LOGINSuasana pagi di selasar kantor pusat tidak lagi sama bagi Malikha. Bisikan-bisikan halus yang semula hanya terdengar di sudut-sudut sepi, kini mulai berani menampakkan diri lewat tatapan mata para staf. Laras telah melepaskan racunnya dengan sangat rapi. Tidak ada konfrontasi terbuka, tidak ada tuduhan kasar. Yang ada hanyalah senyuman penuh simpati yang justru mengunci pergerakan Malikha.
Di ruang santai divisi sosial, Laras sedang berkumpul dengan beberapa istri
Layar gawai di tangan Reyhan masih menyala, menampilkan foto tangkapan layar yang menyudutkan harga dirinya sebagai mantan pimpinan. Rahang pria itu mengeras, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sempat padam kembali membakar batinnya saat melihat betapa keji cara Om Burhan memutarbalikkan fakta kepindahan mereka."Ini sudah keterlaluan, Malikha," ucap Reyhan, suaranya bergetar menahan geram. Ia langsung berdiri dari kursi kayu, meraih kunci kendaraan di atas meja. "Aku tidak bisa tinggal diam di sini. Aku akan datang ke rumah Om Burhan malam ini juga. Aku akan menuntut penjelasan atas fitnah foto dan kutipan ini sebelum reputasi keluarga kita semakin hancur di mata dewan."Malikha ikut berdiri, namun ia tidak menghalangi langkah suaminya dengan kepanikan fisik. Dengan gerakan yang tenang, Malikha melangkah mendekat, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan pandangan yang amat te
Pagi yang dingin menyambut kepindahan mereka ke rumah lama di pinggiran kota. Bangunan beratap rendah itu terasa sangat sepi dibanding apartemen mereka yang modern, namun kehangatan kecil sudah terpancar di dalamnya. Malikha bergerak lincah menata dua cangkir teh hangat di atas meja kayu yang agak kusam, sementara Reyhan sibuk menyapukan sapu ke sudut-sudut lantai yang berdebu."Mas Reyhan, duduk dulu," panggil Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk suaminya. "Pekerjaan ini bisa dilanjutkan nanti. Mas baru saja menata kardus-kardus berat sejak subuh tadi."Reyhan menghentikan gerakannya, lalu mengusap keringat di dahi dengan ujung lengan bajunya. Pria itu tersenyum tipis, menatap Malikha dengan tatapan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya."Aku hanya ingin rumah ini nyaman untukmu, Malikha," ucap Reyhan sembari menarik kursi di seberang istrinya, menjaga jarak adab yang s
Malam semakin larut di ruang tengah apartemen yang mulai tampak lengang. Kardus-kardus penataan barang untuk kepindahan esok hari sudah menumpuk di dekat pintu. Reyhan terduduk di atas lantai beralaskan kain tipis, jemarinya memegang isolasi perekat dengan gerakan yang terhenti. Di hadapannya, Malikha sedang mengemas beberapa buku agama dan draf catatan pribadi ke dalam wadah yang lebih kecil."Mas Reyhan, tolong tatap saya," panggil Malikha dengan suara yang teratur, amat teduh namun menyimpan ketegasan yang tak bisa ditawar.Reyhan mendongak, mendapati pandangan istrinya yang begitu jernih. "Ada apa, Malikha? Jika kamu merasa lelah, biarkan aku yang menyelesaikan sisa kardus ini. Kamu harus beristirahat untuk kepindahan kita besok pagi.""Bukan masalah kelelahan fisik yang ingin saya bicarakan, Mas," tutur Malikha sembari meletakkan buku di tangannya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menjaga jara
Suara gesekan sendok dan piring kaca mengalun pelan di ruang makan apartemen. Di atas meja kayu, hidangan makan malam sederhana berupa tumis sayur dan tahu goreng tersaji tanpa kemewahan. Tidak ada kabar dari sekretariat dewan, tidak ada laporan korporasi yang menumpuk di samping laptop, dan tidak ada lagi panggilan darurat yang biasa memburu Reyhan setiap jam.Reyhan duduk bergeming, memegangi garpunya dengan tatapan yang menerawang jauh ke luar jendela. Wajah pria itu tampak letih, gurat ketegangan di dahinya mencerminkan runtuhnya beban harga diri yang selama ini ia pikul. Surat keputusan pencopotan sementara dirinya sebagai CEO Al-Fahri dari dewan komisaris utama masih tergeletak kaku di meja kerja sekunder, seolah menjadi monumen kekalahannya yang paling nyata."Mas Reyhan, makanannya dingin nanti," tegur Malikha lembut, memecah kesunyian yang sempat membeku di antara mereka.Reyhan tersentak kecil, lalu menoleh menatap istrinya. Ia berusaha menyunggingkan
Telepon dari Pak Maman terputus dengan menyisakan ketegangan baru yang merayap di ruang tengah apartemen. Reyhan menatap gawai di tangannya dengan rahang yang mengeras, sementara Malikha mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak berpacu cepat. Ancaman dari utusan Paman Arkan kepada saksi kunci mereka adalah bukti nyata bahwa kubu lawan tidak akan pernah membiarkan kebenaran terungkap dengan mudah."Kita harus berangkat sekarang, Malikha," ucap Reyhan, suaranya terdengar mendesak saat ia mengambil kunci mobil di atas meja pantry. "Aku tidak bisa membiarkan keselamatan Pak Maman terancam karena membantu kita. Aku akan membawa tim keamanan pribadi untuk mengamankan draf buku manual biru itu sebelum orang-orang Paman Arkan merebutnya secara paksa."Malikha segera berdiri dan melangkah ke hadapan Reyhan, menghalangi langkah suaminya dengan kelembutan yang tegas. "Mas Reyhan, tolong tahan dir
Pagi hari di luar jendela apartemen tampak mendung, namun di dalam ruang tengah, Malikha sibuk menata beberapa lembar draf kertas di atas karpet. Meskipun statusnya masih dibekukan secara permanen dari divisi sosial kantor pusat, ia menolak untuk sekadar meratapi nasib. Masa skorsing ini justru digunakannya sebagai kesempatan berharga untuk bergerak secara mandiri tanpa terikat oleh birokrasi Al-Fahri yang sedang dikuasai faksi Laras.Reyhan berjalan mendekat membawa secangkir kopi, lalu duduk bersila di samping istrinya. Matanya menatap tumpukan catatan tulisan tangan Malikha yang sangat rapi. Ada rasa kagum sekaligus sesak di dadanya melihat wanita itu tetap tegar di tengah badai fitnah yang menimpanya."Kamu tidak beristirahat, Malikha?" tanya Reyhan, suaranya melembut, penuh dengan perhatian hangat yang tulus. "Kamu sudah terjaga sejak sebelum subuh untuk merapikan semua draf kronologi ini.""
Ketenangan yang baru saja dirasakan Malikha di lantai lima tidak bertahan lama. Di lantai paling atas gedung pencakar langit ini, sebuah badai yang jauh lebih besar dan merusak sedang dipersiapkan untuk menghancurkan hidupnya dan juga Reyhan.Ibu Karina, salah satu petinggi perusahaan sekaligus mus
Malikha bukanlah wanita yang pasrah begitu saja saat diinjak. Kata-kata penyemangat dari Reyhan di dalam lift kemarin sore menjadi bahan bakar yang membakar keberaniannya. Didorong rasa kesal sekaligus ingin membuktikan dirinya tidak bersalah, Malikha langsung bergerak taktis sejak pagi buta.Atas
Sebagai karyawan baru di divisi administrasi lantai lima, Malikha benar-benar menjaga janjinya. Tidak ada yang tahu jika wanita berhijab sederhana itu adalah istri sah dari CEO tertinggi di gedung ini. Namun, menyamar menjadi orang biasa ternyata mengundang badai yang tidak terduga.Sejak hari pert
Ketegangan di ruang tamu rumah sederhana itu membuat dada Malikha terasa sesak. Di hadapannya, sang ibu tiri bersama saudara tirinya menatap dengan pandangan menuntut yang begitu dingin."Jangan egois, Malikha! Keluarga kita sedang terlilit utang besar. Menikah dengan pria pilihan Ibu adalah satu-s







