LOGINValery duduk membeku di kursi belakang, dia tidak pulang bersama kedua orang tuanya. Supir yang membawa Kenneth menjemputnya. Kenneth meminta Valery pulang ke mansion yang seharusnya Samuel dan Valery tempati setelah menikah.
Valery sedikit dongkol dengan keputusan Kenneth. Bisa-bisanya Kenneth masuk tanpa ijin ke mansion mereka. "Sungguh tidak tahu malu!" gerutunya sambil mendengus kesal. Beribu kalimat makian sudah berbaris di kepalanya yang akan meledak saat berhadapan dengan Kenneth. "Pantas saja Mami Diana memakinya agar tidak bermimpi bisa mengambil semua yang dimiliki Samuel. Ternyata kau memang berniat melakukannya, bermula dengan menikahi ku. Jangan pernah bermimpi kau akan mendapatkan hatiku meskipun menikahi ku! Kenneth, dasar pria menyebalkan!" gerutunya berakhir umpat. Mobil pun sampai di mansion, Valery langsung turun kemudian berjalan cepat memasuki mansion. Catherine Wilson, kepala pelayannya langsung menghampiri Valery. "Di mana dia?" tanya Valery sambil memasang raut wajah emosi. "Tuan Kenneth, ada di kamar..." jawab Catherine. "Jangan bilang dia berada di kamar kami?" potong Valery sambil berjalan cepat menaiki anak tangga. Catherine tidak mencegahnya karena di luar kapasitasnya. Baik Valery maupun Kenneth keduanya Tuan di mansion itu. Perlu diketahui, Samuel sudah memberitahu Catherine. Jika hal buruk terjadi padanya, Catherine harus menghormati Kenneth yang akan menjadi Tuan-nya menggantikannya. Catherine tidak menyangka jika hal buruk itu terjadi seminggu setelah Samuel membicarakan perihal itu dengannya. Catherine mengira Samuel hanya sebatas khawatir karena rasa sayangnya pada Valery. Samuel tidak mempercayai pria lain menjaga Valery jika dia tidak bisa menjaganya. Dia hanya mempercayai adiknya. Kembali ke Valery yang berjalan cepat ke kamar utama. Kamar yang seharusnya menjadi tempat malam pengantinnya bersama Samuel. Wajahnya memerah karena marah. Baginya, Kenneth masuk ke area mansion saja sudah dianggapnya tidak memiliki sopan santun karena tidak meminta ijin dulu padanya. Apalagi masuk ke dalam kamar yang diharamkan bagi orang luar memasukinya, kecuali pelayan yang ditugaskan membersihkan kamar itu. "brak!" Valery mendorong pintu dengan keras, Hingga terbuka lebar. "Siapa yang mengijinkanmu tidur di sini?" teriak Valery sambil berjalan cepat penuh emosi menghadap Kenneth yang terbaring di kasur. Valery melihat kelopak-kelopak mawar merah berserakan di lantai. 2 handuk yang dibentuk angsa pun tergeletak tak berdaya di lantai. Perlu diketahui, kamar itu sengaja dihias bernuansa serba merah muda. Terlihat beberapa lilin beraroma terapy di taruh di beberapa pojok, kelopak-kelopak bunga mawar yang bisa dibayangkan berbetuk love di atas kasur dan 2 handuk kecil yang dibentuk angsa dengan paruh merapat hingga bagian tengah membentuk love. Tapi, pemandangan itu raib karena di rusak Kenneth. Sungguh, Valery sangat kesal. Dia tidak akan sekesal itu jika Kenneth masuk ke kamar lain. Jika Kenneth tidak menyentuh barang-barang di kamarnya bersama Samuel. "Hais, bisakah sebentar saja tidak berisik?" keluh Kenneth sambil duduk di tepi kasur dan memijit-mijit pelipisnya. Bukannya minta maaf sudah merusak hiasan kasur pengantin malah menyalahkan Valery yang berisik. "Seharusnya aku yang memintamu agar tidak membuatku berisik!" sanggah Valery. "Kau masuk ke mansion kami tanpa ijinku. Tak hanya itu, kau masuk ke kamar dan merusak yang seharusnya tidak boleh disentuh," tambahnya. "Ah, kau marah karena aku merusak kelopak-kelopak bunga di atas kasur ini? sungguh kekanak-kanakan. Bukannya kau tidak akan menghabiskan malam pengantin kalian?" jawab Kenneth sambil menatap kelopak-kelopak bunga malang yang berserakan di lantai. "Ah, jangan-jangan kau berpikir ingin aku menggantikan saudaraku menghabiskan malam..." Kenneth malah asal bicara, tidak sedikitpun rasa bersalah. "Hais! tidak tahu malu. Buang rasa percaya dirimu itu! siapa yang berniat menghabiskan malam dengan pria menyebalkan sepertimu," gumamnya sambil membuang wajahnya ke lain arah. Kenneth tersenyum tipis mendengarnya, ucapannya sedikit menggores hatinya. Tapi, untuk apa dia sakit hati. Bukanya pernikahannya bersama Valery hanya bertujuan mendapatkan kesepakatannya dengan Samuel. "Kau bertanya siapa yang mengijinkanku masuk ke mansion ini?" ucap Kenneth sambil menatap ke lembaran berkas di atas nakas. Valery mengambilnya dengan cepat. Kenneth, Mulai hari ini, kau salah satu pewarisku. Semua aset yang aku miliki berpindah tangan padamu. Tapi, kau hanya menjadi pewaris dalam masa percobaan. Setelah satu tahun menikah dengan Valery Albert, kuasa hukum ku akan mengesahkanmu sebagai pemilik perusahaan, properti dan semua aset yang ku miliki. "Di lembaran berikutnya terlampir semua asetku." Jika ada yang tidak menerima keputusan ku dalam surat ini. Mintalah bantuan pada kuasa hukum ku "Renaldi Matthew" dia yang akan mengurusnya. Keputusan ini di berlaku sejak tanggal 9 April 2026 dan akan dilakukan pengesahan secara hukum setahun terhitung dari hari pernikahan mu dengan Valery. Samuel Liam. Tubuh Valery langsung oleng setelah membaca surat pernyataan dari Samuel. Dia tidak menyangka jika Samuel menyerahkan mansion mereka agar dimiliki olehnya bersama Kenneth. Mansion hadiah dari Samuel tapi sekarang berada di atas tanggung jawab Kenneth sebagai penggantinya. Mansion beralih menjadi properti Kenneth. "Apa kau sekarang mengerti, aku memiliki hak atas mansion ini. Aku berhak masuk ke kamar lain ataupun kamar ini," ucap Kenneth sambil tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan di mansion ini!" balas Valery sambil menaruh berkas di tangannya kemudian berjalan cepat ke arah pintu. "Bukannya kau sekarang istriku?" ucap Kenneth membuat Valery menghentikan langkahnya tapi tidak berbalik. Kenneth berdiri kemudian berjalan ke arah Valery dengan perlahan. Dia menatap punggung gadis itu. "Bukannya kita sudah sepakat akan bekerjasama sesuai dengan kepentingan masing-masing? aku membutuhkan status sebagai suami mu selama satu tahun. Jadi, bertahanlah selama itu! hanya 1 tahun," ucapnya sambil melintasi Valery kemudian menutup pintu dengan rapat membuat Valery mundur. "Samuel menugaskan mata-mata di sekitar kita terutama di sini. Aku tidak tahu siapa yang dipercayanya mengawasi kita. Kepala pelayan itu atau pelayan lain. Samuel akan membatalkan hak warisnya padaku. Jika kita tidak menjalin hubungan yang harmonis sebagai pasangan suami istri." Kenneth menatap tajam Valery yang menyilangkan kedua tangannya di depan dada-nya. "Jangan pernah bermimpi aku akan membiarkan mu menyentuh ku!" balas Valery sambil menatapnya waspada. Kenneth pun tersenyum sinis sambil melangkah perlahan ke arah Valery yang spontan mundur hingga punggungnya merapat di dinding. Kenneth tidak mengerti, dia yang memiliki trauma tidak bisa bersentuhan dengan orang lain selalu spontan menjaga jarak jika orang lain mendekatinya. Tapi kali ini, Kenneth malah mendekati Valery yang mendaratkan kedua tangannya di dadanya karena Kenneth mencondongkan tubuhnya ke arahnya berniat membisikan sesuatu. Kenneth tidak bereaksi seperti yang biasa dia lakukan saat orang lain menyentuhnya, tanpa dia sadari. "Jangan khawatir! aku tidak menyukai sentuhan wanita," bisiknya kemudian mundur menjauhi Valery. "Apa?! kau tidak menyukai wanita? jadi kau penyuka... " balas Valery setengah berteriak. Kenneth yang memiliki harga diri tinggi tidak mau memberitahu traumanya, dia memejamkan matanya. Kenneth tidak terima Valery salah faham dengan ucapannya. "Bu-bukan itu maksudku," balas Kenneth. Valery tertawa lepas, dalam hatinya bersorak senang setelah mendengar pengakuan Kenneth. Pantas saja Samuel rela membiarkan adiknya menjadi penggantinya. Ternyata Kenneth memiliki kelainan seksual. Valery juga faham, kenapa Kenneth muntah saat ditampar ibu mertuanya. Bisa saja Kenneth jijik bersentuhan dengan wanita meskipun istri ayah biologisnya. "Jangan salah faham menilai ku karena ucapanku tadi, aku...," protes Kenneth. "Tidak perlu malu! tenang saja aku orang yang bisa diajak kerjasama. Aku akan menutup rapat mulutku," balas Valery sambil menggerakkan jemari tangannya seperti menutup resleting dari ujung bibir kirinya ke kanannya. "Bu-bukan seperti itu..." "Tidak perlu membahasnya lagi! aku faham. Bajuku sudah bau oleh keringat, aku ingin mandi dan berganti pakaian. Tidak perlu khawatir, ok!" ucap Valery sambil melintasinya berniat menepuk bahunya tapi mengurungkannya. Valery hanya mengangkat tangannya dengan bibir tersenyum kemudian memasuki ruang walk in closed. "Hais! dia salah memahami ucapanku. Tunggu! dia mengira aku penyuka sesama jenis?" ucapnya sambil menatap pintu ruangan yang dimasukin Valery dengan wajah frustasi. "Shiit!" umpatnya.Kenneth melangkahkan kakinya memasuki kamar. Sepulang dari TPU, Kenneth bersama sekretaris James dan pengacara Yerik di ruang kerja. Di perjalanan pulang pun, Kenneth tidak berbicara sepatah katapun. Meskipun beberapa kali melirik Valery yang terlihat kedinginan. Mereka basah kuyup, sialnya di mobil tidak ada baju ganti. Payung yang seharusnya menghindarkannya dari hujan tidak berfungsi malah ditinggalkan begitu saja di area pemakamanl. Kita kembali ke Kenneth yang berdiri menatap Valery. Seperti biasa, Valery tidur nyenyak. Padahal beberapa jam lalu terlihat menangis dan sedih di pemakaman Samuel. Moodnya cepat berubah. “Gadis aneh,” gumamnya. Kenneth pun memutar hendak ke sofa. Dia masih belum nyaman tidur bersama Valery. Kenneth memilih tidur di sofa, di manapun Kenneth tidur asalkan satu kamar dengan Valery mencegah kecurigaan mata-mata Samuel melapor ke pengacara Yerik mengenai hubungan mereka. “Jangan tinggalkan aku, Samuel!” Valery mengigau sambil menangis. “Aku tida
“deg deg deg!” Kenneth merasakan jantungnya berdetak kencang, reaksi dari pelukan Valery. Tak hanya memeluknya, Valery tanpa ragu membenamkan wajahnya meminta perlindungan dari rasa takut suara petir yang bergemuruh keras. Kenneth diam membeku keningnya mengerut, Kenneth merasa aneh. Biasanya, saat orang lain menyentuhnya. Kepalanya langsung pusing, pandangannya menggelap, keringat dingin bercucuran dan perutnya mual. Akal sehatnya pun menghilang, dalam benaknya terlintas ketiga pria sedang menyentuhnya. Kenneth seolah sedang mengalami kejadian buruk itu. Reaksi ekstrim itu tidak Kenneth rasakan. Padahal Valery memeluknya dengan erat membuat getaran hebat yang Kenneth pahmi. Air liurnya Tiba-tiba memproduksi lebih banyak membuat kerongkongannya bergerak menelannya. Kenneth tidak menyalahkan Valery ketakutan karena curah hujan semakin deras disertai kilatan petir bersama gemuruhnya yang keras. Sikap yang wajar. "Kenapa aku baik-baik saja padahal Valery memelukku?" ucap batin
“Perkenalkan saya Agustinus pengacara yang diutus Nyonya Diana mengurus proses perceraian Nona Valery dengan Tuan Kenneth,” ucapnya sambil menaruh berkas di atas meja depan Valery. Mereka duduk saling berhadapan. Sebelumnya, setelah Valery keluar dari kamarnya. Pengacara itu sudah menunggunya di ruang tamu. “...meskipun pernikahanku dengan Kenneth atas permintaan Samuel. Tanpa sepengetahuan Mami Diana. Tapi, melakukan perceraian dalam waktu yang dekat rasanya kurang tepat. Apalagi, kami masih dalam kondisi berduka,” balas Valery. “Selaku pengacara saya memberi kewenangan pada Nona mengenai kesiapan proses perceraian. Tapi, Nyonya Diana menekankan batas waktu pada Nona paling lama 6 bulan ke depan. Saya datang kesini bertujuan melengkapi dokumen-dokumen penting untuk prosesnya,” jawabnya. Valery pun berdiri karena arah pembicaranya terkesan menekan. Apalagi, pengacara Agustinus menyampaikan batas waktu yang diberikan Diana. Valery bukan boneka yang bisa dimainkan dan diatur i
“Aku bisa jelas…” ucap Valery dengan bibir nyengir sambil mengangkat kedua tangannya. Valery tidak menyadari dadanya semakin menekan membuat Kenneth merasakan klenger aneh. Dua benda kenyal yang dimiliki Valery mengusiknya. Kenneth secepat kilat menggulingkan tubuh Valery ke sampingnya dengan kasar. Valery menjerit kecil. Meski sudah menebak reaksinya tetap saja dia kaget. “brugh!” Suara punggung Valery jatuh ke permukaan ranjang sangat keras. “Euuh…” Valery mengaduh. Kenneth dengan cepat turun dari ranjang, tubuhnya sedikit oleng. Kenneth seharusnya tidur karena dosis obat penenang mengharuskannya tidur. Tapi terbangun oleh mimpi buruk dan reaksi alami adanya Valery di dekatnya. “Lain kali, jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!” Kenneth menggerutu sambil melangkah seperti orang mabuk. “Mencuri kesempatan dalam kesempitan,” gumam Valery mengulangi ucapan Kenneth. Matanya langsung membulat, setelah memahami makna ucapannya. Valery pun menengadahkan wajahnya me
James dengan cepat menghampiri Kenneth. James melihat tangannya menjadikan kursi sebagai sandarannya. Wajahnya memucat, sorot matanya terlihat prustasi, Kenneth bahkan terlihat kesulitan bernafas. Catherine sudah diberitahu Samuel, adiknya memiliki sindrom yang tidak memperbolehkannya menyentuhnya. Catherine terlihat kebingungan.James yang sudah terbiasa menghadapi Kenneth saat sindrom-nya kambuh. Dengan cepat membuka penutup botol obat yang digenggamnya.“Ini obatnya, Pak!” ucap James sambil menyodorkan botol obat yang sudah terbuka tutupnya.Kenneth membuka telapak tangannya, James dengan cepat mengeluarkan beberapa pil ke tangannya. Catherine dengan cepat menaruh botol mineral di kursi. Catherine sudah mempersiapkan semua kebutuhan Kenneth tanpa ada sentuhan saat situasinya genting. Kenneth dengan tangan bergetar menenggak pil tersebut. Kemudian meneguk air dalam botol mineral. Baik James dan Catherine hanya menatapnya penuh iba. Kondisi Kenneth terlihat mengkhawatirkan.“Sebaik
Valery berlari ke arah taman area samping mansion. Dia berhenti tepat di depan rumpun bunga mawar yang baru kuncup. Valery masih teringat saat pertama kalinya Samuel membawanya ke mansion, diulang tahunnya 3 bulan yang lalu. Kejutan ulang tahunnya yang ke-23 tahun sekaligus lamaran. Kedua kaki Valery mendarat di aspal jalan depan teras mansion dengan kedua mata tertutup kain. Samuel menutupnya dengan kain hitam itu sebelum mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mension dari rumahnya. Jangan tanya bagaimana debaran jantung yang Valery rasakan, berdetak sangat kencang. Setiap ulang tahun Samuel selalu memberinya kejutan yang luar biasa. Tapi, kali ini lebih mengejutkan. "Apa aku boleh membukanya?" tanya Valery dengan jantung berdetak kencang. Tangannya memegang tali yang terikat di belakang kepalanya. Tangan Samuel mendarat di kedua bahunya. Kemudian berbisik, "belum saatnya, baby." Samuel berada tepat di belakangnya. Jantun Valery semakin tidak aman. Kala dada Samuel menemp






