Home / All / TURUN RANJANG / TURUN RANJANG 2

Share

TURUN RANJANG 2

Author: Lysta
last update publish date: 2026-04-06 13:12:16

"Ikrar pernikahan terlontar dari mulut kami. Sang penghulu mengesahkan bahwa kami sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tepukan tangan terdengar bergemuruh dari para tamu undangan. Tapi, bukannya senyum bahagia yang terlukis di bibirku. Melainkan isak tangis yang tertahan dengan rasa sesak dalam rongga dadaku. Butiran-butiran air mata tak berhenti melintasi kedua pipiku. Menangisi takdir yang Tuhan berikan, menikah dengan pria lain. Pria asing yang saat ini berdiri angkuh di sampingku. Seharusnya bukan dia yang menjadi suamiku. Sungguh kepalaku terasa meledak saat memikirkannya."

Setelah akad pernikahan selesai, Valery tidak membuka veil yang menutupi seluruh wajahnya. Meskipun para tamu undangan mengucapkan selamat dan penasaran ingin melihat paras cantik pengantin wanitanya.

Valery tidak mengetahui kehebohan para tamu saat pengantin pria muncul. Mereka mengetahui Samuel yang akan menjadi suaminya. Tapi, malah pria lain. Meskipun begitu tidak ada seorang pun yang mempertanyakannya. Entahlah?

Beberapa jam kemudian,

Penyelenggara acara pun mempersingkat waktu. Acara pernikahan hanya sampai ikrar pernikahan setelah itu dibubarkan dengan berita duka mengenai meninggalnya Samuel.

Valery langsung mengganti gaun pengantinnya menjadi gaun serba hitam. Valery masih berada di hotel, mereka berencana langsung ke rumah duka.

Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Valery keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kacamata hitam. Rambutnya yang panjang diikat seadanya, Valery tidak lagi memikirkan penampilannya. Kedua ujung krudung hitam tipis model pasmina melingkari lehernya, kegunaannya hanya sebagai penutup kepalanya saja.

"Jangan pernah berharap jika aku akan seperti suami pada umumnya," ucap seseorang yang dari tadi menunggunya keluar dari ruang ganti pakaian.

Valery menatap pria menyebalkan yang satu jam lalu menjadi suaminya.

Kenneth dalam posisi duduk dengan salah satu kaki menyilang. Dia sudah berganti pakaian serba hitam. Valery tidak melihat dengan jelas wajahnya sejak dia berdiri di sampingnya. Kedua matanya tertutup veil dan sekarang kacamata hitamnya.

Berbeda dengan Kenneth yang sama-sama menatapnya tajam. Dingin, angkuh dan tentunya menyebalkan. Sungguh Kenneth berbanding terbalik dengan kakaknya, Samuel. Valery mengenal baik Samuel yang ramah, berbicara halus dan bersikap hangat. Tapi, Kenneth? sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

"Tentu saja aku tidak mengharapkan mu sejauh itu. Aku bersedia menikah denganmu karena wasiat Samuel. Alasan lainnya karena aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku dirundung malu dengan kegagalan pernikahanku," balas Valery dengan nada dingin.

Kenneth pun berdiri sambil menyunggingkan senyuman sinisnya, "baiklah, aku jadi tenang mendengarnya."

Valery menatapnya dalam diam, dosa apa yang telah dia perbuat hingga mendapatkan kutukan semacam ini. Sudah dipisahkan dengan kekasihnya di hari pernikahan mereka malah mendapatkan gantinya model Kenneth.

"Kenapa? apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Kenneth dengan sikap gaya bicaranya yang menyebalkan.

"Baiklah, mari kita sepakati pernikahan ini sesuai dengan kepentingan masing-masing!" balas Valery sambil mengangkat sedikit wajahnya dengan angkuh.

"Lagian, siapa yang mau memiliki suami seperti mu. Jika Samuel tidak memintaku menikah denganmu. Sudah aku tolak mentah-mentah," gerutunya dengan nada pelan dan bibir cemberut.

Kenneth tersenyum tipis mendengarnya.

"Bersabarlah! hanya butuh satu tahun kita menjalin hubungan suami istri. Setelah itu kita bercerai," ucapnya.

"Hais! baru beberapa jam menikah sudah membahas perceraian. Dasar pria menyebalkan," gerutunya lagi masih dengan ekpresi yang sama.

Bukan tanpa alasan Kenneth memberinya waktu setahun.

Beberapa jam yang lalu,

Kenneth berada di salah satu kamar hotel tempat diselenggarakannya pernikahan Samuel yang merupakan saudara seayahnya. Kenneth terlahir dari hubungan gelap dan menetap di Amerika. Dia tidak diakui sebagai putra dari keluarga Liam meskipun nama sang ayah tercantum di ujung namanya.

Sebenarnya Kenneth bersedia datang bukan sekedar memenuhi undangan Samuel. Perusahannya diambang kebangkrutan karena monopoli Diana istri syah ayahnya yang tidak menginginkan Kenneth lebih unggul dari putranya.

Diana melakukan apapun untuk menjatuhkan Kenneth. Tapi, Samuel yang memiliki penyakit kanker lambung stadium akhir dan penyakitnya menyebar hingga sering mengalami gangguan di jantungnya. Hingga dia memutuskan melakukan negosiasi dengan Kenneth agar mau menikahi Valery gadis yang dicintainya jika tiba-tiba saja meninggal baik itu sudah menikahinya atau belum.

Samuel sudah menyiapkan surat wasiat dan perjanjian dalam jangka waktu satu tahun semua aset berpindah ke tangan Kenneth dengan syarat sudah menikahi Valery.

Kenneth tidak menyangka jika Samuel akan meninggal di hari pernikahnnya. Padahal dia memiliki penyakit syndrome yang tidak bisa bersentuhan dengan siapapun meskipun ibunya sendiri karena sebuah peristiwa buruk yang menimpanya saat usianya 9 tahun. Apalagi dengan orang lain.

Kenneth pun mengedipkan kelopak matanya. Ini pertama kalinya dia melihat wajah Valery tanpa veil meskipun kedua matanya tertutup kacamata hitam.

Kenneth tidak menampik, kekasih kakaknya berwajah cantik. Tapi, dia langsung berdiri kemudian melangkah ke arah pintu.

"Ayah dan ibu mu sudah lebih dulu ke rumah duka. Jangan biarkan saudaraku menunggu mu lama!" ucap Kenneth sambil membuka pintu mempersilahkan Valery ke luar kamar.

"Jangan mengejekku! dalam situasi buruk ini terdengar tidak lucu!" gerutunya.

"Aku tidak mengejekmu, bukannya kau hendak menemui kakakku? meskipun hanya tinggal jasadnya..." sanggah Kenneth tanpa merasa bersalah sedikitpun.

"Kau...!" bentaknya dengan tangan hendak memukul dada Kenneth.

Kenneth reflek menjauhinya dan Valery menarik tangannya. Dia tidak mau membuang waktunya untuk sesuatu yang tidak penting. Valery pun melengos ke luar kamar dengan sikap dinginnya.

Sesampainya di rumah duka,

Kediaman Liam dipenuhi para pelayat. Valery di dampingi ibunya setelah turun dari mobil memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat peti berisi jasad Samuel.

Air matanya sudah berjatuhan di sepanjang perjalanan menuju rumah duka. Semakin deras lagi saat langkahnya semakin mendekati jasad Samuel.

Valery berdiri membeku saat melihat Samuel yang tertidur di dalam peti dengan wajah memucat. Baginya pemandangan ini bagaikan mimpi.

Semalam mereka melakukan panggilan video call. Valery tidak melihatnya menahan sakit. Samuel terlihat segar dan bugar. Selama ini dia terlihat segar. Makanya Valery heran, bisa-bisanya Samuel didiagnosa kanker lambung dan meninggal karena serangan jantung.

"Samuel," panggilnya dengan bibir bergetar tangannya meraih tangan Samuel yang dingin. "Jangan bercanda, bangun Samuel! aku ada di sini," ucapnya.

"Di akhir napasnya hanya namamu yang dia panggil. Putraku yang malang," ucap Diana, ibu kandung Samuel. "Maafkan putraku, Valery! dia sudah merahasiahkan penyakitnya. Samuel tidak ingin membuatmu sedih."

"Tapi, justru aku lebih sedih lagi dengan cara seperti ini mami," balas Valery. "Jika saja aku mengetahui Samuel sakit. Aku akan selalu menemaninya sepanjang waktu. Aku..." ucapnya tersendat karena tangisannya yang tak mampu dia tahan.

Diana memeluk Valery, keduanya menangis mengungkapkan kesedihannya. Diana sangat menyayangi Valery seperti putrinya sendiri.

Beberapa jam kemudian,

Acara pemakaman pun dilaksanakan, lagi-lagi Valery melupakan Kenneth. Setelah sampai di rumah duka, Valery tidak sedikitpun menjauh dari jasad Samuel di dalam peti itu.

Valery tak berhenti menangis dan sesekali memegang tangan Samuel sambil mengajaknya berbicara. Kedua orang tua, baik orang tua Samuel maupun Valery tidak melarang Valery berada di dekat jasad Samuel.

Mereka tahu Valery sangat mencintai Samuel, mereka memberinya kesempatan bersama Samuel di hari terakhir jasadnya di bumi ini.

Setelah Samuel di makamkan meninggalkan gundukan tanah merah. Valery duduk bersimpuh di pusaran Samuel bersama Diana. Kedua wanita itu yang paling terpukul atas kematian Samuel.

"Ayo kita pulang!" ajak Hendrik Liam, ayah Samuel pada istrinya sambil mengulurkan tangannya. Diana pun meraihnya kemudian berdiri.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Diana nada setengah berteriak. Tatapannya penuh kebencian.

Valery menoleh ke arah pria yang berdiri tak jauh dari pusaran Samuel.

"Pelan kan suaramu, sayang!" ucap Hendrik.

"Apa kau yang memintanya datang?" tanya Diana sambil menarikan tangannya hingga terlepas kasar.

"Samuel yang memintanya datang," jawab Hendrik.

"Jadi, kau sudah mengetahui. Anak haram ini ada di sini?" ucapnya setengah berteriak.

Kata anak haram tercetus begitu saja dari mulut Diana membuat Valery, Albert dan Zoraya menatap ke arah Kenneth.

"Aku tidak mengijinkan mu tinggal di negara ini. Juga berada di sini. Segera angkat kaki dari sini!" usirnya dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah gerbang masuk TPU.

"Sayang, bagaimana pun Kenneth saudara satu-satunya Samuel. Dia berhak..."

"Tutup mulutmu! aku tidak sudi anak haram ini menyentuh pusaran putraku. Meskipun dia putra biologis mu tapi dia anak hasil hubungan gelap dengan wanita penggoda itu. Pergi dari sini!" tolaknya sambil berteriak lagi mengusir Kenneth.

"Tapi, Kenneth tidak bisa meninggalkan negara ini. Samuel memintanya menggantikannya menjadi suami Valery dan mereka sudah..." terang Hendrik membuat Diana membulatkan matanya.

"Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Diana pada Valery dibalas anggukan kepala.

Diana pun melangkah dengan cepat ke arah Kenneth. Tamparan keras pun menghantam pipinya. Kenneth yang sejak tadi memilih diam meskipun Diana memakinya dengan sangat sarkas.

Langsung oleng bahkan hendak muntah setelah dia ditampar Diana. Wajahnya langsung memucat, keringat dingin membasahi keningnya. Bukan tamparan Diana yang menyakitinya tapi sentuhan tangannya di pipinya yang membuat perutnya mual dan gelisah.

"Cukup sayang!" ucap Hendrik saat Diana hendak mendekati Kenneth dan menamparnya lagi. Dia kesal karena Kenneth malah berjalan oleng ke pohon beringin tak jauh darinya, muntah.

Hendrik yang mengetahui penyakit putra keduanya langsung menarik tangan Diana dan memberinya isyarat mata pada sopirnya agar mengajak Kenneth pergi dari area pemakaman. Sang supir pun menghampiri Kenneth tanpa menyentuhnya. Dia sudah mengetahui penyakit yang dideritanya.

Kenneth pun berjalan sempoyongan tanpa dipapah sopir dan Valery menatapnya dengan kening mengerut. Dia baru menyadari keberadaan Kenneth, Valery mengabaikannya setelah sampai di rumah duka.

Valery hendak mengejar Kenneth tapi ayahnya menahannya dengan memegang tangannya.

"Tapi, papi?" ucap Valery dengan nada setengah berbisik. Kata anak haram membuat hati Valery tak enak.

Apalagi Valery sudah mengabaikannya tak hanya satu jam tapi 3 jam. Kenneth pun dipermalukan oleh ibu mertuanya di hadapan banyak orang. Ada rasa iba menggelayut dalam hatinya.

"Jangan sekalipun menampakkan diri di hadapanku. Kau pikir bisa mendapatkan semua yang dimiliki putraku. Meskipun sudah berhasil menikahi Valery. Jangan harap kau bisa memilikinya. Sialan! dasar tidak tahu diri!" Diana mencaci maki Kenneth yang mulai menjauhi mereka dan Hendrik sedikit kewalahan.

Diana yang dikenalnya sangat santun terbawa emosi karena rasa sedihnya dengan kematian putra kesayangannya.

"Lepaskan! jangan sentuh aku! kau sudah mencurangi ku dengan membiarkannya menginjakkan kakinya di negara ini. Samuel tidak akan memintanya datang ke sini tanpa persetujuanmu. Aku membencimu!" maki Diana sambil memukul-mukul dada suaminya.

Semua pelayat yang masih berada di area pemakaman dibuat terkejut oleh keberadaan putra Hendrik dari wanita selingkuhannya.

"Valery! segera bercerai dengannya!" ucap Diana.

"Apa?!" dengan ekpresi kaget.

Dalam satu hari Valery mendengar dua orang yang membahas perceraian di hari pertama pernikahannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 12

    Kenneth melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sepulang dari TPU, Kenneth bersama sekretaris James dan pengacara Yerik di ruang kerja. Di perjalanan pulang pun, Kenneth tidak berbicara sepatah katapun. Meskipun beberapa kali melirik Valery yang terlihat kedinginan. Mereka basah kuyup, sialnya di mobil tidak ada baju ganti. Payung yang seharusnya menghindarkannya dari hujan tidak berfungsi malah ditinggalkan begitu saja di area pemakamanl. Kita kembali ke Kenneth yang berdiri menatap Valery. Seperti biasa, Valery tidur nyenyak. Padahal beberapa jam lalu terlihat menangis dan sedih di pemakaman Samuel. Moodnya cepat berubah. “Gadis aneh,” gumamnya. Kenneth pun memutar hendak ke sofa. Dia masih belum nyaman tidur bersama Valery. Kenneth memilih tidur di sofa, di manapun Kenneth tidur asalkan satu kamar dengan Valery mencegah kecurigaan mata-mata Samuel melapor ke pengacara Yerik mengenai hubungan mereka. “Jangan tinggalkan aku, Samuel!” Valery mengigau sambil menangis. “Aku tida

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 11

    “deg deg deg!” Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang, reaksi dari pelukan Valery. Tak hanya memeluknya, Valery tanpa ragu membenamkan wajahnya meminta perlindungan dari rasa takut suara petir yang bergemuruh keras. Kenneth diam membeku keningnya mengerut, Kenneth merasa aneh. Biasanya, saat orang lain menyentuhnya. Kepalanya langsung pusing, pandangannya menggelap, keringat dingin bercucuran dan perutnya mual. Akal sehatnya pun menghilang, dalam benaknya terlintas ketiga pria sedang menyentuhnya. Kenneth seolah sedang mengalami kejadian buruk itu. Reaksi ekstrim itu tidak Kenneth rasakan. Padahal Valery memeluknya dengan erat membuat getaran hebat yang Kenneth pahmi. Air liurnya Tiba-tiba memproduksi lebih banyak membuat kerongkongannya bergerak menelannya. Kenneth tidak menyalahkan Valery ketakutan karena curah hujan semakin deras disertai kilatan petir bersama gemuruhnya yang keras. Sikap yang wajar. "Kenapa aku baik-baik saja padahal Valery memelukku?" ucap batin

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 10

    “Perkenalkan saya Agustinus pengacara yang diutus Nyonya Diana mengurus proses perceraian Nona Valery dengan Tuan Kenneth,” ucapnya sambil menaruh berkas di atas meja depan Valery. Mereka duduk saling berhadapan. Sebelumnya, setelah Valery keluar dari kamarnya. Pengacara itu sudah menunggunya di ruang tamu. “...meskipun pernikahanku dengan Kenneth atas permintaan Samuel. Tanpa sepengetahuan Mami Diana. Tapi, melakukan perceraian dalam waktu yang dekat rasanya kurang tepat. Apalagi, kami masih dalam kondisi berduka,” balas Valery. “Selaku pengacara saya memberi kewenangan pada Nona mengenai kesiapan proses perceraian. Tapi, Nyonya Diana menekankan batas waktu pada Nona paling lama 6 bulan ke depan. Saya datang kesini bertujuan melengkapi dokumen-dokumen penting untuk prosesnya,” jawabnya. Valery pun berdiri karena arah pembicaranya terkesan menekan. Apalagi, pengacara Agustinus menyampaikan batas waktu yang diberikan Diana. Valery bukan boneka yang bisa dimainkan dan diatur i

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 9

    “Aku bisa jelas…” ucap Valery dengan bibir nyengir sambil mengangkat kedua tangannya. Valery tidak menyadari dadanya semakin menekan membuat Kenneth merasakan klenger aneh. Dua benda kenyal yang dimiliki Valery mengusiknya. Kenneth secepat kilat menggulingkan tubuh Valery ke sampingnya dengan kasar. Valery menjerit kecil. Meski sudah menebak reaksinya tetap saja dia kaget. “brugh!” Suara punggung Valery jatuh ke permukaan ranjang sangat keras. “Euuh…” Valery mengaduh. Kenneth dengan cepat turun dari ranjang, tubuhnya sedikit oleng. Kenneth seharusnya tidur karena dosis obat penenang mengharuskannya tidur. Tapi terbangun oleh mimpi buruk dan reaksi alami adanya Valery di dekatnya. “Lain kali, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Kenneth menggerutu sambil melangkah seperti orang mabuk. “Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” gumam Valery mengulangi ucapan Kenneth. Matanya langsung membulat, setelah memahami makna ucapannya. Valery pun menengadahkan wajahnya me

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 8

    James dengan cepat menghampiri Kenneth. James melihat tangannya menjadikan kursi sebagai sandarannya. Wajahnya memucat, sorot matanya terlihat prustasi, Kenneth bahkan terlihat kesulitan bernafas. Catherine sudah diberitahu Samuel, adiknya memiliki sindrom yang tidak memperbolehkannya menyentuhnya. Catherine terlihat kebingungan.James yang sudah terbiasa menghadapi Kenneth saat sindrom-nya kambuh. Dengan cepat membuka penutup botol obat yang digenggamnya.“Ini obatnya, Pak!” ucap James sambil menyodorkan botol obat yang sudah terbuka tutupnya.Kenneth membuka telapak tangannya, James dengan cepat mengeluarkan beberapa pil ke tangannya. Catherine dengan cepat menaruh botol mineral di kursi. Catherine sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kenneth tanpa ada sentuhan saat situasinya genting. Kenneth dengan tangan bergetar menenggak pil tersebut. Kemudian meneguk air dalam botol mineral. Baik James dan Catherine hanya menatapnya penuh iba. Kondisi Kenneth terlihat mengkhawatirkan.“Sebaik

  • TURUN RANJANG   TURUN RANJANG 7

    Valery berlari ke arah taman area samping mansion. Dia berhenti tepat di depan rumpun bunga mawar yang baru kuncup. Valery masih teringat saat pertama kalinya Samuel membawanya ke mansion, diulang tahunnya 3 bulan yang lalu. Kejutan ulang tahunnya yang ke-23 tahun sekaligus lamaran. Kedua kaki Valery mendarat di aspal jalan depan teras mansion dengan kedua mata tertutup kain. Samuel menutupnya dengan kain hitam itu sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mension dari rumahnya. Jangan tanya bagaimana debaran jantung yang Valery rasakan, berdetak sangat kencang. Setiap ulang tahun Samuel selalu memberinya kejutan yang luar biasa. Tapi, kali ini lebih mengejutkan. "Apa aku boleh membukanya?" tanya Valery dengan jantung berdetak kencang. Tangannya memegang tali yang terikat di belakang kepalanya. Tangan Samuel mendarat di kedua bahunya. Kemudian berbisik, "belum saatnya, baby." Samuel berada tepat di belakangnya. Jantun Valery semakin tidak aman. Kala dada Samuel menemp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status