Share

44.

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-11-02 21:34:34

Pagi itu di kamar mandi utama mansion Menteng yang berlapis marmer mewah, keheningan mendadak pecah oleh jeritan tertahan yang sarat akan kepanikan.

Bagas berdiri mematung di depan kloset porselen putih, kedua matanya membelalak lebar dengan pupil yang bergetar hebat. Rasa kantuk yang semula membebani kelopak matanya lenyap tanpa sisa, tergantikan oleh sensasi dingin menusuk yang merambat cepat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Saat ia hendak buang air kecil dan menunduk ke bawah, pemandanga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Janda Pesugihan!   53.

    Malam-malam di mansion megah kawasan Menteng itu kian berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Hanya berselang beberapa hari sejak keributan di ruang kerja, perut Sinta yang semula rata kini membesar secara tak wajar. Bentuknya membulat kencang dan tegang, menyerupai kehamilan sembilan bulan yang dipaksakan mekar dalam hitungan malam. Namun, yang paling mengerikan adalah perubahan perilakunya. Sinta mulai menunjukkan gelagat ngidam yang melenceng dari akal sehat manusia. Tengah malam buta, ketika seisi rumah terlelap, Bagas sering memergoki janda pirang itu duduk bersila di lantai sudut kamar mandi. Lampu sengaja dimatikan, dan dengan mata mendelik putih tanpa pupil, Sinta mengunyah sejumput tanah pekat yang dibungkus kain kafan kusam—tanah kuburan tua yang ia minta secara histeris lewat para pelayan. Tidak hanya itu, bibir bergincu pucatnya terus mengunyah kelopak bunga melati dan kantil mentah, membiarkan sari bunga beraroma kuburan itu menetes di dagunya ber

  • Janda Pesugihan!   52.

    Ruang kerja pribadi di lantai dua mansion Menteng itu terkunci rapat dari dalam. Dari balik pintu ganda berukir jati pualam, riak pertikaian antara Sinta dan ketiga asisten rumah tangga di lantai bawah perlahan meredam, tergantikan oleh sunyi yang janggal. Sari meletakkan map tebal berkas pelabuhan di atas meja kaca mahoni dengan gerakan teramat hati-hati. Jemarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia berdiri terpaku di seberang meja, menatap Bagas yang tengah melepaskan kancing kerah kemeja linennya dengan helaan napas letih. Di ruangan yang luas dan temaram ini, tatapan mata Sari yang polos tampak berkilau cemas. "Mas Bagas kelihatan capek banget..." bisik Sari lirih, suaranya terdengar tulus tanpa kepalsuan riasan maupun intrik birahi. "Biar Sari ambilkan air putih hangat ke dapur, ya?" Bagas mendongak, menatap gadis masa lalunya itu. Di tengah pusaran orang-orang yang mendekatinya demi tumpukan uang seratus ribuan, mobil dinas, atau kemewahan ranjang,

  • Janda Pesugihan!   51.

    Suasana di dalam mansion megah kawasan Menteng itu mendadak berubah menjadi arena perang dingin yang pekat. Sejak tiga orang mantan kandidat sekretaris diboyong masuk untuk menempati paviliun belakang sebagai asisten rumah tangga pribadi dengan gaji setara staf eksekutif, ketenangan istana pualam Bagas seketika menguap. Sinta, yang merasa posisinya paling tinggi karena sudah lebih dulu menempati kamar tamu lantai dua dan tengah mengandung "darah daging" Bagas, melangkah anggun menuruni tangga pualam. Gaun tidurnya terbuat dari sutra merah menyala dengan belahan dada rendah yang sengaja dibiarkan terhampar bebas. Tangannya tak henti-hentinya mengelus perut ratanya yang mulai memancarkan denyut gaib sedingin es, bertindak seolah-olah ia adalah nyonya besar mutlak pemilik tahta. "Kalian bertiga, dengar ya!" seru Sinta dengan suara melengking tajam, berdiri pongah di depan tiga wanita yang baru saja menyelesaikan pembersihan ruang tengah. "Jangan mentang-mentang Mas

  • Janda Pesugihan!   50.

    "Singkirkan tanganmu dari bajuku, Sinta," ucap Bagas dingin, menepis pelan jemari janda pirang itu dari kerah jasnya. Sinta tersentak mundur, mengerjapkan matanya menatap Bagas yang mendadak menjaga jarak. Namun, rasa mual kembali menghentak ulu hatinya. Ia membekap mulutnya sendiri seraya bertumpu pada tepi meja kerja, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. "Mas... beneran, ini beda," bisik Sinta dengan nada tercekat, matanya menatap perutnya sendiri dengan rasa ngeri yang mulai merayap di balik rasa bangganya. "Rasanya... bukan cuma mual masuk angin biasa. Kayak ada sesuatu yang berdenyut kencang di dalam sini... dingin banget, Mas. Mas Bagas ngerasa juga, kan?" Bagas tidak menjawab, namun kedua matanya tertuju lurus pada perut rata wanita di hadapannya. Dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan aura tak wajar—hawa dingin menusuk yang sangat ia kenali dari cincin akik hitam di jarinya. Benih Raja Gagak itu benar-benar telah hidup, berakar di dala

  • Janda Pesugihan!   49.

    "Mas Bagas! Kok malah melamun sih?!" sentak Sari seraya mengentakkan tumitnya ke lantai karpet beludru, kedua tangannya terlipat di bawah dada hingga aset kembar montoknya terangkat makin padat menantang. Bagas tersentak dari lamunan masa lalunya. Cepat-cepat dia menurunkan tangan dari tepi meja jati, menekan gejolak aneh di dadanya sekaligus meredam hawa panas cincin akik hitam yang masih menyengat kulit. "Duduk dulu, Sari," ucap Bagas berusaha tetap tenang, suaranya dibuat seberat dan sewibawa mungkin layaknya pimpinan perusahaan besar. Sari melangkah ragu, lalu duduk perlahan di kursi kulit seberang meja direktur sambil meremas map lamaran di pangkuannya. Matanya yang teduh masih menatap Bagas dengan rasa takjub campur haru. "Mas Bagas beneran Direktur Utama di sini?" bisik Sari pelan, ada getaran halus di bibirnya. "Waktu lihat nama PT Gagak Ekspedisi di koran, aku nggak nyangka kalau pemiliknya itu Mas Bagas... teman kecilku dulu." "Dunia berputar cepat, Sar," balas Bagas si

  • Janda Pesugihan!   48.

    "Akhirnya... joniku kembali!" Pagi di hari keempat terbit dengan seberkas cahaya keemasan yang menembus kaca patri megah mansion Menteng. Di kamar mandi utama berlapis marmer pualam, Bagas berdiri di depan cermin wastafel besar dengan dada bergemuruh kencang. Perlahan, tangannya yang dingin meraba bagian bawah perutnya. Napas Bagas seketika tercekat lega. Daging itu kembali. Sensasi kebas dan hampa yang menyiksa selama tiga hari penuh telah lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh kejantanan utuh yang berdenyut kuat dengan hawa maskulin yang jauh lebih pekat dan kokoh dari sebelumnya. Cincin akik hitam di jarinya berkilat redup, seakan mengonfirmasi bahwa masa jeda gaib telah usai dan kekuatannya telah pulih sempurna. Bagas tersenyum miring menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan setelan jas bespoke arang gelap yang disetrika licin, menyembunyikan masa lalunya yang kelam sebagai mantan sopir ojol berpenghasilan pas-pasan. Namun, status barunya sebagai Direktur Utama PT Gagak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status