Home / All / TURUN RANJANG / TURUN RANJANG 5

Share

TURUN RANJANG 5

Author: Lysta
last update publish date: 2026-04-09 23:09:42

Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Tatapan itu seolah menusuk sampai ke jantungnya.

"deg deg deg!"

Sekali lagi, Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Netra cantik itu tak hanya menusuk tapi membuat tubuhnya bergetar. Hebatnya, meskipun jantungnya tidak baik-baik saja. Sesuatu luar biasa yang sulit dimengerti Kenneth.

Perasaan aneh mengusik hatinya, ketertarikan yang tiba-tiba saja mengusiknya. Perasaan yang tidak seharusnya, mengingat Valery gadis yang dicintai saudaranya dan poisisnya saat ini hanyalah suami, pengganti.

Kenneth tahu, Valery sangat mencintai Samuel. Sepanjang berada di rumah duka, dia memperhatikan sikap Valery yang terlihat sangat kehilangan.

Valery bahkan melupakannya hingga Samuel dikebumikan. Bahkan tidak menghampirinya saat Diana mengusirnya. Jangankan membelanya, menoleh pun tidak.

"Apa kau sudah selesai?" sebuah tanya terlontar manis dari mulutnya membangunkan lamuannya. Tanpa mengubah posisinya, terkesan santai.

"deg!"

Kenneth langsung salah tingkah karena merasa tercyduk sedang memperhatikan Valery yang tertidur. Kenneth dengan cepat berdiri, rasa malu yang luar biasa membuatnya kebingungan untuk sekedar berasa basi menanggapi pertanyaannya. Ditambah lagi Valery malah menatapnya seolah mengintimidasinya..

"Jangan salah faham! a-aku tidak bermaksud..." jawabnya dengan canggung.

Kenneth yang biasa berdiri tegak, memperlihatkan wajah serius dan angkuhnya membuat karyawan-karyawannya menegang karena takut. Kini dibuat kikuk hanya oleh gadis asing di depannya.

"Maafkan aku yang ketiduran hingga membuatmu bingung," potong Valery.

Kenneth terperangah sambil menatapnya, Valery nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih dan bersih dengan beberapa helai rambut bertengger di wajahnya.

Valery terlihat cantik alami meskipun rambutnya berantakan. Inerbeauty-nya seolah memancar membuat Kenneth mengerjapkan matanya beberapa kali.

Kenneth memalingkan wajahnya berusaha menghindar dari saling bertatapan dengan netra cantiknya. Tapi, Kenneth merasa lega. Ternyata Valery tidak menyadarinya alasannya bersikap canggung.

Valery menaruh 2 guling di tengah-tengah kasur. Kemudian menepuk-nepuk bagian kasur sebelah kirinya, guling itu dijadikan pembatas.

"Tidur saja di sini!" perintahnya tanpa ragu.

Kenneth tidak bisa memungkiri kekagetannya. Sesuatu yang mustahil dia lakukan, tidur dengan orang lain. Jangankan dengan orang asing bersama ibunya pun sejak tragedi itu Kenneth menolaknya.

Saat usianya 9 tahun, Kenneth diculik. Tak hanya siksaan yang melukai tubuhnya. Tapi, juga pelecehan. Meskipun tidak sampai di tahap pelecehan seksual di bagian intimnya.

Pelaku penculik berjumlah tiga orang lelaki dewasa, mereka hanya menakut-nakutinya dengan meraba seluruh tubuhnya membuat Kenneth menggila karena takut. Tak hanya itu saja. Tamparan dan pukulan keras menghantam sekujur tubuhnya.

Sebenarnya pelaku penculikan tidak bermotif meminta tebusan. Tapi, penyerangan yang membuat Kenneth menderita seumur hidup karena traumanya. Seiring waktu berjalan, setelah dewasa Kenneth menyelidikinya. Ternyata ketiga lelaki dewasa itu dibayar Diana, istri sah ayahnya.

Diana tak berhenti mengusiknya dari Kenneth kecil hingga dewasa. Terakhir Diana berulah membuat perusahaannya mengalami kebangkrutan.

Sebenarnya, Kenneth tidak berminat mengambil alih seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga Liam. Tapi, Kenneth ingin menghentikan Diana agar tidak mengganggunya. Jika kekuasaan penuh di tangannya, Diana tidak akan memiliki uang untuk membayar tangan pelaku yang akan mengusiknya.

Kita kembali ke Kenneth yang berjalan cepat memutari ranjang mengambil bantal dan guling. Valery menatapnya bingung.

"Aku tidur di sopa," jawabnya dengan nada dingin sambil melangkah ke sopa menaruh bantal dan gulingnya. Kemudian tidur terlentang dengan berpangku kedua tangan di atas perutnya. Kenneth pun memejamkan matanya meski rasa kantuk tidak memberatkan matanya.

"Padahal aku tidak akan berubah menjadi kucing yang akan menerkam mu, meong meong aaaarrrrrr," ucap Valery sambil memperagakan dengan tangannya menerkam Kenneth. Bahkan dibarengi suara kucing yang sedang birahi.

Valery memperhatikan Kenneth yang mengabaikannya. Lelaki itu tidak menanggapinya. Akhirnya, dia menyerah karena tidak mendapatkan respon.

"Lelaki seperti apa yang membuatmu tidak mau disentuh gadis cantik termasuk aku," gumamnya lagi. Valery pun tidur terlentang, menarik selimutnya dengan kedua mata menatap ke langit-langit kamar.

Saat Valery selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, Kenneth langsung membuka matanya. Tentu saja dia langsung bereaksi. Tuduhan Valery yang menganggapnya penyuka sesama jenis mengusiknya. Ingin sekali membantahnya. Tapi, sulit mengatakan kebenarannya.

Untuk beberapa menit, suasana kamar terlihat sunyi. Hanya bunyi detak jam dinding yang mengusik pendengaran mereka..

"Apa kamu sudah tidur?" terdengar suara Valery mengajaknya berbicara.

Kenneth yang tidak terbiasa dalam satu ruangan bersama orang lain. Apalagi wanita memilih menutup matanya, tidak meresponnya.

Sedangkan Valery, kembali teringat Samuel. Valery memiringkan tubuhnya kemudian meringkuk di bawah selimut. Netranya menatap foto yang terpanjang di dinding. Foto dirinya bersama Samuel.

Hatinya kembali hancur, harapannya hidup bersama Samuel dalam ikatan pernikahan sirna. Semuanya lenyap seperti abu yang tertiup angin. Cintanya dipisahkan oleh takdir.

Seharusnya malam ini dia bersama Samuel memadu kasih dengan pergulatan panas semalaman, penuh hangat dan gairah.

Seharusnya malam ini dia berada dalam pelukan Samuel. Sesekali bercerita mengenai masa depan, bercerita tentang anak-anak kami yang lucu-lucu dan segala hal indah. Tapi, semuanya hanya tinggal bayangan.

Kisahnya berakhir tanpa sempat saling berbicara. Betapa menyakitkan, meskipun sempat terlupakan saat dia terlelap bebetapa menit yang lalu.

Beberapa detik kemudian,

Terdengar segukkan di balik selimut, kemudian suara tangisan mengeras.

Kenneth menoleh ke arah Valery, selimut itu bergerak-gerak seiring suara tangisannya. Kenneth memilih diam membiarkan Valery menangis sepuasnya.

Kenneth menatap ke langit-langit kamar.

"Kenapa kau memberikan beban yang mungkin tidak bisa aku pikul. Aku tidak sepertimu yang normal. Aku hanya akan menjadikannya alat bukan membahagiakannya seperti yang kau inginkan," gumam batinnya.

Kenneth tahu, alasan Samuel memintanya menggantikannya. Samuel sangat mencintainya, dia tidak ingin lelaki lain menyakitinya.

Tanpa Kenneth ketahui, Samuel mengetahui syndrom yang dideritanya. Dia berharap Valery yang ceria, aktif dan cerewet bisa membantunya sembuh. Waktu yang dijanjikan Samuel selama setahun aset yang dimilikinya menjadi sepenuhnya hak Kennet, beralasan. Samuel berharap kebersamaan mereka selama setahun muncul ketertarikan di hati keduanya.

Hari berganti begitu cepat sinar sang surya menyinari kelopak mata Valery, mengusiknya.

Valery enggan membuka matanya, tubuhnya terasa sakit dan pegal. Matanya terasa berat dipastikan bengkak karena hampir semalaman dia menangis. Kenneth pun tidak protes karena terganggu oleh suara tangisannya.

Tercium aroma menenagkan memenuhi rongga hidungnya, Valery membuka matanya kemudian menoleh ke arah nakas di sampingnya. Tanpa berniat bangun. Dia melihat cangkir dengan asap yang mengepul, dari aromanya sudah ketebak berisi kopi. Di sampingnya terdapat sepotong kue tar stroberi.

Valery langsung duduk karena makanan favoritnya di depan mata. Tanpa memikirkan menu terlalu manis yang tak seharusnya dia santap di pagi hari. Valery langsung mengambil kue tar itu. Kemudian memotongnya dengan sendok yang tertaruh di samping tar dan memasukkan potongannya ke mulutnya.

"Mmmm, enak sekali," ucapnya sambil mengunyah dengan mata terpejam. Setelah melumer di mulutnya dan melintasi tenggorokkannya. Valery menatap kue tar itu.

"Sepertinya kue tar ini dari toko langganan ku. Bukannya hanya Samuel dan ibuku yang mengetahuinya?" ucapnya sambil memperhatikan kue tarnya.

Valery melihat secarik kertas kecil di samping cangkir kopi.

"Aku harap bisa membuat mood-mu membaik agar tidurku malam berikutnya tidak terganggu."

"Hais! aku kira menyiapkan makanan kesukaanku karena perhatian. Ternyata, karena tidak mau terganggu," gerutunya sambil melempar kertas kecil ke nakas dengan bibir cemberut.

Valery memutuskan keluar dari kamar, setelah membersihkan diri meskipun kedua matanya bengkak. Make up yang dikenakannya tidak bisa menutupinya. Valery pun menggunakan kacamata bening.

Sebelum menuruni anak tangga, Valery mendengar suara di ruang kerja Samuel. Tentu saja dia mengetahui ruangan itu, Samuel sengaja menempatkan ruang kerjanya tak jauh dari kamar utama.

Valery tidak bisa melarang Kenneth yang seenaknya tanpa ragu memasuki semua ruangan di mansion itu seperti pemiliknya. Mengingat Samuel memberinya kewenangan atas semua asetnya pada Kenneth, meskipun belum mutlak.

Valery hanya menghembuskan napasnya, dia harus terbiasa dengan situasi itu. Valery berniat mengucapkan terimakasih untuk kue tar stoberi dan kopinya meskipun bukan wujud perhatian.

Valery dengan semangat mendorong pintu, tapi pemandangan yang tidak semestinya terlihat dengan jelas di matanya.

Seorang pria tampan mengenakan jas lengkap berwarna abu-abu sedang membungkuk, Kenneth duduk di kursi kerjanya. Mereka dalam posisi memunggungi pintu.

Mereka mendengar suara pintu, Kenneth memutar kursinya menatap Valery begitu juga pria itu.

"Maaf, aku sudah menganggu kesenangan kalian (hehehe)" ucapnya sambil nyengir. "Teruskan saja, jangan sungkan!" ucap Valery lagi dengan senyum yang dipaksakan. Terlihat jelas dia tidak enak sudah menganggu Kenneth dan pria itu..

Valery pun dengan cepat meninggalkan mereka. Suara langkahnya terdengar seiring ketukan sepatu yang dikenakannya membentur lantai marmer. Kenneth melihat dengan jelas Valery panik dengan tatapan prasangka buruknya..

Valery pasti mengira Kenneth sedang melakukan sesuatu dengan James sekretarisnya yang baru datang dari Amerika.

James sedang menjelaskan salah satu proyek Samuel. Dia membungkuk karena bolpoinnya jatuh ke atas berkas yang sedang di lihat Kenneth.

Kembali ke Kenneth, dia langsung berdiri dan James yang mengetahui syndromnya langsung menjauh.

"Tu-tunggu! kami tidak seperti yang kau pikirkan..." teriak Kenneth.

"Kenapa Nyonya lari?" tanya James. Dia belum memperkenalkan diri.

"Shit! Valery pasti mengira kita sedang melakukan sesuatu," ucapnya sambil melintasinya. Kemudian melangkah cepat ke luar ruangan.

"Melakukan sesuatu..." gumamnya sambil berpikir keras. Kemudian menatap punggung atasannya yang perlahan lenyap. "Astaga, tidak mungkin Nyonya mengira kita sedang melakukan itu?" ucapnya sambil berjalan cepat mengejar Kenneth.

"Malangnya nasibku, padahal aku menyukai gadis seksi dan cantik. Tapi, baik di Amerika maupun di sini selalu dikira pasangan Pak Kenneth," gerutu batinnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 12

    Kenneth melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sepulang dari TPU, Kenneth bersama sekretaris James dan pengacara Yerik di ruang kerja. Di perjalanan pulang pun, Kenneth tidak berbicara sepatah katapun. Meskipun beberapa kali melirik Valery yang terlihat kedinginan. Mereka basah kuyup, sialnya di mobil tidak ada baju ganti. Payung yang seharusnya menghindarkannya dari hujan tidak berfungsi malah ditinggalkan begitu saja di area pemakamanl. Kita kembali ke Kenneth yang berdiri menatap Valery. Seperti biasa, Valery tidur nyenyak. Padahal beberapa jam lalu terlihat menangis dan sedih di pemakaman Samuel. Moodnya cepat berubah. “Gadis aneh,” gumamnya. Kenneth pun memutar hendak ke sofa. Dia masih belum nyaman tidur bersama Valery. Kenneth memilih tidur di sofa, di manapun Kenneth tidur asalkan satu kamar dengan Valery mencegah kecurigaan mata-mata Samuel melapor ke pengacara Yerik mengenai hubungan mereka. “Jangan tinggalkan aku, Samuel!” Valery mengigau sambil menangis. “Aku tida

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 11

    “deg deg deg!” Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang, reaksi dari pelukan Valery. Tak hanya memeluknya, Valery tanpa ragu membenamkan wajahnya meminta perlindungan dari rasa takut suara petir yang bergemuruh keras. Kenneth diam membeku keningnya mengerut, Kenneth merasa aneh. Biasanya, saat orang lain menyentuhnya. Kepalanya langsung pusing, pandangannya menggelap, keringat dingin bercucuran dan perutnya mual. Akal sehatnya pun menghilang, dalam benaknya terlintas ketiga pria sedang menyentuhnya. Kenneth seolah sedang mengalami kejadian buruk itu. Reaksi ekstrim itu tidak Kenneth rasakan. Padahal Valery memeluknya dengan erat membuat getaran hebat yang Kenneth pahmi. Air liurnya Tiba-tiba memproduksi lebih banyak membuat kerongkongannya bergerak menelannya. Kenneth tidak menyalahkan Valery ketakutan karena curah hujan semakin deras disertai kilatan petir bersama gemuruhnya yang keras. Sikap yang wajar. "Kenapa aku baik-baik saja padahal Valery memelukku?" ucap batin

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 10

    “Perkenalkan saya Agustinus pengacara yang diutus Nyonya Diana mengurus proses perceraian Nona Valery dengan Tuan Kenneth,” ucapnya sambil menaruh berkas di atas meja depan Valery. Mereka duduk saling berhadapan. Sebelumnya, setelah Valery keluar dari kamarnya. Pengacara itu sudah menunggunya di ruang tamu. “...meskipun pernikahanku dengan Kenneth atas permintaan Samuel. Tanpa sepengetahuan Mami Diana. Tapi, melakukan perceraian dalam waktu yang dekat rasanya kurang tepat. Apalagi, kami masih dalam kondisi berduka,” balas Valery. “Selaku pengacara saya memberi kewenangan pada Nona mengenai kesiapan proses perceraian. Tapi, Nyonya Diana menekankan batas waktu pada Nona paling lama 6 bulan ke depan. Saya datang kesini bertujuan melengkapi dokumen-dokumen penting untuk prosesnya,” jawabnya. Valery pun berdiri karena arah pembicaranya terkesan menekan. Apalagi, pengacara Agustinus menyampaikan batas waktu yang diberikan Diana. Valery bukan boneka yang bisa dimainkan dan diatur i

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 9

    “Aku bisa jelas…” ucap Valery dengan bibir nyengir sambil mengangkat kedua tangannya. Valery tidak menyadari dadanya semakin menekan membuat Kenneth merasakan klenger aneh. Dua benda kenyal yang dimiliki Valery mengusiknya. Kenneth secepat kilat menggulingkan tubuh Valery ke sampingnya dengan kasar. Valery menjerit kecil. Meski sudah menebak reaksinya tetap saja dia kaget. “brugh!” Suara punggung Valery jatuh ke permukaan ranjang sangat keras. “Euuh…” Valery mengaduh. Kenneth dengan cepat turun dari ranjang, tubuhnya sedikit oleng. Kenneth seharusnya tidur karena dosis obat penenang mengharuskannya tidur. Tapi terbangun oleh mimpi buruk dan reaksi alami adanya Valery di dekatnya. “Lain kali, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Kenneth menggerutu sambil melangkah seperti orang mabuk. “Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” gumam Valery mengulangi ucapan Kenneth. Matanya langsung membulat, setelah memahami makna ucapannya. Valery pun menengadahkan wajahnya me

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 8

    James dengan cepat menghampiri Kenneth. James melihat tangannya menjadikan kursi sebagai sandarannya. Wajahnya memucat, sorot matanya terlihat prustasi, Kenneth bahkan terlihat kesulitan bernafas. Catherine sudah diberitahu Samuel, adiknya memiliki sindrom yang tidak memperbolehkannya menyentuhnya. Catherine terlihat kebingungan.James yang sudah terbiasa menghadapi Kenneth saat sindrom-nya kambuh. Dengan cepat membuka penutup botol obat yang digenggamnya.“Ini obatnya, Pak!” ucap James sambil menyodorkan botol obat yang sudah terbuka tutupnya.Kenneth membuka telapak tangannya, James dengan cepat mengeluarkan beberapa pil ke tangannya. Catherine dengan cepat menaruh botol mineral di kursi. Catherine sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kenneth tanpa ada sentuhan saat situasinya genting. Kenneth dengan tangan bergetar menenggak pil tersebut. Kemudian meneguk air dalam botol mineral. Baik James dan Catherine hanya menatapnya penuh iba. Kondisi Kenneth terlihat mengkhawatirkan.“Sebaik

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 7

    Valery berlari ke arah taman area samping mansion. Dia berhenti tepat di depan rumpun bunga mawar yang baru kuncup. Valery masih teringat saat pertama kalinya Samuel membawanya ke mansion, diulang tahunnya 3 bulan yang lalu. Kejutan ulang tahunnya yang ke-23 tahun sekaligus lamaran. Kedua kaki Valery mendarat di aspal jalan depan teras mansion dengan kedua mata tertutup kain. Samuel menutupnya dengan kain hitam itu sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mension dari rumahnya. Jangan tanya bagaimana debaran jantung yang Valery rasakan, berdetak sangat kencang. Setiap ulang tahun Samuel selalu memberinya kejutan yang luar biasa. Tapi, kali ini lebih mengejutkan. "Apa aku boleh membukanya?" tanya Valery dengan jantung berdetak kencang. Tangannya memegang tali yang terikat di belakang kepalanya. Tangan Samuel mendarat di kedua bahunya. Kemudian berbisik, "belum saatnya, baby." Samuel berada tepat di belakangnya. Jantun Valery semakin tidak aman. Kala dada Samuel menemp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status