Home / All / TURUN RANJANG / TURUN RANJANG 4

Share

TURUN RANJANG 4

Author: Lysta
last update publish date: 2026-04-06 13:13:56

Kenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapannya tadi

"tenang saja aku tidak suka disentuh wanita."

Tidak salah juga Valery salah faham, siapapun akan menganggapnya seperti yang dipikirkan Valery.

"Hais! kenapa lagi aku malah berbicara seperti itu pada Valery?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Kenneth tidak memiliki kepercayaan diri untuk terbuka mengenai trauma yang dideritanya pada orang asing. Baginya Syndrome Haphephobia yang dianggapnya penyakit terberat tidak mudah dibagikan pada orang lain.

"Hais, kenapa lagi aku malah mengatakan itu?" gerutunya.

Tatapan tajamnya tertuju ke arah Valery yang keluar dari ruang walk in closed. Matanya tidak mampu berkedip, Valery mengenakan baju tidur tipis terbuat dari kain satin. Meskipun mengenakan luaran kimono yang terbuat dari kain yang sama. Sungguh sangat berani. Kesannya erotis dan menggoda.

Rambutnya masih setengah basah, bibirnya yang seksi terlihat menggiurkan tersenyum ceria ke arahnya dan manik netranya yang cantik pun menatap dalam ke arahnya.

"deg deg deg!"

Entahlah? tiba-tiba saja Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang saat netra cantik itu menatapnya.

"glek glek glek!"

Tanpa sadar dia menelan saliva-nya. Air liurnya tiba-tiba saja memproduksi banyak.

Valery berdiri tepat di depannya. Sungguh, sikapnya yang tak ramah sejak awal bertemu berubah total. Kini dia tersenyum cantik dengan aroma wangi parfum menenangkan dari tubuhnya. Tidak, wangi itu dari rambutnya. Bukan, wangi dari parfum di tubuhnya.

Jiwa Kenneth sedang berdebat mempermasalahkan aroma wangi menenangkan yang tercium hidungnya. Kenneth menatapnya kosong.

"Apa kau tidak berniat membersihkan diri?" tanya Valery tapi tidak mendapatkan jawaban dari Kenneth yang menatapnya sambil melamun. "Hai! apa kau mendengar ucapanku?" tanya Valery lagi sambil memiringkan kepalanya dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kenneth.

Kenneth mengedipkan kedua matanya, kemudian berdehem.

"Apa kau tidak berniat mandi dan mengganti baju mu?" tanya Valery masih memiringkan kepalanya.

Valery terlihat cantik dan menggemaskan. Kenneth semakin dibuat terhipnotis tapi langsung mengedipkan kedua matanya untuk menyadarkan dirinya.

"Kenneth!" panggil Valery dengan suara yang agak tinggi.

"Apa?" balas Kenneth tersentak kaget.

"Apa kau tidak akan mandi? badan mu bau. Sana mandi!" ucap Valery sambil menutup hidungnya.

Valery tiba-tiba saja berbicara akrab tapi justru ucapannya terkesan sedikit fulgar. Seperti sebuah sinyal pasangan yang memintanya membersihkan diri dan dia menunggunya di ranjang. Sungguh terlalu fulgar.

Kenneth kembali berpikir kejauhan. Bukannya menjawab malah terus berpikir yang tidak-tidak.

"Apa kamu tidak berniat mengganti bajumu dan berniat tidur dengan kemeja yang kamu kenakan dari tadi siang?" ucap Valery lagi.

"Aku akan kembali ke hotel," jawab Kenneth sambil memutar.

Valery pun dengan cepat berdiri di depannya, menghalanginya. Kenneth reflek mundur, menjaga jarak karena reaksi itu kerap dia lakukan saat orang lain mendekatinya.

"Ah, maaf! aku tidak bermaksud mengganggumu," ucap Valery. "Kamu tadi bilang di mata Catherine dan seluruh pelayan kita harus terlihat harmonis sebagai pasangan suami istri. Jika ada yang melihatmu keluar mansion di malam pernikahan kita, apa yang akan mereka laporkan pada pengacara mu?"

"Aku hanya akan mengganti pakaianku saja dan kembali lagi ke sini," jawab Kenneth.

"Tidak perlu bersusah payah ke hotel," jawab Valery sambil memperhatikan tubuh Kenneth.

Kenneth langsung bereaksi menyilangkan kedua tangannya, kini gantian dia yang sedikit ngeri karena pandangan Valery. Kenneth takut Valery tiba-tiba bertingkah gila dengan memeluknya dan melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

Valery tertawa lepas membuat mata Kenneth membulat.

"Kenapa ketawa?" tanya Kenneth dengan memasang wajah masam.

"Habis kamu lucu," jawabnya masih tertawa.

"Jangan main-main, Valery!" ucap Kenneth sambil menggeram.

Kenneth memutuskan harus segera ke luar kamar jika tidak ingin terjadi sesuatu. Dia kembali melangkah ke arah pintu melanjutkan tujuannya pergi ke hotel.

"Kau bisa memakai baju Samuel, aku perhatikan ukuran tubuh mu tak jauh berbeda," tawar Valery.

"Aku tidak pernah memakai barang bekas orang lain," tolaknya sambil memegang gagang pintu.

"Semua yang ada di sini baru," balas Valery menghentikan gerakan tangan Kenneth. "Aku menjaminnya karena aku yang menyediakan semua kebutuhan Samuel di dalam sana. Makanya aku dengan percaya diri menyakini ukuran tubuhmu tak jauh berbeda dengannya," terangnya.

Kenneth sedikit tidak enak hati memakai barang orang lain meskipun Valery mengatakan belum sempat dipakai pemiliknya.

"Sekali lagi, aku jamin Samuel belum menyentuhnya," Valery sungguh berusaha keras melarang Kenneth pergi dari mansion.

Kenneth memutar tubuhnya kemudian menatap dingin. Jelas Kenneth tidak suka Valery berubah sok dekat karena alasan menganggapnya penyuka sesama jenis.

Sikapnya yang berubah 360 derajat itu membuatnya semakin kesal. Sebagai pria sejati Kenneth merasa ternodai dengan prasangka Valery itu.

"Sebenarnya kau kenapa?" tanya Kenneth.

"Maksudmu?" tanya balik Valery.

"K-kau?"

"Aku meminta mu tidak pergi karena aku pun memiliki tujuan yang sama," balas Valery. "Memperjuangkan mansion ini kembali menjadi milikku," ungkapnya.

Kenneth tersenyum miris, tapi benar juga yang disarankan Valery. Mata-mata yang ditugaskan melaporkan hubungan mereka pada pengacaranya akan menjadi ancaman batalnya pengesahan haknya sebagai pewaris Samuel.

"Baiklah," jawab Kenneth kemudian memasuki ruangan walk in closed.

Kenneth memperhatikan sekitar ruangan itu. Tak jauh berbeda dengan miliknya di Amerika. Kenneth menghampiri barisan kemeja yang sedikit menarik perhatiannya. Ada beberapa kemeja berwarna merah muda tapi rasanya geli jika dia mengenakannya.

Bagaimana bisa dia nyaman mengenakan kemeja dengan warna identik kesukaan para wanita.

"Kau sudah dibuat buta oleh cintamu pada Valery sampai bersedia mengenakan pakaian dengan warna merah muda? membuat tubuhku merinding," gumamnya sambil mengernyitkan keningnya.

Kenneth pun memperhatikan beberapa koleksi jam tangan di etalase yang identik terbuat dari kaca tebal juga parfum khusus pria. Valery pandai memilih model pakaian juga wangi parfum dan beberapa aksesoris berupa dasi, jam tangan, sepatu sandal sampai peralatan pribadi cukur mencukur.

"Dia pantas menjadi duta fashion," gumamnya sambil memasuki kamar mandi.

Satu jam kemudian,

Kenneth pun keluar dari ruang pribadi dengan baju tidur piyama berwarna hitam. Benar yang dikatakan Valery ukurannya pas di badannya. Kenneth pun menyukai wangi parfumnya.

Kenneth terlihat tampan, segar dan wangi. Dia mengerutkan keningnya karena tidak mendengar suara cerewet Valery. Hidupnya yang damai berubah dalam sehari. Kenneth sampai memperkerjakan sekretaris pria karena tidak suka mendengar omelan. Tapi, sekarang harus rela mendengar ucapan bawel Valery.

Kenneth menghampiri Valery yang tidur miring memeluk guling dengan kedua mata tertutup. Terdengar dengkuran pelan.

"Astaga, bisa-bisanya dia tidur nyenyak padahal di kamar ada lelaki asing," gumamnya. "Tadi siang kau nangis-nagis tanpa henti menangisi Samuel. Normalnya kau tidak bisa tidur nyenyak. Tapi, malah sebaliknya."

Kenneth terdiam menatap wajah Valery, netranya tanpa sadar tidak bisa beralih. Kenneth tidak menampik wajah Valery yang cantik membuatnya terpesona. Bibirnya yang seksi bergerak-gerak seperti mengunyah sesuatu sedikit mengusik perhatiannya.

"deg deg deg!"

Kenneth langsung menempelkan telapak tangannya di dada sebelah kirinya karena jantungnya berdetak kencang. Sungguh ini pertama kalinya dia merasakan itu.

"Apa yang terjadi dengan jantungku? kenapa hari ini sering berdetak seperti ini? apa aku juga terkena penyakit jantung seperti Samuel?" gumamnya sambil menatap dalam Valery. "Apa dia yang menyebabkan Samuel memiliki penyakit jantung? aku saja sampai beberapa kali merasakan jantungku berdetak sekencang ini."

Kenneth yang cakap dalam bisnis tidak cakap dalam masalah percintaan. Dia tidak tahu jika reaksi jantungnya itu bukan penyakit jantung yang menewaskan Samuel. Tapi, sebuah reaksinya menyukai Valery.

Kenneth tidak mengetahui itu karena baru mengalaminya.

"Ya Tuhan, bikin kaget saja!" teriak Kenneth dengan wajah memerah karena tiba-tiba saja Valery membuka matanya kemudian menatap ke arahnya.

Kenneth malu karena ketahuan sedang memperhatikan Valery.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 12

    Kenneth melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sepulang dari TPU, Kenneth bersama sekretaris James dan pengacara Yerik di ruang kerja. Di perjalanan pulang pun, Kenneth tidak berbicara sepatah katapun. Meskipun beberapa kali melirik Valery yang terlihat kedinginan. Mereka basah kuyup, sialnya di mobil tidak ada baju ganti. Payung yang seharusnya menghindarkannya dari hujan tidak berfungsi malah ditinggalkan begitu saja di area pemakamanl. Kita kembali ke Kenneth yang berdiri menatap Valery. Seperti biasa, Valery tidur nyenyak. Padahal beberapa jam lalu terlihat menangis dan sedih di pemakaman Samuel. Moodnya cepat berubah. “Gadis aneh,” gumamnya. Kenneth pun memutar hendak ke sofa. Dia masih belum nyaman tidur bersama Valery. Kenneth memilih tidur di sofa, di manapun Kenneth tidur asalkan satu kamar dengan Valery mencegah kecurigaan mata-mata Samuel melapor ke pengacara Yerik mengenai hubungan mereka. “Jangan tinggalkan aku, Samuel!” Valery mengigau sambil menangis. “Aku tida

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 11

    “deg deg deg!” Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang, reaksi dari pelukan Valery. Tak hanya memeluknya, Valery tanpa ragu membenamkan wajahnya meminta perlindungan dari rasa takut suara petir yang bergemuruh keras. Kenneth diam membeku keningnya mengerut, Kenneth merasa aneh. Biasanya, saat orang lain menyentuhnya. Kepalanya langsung pusing, pandangannya menggelap, keringat dingin bercucuran dan perutnya mual. Akal sehatnya pun menghilang, dalam benaknya terlintas ketiga pria sedang menyentuhnya. Kenneth seolah sedang mengalami kejadian buruk itu. Reaksi ekstrim itu tidak Kenneth rasakan. Padahal Valery memeluknya dengan erat membuat getaran hebat yang Kenneth pahmi. Air liurnya Tiba-tiba memproduksi lebih banyak membuat kerongkongannya bergerak menelannya. Kenneth tidak menyalahkan Valery ketakutan karena curah hujan semakin deras disertai kilatan petir bersama gemuruhnya yang keras. Sikap yang wajar. "Kenapa aku baik-baik saja padahal Valery memelukku?" ucap batin

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 10

    “Perkenalkan saya Agustinus pengacara yang diutus Nyonya Diana mengurus proses perceraian Nona Valery dengan Tuan Kenneth,” ucapnya sambil menaruh berkas di atas meja depan Valery. Mereka duduk saling berhadapan. Sebelumnya, setelah Valery keluar dari kamarnya. Pengacara itu sudah menunggunya di ruang tamu. “...meskipun pernikahanku dengan Kenneth atas permintaan Samuel. Tanpa sepengetahuan Mami Diana. Tapi, melakukan perceraian dalam waktu yang dekat rasanya kurang tepat. Apalagi, kami masih dalam kondisi berduka,” balas Valery. “Selaku pengacara saya memberi kewenangan pada Nona mengenai kesiapan proses perceraian. Tapi, Nyonya Diana menekankan batas waktu pada Nona paling lama 6 bulan ke depan. Saya datang kesini bertujuan melengkapi dokumen-dokumen penting untuk prosesnya,” jawabnya. Valery pun berdiri karena arah pembicaranya terkesan menekan. Apalagi, pengacara Agustinus menyampaikan batas waktu yang diberikan Diana. Valery bukan boneka yang bisa dimainkan dan diatur i

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 9

    “Aku bisa jelas…” ucap Valery dengan bibir nyengir sambil mengangkat kedua tangannya. Valery tidak menyadari dadanya semakin menekan membuat Kenneth merasakan klenger aneh. Dua benda kenyal yang dimiliki Valery mengusiknya. Kenneth secepat kilat menggulingkan tubuh Valery ke sampingnya dengan kasar. Valery menjerit kecil. Meski sudah menebak reaksinya tetap saja dia kaget. “brugh!” Suara punggung Valery jatuh ke permukaan ranjang sangat keras. “Euuh…” Valery mengaduh. Kenneth dengan cepat turun dari ranjang, tubuhnya sedikit oleng. Kenneth seharusnya tidur karena dosis obat penenang mengharuskannya tidur. Tapi terbangun oleh mimpi buruk dan reaksi alami adanya Valery di dekatnya. “Lain kali, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Kenneth menggerutu sambil melangkah seperti orang mabuk. “Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” gumam Valery mengulangi ucapan Kenneth. Matanya langsung membulat, setelah memahami makna ucapannya. Valery pun menengadahkan wajahnya me

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 8

    James dengan cepat menghampiri Kenneth. James melihat tangannya menjadikan kursi sebagai sandarannya. Wajahnya memucat, sorot matanya terlihat prustasi, Kenneth bahkan terlihat kesulitan bernafas. Catherine sudah diberitahu Samuel, adiknya memiliki sindrom yang tidak memperbolehkannya menyentuhnya. Catherine terlihat kebingungan.James yang sudah terbiasa menghadapi Kenneth saat sindrom-nya kambuh. Dengan cepat membuka penutup botol obat yang digenggamnya.“Ini obatnya, Pak!” ucap James sambil menyodorkan botol obat yang sudah terbuka tutupnya.Kenneth membuka telapak tangannya, James dengan cepat mengeluarkan beberapa pil ke tangannya. Catherine dengan cepat menaruh botol mineral di kursi. Catherine sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kenneth tanpa ada sentuhan saat situasinya genting. Kenneth dengan tangan bergetar menenggak pil tersebut. Kemudian meneguk air dalam botol mineral. Baik James dan Catherine hanya menatapnya penuh iba. Kondisi Kenneth terlihat mengkhawatirkan.“Sebaik

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 7

    Valery berlari ke arah taman area samping mansion. Dia berhenti tepat di depan rumpun bunga mawar yang baru kuncup. Valery masih teringat saat pertama kalinya Samuel membawanya ke mansion, diulang tahunnya 3 bulan yang lalu. Kejutan ulang tahunnya yang ke-23 tahun sekaligus lamaran. Kedua kaki Valery mendarat di aspal jalan depan teras mansion dengan kedua mata tertutup kain. Samuel menutupnya dengan kain hitam itu sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mension dari rumahnya. Jangan tanya bagaimana debaran jantung yang Valery rasakan, berdetak sangat kencang. Setiap ulang tahun Samuel selalu memberinya kejutan yang luar biasa. Tapi, kali ini lebih mengejutkan. "Apa aku boleh membukanya?" tanya Valery dengan jantung berdetak kencang. Tangannya memegang tali yang terikat di belakang kepalanya. Tangan Samuel mendarat di kedua bahunya. Kemudian berbisik, "belum saatnya, baby." Samuel berada tepat di belakangnya. Jantun Valery semakin tidak aman. Kala dada Samuel menemp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status