로그인Mereka tiba di Eleanor. Langit mulai gelap, namun keriuhan itu tak terusik. Jalanan dipenuhi lampu hampir di setiap sudut. Menunjukkan wibawa dan gemerlapnya ibu kota .
Hazel menjulurkan kepala lewat jendela kereta, mengamati nyonya kaya yang berlalu dengan belanjaan dan bisik-bisik. Gadis berambut perak itu mendesah, Eleanor berbau kemewahan dan kekuasaan. “Hati-hati, Nona, itu berbahaya,” tegur Lily. Sebelum berangkat, gendang telinganya hampir penuh oleh pesan Nyonya Hadwin meminta Lily menjaga Hazel dengan sungguh-sungguh. Lily sedikit keberatan dengan permintaan itu, bukan karena enggan tapi karena ia tidak pernah tidak sungguh-sungguh dengan pekerjaannya. “Aku tahu,” balas Hazel sambil menarik kepalanya masuk. Tak lama kemudian kereta berhenti di depan gerbang besi yang menjulang tinggi. Setelah membantu merapikan gaun Hazel yang tampak kusut, Lily menuruni tangga dengan wajah tercengang. Tempat ini dua kali lebih besar daripada kediaman Hadwin. Tampak mencolok dengan cat bangunan yang berwarna hijau kacang polong. Para pelayan saling menatap dan berbisik pelan, bebrapa saling menyikut setelah mengamati mereka. “Hati-hati.” Suara Lily meninggi. “Nona Hazel adalah putri Baron yang berharga. K endalikan mulut kalian,” tegasnya dengan suara lantang. “Kau sangat bersemangat,” ucap Hazel menepuk bahu Lily ringan. Sebenarnya dia sama sekali tidak terganggu. “K-kau- datang.” Dari ujung ruangan suara berat itu berasal. Laki-laki berambut coklat berdiri di sana. Bagian tengah kepalanya mulai menipis. wajahnya terlihat gugup.Kaki yang terbalut celana berbahan beludru tampak bergoyang tanpa sadar. Tepat disebelahnya berdiri gadis cantik. Dagunya terangkat, bahunya tegak, tatapannya pongah, seakan seluruh ruangan harus tunduk pada keberadaannya. “Selamat malam, Baron,” di luar dugaan Hazel membungkuk dengan anggun, kaki kirinya ditarik ke belakang dengan rapi, sementara jemarinya memegang ujung rok dengan lembut. Lily sampai terdiam, mulutnya sampai terbuka sedikit. Pupil Jonas gemetar, kakinya lemas seakan tak sangup menopang tubuhnya sendiri. Ia bahkan harus mencengkeram sandaran kursi dibelakangnya agar tetap bisa berdiri. Mirip. Terlalu mirip. Kecantikan dan keanggunan yang sama. Rambut perak halus sedikit berombak yang terlihat meyilaukan. Dan mata itu, mata bundar berwarna biru jernih yang damai. Seolah dia melihat Diane, istri pertamanya hidup kembali. “Saya Hazel Evelinge, putri-“ “Cukup perkenalannya,” potong Miranda. Dia melangkah anggun mendekati Hazel, matanya menatap lurus, melayangkan tatapan remeh. Melihat hal itu Shilla tersenyum tipis lalu mengekorinya. Hazel membalas tatapan itu, bukan menantang melainkan tanpa ekspresi apapun. “Setidaknya kau memiliki etika dasar,”ujar Miranda dingin. Baguslah, keluarga ini tidak akan terhina karenanya.” Ia berhenti di depan Hazel, lalu menambahkan dengan nada tajam, “Namun perhatikan tatapanmu itu.” “Saya berterimakasih atas kemurahan hati Baroness,” jawabnya tenang. Miranda mengitari Hazel perlahan seakan menilai dari setiap sudut. “Ingat,” ucapnya kemudian, “Kedatanganmu ke sini hanya sebagai pengganti. Jangan sampai mempermalukan nama Baron.” Hazel mengangkat tangan, menggaruk ringan belakang, Gerakan kecil, nyaris malas, seakan ucapan Miranda hanyalah suara angin lewat yang sama sekali tak mengganggunya. Namun itu membuat Miranda bergidik. “Jangan merasa terhormat karena dapat menginjakkan kaki di rumah ini,” ujarnya dengan nada mengeras. “Kau bahkan tak cukup pantas untuk berada di sini.” Jonas menelan ludah, hendak berbicara namun suaranya tercekat di tenggorokan. Hazel menurunkan tangannya, “Aah, jadi aku tidak dibutuhkan di sini,” katanya tenang. ”Kalian ingin aku pergi?” tanyanya sambil melirik Jonas yang terlihat payah. Gadis itu lalu membuang muka. laki-laki itu memang tidak berguna. “Tapi bagaimana ya?” lanjut Hazel santai, seolah baru terfikirkan, ”Aku sudah terlalu Lelah.” Ia menghela nafas kecil. “Haus, juga lapar.” Tatapannya mengelilingi ruangan mewah itu. “Apakah bangsawan kota hidup hanya dari memakan berkah Dewa?” tanyanya polos. “Hingga setetes air pun tak bisa kudapatkan setelah perjalanan sejauh ini?” Wajah Miranda menegang, “Kau-.” Belum selesai dia bicara Jonas sudah memotongnya. “Marie, beri dia segelas air,” perintahnya pada Marie yang baru saja tiba, pelayan itu membungkuk dan setelah menatap Hazel lama, dia melangkah pergi. Di sisi lain Lily melotot. Ia tahu persis, sebelum turun dari kereta, Hazel sudah menghabiskan sebotol air dan dua buah roti. Namun Lily tetap diam dan berdiri patuh di samping Hazel yang sudah dipersilakan duduk, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Segelas air terhidang di depan Hazel. Bukan dalam wadah kristal bening yang digunakan para bangsawan melainkan gelas berbahan tanah liat, kasar, kusam, dengan retakan kecil di bagian bibir. Jonas melirik Miranda dengan perasaan tak nyaman, namun sang nyonya rumah tampak tak keberatan. Wajahnya tetap datar, seolah tak ada yang janggal. Menyeringai, Shilla mengamati dengan puas dari balik punggung ibunya. Dia sengaja memerintahkan Marie menggunakan gelas pelayan yang rusak untuk menodai kehormatan Hazel. Tangan Lily terkepal, tekanan darahnya terasa naik. Nona yang dibesarkan penuh cinta dan kehormatan di kediaman Hadwin mendapat penghinaan seperti ini. Dada Lily panas oleh amarah. Namun yang membuatnya benar-benar bingung adalah Hazel. Gadis itu tampak tenang, tak terlihat kobaran api di kedua bola matanya. Ia justru duduk santai santai menyadarkan kepalanya di sofa. Ia sangat tahu Hazel tidak pernah mentolerir segala bentuk penindasan, gadis itu akan mengamuk bagaikan banteng. Tapi melihat tindakannya saat ini membuat fikiran Lily melayang liar, apa jangan-jangan Hazel sengaja meninggalkan sebagian isi kepalanya di kediaman Hadwin? Jemari Hazel terulur, meraih gelas tanah liat lalu menyeruput isinya sedikit, ia lalu berhenti seolah menimbang rasa, “Hmm..,”gumamnya pelan. “Ternyata begini rasa air dikediaman bangsawan.” Hazel memiringkan kepala, senyum kecil terukir hanya dari satu sudut bibirnya, “Sepahit ini, atau memang udara di ruangan yang membutnya terasa pahit.” Ia menoleh perlahan. “ Benar begitu Nyonya Baroness yang terhormat.” Melihat itu wajah Shilla memerah. “Tidak bermoral! begini cara orang kampung mendidikmu?!” hardik Shilla yang sepersekian detik kemudian berubah menjadi jeritan.Ruang kerja Aiden tertutup rapat, peta terbentang di atas meja, lilin menyala terang. Empat kesatria berdiri berhadap-hadapan dengan Aiden, sementara Raymond berdiri sedikit di belakang , diam mengamati.Nigel melangkah maju lebih dulu.“Tuan, kami datang untuk membicarakan Eleanor,” kata Nigel mantap.“Katakan,” kata Aiden singkat.“Ravenford harus menyerang Eleanor.”Garry menunduk sebentar sebelum angkat suara,“Kita serang selagi mereka lengah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”Aiden memandang peta , lalu mengangkat kepala,“Apa alasan sebenarnya kalian ingin perang?”Nigel menarik nafas,“Kami tahu Tuan telah banyak berkorban demi Ravenford.”“Jelaskan.”“Pernikahan Tuan,” lanjut Nigel.“Itu bukan keputusan yang lahir dari keinginan pribadi.”Aiden terdiam, tidak membantah.Rowan berkata pelan, “Menikahi putri Baron Eleanor, itu adalah bentuk kompromi politik yang memaksa.”Garry menambahkan lirih,”Dan Tuan, menahan ketidaksukaan pada putri Baron demi kestabilan wilay
Aiden masuk. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Hazel duduk di dekat jendela dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Di balut cahaya pagi, tampak kecil dan rapuh di kursi besar itu.“Kau seharusnya masih beristirahat,” katanya.“Tuan.” Hazel hendak bangkit memberi salam, namun tubuhnya terhuyung begitu dia berdiri. Aiden bergegas, tangannya hampir menyentuh bahu Hazel, namun dia menahannya. Gadis itu bertopang pada sandaran kursi dengan tangan gemetar.“Aku masuk karena pintunya terbuka,” katanya pelan. “Kau tidak perlu memberi salam. Aku tidak butuh itu,” ucapnya dingin.“Terimakasih atas kebijaksanaan Tuan. Tubuh ini sering tak menuruti keinginan saya,” jawab Hazel lemah.“Duduklah,”perintahnya,“Kemarin. Kau tampak lebih baik. Wajahmu bahkan memerah. Apa kau makan dengan benar, di mana pelayanmu?”“Astaga. Ternyata, Tuan sangat perhatian. Saya merasa tersanjung.” Hazel menyuguhkan senyum lembut.“Aku hanya-, Aku tak ingin rengekanmu terdengar sampai Eleanor,” sahut Aiden c
Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena
“Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,
Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya
Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-







