Compartir

8

Autor: Re_
last update Última actualización: 2026-01-23 21:13:15

Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.

Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana gadis berambut ,merah itu memelototi Marie hingga perintahnya dipatuhi.

‘Tidak bermoral?

Hazel hampir tertawa.

“Konyol. Keluarga Hadwin mendidikku dengan sangat baik sehingga aku tahu kepantasan yang dilakukan saat menerima tamu.’

Hazel menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyumnya masih terjaga.

Miranda tampak panik membantu Shilla yang kehilangan arah sambil mengeluarkan sumpah serapah. Jonas memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seolah beban itu terlalu berat untuk ditanggung, sementara Lily tersenyum bangga.

“Papa, usir anak kampung itu,” Shilla menunjuk Hazel dengan tangan gemetar, “Aku tidak ingin melihatnya lagi!” Wajahnya kini merah padam.

“Tenanglah Shilla,” ujar Miranda cepat. Tangannya mencengkeram keras pundak gadis itu.

Dia tidak ingin martabat keluarganya tercoreng jika kejadian ini tersebar. Terutama setelah dia menyebarkan rumor tantang putrinya yang lemah dan anggun.

“Aku tidak ingin bernafas di tempat yang sama dengan kotoran itu, aku benci!” pekik shilla menggema memenuhi ruangan.

Mendengar itu Hazel bangkit dan berjalan tenang ke arah Shilla yang menatap dengan nyala amarah. Manik mata berwarna biru itu balas menatap lekat.

Hazel mencondongkan wajahnya sedikit.

“Bernafaslah yang keras, Shilla,” bisiknya di telinga Shilla.

“Selagi kau masih bisa, sebelum kepala cantikmu itu TERPENGGAL karena melawan perintah Raja.”

Tangannya terangkat, bergerak pelan di udara, seakan mengukur leher.

Shilla menjerit.

Tubuhnya mundur tersandung, ketakutan terlihat jelas dari wajahnya. Miranda yang sedari tadi menahan nafas,ambruk ke lantai dan pingsan.

***

Miranda mengigit bibir, langkahnya bolak-balik disepanjang kamar. Keanggunan yang biasa melekat kini tak terlihat, berganti kegelisahan.

Baron Jonas yang telah membaringkan tubuh menghela nafas, merasa terganggu.

“Aku sudah cukup lelah melewati hari ini,” katanya datar.

“Bisakah aku beristirahat dengan tenang?”

Miranda berhenti, ia menoleh.

“Tenang?” ulangnya pelan.

Jonas merasakan hawa dingin menjalar sebelum ia sempat bangkit. Tangan Miranda terangkat,berhenti di udara, Jonas tercekat.

”Hentikan Miranda,” ujarnya cepat. “Apa yang kau lakukan!”

Miranda tersentak. Tangannya jatuh di disisi tubuh.

“Maaf,” katanya lirih, “Aku ... kehilangan kendali.”

Ia menarik nafas dalam, mengusap rambutnya yang kusut, lalu merapikan setiap helai rambutnya yang berantakan.

“Anak itu bencana,” gumam Miranda akhirnya. “dan solusi yang diberikan Marie. Aku tidak menyukainya.”

“lalu apa rencanamu?” tanya Jonas cepat, “ Apa kita punya jalan lain?Tidak,kan. Kita bahkan beruntung anak itu mau datang ke sini.”

“Kau membelanya?”

“Kapan aku-?”

“Kau masih mengingatnya? Wanita yang melahirkan anak itu?” Miranda menatapnya sinis.

“Kenapa kau mengungkit kisah lama. Aku sudah tidak ingat.”Jonas memalingkan muka.

“Kau menghindariku?”

“Kau tidak tahu apa-apa,” sahut jonas datar.

“Apa maksudmu? Kau anggap aku bodoh?”tanya Miranda setengah tak percaya.

“Kau masih memikirkannya,”lanjutnya.

“Kadang kau menyebut namanya sambil menangis di dalam tidurmu! Kau selalu mengingatnya!”

Jonas terhenyak,

“Baroness hentikan, apa kau ingin suaramu terdengar sampai keluar?”

Miranda runtuh, ia menarik selimut hingga menutup mulut, menahan suara yang sudah terlanjur pecah.

Jonas menghela nafas lalu beringsut mendekati istrinya.

“Aku memanggilnya ke sini untuk menyelamatkan Shilla putrimu.”

Miranda menengadah, menatap tajam. “Putriku?”

“Maksudku, putri kita,” ralat Jonas,

“Jangan memikirkan hal lain. Anak itu tidak berarti apa-apa bagiku,” ujarnya memeluk Miranda bermaksud menenangkannya.

“Tapi dia putrimu.”

Jonas terdiam sesaat lalu berujar pelan,

“Bagiku kau lebih penting.”

Miranda menatap Jonas dengan mata berkaca.

”Terimakasih.” lirihnya dengan perasaan membuncah.

“Tapi apa kau yakin ini menguntungkan kita, anak itu terlihat liar. Bagaimana jika Marquess tahu bahwa kita menipunya?”

“Marquess tinggal diperbatasan, tidak pernah bertemu Shilla.” Jonas mengurai pelukan.

”Marquess juga terkenal dingin pada wanita, dia pasti tidak akan membiarkan anak itu mendekatinya. Tenanglah Miranda rencana ini sempurna.”

***

Hazel merebahkan tubuhnya di pembaringan. Di sisi lain Lily menyiapkan masker dingin.

“Kulit Nona terlihat kusam. Masker ini akan membantu agar kulit Nona cerah dan bersinar.”

“Haruskah aku mencobanya?”

“Tentu, Nona akan menikah. Sedingin apapun pria itu, pasti akan mencair setelah melihat pesona Nona.”

Hazel tergelak,

“Aku adalah bara api yang akan mencairkanmuu-,” ledeknya nakal.

“Nona, jangan bercanda,”rengut lily dengan muka masam.

“Saya akan membuang masker ini.”

“Tolong pakaikan padaku, aku sudah tidak sabar,” rayu Hazel, mendengarnya Lily mengulas senyum.

“Apa Nona pernah bertemu Tuan Baron, beliau sama sekali tidak berpihak pada Nona.”

“Aku juga tidak menyukainya,” sahut Hazel.

“Tapi, Tuan Baron terlihat gemetar saat melihat Nona.”

“Aku juga merasa marah, harus tunduk pada orang itu.”

Lily berdecak,

”Nona memang keras kepala, tapi saya akan selalu mendukung Nona.”

***

“Aku tidak mau tinggal di sini,” rajuk bocah berumur 6 tahun sambil menghentakkan kaki. Pipinya yang bulat tampak semakin mengembung. Dia mengangkat roknya tinggi agar tak menyentuh lantai yang tampak berdebu.

“Sebentar saja, Sayang. Kita hanya menemani Paman Jonas kemari,” bujuk seorang wanita. Gadis kecil itu merengut,

“Apa Mama akan menikahi Paman Jonas?”

“Bukankah kau menyukainya?”

“Ya, Paman Jonas baik, tidak pernah memukul Mama.” Mata bocah itu menangkap sosok gadis kecil lain di rumah itu.

“Mama, lihat. Siapa dia?” tunjuknya pada Hazel.

“Kenapa dia ada di rumah Paman Jonas?”

“Halo, aku Hazel.” Gadis kecil itu mengulurkan tangan.

“Jangan sentuh aku, Kau kotor!” dia mendorong keras.

‘Nona.”

Hazel tersentak, jantungnya berdegup kencang. Wajah Lily terlihat ketika ia membuka mata.

“Apa saya mengejutkan Nona?” tanya Lily menatapnya khawatir.

“Apa? Tidak .” Hazel menarik nafas panjang. Berusaha menenangkan diri.

“Aku baik-baik saja.”

“Saya sudah menyiapkan air untuk mandi. Marie mengatakan sarapan tersedia pada pukul 8 pagi,” ucapnya ceria sambil membantu Hazel bangun.

“Nona Harus tampil cantik hari ini.”

Gaun sutra dan perhiasan tersusun dalam box yang berjejer rapi di samping meja rias, sepatu, mantel mewah dan barang lain yang terlihat mahal juga hadir di sana.

Rupanya Jonas bersungguh-sungguh dalam sandiwara itu sehingga mempersiapkan semua yang terbaik untuk digunakan Hazel.

Setelah puas mendandani Hazel, Lily bersenandung riang dan bergegas menuju dapur untuk melihat apakah hidangan sudah siap.

Hazel tercenung, ternyata kenangan lama itu masih membekas di alam bawah sadar hingga mengusiknya kembali melalui mimpi. Terlalu tiba-tiba hingga membuatnya sedikit terguncang.

Gadis itu menepuk pipi.

“Tenang Hazel,” bisiknya pada diri sendiri.

“Kau sudah dewasa. Kuat dan bisa melakukan apapun.” Dengan kepalanya yang mengangguk ia memantapkan diri.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana gadis berambut ,merah itu memelototi Marie hingga perintahnya dipatuhi.‘Tidak bermoral?Hazel hampir tertawa.“Konyol. Keluarga Hadwin mendidikku dengan sangat baik sehingga aku tahu kepantasan yang dilakukan saat menerima tamu.’Hazel menyandarkan tubuhnya dengan santai, senyumnya masih terjaga.Miranda tampak panik membantu Shilla yang kehilangan arah sambil mengeluarkan sumpah serapah. Jonas memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seolah beban itu terlalu berat untuk ditanggung, sementara Lily tersenyum bangga. “Papa, usir anak kampung itu,” Shilla menunjuk Hazel dengan tangan gemetar, “Aku tidak ingin melihatnya lagi!” Wajahnya kini merah padam.“Tenanglah Shilla,” ujar Miranda cepat.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status