Share

10

Author: Re_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-23 21:14:33

Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.

“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.

“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.

“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’

“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebe
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    16

    “Hei, kalian lihat tidak?” Garry membuka kaos, lalu melemparkannya ke dalam tong pakaian kotor. Bulir-bulir keringat tampak memenuhi tubuh kekarnya.“Tatapan Tuan Aiden saat latihan tadi pagi,” lanjutnya mengambil sebuah lipatan kain dari rak kain bersih lalu mengelap tubuhnya.Phillip melakukan hal yang sama, “Seperti biasa, sangat berkarisma,” sahutnya.“Maksudku ....” Garry merendahkan suara, “Saat Tuan memergoki Lady sedang mengintip di balkon.”Rowan mendekat, tubuhnya kini sudah terbalut kaos bersih.“Aku memang melihat Lady di sana, tapi apa kau yakin dia sedang mengintip?” tanyanya mengernyitkan dahi.“Mungkin saja sedang memata-matai kekuatan pasukan kita.”“Sepertinya Lady hanya berjalan-jalan, bisa saja kau keliru,” tukas Rowan.“Sendirian? tanpa seorang pelayan.” Alis Garry menukik tajam.“Apa kau yakin dengan ucapanmu, Garry?!” Mereka menoleh, tatapan tajam Nigel tampak mengintimidasi Garry. Tampaknya dia menanggapi serius ucapan Garry. Pemuda berkulit hitam itu meng

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    15

    Aiden tetap berdiri di tempatnya menatap ke arah Hazel pergi, ke arah mantel yang menutup bahu rapuh itu, ke arah punggung yang berusaha tetap tegak meski jelas gemetar, Baru setelah nyala lilin di dinding berkelip, Aiden tersadar.Langkah Hazel menghilang di ujung koridor, suara sepatu Lily pun lenyap, menyisakan kesunyian yang dingin.Ia menghembuskan nafas perlahan.“Bodoh,” gumamnya pelan, entah untuk siapa.Tangannya masih terasa hangat, bukan karena mantel, melainkan arena sebuah sentuhan yang bahkan mungkin tanpa disengaja. Sentuhan itu terlalu singkat untuk meninggalkan jejak, namun cukup dalam untuk mengguncang kendali yang selama ini ia banggakan.‘Dia gemetar. Dan aku membiarkannya begitu saja.’Aiden melangkah menuju ruang kerjanya, setiap langkah terasa berat, seakan ada sesuatu yang teritnggal, atau justru menempel di dadanya.Ia menutup pintu.Ruag kerja masih seperti tadi; peta terbentang di meja,lilin menyala setengah, bau malam bercampur tinta dan perkamen, tapi ada

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    14

    Ruang kerja Aiden tertutup rapat, peta terbentang di atas meja, lilin menyala terang. Empat kesatria berdiri berhadap-hadapan dengan Aiden, sementara Raymond berdiri sedikit di belakang , diam mengamati.Nigel melangkah maju lebih dulu.“Tuan, kami datang untuk membicarakan Eleanor,” kata Nigel mantap.“Katakan,” kata Aiden singkat.“Ravenford harus menyerang Eleanor.”Garry menunduk sebentar sebelum angkat suara,“Kita serang selagi mereka lengah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”Aiden memandang peta , lalu mengangkat kepala,“Apa alasan sebenarnya kalian ingin perang?”Nigel menarik nafas,“Kami tahu Tuan telah banyak berkorban demi Ravenford.”“Jelaskan.”“Pernikahan Tuan,” lanjut Nigel.“Itu bukan keputusan yang lahir dari keinginan pribadi.”Aiden terdiam, tidak membantah.Rowan berkata pelan, “Menikahi putri Baron Eleanor, itu adalah bentuk kompromi politik yang memaksa.”Garry menambahkan lirih,”Dan Tuan, menahan ketidaksukaan pada putri Baron demi kestabilan wilay

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Aiden masuk. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Hazel duduk di dekat jendela dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Di balut cahaya pagi, tampak kecil dan rapuh di kursi besar itu.“Kau seharusnya masih beristirahat,” katanya.“Tuan.” Hazel hendak bangkit memberi salam, namun tubuhnya terhuyung begitu dia berdiri. Aiden bergegas, tangannya hampir menyentuh bahu Hazel, namun dia menahannya. Gadis itu bertopang pada sandaran kursi dengan tangan gemetar.“Aku masuk karena pintunya terbuka,” katanya pelan. “Kau tidak perlu memberi salam. Aku tidak butuh itu,” ucapnya dingin.“Terimakasih atas kebijaksanaan Tuan. Tubuh ini sering tak menuruti keinginan saya,” jawab Hazel lemah.“Duduklah,”perintahnya,“Kemarin. Kau tampak lebih baik. Wajahmu bahkan memerah. Apa kau makan dengan benar, di mana pelayanmu?”“Astaga. Ternyata, Tuan sangat perhatian. Saya merasa tersanjung.” Hazel menyuguhkan senyum lembut.“Aku hanya-, Aku tak ingin rengekanmu terdengar sampai Eleanor,” sahut Aiden c

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    4

    Gadis itu merentangkan tangan. Rambut peraknya jatuh bergelombang ringan mengikuti hembusan angin pagi, berkilau samar saat di sentuh cahaya matari. Wajahnya tampak tenang, dihiasi sepasang mata bundar berwarna biru jernih, seperti pantulan langit pagi yang bersih dan damai.Usianya menginjak 18 t

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    3

    Cahaya sore menembus jendela tinggi ruang kerja itu, jatuh lembut di atas meja kayu mahogani yang dipenuhi dokumen. Marquess Aiden duduk tegak di kursinya, alisnya sedikit berkerut saat matanya menelusuri baris demi baris laporan tanah perbatasan. Ujung jarinya menahan kertas agar tetap rapi sement

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    2

    5 bulan sebelumnya,BrakkPintu terhempas keras. Engsel pintu yang mengkilap karena sering diurapi minyak bahkan hampir terlepas. Baron Jonas yang tengah sibuk melihat dokumen mengerutkan kening, hampir memuntahkan sumpah serapah namun urang dia lakukan saat mendapati Shilla putri kesayangannya ha

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    1

    Ruang makan itu dipenuhi cahaya pagi. Meja panjang berlapis taplak putih, peralatan makan tersusun rapi. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara.Di ujung meja Shilla mengaduk buburnya kesal, terlihat beberapa kali mengetuk mangkuk porselen keras.“Hentikan Shilla, kau bisa menghancurkan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status