共有

5

作者: Re_
last update 公開日: 2026-01-14 18:45:30

Bab5

“Hazel. Aku tidak mengizinkan. Marquess Aiden akan menyakitimu.” Tuan Hadwin menolak keras.

“Aku sudah memutuskan,” jawab Hazel.

“Jangan keras kepala, Aku akan memikul semuanya.”

“Aku tahu!” seru Hazel, suaranya pecah..

“Aku tahu Paman akan mengorbankan semuanya untukku,” katanya pelan. “Aku tahu itu. Tapi aku tidak rela.” Katanya dengan air mata yang jatuh perlahan.

“Aku tidak ingin melihat kalian terluka.”

Hazel memang keras kepala, tapi bukan berarti ia gadis yang tak punya hati.

“Kalian sudah melakukan begitu banyak untukku, dan sekarang ini giliranku ini,” ucapnya lugas sambil menghapus air mata.

Ia memeluk Nyonya Hadwin erat,”Terimakasih karena selalu mencintaiku,” lalu menatap Hadwin,

“Terimakasih karena menjadi ayah, saat ayah kandungku memilih tiada.”

Tuan hadwin meneteskan air mata, menyadari anak perempuan yang ia rawat sejak kecil kini telah tumbuh dewasa, bahkan menolak perlindungannya.

“Jangan menangis, Pak tua.” Jemari mungil Hazel mengusap airmata di wajah Tuan Hadwin dengan lembut.

“Paman harus berbahagia untukku. Benar, kan. Bibi?”

Hazel beralih menatap wajah Nyonya Hadwin yang juga tampak sembab.

“Aku akan menikah dengan seorang kesatria. Aiden Cassian Hawthorne seorang pahlawan yang namanya dielu-elukan di seluruh negeri,” lanjutnya dengan suara ringan.

“Bukankan itu harapan Paman selama ini. Aku tidak lagi berkeliaran tanpa arah. Aku akan hidup bermartabat.”

“Tapi Marques Aiden berbeda, dia-“

“Bengis dan dingin,” potong hazel. “Aku tahu. Tapi aku Hazel. Aku tidak akan kalah.”Hazel mengedipkan sebelah matanya seolah ingin menghibur.

Nyonya Hadwin menghela nafas berat, dadanya terasa sesak, seakan ada batu besar menindih jantungnya. Menyakitkan. Menyesakkan, dan membuatnya kesulitan untuk bernafas.

Meski Hazel bukan darah dagingnya, ia sangat menyayangi gadis itu. Sejak kecil dialah yang mengurus Hazel, memandikannya, menyuapinya, bahkan menemaninya hingga terlelap setiap malam.

“lily, kemasi barang Hazel, kau juga bersiaplah untuk mengikuti Hazel ke Eleanor.”

Lily yang sedari tadi berdiam di sudut, terdiam sejenak, matanya membesar, tangannya yang semula menggenggam kain di dada perlahan turun.

“Saya ... pergi ke mana?’ tanyanya pelan, suaranya jujur bercampur bingung.

Nyonya Hadwin menoleh padanya,

“Kau ikut Hazel ke Eleanor, ia tidak akan berangkat sendirian.”

Lily menoleh cepat ke arah Hazel, ada keterkejutan, tapi ada tekad di wajah belianya. Dia menelan ludah, lalu mengangguk.

“Saya akan ikut, kemanapun Nona Hazel pergi.”

Hazel memandang Lily, pelayan yang selama ini selalu berada di sisinya, untuk sesaat amarah serta beban di dadanya mereda. Setidaknya ia tahu ia tidak benar-benar sendirian.”

***

Kepergian Hazel meninggalkan isak tangis di kediaman Hadwin. Semua orang merasa kehilangan. Ketika kereta kuda itu lenyap dikejauhan, Tuan Hadwin menyeka pelupuk matanya. Manik abu-abunya tampak semakin letih.

“Aku berhutang pada anak itu,” bisiknya lirih. Tangan Nyonya Hadwin meraih tangannya memberi kehangatan dan penghiburan.

Tuan Hadwin mengedarkan pandangan, menelusuri rumah besar dan tanah luas di hadapannya. Sebagai prajurit tanpa pangkat yang tinggi gajinya jelas tak cukup untuk memiliki semua ini. Sampai akhirnya sebuah surat tiba, memintanya untuk merawat seorang anak di Willow Brook.

Rumah yang didatanginya terlihat tak terawat, kotor dan tampak tak berpenghuni. Tidak ada lampu penerangan, barang -barang berserakan disetiap ruang, terlihat bahwa seseorang atau mungkin beberapa orang pergi terburu-buru sambil membawa benda yang tampak berharga.

Sosok anak menekuk kaki di sofa tua yang sudah memudar warnanya dan koyak di beberapa bagian. Menyadari kehadirannya kepala gadis kecil itu mendongak dan menatapnya tanpa rasa takut.

Hal yang membuat hati Hadwin terenyuh adalah saat anak kecil itu berlari tanpa ragu ke arahnya, tangan kecilnya terentang seolah telah lama menantikan kedatangannya. Gadis itu melompat dalam pelukannya dengan tawa gembira.

“Apa kau ayahku?” bisik Hazel sambil memeluknya erat.

Darah Hadwin berdesir, dadanya terasa sesak ketika menatap mata polos yang penuh kerinduan itu.

“Paman memang bukan ayahmu,”jawabnya pelan, “tapi paman berjanji akan menjaga dan melindungimu.” Tangannya mengusap lembut kepala Hazel.

“Ibu pernah bilang, kalau kita kuat, pertolongan pasti datang. Aku percaya itu. Meski tinggal sendiri aku tidak takut. Aku juga tidak menangis Ketika mereka mengatakan hal jahat,” ucapnya bangga.

“Aku hebat kan, Paman? Mata bundar bermanik biru itu menatapnya penuh harap dan binar.

“Lihat, perkataan ibu benar. Sekarang Paman sudah datang menolongku,” lanjutnya ceria.

Entah mengapa, setiap kata yang keluar dari bibir Hazel, yang diucapkan dengan kebanggaan polos menusuk hati Hadwin. Betapa banyak kesedihan dan luka yang dialami gadis kecil ini hingga menjadikannya sosok setegar itu.

“Kau hebat, Nak.”

Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari mulut Hadwin.

Hadwin memilih membawa istrinya tinggal di rumah itu dan merawat Hazel. Sebagaimana janji yang tertulis dalam surat, setiap bulan sejumlah uang besar mereka terima.

Perlahan rumah diperbaiki, tanah dibeli, dan perkebunan besar pun dibangun. Segala kemakmuran yang mereka rasakan kini tak lepas dari Hazel.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    22

    Nigel sedang memeriksa tali kekang kudanya ketika sebuah celukan terdengar.“Wah, Marchiones sampai mengantar keberangkatan Tuan!”Ia mengangkat kepala, mengikuti arah pandangan para prajurit.Seorang gadis berdiri di balkon kediaman dengan gaun biru muda dan selendang yang melingkari lehernya. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin pagi, dari kejauhan gadis itu tampak anggun, bahkan sedikit rapuh.Alis Nigel berkerut.“Marchioness? Apa yang dilakukannya?!”“Marchiones memang cantik, pantas saja Tuan tidak rela meninggalkannya.”Tawa kecil terdengar dari beberapa prajurit. Nigel tidak tertawa, tatapannya justru beralih pada Aiden yang menoleh ke arah balkon dan menyadari setelah beberapa saat Aiden masih belum juga mengalihkan pandangan.Rahang Nigel mengeras.Rumor itu sudah menyebar ke mana-mana. Tuan mereka, yang selama ini tidak pernah tunduk pada kehendak siapa pun, kini dikabarkan bersedia menuruti permintaan seorang wanita. Bahkan, hal itu mulai menjadi bahan candaan di antara

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    21

    Pagi itu cahaya menyusup melalui jendela-jendela tinggi kamar Hazel. Menerobos tirai tipis berwarna pucat dan menerangi ruangan dengan kehangatan yang lembut.Udara pagi terasa sejuk sementara aroma bunga dari vas di atas meja samar-samar memenuhi kamar.Hazel duduk di depan meja rias, sementara Lily menyisir rambut panjangnya dengan hati-hati.Sisir itu bergerak berlahan mengurai setiap kusut, hingga setiap helaian rambur Hazel jatuh lurus dan lembut di punggungnya.“Rambut Nona semakin panjang. Warna rambut asli Nona mulai terlihat di bagian akarnya, apakah perlu menyurati Baron agar mengirimkan pewarna rambut lagi?” bisiknya berhati-hati.Hazel mengamati pantulan dirinya di cermin,“Apa rambut barunya sudah tumbuh banyak?”“Iya, warnanya sudah mulai terlihat jelas.”“Kalau begitu tulislah surat, hati-hati, jangan sampai ada yang mengetahuinya.”“Baik, Nona.”Setelah memastikan rambutnya tidak lagi kusut,Lily mengambil botol kaca kecil dari atas meja. Ia menuangkan sedikit minyak be

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    20

    Sore itu taman kediaman terasa tenang. Cahaya matahari mulai condong ke barat, menyusup diantara dedaunan dan meninggalkan bayangan panjang di atas jalan setapak. Angin berhembus ringan, membawa aroma bunga yang sedang bermekaran.Hazel duduk di bangku batu di dekat hamparan mawar. Ia tampak sehat, sesekali Hazel memetik kelopak bunga sambil berbicara kepada Lily, wajahnya tenang bahkan sedikit ceria.Sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Hazel menoleh, Aiden berjalan mendekat.Hazel segera berdiri, “Tuan.”Aiden berhenti di depannya.‘Lady menikmati sore ini?”Hazel menggangguk. “Ya.”Aiden melirik taman di sekeliling mereka.“Bagus.”Ia kemudian terdiam sebentar,“Aku datang untuk memberitahu sesuatu.”Hazel menatapnya,“Ya?”“Aku akan berangkat besok pagi.”Hazel membeku, hanya sesaat, namun Aiden melihatnya. Wajah hazel yang semula tenang langsung berubah.“Apa?!””Pasukan akan bergerak besok.” Aiden menegaskan.Wajah hazel pucat, bukan berpura-pura, kali ini karen

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    19

    “Sudah dengar belum?” Garry si tukang gosip menepuk bahu Phillip lalu merangkulnya. Ia. Saat ini mereka sedang istirahat setelah makan siang.“Tentang?” tanya Phillip“Tertundanya keberangkatan ke perbatasan.” Ia merendahkan suaranya seolah hendak membagikan rahasia besar“Apa yang kau dengar?” kata Rowan mulai tertarik. “Marchioness sakit dan meminta Tuan menemaninya.”Garry mengatakan dengan wajah serius, meskipun sudut bibirnya tampak menahan senyum. Ia sendiri tidak mengetahui seluruh kejadian sebenarnya, tetapi kabar yang di dengarnya dari pelayan sudah cukup untuk membuatnya membuat cerita sendiri.“Tidak mungkin,” bantah Rowan.“Apanya yang tidak mungkin.”“Tuan menunda keberangkatan karena itu.”“Buktinya?” Garry mengangkat tangan dari bahu Phillip.“Kita masih di sini.”“Apa Marchioness begitu menakutkan sehingga Tuan menurut padanya,” tanya Phillip polos.“Tutup mulutmu Phillip,´ Garry bergerak cepat menutup mulut Phillip sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada yang men

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    18

    Aiden keheranan mendapati Hazel lemas di hujung kursi, Ia duduk bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya tampak begitu pucat, bibirnya bahkan tak lagi berwarna, begitu polos seperti rusa yang membeku di tengah salju. Bahunya merosot turun, nafasnya turun naik, sesekali dia terbatuk karena kesulitan untuk bernafas.Lily pelayannya tampak sibuk memijit pundak dan menggosok punggungnya dengan raut sedih.Seorang pelayan di utus untuk menyampaikan pesan kepada Raymond yang mendampingi Aiden saat memberikan pengarahan di lapangan. Saat diberitahukan tentang keberadaan Hazel di kantornya Aiden bergegas datang.Teko berisi teh hangat masih tampak penuh, cangkir berisi teh pun masih tak tersentuh, Lady mengaku tidak bisa minum karena merasa kesulitan untuk meneguknya.Aiden menatap Raymond yang menggeleng ragu dalam artian ‘ saya tidak tahu.’ Sebelum duduk di kursinya, Cukup membingungkan melihat Lady bersusah payah berangkat untuk menemuinya dengan keadaan yang sangat menghawatirkan itu.

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    17

    Ketika malam makin pekat dan benar-benar sunyi, Hazel turun dari kasurnya dengan sangat perlahan. Gadis itu berjingkat menuju jendela setelah memastikan Lily masih terpejam.“Nona, Mau ke mana?”Suara itu membuat tangannya menggantung di udara, membuatnya berhenti untuk membuka jendela.Hazel meringis, Bulu kuduknya meremang, hawa dingin seakan menusuk leher belakang. Dia ketahuan.“Lily, kau bangun?” dia memasang wajah polos setelah berbalik. Gadis itu; Lily, menatapnya dengan mata melotot, melihatnya tajam dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hazel menciut.“Nona mau kabur?”“Tidak!” jawabnya cepat sambil menyilangkan tangan.“Mau melakukan apa tengah malam begini,” selidiknya mengamati tubuh Hazel yang berbalut blouse lebar dan celana panjang yang dibawanya dari Willowbrook.“Nona tidak khawatir, penjaga akan menemukan Nona seperti ini dan melaporkannya padaTuan Marquess.”Hazel tercenung, situasi memang belum aman, tapi selama dia berhati-hati, dia tidak akan ketahuan. “Lilyy

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    8

    Hazel tersenyum puas memandang wajah dan gaun Shilla yang basah kuyup, air masih menetes di lantai marmer. Setelah menyiramkan air, ia Kembali duduk tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang wajar.Ia mendengar bisikan Shilla pada Marie. Hazel melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    7

    Mereka tiba di Eleanor. Langit mulai gelap, namun keriuhan itu tak terusik. Jalanan dipenuhi lampu hampir di setiap sudut. Menunjukkan wibawa dan gemerlapnya ibu kota .Hazel menjulurkan kepala lewat jendela kereta, mengamati nyonya kaya yang berlalu dengan belanjaan dan bisik-bisik. Gadis berambu

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    6

    Siang itu, Marquess Aiden menunggangi Grave, kuda berwarna kelabu gelap di sepanjang jalur batu yang membelah wilayah timur. Tembok kota sedang diperkuat, bunyi palu dan besi beradu memenuhi udara. Aiden berhenti sejenak, menilai susunan balok dan jarak celah panah dengan tatapan tajam.“Perlebar

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    4

    Gadis itu merentangkan tangan. Rambut peraknya jatuh bergelombang ringan mengikuti hembusan angin pagi, berkilau samar saat di sentuh cahaya matari. Wajahnya tampak tenang, dihiasi sepasang mata bundar berwarna biru jernih, seperti pantulan langit pagi yang bersih dan damai.Usianya menginjak 18 t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status