LOGIN"Ikrar pernikahan terlontar dari mulut kami. Sang penghulu mengesahkan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepukan tangan terdengar bergemuruh dari para tamu undangan. Tapi, bukannya senyum bahagia yang terlukis di bibirku. Melainkan isak tangis yang tertahan dengan rasa sesak dalam rongga dadaku. Butiran-butiran air mata tak berhenti melintasi kedua pipiku. Menangisi takdir yang Tuhan berikan, menikah dengan pria lain. Pria asing yang saat ini berdiri angkuh di sampingku. Seharusnya bukan dia yang menjadi suamiku. Sungguh kepalaku terasa meledak saat memikirkannya."
Setelah akad pernikahan selesai, Valery tidak membuka veil yang menutupi seluruh wajahnya. Meskipun para tamu undangan mengucapkan selamat dan penasaran ingin melihat paras cantik pengantin wanitanya. Valery tidak mengetahui kehebohan para tamu saat pengantin pria muncul. Mereka mengetahui Samuel yang akan menjadi suaminya. Tapi, malah pria lain. Meskipun begitu tidak ada seorang pun yang mempertanyakannya. Entahlah? Beberapa jam kemudian, Penyelenggara acara pun mempersingkat waktu. Acara pernikahan hanya sampai ikrar pernikahan setelah itu dibubarkan dengan berita duka mengenai meninggalnya Samuel. Valery langsung mengganti gaun pengantinnya menjadi gaun serba hitam. Valery masih berada di hotel, mereka berencana langsung ke rumah duka. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Valery keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kacamata hitam. Rambutnya yang panjang diikat seadanya, Valery tidak lagi memikirkan penampilannya. Kedua ujung krudung hitam tipis model pasmina melingkari lehernya, kegunaannya hanya sebagai penutup kepalanya saja. "Jangan pernah berharap jika aku akan seperti suami pada umumnya," ucap seseorang yang dari tadi menunggunya keluar dari ruang ganti pakaian. Valery menatap pria menyebalkan yang satu jam lalu menjadi suaminya. Kenneth dalam posisi duduk dengan salah satu kaki menyilang. Dia sudah berganti pakaian serba hitam. Valery tidak melihat dengan jelas wajahnya sejak dia berdiri di sampingnya. Kedua matanya tertutup veil dan sekarang kacamata hitamnya. Berbeda dengan Kenneth yang sama-sama menatapnya tajam. Dingin, angkuh dan tentunya menyebalkan. Sungguh Kenneth berbanding terbalik dengan kakaknya, Samuel. Valery mengenal baik Samuel yang ramah, berbicara halus dan bersikap hangat. Tapi, Kenneth? sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. "Tentu saja aku tidak mengharapkan mu sejauh itu. Aku bersedia menikah denganmu karena wasiat Samuel. Alasan lainnya karena aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku dirundung malu dengan kegagalan pernikahanku," balas Valery dengan nada dingin. Kenneth pun berdiri sambil menyunggingkan senyuman sinisnya, "baiklah, aku jadi tenang mendengarnya." Valery menatapnya dalam diam, dosa apa yang telah dia perbuat hingga mendapatkan kutukan semacam ini. Sudah dipisahkan dengan kekasihnya di hari pernikahan mereka malah mendapatkan gantinya model Kenneth. "Kenapa? apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Kenneth dengan sikap gaya bicaranya yang menyebalkan. "Baiklah, mari kita sepakati pernikahan ini sesuai dengan kepentingan masing-masing!" balas Valery sambil mengangkat sedikit wajahnya dengan angkuh. "Lagian, siapa yang mau memiliki suami seperti mu. Jika Samuel tidak memintaku menikah denganmu. Sudah aku tolak mentah-mentah," gerutunya dengan nada pelan dan bibir cemberut. Kenneth tersenyum tipis mendengarnya. "Bersabarlah! hanya butuh satu tahun kita menjalin hubungan suami istri. Setelah itu kita bercerai," ucapnya. "Hais! baru beberapa jam menikah sudah membahas perceraian. Dasar pria menyebalkan," gerutunya lagi masih dengan ekpresi yang sama. Bukan tanpa alasan Kenneth memberinya waktu setahun. Beberapa jam yang lalu, Kenneth berada di salah satu kamar hotel tempat diselenggarakannya pernikahan Samuel yang merupakan saudara seayahnya. Kenneth terlahir dari hubungan gelap dan menetap di Amerika. Dia tidak diakui sebagai putra dari keluarga Liam meskipun nama sang ayah tercantum di ujung namanya. Sebenarnya Kenneth bersedia datang bukan sekedar memenuhi undangan Samuel. Perusahannya diambang kebangkrutan karena monopoli Diana istri syah ayahnya yang tidak menginginkan Kenneth lebih unggul dari putranya. Diana melakukan apapun untuk menjatuhkan Kenneth. Tapi, Samuel yang memiliki penyakit kanker lambung stadium akhir dan penyakitnya menyebar hingga sering mengalami gangguan di jantungnya. Hingga dia memutuskan melakukan negosiasi dengan Kenneth agar mau menikahi Valery gadis yang dicintainya jika tiba-tiba saja meninggal baik itu sudah menikahinya atau belum. Samuel sudah menyiapkan surat wasiat dan perjanjian dalam jangka waktu satu tahun semua aset berpindah ke tangan Kenneth dengan syarat sudah menikahi Valery. Kenneth tidak menyangka jika Samuel akan meninggal di hari pernikahnnya. Padahal dia memiliki penyakit syndrome yang tidak bisa bersentuhan dengan siapapun meskipun ibunya sendiri karena sebuah peristiwa buruk yang menimpanya saat usianya 9 tahun. Apalagi dengan orang lain. Kenneth pun mengedipkan kelopak matanya. Ini pertama kalinya dia melihat wajah Valery tanpa veil meskipun kedua matanya tertutup kacamata hitam. Kenneth tidak menampik, kekasih kakaknya berwajah cantik. Tapi, dia langsung berdiri kemudian melangkah ke arah pintu. "Ayah dan ibu mu sudah lebih dulu ke rumah duka. Jangan biarkan saudaraku menunggu mu lama!" ucap Kenneth sambil membuka pintu mempersilahkan Valery ke luar kamar. "Jangan mengejekku! dalam situasi buruk ini terdengar tidak lucu!" gerutunya. "Aku tidak mengejekmu, bukannya kau hendak menemui kakakku? meskipun hanya tinggal jasadnya..." sanggah Kenneth tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Kau...!" bentaknya dengan tangan hendak memukul dada Kenneth. Kenneth reflek menjauhinya dan Valery menarik tangannya. Dia tidak mau membuang waktunya untuk sesuatu yang tidak penting. Valery pun melengos ke luar kamar dengan sikap dinginnya. Sesampainya di rumah duka, Kediaman Liam dipenuhi para pelayat. Valery di dampingi ibunya setelah turun dari mobil memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat peti berisi jasad Samuel. Air matanya sudah berjatuhan di sepanjang perjalanan menuju rumah duka. Semakin deras lagi saat langkahnya semakin mendekati jasad Samuel. Valery berdiri membeku saat melihat Samuel yang tertidur di dalam peti dengan wajah memucat. Baginya pemandangan ini bagaikan mimpi. Semalam mereka melakukan panggilan video call. Valery tidak melihatnya menahan sakit. Samuel terlihat segar dan bugar. Selama ini dia terlihat segar. Makanya Valery heran, bisa-bisanya Samuel didiagnosa kanker lambung dan meninggal karena serangan jantung. "Samuel," panggilnya dengan bibir bergetar tangannya meraih tangan Samuel yang dingin. "Jangan bercanda, bangun Samuel! aku ada di sini," ucapnya. "Di akhir napasnya hanya namamu yang dia panggil. Putraku yang malang," ucap Diana, ibu kandung Samuel. "Maafkan putraku, Valery! dia sudah merahasiahkan penyakitnya. Samuel tidak ingin membuatmu sedih." "Tapi, justru aku lebih sedih lagi dengan cara seperti ini mami," balas Valery. "Jika saja aku mengetahui Samuel sakit. Aku akan selalu menemaninya sepanjang waktu. Aku..." ucapnya tersendat karena tangisannya yang tak mampu dia tahan. Diana memeluk Valery, keduanya menangis mengungkapkan kesedihannya. Diana sangat menyayangi Valery seperti putrinya sendiri. Beberapa jam kemudian, Acara pemakaman pun dilaksanakan, lagi-lagi Valery melupakan Kenneth. Setelah sampai di rumah duka, Valery tidak sedikitpun menjauh dari jasad Samuel di dalam peti itu. Valery tak berhenti menangis dan sesekali memegang tangan Samuel sambil mengajaknya berbicara. Kedua orang tua, baik orang tua Samuel maupun Valery tidak melarang Valery berada di dekat jasad Samuel. Mereka tahu Valery sangat mencintai Samuel, mereka memberinya kesempatan bersama Samuel di hari terakhir jasadnya di bumi ini. Setelah Samuel di makamkan meninggalkan gundukan tanah merah. Valery duduk bersimpuh di pusaran Samuel bersama Diana. Kedua wanita itu yang paling terpukul atas kematian Samuel. "Ayo kita pulang!" ajak Hendrik Liam, ayah Samuel pada istrinya sambil mengulurkan tangannya. Diana pun meraihnya kemudian berdiri. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Diana nada setengah berteriak. Tatapannya penuh kebencian. Valery menoleh ke arah pria yang berdiri tak jauh dari pusaran Samuel. "Pelan kan suaramu, sayang!" ucap Hendrik. "Apa kau yang memintanya datang?" tanya Diana sambil menarikan tangannya hingga terlepas kasar. "Samuel yang memintanya datang," jawab Hendrik. "Jadi, kau sudah mengetahui. Anak haram ini ada di sini?" ucapnya setengah berteriak. Kata anak haram tercetus begitu saja dari mulut Diana membuat Valery, Albert dan Zoraya menatap ke arah Kenneth. "Aku tidak mengijinkan mu tinggal di negara ini. Juga berada di sini. Segera angkat kaki dari sini!" usirnya dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah gerbang masuk TPU. "Sayang, bagaimana pun Kenneth saudara satu-satunya Samuel. Dia berhak..." "Tutup mulutmu! aku tidak sudi anak haram ini menyentuh pusaran putraku. Meskipun dia putra biologis mu tapi dia anak hasil hubungan gelap dengan wanita penggoda itu. Pergi dari sini!" tolaknya sambil berteriak lagi mengusir Kenneth. "Tapi, Kenneth tidak bisa meninggalkan negara ini. Samuel memintanya menggantikannya menjadi suami Valery dan mereka sudah..." terang Hendrik membuat Diana membulatkan matanya. "Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Diana pada Valery dibalas anggukan kepala. Diana pun melangkah dengan cepat ke arah Kenneth. Tamparan keras pun menghantam pipinya. Kenneth yang sejak tadi memilih diam meskipun Diana memakinya dengan sangat sarkas. Langsung oleng bahkan hendak muntah setelah dia ditampar Diana. Wajahnya langsung memucat, keringat dingin membasahi keningnya. Bukan tamparan Diana yang menyakitinya tapi sentuhan tangannya di pipinya yang membuat perutnya mual dan gelisah. "Cukup sayang!" ucap Hendrik saat Diana hendak mendekati Kenneth dan menamparnya lagi. Dia kesal karena Kenneth malah berjalan oleng ke pohon beringin tak jauh darinya, muntah. Hendrik yang mengetahui penyakit putra keduanya langsung menarik tangan Diana dan memberinya isyarat mata pada sopirnya agar mengajak Kenneth pergi dari area pemakaman. Sang supir pun menghampiri Kenneth tanpa menyentuhnya. Dia sudah mengetahui penyakit yang dideritanya. Kenneth pun berjalan sempoyongan tanpa dipapah sopir dan Valery menatapnya dengan kening mengerut. Dia baru menyadari keberadaan Kenneth, Valery mengabaikannya setelah sampai di rumah duka. Valery hendak mengejar Kenneth tapi ayahnya menahannya dengan memegang tangannya. "Tapi, papi?" ucap Valery dengan nada setengah berbisik. Kata anak haram membuat hati Valery tak enak. Apalagi Valery sudah mengabaikannya tak hanya satu jam tapi 3 jam. Kenneth pun dipermalukan oleh ibu mertuanya di hadapan banyak orang. Ada rasa iba menggelayut dalam hatinya. "Jangan sekalipun menampakkan diri di hadapanku. Kau pikir bisa mendapatkan semua yang dimiliki putraku. Meskipun sudah berhasil menikahi Valery. Jangan harap kau bisa memilikinya. Sialan! dasar tidak tahu diri!" Diana mencaci maki Kenneth yang mulai menjauhi mereka dan Hendrik sedikit kewalahan. Diana yang dikenalnya sangat santun terbawa emosi karena rasa sedihnya dengan kematian putra kesayangannya. "Lepaskan! jangan sentuh aku! kau sudah mencurangi ku dengan membiarkannya menginjakkan kakinya di negara ini. Samuel tidak akan memintanya datang ke sini tanpa persetujuanmu. Aku membencimu!" maki Diana sambil memukul-mukul dada suaminya. Semua pelayat yang masih berada di area pemakaman dibuat terkejut oleh keberadaan putra Hendrik dari wanita selingkuhannya. "Valery! segera bercerai dengannya!" ucap Diana. "Apa?!" dengan ekpresi kaget. Dalam satu hari Valery mendengar dua orang yang membahas perceraian di hari pertama pernikahannya.Untuk sepersekian detik, mereka saling beradu pandang. Tatapan itu seolah menusuk sampai ke jantungnya. "deg deg deg!" Sekali lagi, Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Netra cantik itu tak hanya menusuk tapi membuat tubuhnya bergetar. Hebatnya, meskipun jantungnya tidak baik-baik saja. Sesuatu luar biasa yang sulit dimengerti Kenneth dirasakan.Perasaan aneh mengusik hatinya, sebuah ketertarikan yang tidak tiba-tiba saja mengusiknya. Perasaan yang tidak seharusnya, mengingat Valery gadis yang dicintai saudaranya."Apa kau sudah selesai?" sebuah tanya terlontar manis dari mulutnya. Tanpa mengubah posisinya, terkesan santai. "deg!" Kenneth langsung bersikap salah tingkah karena merasa tercyduk sedang memperhatikan Valery yang tertidur. Kenneth dengan cepat berdiri karena rasa malu yang luar biasa. Ditambah lagi Valery malah menatapnya seolah mengintimidasinya.."Jangan salah faham! a-aku tidak bermaksud..." ucapnya terkesan canggung..
Kenneth berjalan mondar-mandir di depan ranjang, sesekali menatap pintu ruang walk in closed yang di masuki Valery. Kenneth sedikit terusik dengan prasangka Valery yang menganggapnya pria penyuka sesama jenis. Sungguh, sebagai pria sejati dia tidak menerimanya. Tapi, bagaimana caranya meralat ucapannya tadi "tenang saja aku tidak suka disentuh wanita." Tidak salah juga Valery salah faham, siapapun akan menganggapnya seperti yang dipikirkan Valery. "Hais! kenapa lagi aku malah berbicara seperti itu pada Valery?" ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kenneth tidak memiliki kepercayaan diri untuk terbuka mengenai trauma yang dideritanya pada orang asing. Baginya Syndrome Haphephobia yang dianggapnya penyakit terberat tidak mudah dibagikan pada orang lain. "Hais, kenapa lagi aku malah mengatakan itu?" gerutunya. Tatapan tajamnya tertuju ke arah Valery yang keluar dari ruang walk in closed. Matanya tidak mampu berkedip, Valery mengenakan baju tidur tipis terbuat da
Valery duduk membeku di kursi belakang, dia tidak pulang bersama kedua orang tuanya. Supir yang membawa Kenneth menjemputnya. Kenneth meminta Valery pulang ke mansion yang seharusnya Samuel dan Valery tempati setelah menikah. Valery sedikit dongkol dengan keputusan Kenneth. Bisa-bisanya Kenneth masuk tanpa ijin ke mansion mereka. "Sungguh tidak tahu malu!" gerutunya sambil mendengus kesal. Beribu kalimat makian sudah berbaris di kepalanya yang akan meledak saat berhadapan dengan Kenneth. "Pantas saja Mami Diana memakinya agar tidak bermimpi bisa mengambil semua yang dimiliki Samuel. Ternyata kau memang berniat melakukannya, bermula dengan menikahi ku. Jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan hatiku meskipun menikahi ku! Kenneth, dasar pria menyebalkan!" gerutunya berakhir umpat. Mobil pun sampai di mansion, Valery langsung turun kemudian berjalan cepat memasuki mansion. Catherine Wilson, kepala pelayannya langsung menghampiri Valery. "Di mana dia?" tanya Valery sambil
"Ikrar pernikahan terlontar dari mulut kami. Sang penghulu mengesahkan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepukan tangan terdengar bergemuruh dari para tamu undangan. Tapi, bukannya senyum bahagia yang terlukis di bibirku. Melainkan isak tangis yang tertahan dengan rasa sesak dalam rongga dadaku. Butiran-butiran air mata tak berhenti melintasi kedua pipiku. Menangisi takdir yang Tuhan berikan, menikah dengan pria lain. Pria asing yang saat ini berdiri angkuh di sampingku. Seharusnya bukan dia yang menjadi suamiku. Sungguh kepalaku terasa meledak saat memikirkannya." Setelah akad pernikahan selesai, Valery tidak membuka veil yang menutupi seluruh wajahnya. Meskipun para tamu undangan mengucapkan selamat dan penasaran ingin melihat paras cantik pengantin wanitanya. Valery tidak mengetahui kehebohan para tamu saat pengantin pria muncul. Mereka mengetahui Samuel yang akan menjadi suaminya. Tapi, malah pria lain. Meskipun begitu tidak ada seorang pun yang mempertanyak
"Takdir, sungguh aku tidak memiliki kuasa mengalahkannya. Betapa menyakitkan tapi harus ku telan meskipun pahit." Valery berjalan lemah menuju ke hadapan seorang pria yang baru saja bertemu dengannya. Pria yang seharusnya menjadi saksi pernikahannya dengan kekasihnya. Pria yang seharusnya bertepuk tangan setelah Samuel dan dirinya mengucapkan ikrar pernikahan. Kenneth Liam, pria tampan yang memiliki wajah serupa dengan kekasihnya menatapnya dingin. Pria itu tak jauh berbeda dengan Valery, terpaksa harus berdiri di depan penghulu dan para tamu undangan sebagai pasangan pengantin. Satu jam sebelumnya, Di salah satu hotel bintang lima, diselenggarakan pesta pernikahan putri satu-satunya pengusaha kaya Johan Albert, pemilik perusahan "Zoraya Albert" yang bergerak di bidang fashion berupa sepatu dengan merk ternama "Zora". Gadis itu bernama Valerie Albert. Calon pengantin pria pun seorang pengusaha muda bernama Samuel Liam, penerus perusahaan "Benicnus Zero Style" yang bergera