ログインDi penghujung tahun kelima berada di Gunung Tulang Naga, Xuan Li akhirnya akan segera meninggalkannya. Ia dan gurunya berjalan menuruni gunung.
Sekilas pandang, langkah mereka seolah lamban, tetapi hanya dalam sekejap, jarak ratusan meter sudah mereka lewati. Setelah tiba di kaki gunung, Tabib Hantu Wu menghentikan langkahnya, menatap Xuan Li sejenak, lalu ia berkata, “Ingatlah, dunia luar penuh tipu daya. Gunakan semua ilmu yang kuajarkan seperlunya saja. Jangan terlalu percaya pada apa yang terlihat oleh mata, karena kebenaran seringkali tersembunyi jauh di balik penampilan.” Xuan Li menundukkan kepalanya dalam-dalam lalu menyatukan kedua tangannya sebagai tanda penghormatan. “Aku akan selalu mengingat nasihatmu, Guru.” "Pergilah!" Tanpa menunggu balasan, pria tua itu berbalik dan mulai kembali mendaki gunung. Ia tidak menoleh lagi untuk menyembunyikan segala perasaan berat di hatinya. Di dalam dadanya, ada kesedihan yang mendalam, tetapi ia tidak ingin muridnya melihatnya. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi muridnya itu untuk menjelajahi dunia. Untuk beberapa saat Xuan Li tertegun menatap kepergiannya. Di hatinya, ada kekosongan yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, ia tahu, ia tidak bisa terus melihat ke belakang. Setelah menghabiskan waktu di tempat terpencil ini untuk berlatih, belajar, kini saatnya ia melangkah ke dunia luas. Selangkah lagi ia akan menginjak pelindung yang menjadi penghalang dengan dunia luar, namun sebelum itu ia sekali lagi menatap sekilas ke arah puncak Gunung Tulang Naga. Tekadnya sudah bulat, tidak ada lagi keraguan meskipun terasa berat. Untuk pertama kalinya kakinya kembali menginjak dunia luar setelah sekian lama. Matanya disuguhkan dengan pemandangan yang jauh berbeda dari alam tenang yang selama ini menjadi rumahnya. Xuan Li berdiri di dasar jurang berbatu yang tandus. Ia lalu berjalan menuju ke ujung jurang, tempat terakhir yang ia singgahi sebelum tinggal bersama dengan gurunya. "Tidak ada yang mengira jika aku masih hidup hingga saat ini setelah terjatuh dari ketinggian." Lima tahun lalu, di sinilah ia nyaris menemui ajalnya. Ia mendongak, menatap puncak tebing yang menjulang tinggi. Pandangannya mengedar ke sekeliling dan sebuah batu besar menarik perhatiannya, ia lalu berjalan mendekatinya dan mengeluarkan sebuah pisau. Ujung pisau yang mengandung energi spiritual dari dalam tubuhnya menggores permukaan batu keras dengan mudah. Tak lama kemudian, di batu itu tertulis "Xuan Li", seolah menjadi tanda kubur dirinya yang telah lama "mati" di dunia ini. Ia berharap, siapa pun yang melihatnya akan mengira bahwa Xuan Li sudah tiada. *** Setelah perjalanan yang panjang, Xuan Li akhirnya tiba di sebuah kota yang ramai, yaitu Kota Debu Hitam. Baginya segala sesuatu yang ia lihat terasa baru. Mata orang-orang yang melintas tertuju pada pakaian lusuhnya, beberapa di antaranya terang-terangan merendahkannya. Xuan Li mengabaikannya. Di depannya berdiri sebuah penginapan dua lantai yang juga berfungsi sebagai rumah makan. Ia melangkah masuk tanpa mempedulikan tatapan orang-orang disekelilingnya. Seorang pelayan datang mendekati Xuan Li sambil membawa nampan kosong yang baru selesai ia pakai untuk mengantar pesanan pada pengunjung. “Selamat sore, Tuan. Di sini, kami menerima pembayaran di muka,” katanya, dengan ketus. Xuan Li menatap pelayan itu tanpa ekspresi. Ia tahu pelayan ini merendahkannya karena penampilannya yang kumuh. Namun, ia tidak mempermasalahkan hal itu. Ia mengeluarkan kantong uangnya dan menyerahkan beberapa biji perak pada pelayan tersebut. Pelayan itu tekejut, matanya melebar karena tak menyangka jumlah yang diberikan Xuan Li sangat banyak. “A-Apakah Tuan akan bermalam di sini?” “Aku akan menginap dua atau tiga hari. Sediakan juga makanan untukku,” balas Xuan Li singkat. Pelayan itu segera mengangguk. “Mari, saya antar ke kamar Anda, Tuan.” Pelayan meminta Xuan Li mengikutinya dengan isyarat gerakan tangan. Xuan Li mengangguk lalu berjalan mengikuti pelayan menuju ke lantai dua. Ada beberapa orang yang sedang makan atau sekedar menikmati minuman di meja-meja yang disediakan untuk pengunjung rumah makan. Pandangan Xuan Li tertumbuk pada sosok berpakaian serba hitam yang duduk di pojok ruangan. Orang itu mengenakan penutup wajah, hanya sepasang mata tajam yang terlihat. Xuan Li segera mengalihkan pandangannya dan kembali melangkah. "Ini kamar Anda, Tuan. Apakah Anda ingin makan di dalam atau di luar kamar?" Xuan Li merasa sangat penat. Saat ini ia lebih membutuhkan istirahat ketimbang mengisi perut. "Aku belum lapar. Layani saja tamu yang lain lebih dulu." Pelayan itu membungkuk lalu pergi dari hadapan Xuan Li. Baru beberapa detik memasuki kamar, suara gaduh terdengar di luar. Xuan Li menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Sebuah perkelahian terjadi di luar tetapi ia tidak ingin terlibat. Meskipun berusaha acuh dengan menutup telinganya tetapi jiwa sosialnya yang tinggi tetap memaksanya untuk peduli. "Sial! Sepertinya aku harus melihatnya." Xuan Li keluar dengan tergesa. Di luar kamarnya terlihat pemandangan yang sangat berantakan. Kini pertarungan berpindah ke lantai satu. Saat menuruni tangga, dia berpapasan dengan sekelebat bayangan hitam yang terasa familiar. Gerakannya sangat cepat hingga membuatnya hampir tak terlihat. Xuan Li tidak ingin mengejarnya dan memilih untuk turun meskipun pertarungan telah usai. Terlihat seorang pria tergeletak di lantai dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Di sisi yang berbeda terdapat beberapa korban lain dengan nasib yang tidak jauh berbeda. Wajah-wajah ketakutan para pelayan dan pengurus penginapan menatapnya penuh tanda tanya. Di saat yang lainnya pergi menyelamatkan diri, Xuan Li justru datang menghampiri bahaya. Xuan Li menghampiri satu persatu para korban untuk memeriksa denyut nadinya. Dari kelima korban tidak ada satupun yang selamat. Selain terluka oleh senjata, mereka juga mengalami pecah pembuluh darah. "Orang yang membunuh mereka sangat terlatih. Sebenarnya kelima orang ini memiliki kultivasi yang tinggi tetapi mampu dikalahkan dalam sekejap." Xuan Li bergumam lirih. Pengurus penginapan datang mendekatinya setelah merasa keadaan telah aman. "Mereka semua sudah mati." Xuan Li berbicara sambil beranjak saat melihat pengurus penginapan hampir bertanya. Tidak ingin terlibat lebih jauh lagi, Xuan Li memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dengan kekuatan spiritual, tangan kanannya mengibas ke samping untuk menyingkirkan benda-benda sisa pertarungan yang menghalangi jalannya. Sesampainya di kamar, Xuan Li pergi ke ruang kecil tempat untuk mandi atau sekedar mencuci muka. Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan ada hawa kehidupan lain di balik dinding. "Ada nafas lain di kamar ini. Aku harus berhati-hati." Xuan Li menghentikan langkahnya dan bersikap waspada. Seseorang datang ke arahnya dengan gerakan yang hampir tak terlihat. Sebuah pedang dingin telah menempel di lehernya. "Jangan berteriak dan memberitahukan keberadaanku! Biarkan aku tetap di sini sampai keadaan benar-benar aman." Meskipun suaranya dibuat menyerupai seorang pria tetapi Xuan Li tahu jika pemilik tubuh orang yang menyanderanya adalah seorang wanita.Xuan Huayin menarik napas panjang. Ia bangkit, lalu membawa Liang Xue menjauh dari tubuh Xuan Li. "Kita harus kembali ke istana. Kau butuh perawatan." Liang Xue mengangguk lemah. Ia tidak bisa berjalan sendiri, jadi Xuan Huayin menggendongnya. Sebelum pergi, Xuan Huayin menoleh ke arah Xuan Yi yang berdiri diam di kejauhan. "Yi'er." Xuan Yi langsung melangkah maju, membungkuk sopan. "Ya, ayah." "Bawa adikmu kembali ke istana. Panggil tabib terbaik untuk merawatnya." Xuan Huayin menatap tajam. "Jangan sampai ada yang salah. Mengerti?" Xuan Yi menunduk lebih dalam. "Tentu saja, ayah. Aku akan menjaganya seperti menjaga nyawaku sendiri." Xuan Huayin mengangguk, lalu membawa Liang Xue pergi dengan kereta kuda tercepat. Begitu sosok ayahnya menghilang dari pandangan, senyum Xuan Yi langsung runtuh. Ia berbalik, menatap tubuh Xuan Li yang tergeletak dengan ekspresi dingin. "Seperti menjaga nyawaku sendiri?" Ia mendengus pelan. "Konyol." Ia melangkah mendekati tubuh Xuan Li, lalu
"Apa yang sedang kau lakukan?"Pertanyaan Xuan Huayin keluar dengan nada gemetar. Matanya terpaku pada cahaya merah keemasan yang melayang di telapak tangan Xuan Li.Api kecil itu terlihat indah, tetapi aura yang dipancarkannya membuat udara terasa padat.Xuan Li tidak menjawab. Napasnya sudah tidak stabil. Keringat terus mengalir dari dahinya, membasahi wajahnya yang pucat.Ia menutup mata sejenak, lalu membuka lagi dengan tatapan tajam."Jika kau ingin menghentikanku, lakukan saja." Suaranya rendah, serak. "Tapi aku tidak akan berhenti."Tangannya bergerak perlahan, mengarahkan api itu ke arah Liang Xue.Cahaya merah keemasan mulai menyentuh jiwa wanita itu. Seketika, tubuh Liang Xue bergetar hebat.Matanya yang tadinya kosong kini mulai berkedip cepat. Sesuatu sedang terjadi di dalam kesadarannya.Xuan Li mengeluarkan seluruh energi yang tersisa. Darahnya terus keluar dari sudut bibirnya, lalu mengalir ke dagu.Api jiwa bukan sekadar teknik biasa. Ini adalah inti kekuatan transform
“Darah lebih kental dari air,” ucap Xuan Huayin dengan napas berat, mencoba menahan gejolak yang semakin sulit ia kendalikan. “Ayah tahu kesalahan ayah terlalu besar. Tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya. Kita adalah keluarga. Kau dan kakakmu... bisa menentukan posisi putra mahkota secara adil.”Di dalam kalimat itu, tidak ada wibawa seorang kaisar, hanya permohonan dari seseorang yang takut kehilangan segalanya.Di sisi lain, Xuan Yi merasakan dadanya mengencang. Tangannya mengepal tanpa sadar. Kata-kata “adil” terasa seperti ancaman baginya. Ia tahu betul, jika harus bersaing secara terbuka dengan Xuan Li dalam kondisinya sekarang, ia tidak akan punya peluang.Sementara itu, Xuan Li hanya mengeluarkan dengusan pelan. Ia merasa muak.“Aku tidak berminat.”Jawaban singkat itu menghancurkan sisa harapan ayahnya.Bagi Xuan Li, semua yang ditawarkan Xuan Huayin sudah tidak memiliki arti. Kekuasaan? Tahta? Status putra mahkota? Semua hanyalah simbol kosong.Dulu ia pernah mengejarn
Xuan Li melangkah perlahan mendekati Liang Xue. Jarak di antara mereka semakin menipis, tetapi suasana justru terasa makin menekan. Wanita itu masih berdiri tegak, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya terbuka, namun kosong, tanpa kehidupan. “Teknik Ilusi Jiwa, Penjara Alam Bawah Sadar...” gumam Xuan Li lirih, mengingat kembali apa yang telah ia lakukan. Lingkaran cahaya yang sebelumnya menjerat kesadaran Liang Xue masih berdenyut samar di sekeliling tubuhnya. Sulur kristal yang melilitnya juga tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Teknik berlapis yang ia gunakan bukan sekadar menahan tubuh, tetapi juga mengunci jiwa. Xuan Huayin yang berdiri beberapa langkah di belakangnya menatap dengan cemas. Luka-lukanya belum pulih, tetapi kekhawatiran di wajahnya jauh lebih terasa dibanding rasa sakit fisik. “Apakah... dia masih bisa sadar kembali?” tanyanya dengan suaranya serak. Tidak ada nada kekaisaran dalam pertanyaan itu. Yang tersisa hanyalah seorang pria yang dilanda keta
"Xuan Li..." gumam Xuan Huayin, masih belum yakin."Aku adalah Wu Yu, Xuan Li sudah mati," jawab Xuan Li dengan nada dingin yang menusuk. "Dan kau tidak memiliki hak untuk memerintahku, Xuan Huayin."Panggilan tanpa gelar kehormatan tersebut membuat kaisar terkejut. Tidak ada yang berani memanggil namanya secara langsung, kecuali keluarga terdekat atau seseorang yang sudah tidak mengakui otoritasnya.Xuan Li berbalik menghadap ayahnya sepenuhnya. "Seharusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku telah melindungi rakyatmu dari ancaman yang nyaris menghancurkan kerajaan. Namun bukannya bersyukur, kau malah menghalangi ketika aku hendak menghabisi musuh negara ini."Kata-kata tersebut menohok hati Xuan Huayin lebih dalam dari luka fisik apa pun. Dia melihat kebencian dan kekecewaan yang mendalam di mata putranya, perasaan yang selama ini dia khawatirkan akan muncul suatu hari.Kaisar yang pernah ditakuti oleh seluruh benua kini terduduk lemah di hadapan putranya sendiri. Air mata mulai menga
Seruan putus asa Xuan Huayin terdengar samar di tengah gemuruh pertarungan, namun Xuan Li sama sekali tidak menghiraukan. Mata yang heterokromnya terfokus penuh pada Liang Xue yang kini mulai terengah-engah di hadapannya. Energi spiritual yang mengalir dalam tubuh gioknya seolah tidak mengenal batas, terus bergelombang seperti samudra yang tidak pernah surut."Masih belum cukup," gumam Xuan Li dengan suara dingin yang menggetarkan udara di sekelilingnya.Sayap hitam kristal di punggungnya mengembang lebar, memancarkan aura gelap yang menakutkan. Namun yang membuat Liang Xue waspada bukanlah kekuatan fisiknya, melainkan energi spiritual yang mulai mengalir ke arah yang berbeda. Energi tersebut tidak lagi berkonsentrasi untuk serangan langsung, tetapi menyebar dalam pola-pola rumit yang tidak dapat dipahami.Liang Xue merasakan sesuatu yang aneh mulai merasuki pikirannya. Dunia di sekitarnya tampak berubah secara perlahan, warna mulai memudar, suara menjadi teredam, dan realitas tampak
Suara gong berkumandang memecah keheningan malam di Desa Bambu Hijau. Penduduk yang sudah terlelap dalam tidur mereka terpaksa bangun, keluar dari rumah-rumah sederhana mereka dengan wajah bingung dan khawatir."Berkumpul di lapangan desa! Sekarang juga!" Yan Hui berdiri di atas kuda hitamnya, sua
Xuan Li bersiap untuk mengelak, namun kemudian sesuatu yang mengejutkan terjadi.Energi gelap dalam tubuhnya, yang selama ini menyiksa dan mencoba mengendalikan pikirannya, tiba-tiba menjadi tenang. Bisikan-bisikan iblis yang terus mengganggunya menghilang, digantikan oleh perasaan hangat yang aneh
Langkah kaki Xuan Li terasa berat ketika ia bersiap untuk meninggalkan kuil runtuh. Energi gelap dalam tubuhnya terus bergejolak seperti ular berbisa yang menggerogoti meridiannya dari dalam. Ukiran hitam di kulitnya berkilau redup, mengeluarkan aura menakutkan yang membuat reruntuhan di sekitarnya
"Apa yang kau lakukan?" Jian Ling bergumam dengan suara yang melemah. Tubuhnya mulai kaku, tidak bisa bergerak dengan bebas."Aku menutup meridian lima inderamu," Xuan Li menjelaskan sambil menekan titik terakhir di leher Jian Ling. "Sekarang kau tidak bisa menggunakan energi spiritual atau indera







