Share

Peringatan!

Author: Yoru Akira
last update Last Updated: 2025-09-29 11:03:29

Lastri berjalan di depan, sesekali menoleh memastikan Cempaka tetap mengikutinya.

"Kita lewat jalur tikus ke arah pasar. Jangan lewat jalan utama, banyak serdadu pagi-pagi begini," bisik Lastri.

"Dan lagi, kemungkinan bertemu para abdi dalem lebih besar," imbuhnya dengan nada yang masih bergetar.

Bagaimanapun, apa yang dilakukan Cempaka semalam adalah tanggung jawabnya juga. Kesalahan yang dilakukan Cempaka, juga merupakan kesalahan yang harus ia tanggung.

Jika terjadi hal buruk pada tuan yang dilayaninya, ia juga akan mendapat akibatnya.

Sebisa mungkin, Lastri harus menghindari hal yang lebih buruk terjadi.

"Ayo, Den Ayu. Lebih cepat. Matahari semakin tinggi."

Cempaka mengangguk. Selendang batik yang menutupi gaun renda putihnya ia tarik lebih rapat, khawatir kain itu tersibak angin dan menyingkap aib.

Lebih mengkhawatirkan lagi, jika ada seseorang yang mengenali siapa dirinya. Tentu bukan hal baik, jika seorang Raden Ayu anak Bupati Aryatedjo terlihat keluyuran dengan pakaian yang dianggap tabu.

"Lebih cepat, Den."

Dari kejauhan terdengar teriakan para kuli pelabuhan, bercampur bunyi roda gerobak yang berderit membawa peti-peti berisi hasil bumi.

Aroma cengkeh, kopi, dan tembakau bercampur menjadi satu—hasil perdagangan yang membuat kota ini ramai, sekaligus menjadi magnet para kompeni.

Pasar pagi mulai ramai. Perempuan-perempuan pribumi berbalut kebaya lusuh duduk di tikar, menawarkan sayur dan rempah.

Di sisi lain, pedagang Tionghoa berteriak menawarkan kain dan peralatan dapur. Cempaka menunduk dalam-dalam, tak ingin wajahnya dikenali oleh siapa pun.

Setelah hampir setengah jam berjalan, gerbang kaputren akhirnya terlihat dari kejauhan. Dinding temboknya tinggi, berlapis cat putih yang mulai pudar, dan di atasnya berkibar bendera merah-putih-biru milik Hindia Belanda.

Di sisi gerbang berdiri dua penjaga: satu pria pribumi dengan ikat kepala hitam, dan satu lagi lelaki Belanda berseragam, lengkap dengan senapan bahu.

Jantung Cempaka berdegup tak karuan. Ia tahu setiap tamu yang masuk akan diperiksa, bahkan untuk dirinya sekalipun. Statusnya sebagai putri bangsawan memang memberi keleluasaan, tapi pakaian yang ia kenakan sekarang—dan keadaan dirinya—bisa menimbulkan pertanyaan yang tak sanggup ia jawab.

Lastri memperlambat langkah, lalu berbisik, “Den Ayu, biar saya yang bicara. Kalau ditanya, kita bilang semalam Den Ayu tidur di rumah kerabat di kampung seberang kali.”

Cempaka hanya bisa mengangguk, meski kerongkongannya terasa kering.

Ketika mereka tiba di hadapan gerbang, penjaga pribumi memberi hormat, sementara mata si serdadu Belanda mengamati mereka dari ujung kepala hingga kaki. Pandangan matanya singgah terlalu lama pada gaun renda putih yang terintip di balik selendang batik Cempaka.

“Ke mana kalian pergi sepagi ini?” tanya penjaga pribumi dengan suara datar, meski nadanya penuh rasa ingin tahu.

Lastri tersenyum tipis. “Kami dari rumah Bulik saya, Ndoro. Den Ayu sakit kepala semalam, jadi saya bawa beliau menginap di sana, jauh dari hiruk pikuk.”

Penjaga pribumi mengangguk singkat, tapi serdadu Belanda itu mencondongkan tubuhnya sedikit. Ia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Belanda, nadanya seperti bertanya-tanya, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Cempaka meremang.

Lastri menarik lengan Cempaka halus tapi mantap, mengajaknya melangkah masuk. Begitu mereka berada di dalam tembok kaputren, Cempaka baru berani menghela napas panjang. Namun, rasa lega itu tak sepenuhnya datang.

Karena di ujung halaman dalam, ia melihat sosok tua berkain songket dan berkebaya hitam—Nyai Rengganis, kepala pengawas kaputren—berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Sorot matanya tajam seperti pedang.

Lastri berbisik pelan, “Gusti... sepertinya beliau sudah menunggu.”

Cempaka menggenggam erat selendang batiknya, seakan kain itu bisa melindungi semua rahasia yang nyaris terbongkar di gerbang tadi. Tapi ia tahu, langkah berikutnya di halaman kaputren ini mungkin akan lebih sulit daripada melewati penjaga luar.

*/*/

Langkah Cempaka terasa berat ketika ia dan Lastri melintasi halaman dalam kaputren. Lantainya berlapis batu andesit dingin yang sedikit licin oleh embun pagi.

Pohon sawo kecik berjajar rapi di tepi jalur setapak, namun keindahan itu tak mampu menenangkan hati Cempaka yang berdegup semakin kencang.

Nyai Rengganis berdiri di bawah pendopo kecil, kebaya hitamnya terpasang rapi, selendang songket emas tersampir di bahu. Usianya sudah lanjut, tapi tubuhnya tegak, matanya tajam seperti menembus lapisan hati.

“Den Ayu...” suaranya lirih namun cukup untuk memotong udara pagi yang tenang.

Lastri menunduk dalam-dalam. “Nyai...”

“Pergi. Biarkan aku berbicara dengan Den Ayu,” ujar Nyai Rengganis tanpa menoleh ke arah Lastri. Nada bicaranya bukan permintaan, melainkan perintah yang tak bisa dibantah.

Lastri mengangkat wajah sebentar, menatap Cempaka dengan kekhawatiran yang jelas, lalu mundur perlahan meninggalkan mereka berdua.

Cempaka menelan ludah. “Nyai, saya—”

“Diam.” Nyai Rengganis melangkah mendekat. Tatapannya turun ke gaun renda putih yang masih mengintip di balik selendang batik. “Pakaian itu... bukan pakaian yang pantas dikenakan seorang putri bangsawan yang tinggal di kaputren.”

Cempaka menunduk. “Saya hanya—”

“Tidak ada hanya,” potong Nyai Rengganis.

“Pagi ini, penjaga gerbang melaporkan padaku bahwa kau datang dari luar sebelum matahari benar-benar tinggi. Dan kau tahu apa artinya?

"Mata di luar tembok ini melihatmu. Lidah-lidah mereka akan bekerja lebih cepat dari kaki kuda."

Udara terasa lebih berat. Cempaka mencoba mengatur napas, tapi rasa bersalahnya terlalu besar.

Nyai Rengganis mendekatkan wajahnya, suaranya menurun namun semakin menusuk, “Apakah kau lupa, Den Ayu? Dalam tujuh hari lagi, kau akan duduk bersanding dengan Raden Adipati Wiratama, bupati wilayah sebelah yang telah dipilih oleh keluargamu.

"Itu bukan sekadar pernikahan. Itu persekutuan antara darah bangsawan dengan kekuasaan."

Cempaka menggenggam ujung selendangnya erat-erat. “Saya tidak lupa, Nyai...”

“Kalau begitu, jaga dirimu. Jagalah kehormatan yang sudah dijaga ketat sejak kau lahir. Sekali saja kau membuat noda, bukan hanya kau yang hancur, tapi nama besar keluargamu akan tercoreng. Mengerti?”

Cempaka mengangguk pelan, meski hatinya terasa diremas.

Nyai Rengganis menarik napas dalam, lalu berujar dengan nada lebih dingin,

“Aku takkan bertanya di mana kau berada semalam. Tapi aku akan memperhatikanmu lebih dekat mulai hari ini.

"Tidak ada lagi izin keluar tanpa sepengetahuanku. Tidak ada lagi alasan untuk bertemu dunia luar, apalagi para serdadu atau siapa pun yang kau temui di luar tembok istana."

Kata terakhir yang terucap dengan penekanan membuat darah Cempaka serasa berhenti mengalir sesaat. Apakah Nyai Rengganis tahu?

“Sekarang, pergilah ke bilikmu. Bersihkan diri. Dan... berdoalah agar apa pun yang terjadi semalam tidak meninggalkan bekas yang akan dibicarakan orang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pelabuhan Terakhir

    Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Badai Telah Berlalu

    Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan di Meja Makan

    Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pasar Malam

    Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Rahasia Pieter

    Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan Dua Perempuan

    Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status