เข้าสู่ระบบMalam semakin larut ketika mobil sedan hitam yang dikendarai Arnold berhenti perlahan di depan sebuah rumah megah bergaya klasik di Kawasan Gading Serpong. Lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu utama rumah Keluarga Livia.
Di dalam mobil, Marsha tersenyum sambil menoleh ke Arnold. “Terima kasih untuk malam ini, Nold. Aku benar-benar senang.” Arnold membalas senyum itu dengan hangat. “Aku juga, Sha. Rasanya seperti mimpi bisa menghabiskan waktu sama kamu.” Marsha mengangguk pelan, kemudian membuka pintu mobil. Namun sebelum dia keluar, Arnold berkata, “Aku boleh antar kamu sampai pintu?” Marsha tertawa pelan. “He-he-he. Boleh banget. Tapi hati-hati ya, jangan sampai Mami suruh kamu masuk sekalian.” Arnold ikut tertawa. “Ha-ha-ha. Kalau disuruh masuk, ya aku masuk dong. Siapa tahu dapat teh hangat.” Mereka lalu berjalan berdampingan menuju pintu rumah. Belum sempat Marsha mengetuk, pintu itu terbuka sendiri. Nyonya Bertha berdiri di sana dengan senyum lebar. “Wah, kalian datang juga. Mami kira bakal lebih malam,” ucap sang ibu ceria. “Mami belum tidur?” tanya Marsha, sedikit heran. “Iya, kami nunggu kamu pulang. Papi juga lagi di ruang tamu,” jawab Nyonya Bertha. Kemudian sang ibu menoleh pada Arnold. “Masuk dulu yuk, Arnold. Jangan di luar aja.” Arnold sedikit kaget tapi langsung tersenyum sopan. “Boleh, Tante. Terima kasih.” Mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang hangat dan wangi aroma kayu manis. Di ruang tamu yang dihiasi lukisan-lukisan klasik dan lampu gantung elegan, seorang pria paruh baya duduk sambil membaca koran. Tuan Eben, ayah Marsha, menoleh dan berdiri begitu melihat Arnold datang. “Wah, ini pasti Arnold Zafazel,” serunya dengan suara berat dan wibawa khas seorang kepala keluarga. Arnold segera menghampiri dan menjabat tangan Tuan Eben dengan sopan. “Selamat malam, Om. Saya Arnold. Senang bisa bertemu langsung dengan Anda.” “Selamat malam. Silakan duduk,” jawab Tuan Eben sambil memberi isyarat ke sofa. Arnold duduk di sebelah Marsha. Nyonya Bertha menyusul duduk di sisi lain, dengan senyum penuh arti. “Jadi … kalian jalan-jalan kemana saja tadi?” tanya Tuan Eben, membuka percakapan. “Kami ke Mall Pondok Indah, Om,” jawab Arnold dengan tenang. “Makan es krim, nonton, dan makan malam.” “Wah, lengkap sekali. Marsha kelihatan senang,” ujar Tuan Eben sambil melirik anaknya. Marsha tersipu, “Senang banget, Pi. Udah lama banget aku nggak bisa santai kayak tadi.” Nyonya Bertha menyambung, “Arnold ini memang perhatian, ya. Terlihat sekali kalau kamu nyaman sama dia, Sha.” Arnold menoleh ke Marsha dan tersenyum. “Saya hanya ingin bikin dia bahagia malam ini.” Ucapan itu membuat Marsha tak bisa menahan senyumnya lebih lama. Pipinya merona, tapi dia tetap duduk anggun. Tuan Eben mengangguk pelan. “Keluarga Zafazel, sudah Saya kenal sejak lama. Ayahmu, Tuan Ardi, pebisnis yang sangat saya hormati. Saya senang bisa mengenal anaknya secara langsung.” “Terima kasih, Om. Papi juga sering bercerita soal Om Eben dan bisnis interiornya. Katanya gaya klasik dan modernnya unik,” jawab Arnold. “Wah, itu pujian besar,” sahut Tuan Eben dengan tersenyum tipis. “Saya senang dengar kamu sudah jadi CEO muda. AZ Corp itu perusahaan besar. Bagaimana rasanya memimpin di usia muda?” Arnold menatap pria itu dengan tenang. “Penuh tantangan, Om. Tapi saya bersyukur punya tim yang solid, dan orang tua yang mendukung.” Nyonya Bertha menyahut, “Kalau Tante perhatikan, kamu itu punya kharisma, Nold. Tapi tetap rendah hati.” Arnold tertawa pelan. “He-he-he. Wah, Tante, saya jadi malu dipuji terus.” Tuan Eben lalu menatap keduanya, lalu berkata, “Om tahu awalnya ini semua dari ide dua ibu kalian yang sahabatan sejak lama. Tapi kami tidak ingin memaksakan apapun pada anak-anak kami.” Arnold mengangguk. “Saya mengerti, Om. Tapi sejujurnya, saya senang bisa bertemu dengan Marsha lagi. Saya ingin mengenal dia lebih dalam, bukan karena perjodohan, tapi karena saya memang tertarik pada pribadinya.” Marsha menoleh pelan ke arah Arnold, tampak sedikit terkejut dan tersentuh oleh kata-kata itu. Tuan Eben dan Nyonya Bertha saling bertukar pandang, lalu tersenyum. “Kami senang mendengarnya,” ucap Nyonya Bertha lembut. “Yang penting kalian berdua bahagia, dan hubungan kalian dibangun atas dasar saling menghargai.” “Betul,” sambung Tuan Eben. “Jangan terburu-buru. Nikmati saja prosesnya.” Arnold menoleh pada Marsha, lalu menatap kembali kepada kedua orang tuanya. “Terima kasih, Om, Tante. Saya janji akan menjaga hubungan ini dengan serius.” “Bagus,” ucap Tuan Eben sambil mengangguk. Beberapa saat kemudian, Nyonya Bertha berdiri. “Tante ambilkan teh, ya. Arnold suka teh apa?” “Teh melati, Tante, kalau ada.” Marsha ikut berdiri. “Biar aku bantu, Mi.” Keduanya pun menuju dapur, meninggalkan Arnold dan Tuan Eben berdua di ruang tamu. “Arnold,” ucap Tuan Eben dengan nada lebih serius. “Om tahu kamu lelaki cerdas dan punya masa depan cerah. Tapi Om cuma mau bilang satu hal.” Arnold menatapnya dengan penuh perhatian. “Kalau suatu hari hubungan kamu dan Marsha makin dalam. Om harap kamu bisa tetap membuatnya tersenyum seperti malam ini. Anak perempuan Om itu berhati lembut, tapi dia juga akan menjadi keras kepala kalau merasa tersakiti.” Arnold mengangguk pelan. “Saya janji akan menjaga Marsha dan senyumannya, Om.” Tuan Eben tersenyum dan menepuk bahu Arnold. Beberapa menit kemudian, Marsha dan ibunya kembali dengan nampan berisi cangkir teh dan beberapa kue jajanan khas Indonesia. Obrolan pun berlanjut dengan lebih santai, tentang hobi, cerita waktu kecil, bahkan sampai nostalgia kenangan Marsha dan Arnold saat di TK dulu. Tawa sesekali terdengar, mencairkan suasana malam yang semula canggung. Sekitar pukul sepuluh malam, Arnold pun pamit pulang. “Terima kasih sudah menerima saya malam ini, Om, Tante,” ucapnya sopan sambil berdiri. “Terima kasih juga sudah ajak Marsha jalan-jalan,” sahut Nyonya Bertha. Tuan Eben menjabat tangan Arnold. “Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah.” Arnold tersenyum dan mengangguk. Marsha mengantar sampai ke pintu. Sebelum masuk mobil, Arnold menoleh. “Malam ini sempurna, Sha.” Marsha tersenyum manis “Iya, Nold. Hati-hati ya, dan makasih banyak.” Arnold mengusap rambut Marsha lembut sebelum melangkah ke mobilnya. Mobil itu melaju pelan keluar gerbang rumah keluarga Eben, meninggalkan Marsha yang berdiri dengan perasaan hangat dan senyum yang tak bisa hilang dari wajahnya. Di dalam hatinya, satu suara terus berbisik, “Mungkinkah ini awal dari cinta yang sesungguhnya?” Malam itu, Kota Jakarta menyisakan kesunyian yang memeluk hangat, seakan tahu hati seseorang sedang penuh oleh rasa yang sulit dijelaskan. Di dalam mobil sedan hitam yang melaju pelan menyusuri jalan-jalan Kota, Arnold Zafazel menyandarkan punggungnya ke jok sambil tersenyum kecil. Lampu-lampu jalan menyala berderet seperti bintang di bumi. Radio di dashboard-nya semula dalam keadaan mati. Namun begitu tangan Arnold menggapai layar sentuh di tengah dashboard, dia menyentuh playlist favoritnya yaitu, Late Night Love Songs. Alunan suara lembut dari penyanyi pria mengalun pelan, mengisi ruang mobil: “You are the reason, the only reason, I keep breathing.” Arnold tertawa pelan sambil menyentuh setir. “He-he-he. Ya ampun, lagu ini pas banget.” Tangannya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu, sementara pikirannya masih melayang ke momen tadi, saat Marsha berdiri di depan pintu rumahnya, mengucapkan terima kasih, dan tersenyum dengan tatapan yang tidak bisa Arnold lupakan. “Marsha Livia,” gumam Arnold. “Kamu tuh, bener-bener di luar ekspektasi.” Mobilnya melaju di jalan Gatot Subroto yang mulai lengang. Dia membuka kaca sedikit, membiarkan angin malam masuk, mencampur aroma jalanan dengan sisa-sisa wangi parfum Marsha yang masih terasa samar di bajunya. Arnold kembali berbicara pada dirinya sendiri. “Tadi dia manis banget pas bawain teh buat aku. Dan ngobrol sama Om Eben juga nggak seseram yang aku kira.” Arnold terkekeh pelan. “He-he-he.” “Baby, I think I’m falling for you.” Lagu dari Colbie Caillat mulai mengisi mobil.Kembali ke Jakarta, kehangatan yang tak tergantikan.Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela rumah keluarga Arnold. Setelah perjalanan panjang dari London dan Irlandia, mereka akhirnya kembali ke rumah yang nyaman dan penuh kenangan.Arnold duduk di ruang makan sambil menyeruput kopi. “Akhirnya ... kopi tubruk juga,” ujarnya lega.Marsha yang baru saja selesai memakaikan baju untuk Edriel, datang sambil tertawa. “Sudah kangen rasa rumah ya?”Arnold mengangguk. “Liburan memang seru, tapi rumah tetap tempat paling damai.”Adrian berlari turun dari lantai dua sambil membawa mainan leprechaun dari Irlandia. “Papi! Aku taruh boneka ini di rak, ya? Supaya bisa jaga rumah!”“Tentu,” jawab Arnold. “Leprechaun penjaga rumah! Tapi jangan taruh di kamar mandi, ya.”Adrian tertawa geli. “Nggak kok! Dia takut air, katanya!”Hari-hari berikutnya mereka kembali ke rutinitas. Arnold kembali bekerja sebagai arsitek di firma miliknya, sementara Marsha fokus mengurus rumah dan mengembangkan us
Liburan keluarga ke London.Pesawat mendarat mulus di Bandara Heathrow pada pagi hari yang cerah. Setelah menyelesaikan proses imigrasi, Arnold mendorong trolley koper besar, sementara Marsha menggendong Edriel yang tertidur di gendongan bayi. Adrian berjalan di sampingnya sambil menggenggam boneka Paddington Bear yang baru saja dibelikan di toko bandara."Welcome to London, everyone," ucap Arnold sambil menatap langit biru dari balik kaca bandara. "Siap berpetualang, Kak Adrian?""Siap, Papi!" sahut Adrian antusias. "Kita mau lihat istana ya? Sama taman yang gede banget?"Marsha tersenyum. “Kita nginep di apartemen deket Hyde Park. Besok kita bisa piknik di sana.”Adrian melompat kecil. “Yay! Aku mau ajak Edriel jalan-jalan juga!”Arnold tertawa pelan. “Kalau Edriel bisa jalan, ya.”“Edriel sudah belajar kok,” gumam Marsha sambil mencium pipi bayi mungil mereka yang masih lelap.Apartemen dua kamar dengan interior bergaya kontemporer itu terasa nyaman dan homey. Dari jendela balko
Jakarta, Maret. Dini hari di sebuah rumah sakit.Langit Jakarta masih gelap ketika Arnold membuka pintu kamar rawat VIP dengan tergesa. Marsha sudah lebih dulu dibawa oleh perawat ke ruang bersalin setelah air ketubannya pecah pukul tiga pagi. Arnold masih mengenakan hoodie, rambutnya berantakan, namun wajahnya dipenuhi kekhawatiran.“Pak Arnold?” panggil suster muda mendekatinya. “Ibu Marsha sedang dalam tahap pembukaan lima. Tapi kondisi stabil. Silakan tunggu di lounge.”Arnold mengangguk cepat. “Saya boleh masuk sebentar?”Suster itu tersenyum ramah. “Silakan, tapi hanya beberapa menit ya.”Begitu masuk, Arnold langsung melihat Marsha terbaring di atas ranjang bersalin, mengenakan baju rumah sakit, wajahnya pucat tapi matanya kuat.“Arnold ....” Suaranya lemah, tapi tetap mencoba tersenyum.Arnold menggenggam tangannya erat. “Aku di sini. Kamu kuat, Sayang. Sebentar lagi kita ketemu si kecil.”Marsha menarik napas dalam. “Sakitnya mulai terasa tapi aku ingat rasa bahagia pas A
Dua tahun kemudian.Sinar matahari menembus tirai tipis suite hotel di pusat Madrid. Adrian, bocah kecil berumur dua tahun, berlari-lari kecil di atas karpet sambil membawa boneka lembut berbentuk banteng khas Spanyol. Marsha duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun musim panas berwarna krem, sedang menyisir rambutnya.“Arnold, kamu lihat nggak sepatu kecil Adrian? Yang biru tua itu?” serunya lembut sambil melirik sekeliling kamar.Dari balkon, Arnold menjawab, “Yang dia pakai buat lari-larian di bandara? Coba cek di koper kecil, Sayang.”“Ada! Ternyata dia sembunyiin di bawah selimut,” ucap Marsha sambil tertawa geli.Arnold masuk kembali ke kamar, menggendong Adrian. “Anak ini memang jago ngumpetin barang.”Adrian tertawa pelan, menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya.“Jadi, agenda hari ini apa, Mrs. Zafazel?” tanya Arnold, duduk di samping istrinya.Marsha menjawab sambil membetulkan topi kecil Adrian, “Kita ke Parque del Retiro dulu. Aku pengin ngajak Adrian naik perahu di danau.
Rumah Arnold dan Marsha, di suatu siang.Pintu depan rumah dua lantai di kawasan Menteng terbuka perlahan. Arnold berdiri di ruang tamu mengenakan kaus polos dan celana santai, sambil menggendong Adrian yang tidur lelap di pelukannya.“Tadi aku dapet kabar Zera dan Mary mau main ke sini,” ujar Marsha sambil meletakkan botol susu yang baru saja dia siapkan.Arnold tersenyum. “Ah, mereka pasti nggak sabar pengin lihat Adrian.”Belum selesai mereka bicara, bel pintu berbunyi. Arnold meletakkan Adrian di box bayi di sudut ruang tamu dan membuka pintu. Tampak Zera dan Mary berdiri bersama suami mereka, Farez dan Joseph, masing-masing membawa tas dan kotak kado warna-warni.“Spada!” sapa Zera ceria.“Guys, kalian datangnya pas banget!” jawab Arnold sambil mempersilakan mereka masuk.Marsha muncul dari dapur, wajahnya berseri-seri. “Hai semuanya! Terima kasih sudah datang.”Mary menyunggingkan senyum hangat sambil menggendong tas besar. “Kami bawa banyak hadiah untuk Adrian, lho.”Farez i
Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”
Arnold memutar tubuhnya menghadap Marsha. “Itu aku?”Marsha hanya mengangguk kecil, pipinya masih bersemu merah.Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap, dan dalam diam itu, ada sesuatu yang tak terucap tapi sangat terasa, yaitu benih cinta yang perlahan tumbuh, disirami kenangan masa lal
Pertemuan yang telah lama dinanti,Hari itu akhirnya tiba. Sebuah restoran mewah di dalam Mall Central Park, Jakarta Barat, menjadi saksi pertemuan dua keluarga yang telah lama bersahabat, terutama oleh para ibu yang bersahabat sejak di bangku perkuliahan. Yaitu Keluarga Arnold dan Keluarga Marsha.
Senin sore itu, langit di Kawasan Gading Serpong mulai meredup, menyisakan rona jingga yang lembut menyinari pepohonan di halaman rumah mewah milik Keluarga Eben. Sebuah mobil SUV putih berhenti perlahan di depan gerbang rumah, dan dari dalamnya keluar seorang wanita muda dengan penampilan elegan n
Setelah perawatan selesai, kedua ibu itu pun keluar dari salon dengan langkah ringan dan hati penuh antusiasme.“Ber, minggu depan aku ada jadwal arisan di rumah. Bagaimana kalau malam harinya sekalian kita ajak mereka makan malam?” tanya Nyonya Dina saat keduanya sedang menunggu sopir masing-masin







