LOGINKenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapannya tadi
"tenang saja aku tidak suka disentuh wanita." Tidak salah juga Valery salah faham, siapapun akan menganggapnya seperti yang dipikirkan Valery. "Hais! kenapa lagi aku malah berbicara seperti itu pada Valery?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kenneth tidak memiliki kepercayaan diri untuk terbuka mengenai trauma yang dideritanya pada orang asing. Baginya Syndrome Haphephobia yang dianggapnya penyakit terberat tidak mudah dibagikan pada orang lain. "Hais, kenapa lagi aku malah mengatakan itu?" gerutunya. Tatapan tajamnya tertuju ke arah Valery yang keluar dari ruang walk in closed. Matanya tidak mampu berkedip, Valery mengenakan baju tidur tipis terbuat dari kain satin. Meskipun mengenakan luaran kimono yang terbuat dari kain yang sama. Sungguh sangat berani. Kesannya erotis dan menggoda. Rambutnya masih setengah basah, bibirnya yang seksi terlihat menggiurkan tersenyum ceria ke arahnya dan manik netranya yang cantik pun menatap dalam ke arahnya. "deg deg deg!" Entahlah? tiba-tiba saja Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang saat netra cantik itu menatapnya. "glek glek glek!" Tanpa sadar dia menelan saliva-nya. Air liurnya tiba-tiba saja memproduksi banyak. Valery berdiri tepat di depannya. Sungguh, sikapnya yang tak ramah sejak awal bertemu berubah total. Kini dia tersenyum cantik dengan aroma wangi parfum menenangkan dari tubuhnya. Tidak, wangi itu dari rambutnya. Bukan, wangi dari parfum di tubuhnya. Jiwa Kenneth sedang berdebat mempermasalahkan aroma wangi menenangkan yang tercium hidungnya. Kenneth menatapnya kosong. "Apa kau tidak berniat membersihkan diri?" tanya Valery tapi tidak mendapatkan jawaban dari Kenneth yang menatapnya sambil melamun. "Hai! apa kau mendengar ucapanku?" tanya Valery lagi sambil memiringkan kepalanya dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kenneth. Kenneth mengedipkan kedua matanya, kemudian berdehem. "Apa kau tidak berniat mandi dan mengganti baju mu?" tanya Valery masih memiringkan kepalanya. Valery terlihat cantik dan menggemaskan. Kenneth semakin dibuat terhipnotis tapi langsung mengedipkan kedua matanya untuk menyadarkan dirinya. "Kenneth!" panggil Valery dengan suara yang agak tinggi. "Apa?" balas Kenneth tersentak kaget. "Apa kau tidak akan mandi? badan mu bau. Sana mandi!" ucap Valery sambil menutup hidungnya. Valery tiba-tiba saja berbicara akrab tapi justru ucapannya terkesan sedikit fulgar. Seperti sebuah sinyal pasangan yang memintanya membersihkan diri dan dia menunggunya di ranjang. Sungguh terlalu fulgar. Kenneth kembali berpikir kejauhan. Bukannya menjawab malah terus berpikir yang tidak-tidak. "Apa kamu tidak berniat mengganti bajumu dan berniat tidur dengan kemeja yang kamu kenakan dari tadi siang?" ucap Valery lagi. "Aku akan kembali ke hotel," jawab Kenneth sambil memutar. Valery pun dengan cepat berdiri di depannya, menghalanginya. Kenneth reflek mundur, menjaga jarak karena reaksi itu kerap dia lakukan saat orang lain mendekatinya. "Ah, maaf! aku tidak bermaksud mengganggumu," ucap Valery. "Kamu tadi bilang di mata Catherine dan seluruh pelayan kita harus terlihat harmonis sebagai pasangan suami istri. Jika ada yang melihatmu keluar mansion di malam pernikahan kita, apa yang akan mereka laporkan pada pengacara mu?" "Aku hanya akan mengganti pakaianku saja dan kembali lagi ke sini," jawab Kenneth. "Tidak perlu bersusah payah ke hotel," jawab Valery sambil memperhatikan tubuh Kenneth. Kenneth langsung bereaksi menyilangkan kedua tangannya, kini gantian dia yang sedikit ngeri karena pandangan Valery. Kenneth takut Valery tiba-tiba bertingkah gila dengan memeluknya dan melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Valery tertawa lepas membuat mata Kenneth membulat. "Kenapa ketawa?" tanya Kenneth dengan memasang wajah masam. "Habis kamu lucu," jawabnya masih tertawa. "Jangan main-main, Valery!" ucap Kenneth sambil menggeram. Kenneth memutuskan harus segera ke luar kamar jika tidak ingin terjadi sesuatu. Dia kembali melangkah ke arah pintu melanjutkan tujuannya pergi ke hotel. "Kau bisa memakai baju Samuel, aku perhatikan ukuran tubuh mu tak jauh berbeda," tawar Valery. "Aku tidak pernah memakai barang bekas orang lain," tolaknya sambil memegang gagang pintu. "Semua yang ada di sini baru," balas Valery menghentikan gerakan tangan Kenneth. "Aku menjaminnya karena aku yang menyediakan semua kebutuhan Samuel di dalam sana. Makanya aku dengan percaya diri menyakini ukuran tubuhmu tak jauh berbeda dengannya," terangnya. Kenneth sedikit tidak enak hati memakai barang orang lain meskipun Valery mengatakan belum sempat dipakai pemiliknya. "Sekali lagi, aku jamin Samuel belum menyentuhnya," Valery sungguh berusaha keras melarang Kenneth pergi dari mansion. Kenneth memutar tubuhnya kemudian menatap dingin. Jelas Kenneth tidak suka Valery berubah sok dekat karena alasan menganggapnya penyuka sesama jenis. Sikapnya yang berubah 360 derajat itu membuatnya semakin kesal. Sebagai pria sejati Kenneth merasa ternodai dengan prasangka Valery itu. "Sebenarnya kau kenapa?" tanya Kenneth. "Maksudmu?" tanya balik Valery. "K-kau?" "Aku meminta mu tidak pergi karena aku pun memiliki tujuan yang sama," balas Valery. "Memperjuangkan mansion ini kembali menjadi milikku," ungkapnya. Kenneth tersenyum miris, tapi benar juga yang disarankan Valery. Mata-mata yang ditugaskan melaporkan hubungan mereka pada pengacaranya akan menjadi ancaman batalnya pengesahan haknya sebagai pewaris Samuel. "Baiklah," jawab Kenneth kemudian memasuki ruangan walk in closed. Kenneth memperhatikan sekitar ruangan itu. Tak jauh berbeda dengan miliknya di Amerika. Kenneth menghampiri barisan kemeja yang sedikit menarik perhatiannya. Ada beberapa kemeja berwarna merah muda tapi rasanya geli jika dia mengenakannya. Bagaimana bisa dia nyaman mengenakan kemeja dengan warna identik kesukaan para wanita. "Kau sudah dibuat buta oleh cintamu pada Valery sampai bersedia mengenakan pakaian dengan warna merah muda? membuat tubuhku merinding," gumamnya sambil mengernyitkan keningnya. Kenneth pun memperhatikan beberapa koleksi jam tangan di etalase yang identik terbuat dari kaca tebal juga parfum khusus pria. Valery pandai memilih model pakaian juga wangi parfum dan beberapa aksesoris berupa dasi, jam tangan, sepatu sandal sampai peralatan pribadi cukur mencukur. "Dia pantas menjadi duta fashion," gumamnya sambil memasuki kamar mandi. Satu jam kemudian, Kenneth pun keluar dari ruang pribadi dengan baju tidur piyama berwarna hitam. Benar yang dikatakan Valery ukurannya pas di badannya. Kenneth pun menyukai wangi parfumnya. Kenneth terlihat tampan, segar dan wangi. Dia mengerutkan keningnya karena tidak mendengar suara cerewet Valery. Hidupnya yang damai berubah dalam sehari. Kenneth sampai memperkerjakan sekretaris pria karena tidak suka mendengar omelan. Tapi, sekarang harus rela mendengar ucapan bawel Valery. Kenneth menghampiri Valery yang tidur miring memeluk guling dengan kedua mata tertutup. Terdengar dengkuran pelan. "Astaga, bisa-bisanya dia tidur nyenyak padahal di kamar ada lelaki asing," gumamnya. "Tadi siang kau nangis-nagis tanpa henti menangisi Samuel. Normalnya kau tidak bisa tidur nyenyak. Tapi, malah sebaliknya." Kenneth terdiam menatap wajah Valery, netranya tanpa sadar tidak bisa beralih. Kenneth tidak menampik wajah Valery yang cantik membuatnya terpesona. Bibirnya yang seksi bergerak-gerak seperti mengunyah sesuatu sedikit mengusik perhatiannya. "deg deg deg!" Kenneth langsung menempelkan telapak tangannya di dada sebelah kirinya karena jantungnya berdetak kencang. Sungguh ini pertama kalinya dia merasakan itu. "Apa yang terjadi dengan jantungku? kenapa hari ini sering berdetak seperti ini? apa aku juga terkena penyakit jantung seperti Samuel?" gumamnya sambil menatap dalam Valery. "Apa dia yang menyebabkan Samuel memiliki penyakit jantung? aku saja sampai beberapa kali merasakan jantungku berdetak sekencang ini." Kenneth yang cakap dalam bisnis tidak cakap dalam masalah percintaan. Dia tidak tahu jika reaksi jantungnya itu bukan penyakit jantung yang menewaskan Samuel. Tapi, sebuah reaksinya menyukai Valery. Kenneth tidak mengetahui itu karena baru mengalaminya. "Ya Tuhan, bikin kaget saja!" teriak Kenneth dengan wajah memerah karena tiba-tiba saja Valery membuka matanya kemudian menatap ke arahnya. Kenneth malu karena ketahuan sedang memperhatikan Valery.Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Tatapan itu seolah menusuk sampai ke jantungnya. "deg deg deg!" Sekali lagi, Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Netra cantik itu tak hanya menusuk tapi membuat tubuhnya bergetar. Hebatnya, meskipun jantungnya tidak baik-baik saja. Sesuatu luar biasa yang sulit dimengerti Kenneth dirasakan.Perasaan aneh mengusik hatinya, sebuah ketertarikan yang tidak tiba-tiba saja mengusiknya. Perasaan yang tidak seharusnya, mengingat Valery gadis yang dicintai saudaranya."Apa kau sudah selesai?" sebuah tanya terlontar manis dari mulutnya. Tanpa mengubah posisinya, terkesan santai. "deg!" Kenneth langsung bersikap salah tingkah karena merasa tercyduk sedang memperhatikan Valery yang tertidur. Kenneth dengan cepat berdiri karena rasa malu yang luar biasa. Ditambah lagi Valery malah menatapnya seolah mengintimidasinya.."Jangan salah faham! a-aku tidak bermaksud..." ucapnya terkesan canggung..
Kenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapannya tadi "tenang saja aku tidak suka disentuh wanita." Tidak salah juga Valery salah faham, siapapun akan menganggapnya seperti yang dipikirkan Valery. "Hais! kenapa lagi aku malah berbicara seperti itu pada Valery?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kenneth tidak memiliki kepercayaan diri untuk terbuka mengenai trauma yang dideritanya pada orang asing. Baginya Syndrome Haphephobia yang dianggapnya penyakit terberat tidak mudah dibagikan pada orang lain. "Hais, kenapa lagi aku malah mengatakan itu?" gerutunya. Tatapan tajamnya tertuju ke arah Valery yang keluar dari ruang walk in closed. Matanya tidak mampu berkedip, Valery mengenakan baju tidur tipis terbuat da
Valery duduk membeku di kursi belakang, dia tidak pulang bersama kedua orang tuanya. Supir yang membawa Kenneth menjemputnya. Kenneth meminta Valery pulang ke mansion yang seharusnya Samuel dan Valery tempati setelah menikah. Valery sedikit dongkol dengan keputusan Kenneth. Bisa-bisanya Kenneth masuk tanpa ijin ke mansion mereka. "Sungguh tidak tahu malu!" gerutunya sambil mendengus kesal. Beribu kalimat makian sudah berbaris di kepalanya yang akan meledak saat berhadapan dengan Kenneth. "Pantas saja Mami Diana memakinya agar tidak bermimpi bisa mengambil semua yang dimiliki Samuel. Ternyata kau memang berniat melakukannya, bermula dengan menikahi ku. Jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan hatiku meskipun menikahi ku! Kenneth, dasar pria menyebalkan!" gerutunya berakhir umpat. Mobil pun sampai di mansion, Valery langsung turun kemudian berjalan cepat memasuki mansion. Catherine Wilson, kepala pelayannya langsung menghampiri Valery. "Di mana dia?" tanya Valery sambil
"Ikrar pernikahan terlontar dari mulut kami. Sang penghulu mengesahkan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepukan tangan terdengar bergemuruh dari para tamu undangan. Tapi, bukannya senyum bahagia yang terlukis di bibirku. Melainkan isak tangis yang tertahan dengan rasa sesak dalam rongga dadaku. Butiran-butiran air mata tak berhenti melintasi kedua pipiku. Menangisi takdir yang Tuhan berikan, menikah dengan pria lain. Pria asing yang saat ini berdiri angkuh di sampingku. Seharusnya bukan dia yang menjadi suamiku. Sungguh kepalaku terasa meledak saat memikirkannya." Setelah akad pernikahan selesai, Valery tidak membuka veil yang menutupi seluruh wajahnya. Meskipun para tamu undangan mengucapkan selamat dan penasaran ingin melihat paras cantik pengantin wanitanya. Valery tidak mengetahui kehebohan para tamu saat pengantin pria muncul. Mereka mengetahui Samuel yang akan menjadi suaminya. Tapi, malah pria lain. Meskipun begitu tidak ada seorang pun yang mempertanyak
"Takdir, sungguh aku tidak memiliki kuasa mengalahkannya. Betapa menyakitkan tapi harus ku telan meskipun pahit." Valery berjalan lemah menuju ke hadapan seorang pria yang baru saja bertemu dengannya. Pria yang seharusnya menjadi saksi pernikahannya dengan kekasihnya. Pria yang seharusnya bertepuk tangan setelah Samuel dan dirinya mengucapkan ikrar pernikahan. Kenneth Liam, pria tampan yang memiliki wajah serupa dengan kekasihnya menatapnya dingin. Pria itu tak jauh berbeda dengan Valery, terpaksa harus berdiri di depan penghulu dan para tamu undangan sebagai pasangan pengantin. Satu jam sebelumnya, Di salah satu hotel bintang lima, diselenggarakan pesta pernikahan putri satu-satunya pengusaha kaya Johan Albert, pemilik perusahan "Zoraya Albert" yang bergerak di bidang fashion berupa sepatu dengan merk ternama "Zora". Gadis itu bernama Valerie Albert. Calon pengantin pria pun seorang pengusaha muda bernama Samuel Liam, penerus perusahaan "Benicnus Zero Style" yang bergera