ログインMalam pasca-penemuan detail bayangan di pantulan kaca itu berganti menjadi pagi yang dingin. Di ruang kerja CEO, Reyhan menatap gawai pribadinya dengan gelisah. Tangannya beberapa kali mengetuk meja, menahan dorongan kuat dalam dirinya untuk memanggil kepala divisi hukum kantor dan mengusut tuntas siapa pengawas keuangan yayasan yang memegang akses ruang galeri lama. Sebagai laki-laki dan pemimpin perusahaan, dia memiliki kuasa penuh untuk memotong masalah ini sekarang juga.
Keheningan setelah badai adalah jenis sunyi yang paling menyakitkan. Di dalam apartemen, sisa-sisa kegagalan semalam masih terasa pekat. Ruang tengah yang biasa hangat kini terasa asing. Malikha duduk bersimpuh di atas sajadah, setelah menyelesaikan rangkaian salat Tahajud yang panjang. Ggawai yang memuat berita pembekuan akses mereka tergeletak mati di atas meja. Konflik batin yang mendalam sempat membuat napasnya sesak, namun air mata yang luruh di atas kain suci perlahan membawa ketenangan yang berbeda.Reyhan mendatangi Malikha dengan langkah lambat. Pria itu baru saja selesai membasuh wajahnya, namun gurat frustrasi akibat kehilangan jabatan CEO dan bukti-bukti penting tidak bisa disembunyikan. Kehancuran reputasi mereka di depan dewan komisaris membuat egonya sebagai pria runtuh seutuhnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada tepi ranjang di dekat sajadah istrinya."Aku masih belum bisa menerima caramu mengalah semalam, M
Malam acara syukuran puncak dewan keluarga Al-Fahri menjadi panggung keruntuhan yang paling dingin. Syarat kejam dari Tante Rania belum sempat dinegosiasikan ulang ketika takdir memukul dari arah yang sama sekali tidak terduga. Hubungan administrasi mendadak kacau. Reyhan, yang malam itu seharusnya mendampingi Malikha di aula utama, tertahan di luar kota. Penerbangan terakhirnya dibatalkan sepihak akibat cuaca buruk, sementara jalur darat menuju ibu kota terputus total oleh longsor jalur sekunder.Di dalam aula, perangkap sosial yang disiapkan Cynthia bekerja dengan akurasi mematikan. Jalur logistik katering yang dipegang relawan kecil pilihan Malikha mendadak dihentikan di gerbang luar oleh oknum keamanan dewan komisaris dengan alasan surat izin fisik yang kedaluwarsa. Akibatnya, saat ratusan tamu kehormatan dan kolega bisnis utama dewan keluarga duduk di meja masing-masing, hidangan utama tidak pernah keluar."Mana tanggung
Fajar menyingsing dengan sisa-sisa ketegangan malam yang belum sepenuhnya luruh. Di dapur apartemen, Malikha berdiri membelakangi meja pantry, menatap dua cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Konflik batin yang mengendap setelah pertengkaran beradab semalam membuatnya terjaga lebih awal. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, batinnya justru kian kukuh. Sebagai wanita yang memegang teguh prinsip, ia menolak pasrah pada draf skenario pemecatan Reyhan yang disiapkan oleh komite hukum keluarga.Reyhan keluar dari kamar dengan langkah perlahan, penampilannya tampak sedikit kusut. Pria itu menghentikan langkah di ambang pintu pantry, menatap Malikha dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah. Jarak yang membentang di antara mereka setelah semalam tidur terpisah terasa canggung, namun kehangatan personal itu tidak benar-benar hilang."Tehnya sudah saya siapkan, Mas," ucap Malikha lembut, memecah keheningan tanpa ada nada ke
Ketegangan yang merayap dari ruang sekretariat keluarga Al-Fahri akhirnya menembus dinding pertahanan apartemen. Malam itu, draf jadwal palsu yang menginstruksikan Malikha hadir sebagai pelayan konsumsi panti asuhan di bagian belakang gedung bocor ke tangan Reyhan melalui seorang staf logistik yang masih bersimpati. Penemuan itu memicu badai baru di ruang tengah. Dua ego yang terbentuk dari latar belakang berbeda kini bertemu dalam satu titik jenuh yang pekat.Reyhan berdiri di dekat meja makan, melempar kertas draf tersebut dengan gestur kecil yang sarat akan kekecewaan. "Cynthia sudah menginjak-injak martabatmu keterlaluan, Malikha! Mereka ingin menaruhmu di dapur belakang seperti pembantu di depan seluruh dewan komisaris besok malam. Aku tidak peduli dengan masa skors jabatanku. Besok pagi aku akan membawa seluruh relawan pria dari kantor pusat untuk menghentikan paksa pasokan katering faksi mereka. Kita harus membalas secara tegas dan instan!"
Kertas penunjukan Cynthia sebagai ketua panitia pengganti yang tertempel di papan pengumuman itu terasa seperti tamparan yang membekukan darah. Malikha menatap tanda tangan Oma Aisyah dengan dada yang sesak. Konflik batin yang hebat berkecamuk di dalam dirinya; bukan karena dia gila jabatan atau takut kehilangan muka di hadapan para sepupu, melainkan karena kecewa bahwa ketulusan dan kejujuran yang dia perjuangkan selama ini belum cukup untuk meruntuhkan dinding prasangka di keluarga Al-Fahri.Reyhan yang berdiri di sampingnya mengepalkan tinju dengan rahang mengeras. Efek dari skors jabatannya membuat pria itu tidak bisa berbuat banyak di ranah formal kantor pusat. Namun, melihat istrinya berdiri diam menatap bukti pengkhianatan sistemis itu, egonya sebagai suami bergejolak hebat."Oma tidak mungkin melakukan ini tanpa manipulasi tingkat tinggi dari Om Burhan, Malikha," ucap Reyhan, suaranya berat dan bergetar menahan amarah
Surat skors tiga hari untuk jabatan CEO Reyhan yang dibacakan Tante Rania semalam menyisakan keheningan yang pekat di apartemen mereka. Namun, kejutan luar biasa datang ketika matahari baru saja terbit. Hendra tiba di apartemen dengan membawa draf dokumen audit eksternal yang di luar dugaan menunjukkan keabsahan penuh atas dana santunan yang dikelola Malikha. Tidak hanya itu, salah seorang sesepuh dewan keluarga yang paling disegani, Om ikhsan, menelepon langsung untuk menyatakan dukungannya setelah meneliti laporan keuangan manual Malikha."Ini secercah harapan yang besar, Malikha," ucap Reyhan, wajahnya yang semula tegang kini mengendur dengan seulas senyuman manis yang jarang terlihat dalam beberapa hari ini. "Dukungan Om Ikhsan dan berkas dari Hendra ini membuktikan bahwa integritas kita tidak bisa dipatahkan oleh dokumen setengah milik Tante Rania. Kita mulai bisa mengendalikan arah sidang pleno besok."Malikha yang sedang menyeduh kopi hangat untuk suaminya, ikut merasakan beban
Getaran ponsel di atas meja makan apartemen meredakan ketegangan sesaat, namun tidak dengan badai batin yang sedang berkecamuk di dada Malikha. Pesan darurat dari Hendra mengenai pergerakan faksi lawan di kantor membuat Reyhan harus menunda argumennya. Namun, begitu jam dinding menunjukkan pukul
Sajadah hijau tua itu masih tergelar di lantai kamar utama. Malikha melipat mukena putihnya perlahan, mencoba meredam debaran jantungnya. Di atas meja ruang tamu, serpihan kertas kontrak yang dihancurkan Reyhan sudah dibersihkan, tetapi dampaknya baru benar-benar nyata subuh ini. Mereka kini adal
Berkat rekaman suara digital yang dibawa oleh Malikha, nama baik Reyhan Al-Fahri bersih seketika. Pihak berwajib langsung membatalkan seluruh tuduhan dan membebaskan sang CEO muda dari masa penahanan singkatnya. Tuduhan kriminal itu kini sepenuhnya berpindah ke balik jeruji besi tempat Ibu Karina m
Rasa sedih dan air mata Malikha telah mengering, berganti menjadi keberanian yang membakar dada. Didorong oleh rasa cinta yang baru dia sadari dan rasa bersalah karena membuat Reyhan mengorbankan diri, Malikha bertransformasi. Dia bukan lagi karyawan biasa yang bisa diintimidasi. Demi menyelamatkan







