian.

Namun Itu tidak mungkin karena dia membutuhkan kecantikan dan reputasi putrinya untuk mengisi pundi-pundi uang dan mengokohkan posisinya.

Tapi membiarkan putrinya berada dalam cengkraman Marquess Aiden yang terkenal kejam sungguh membuatnya tidak rela.

“Peritah Yang Mulia Raja tidak mungkin di ubah Tuan. Namun, Tuan bisa.”

"Lancang! Kau ingin menyeret keluarga ini mati bersamamu," ucap Miranda keras.

"Apa maksudmu, Marie?" tanya Jonas penasaran.

"Baron! Kau mendengarkannya? pelayan itu?"

"Tunggu dulu, dengarkan perkataannya."

Marie berucap tenang, "Bukankah Tuan Baron memiliki dua putri."

Jonas tampak terkejut. ”Apa!?” tanyanya kemudian. Dia tidak ingat pernah memiliki putri lain selain Shilla Anartia permata hatinya bersama Baroness saat ini.

“Aah. Aku ingat sekarang!” seru Shilla tiba-tiba.

“Anak kampung itu, Papa," ujarnya sambil menyeringai sinis. "Seharusnya dia merasa beruntung menggantikanku menikahi Marquess."

Marie mengangguk. “Benar, putri Tuan Baron dan Nyonya sebelumnya.”

"Tidak. Ini berbahaya," tolak Miranda.

"Mama rela menyerahkanku pada Marquess jahat itu? Mama ingin aku mati?" rajuk Shilla dengan berpura-pura menangis.

Miranda menggeleng, "Tidak. Aku tidak mau."

"Kalau begitu, biar dia menggantikanku. Benar begitu, Papa?"

Jonas tercenung, fikirannya melayang ke masa lampau. Di sana muncul seorang anak berambut perak menyilaukan.

Wajahnya samar, buram oleh waktu, namun garis kemerahan di pipinya saat dia tertawa masih tampak jelas. Wajah itu wajah yang mungkin ingin dia lupakan karena mengingatkan pada wanita yang pernah sangat dicintainya.

Dia lupa kapan terakhir dia bercengkrama dengan gadis kecil berambut perak itu. Jonas memutus hubungan karena kesedihan yang mendalam setelah kematian istri pertamanya, dalam kehampaan itu dia menemukan Baroness saat ini.

Wanita yang membangkitkan jiwa malang kesepian yang dia miliki sekaligus gairah “kekuasaan” yang selama ini terpendam.

Wanita anggun yang menariknya dari dasar lumpur dan membawanya menapaki gelar bangsawan. Wanita yang juga membenci masa lalu Jonas hingga harus mengubur semua yang berhubungan dengan hal itu, meskipun itu darah dagingnya sendiri.

Kini dia ingat, siluet samar itu perlahan menampakkan wujudnya. Seorang gadis kecil dengan manik mata biru jernih.

Hazel evelinge putri pertamanya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana gadis berambut ,merah itu memelototi Marie hingga perintahnya dipatuhi.‘Tidak bermoral?Hazel hampir tertawa.“Konyol. Keluarga Hadwin mendidikku dengan sangat baik sehingga aku tahu kepantasan yang dilakukan saat menerima tamu.’Hazel menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyumnya masih terjaga.Miranda tampak panik membantu Shilla yang kehilangan arah sambil mengeluarkan sumpah serapah. Jonas memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seolah beban itu terlalu berat untuk ditanggung, sementara Lily tersenyum bangga. “Papa, usir anak kampung itu,” Shilla menunjuk Hazel dengan tangan gemetar, “Aku tidak ingin melihatnya lagi!” Wajahnya kini merah padam.“Tenanglah Shilla,” ujar Miranda cepat.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status