LOGIN
Ia terbangun telanjang dalam pelukan seorang Belanda—padahal seminggu lagi ia akan dinikahkan dengan seorang bangsawan pribumi.
Tubuh wanita itu menggeliat, kepalanya berat seakan dihantam palu. "Ugh..." Berkas cahaya mentari pagi menembus celah kisi-kisi jendela kayu yang catnya mulai mengelupas. Warnanya pudar, tak lagi jelas apakah coklat atau kusam. Debu berterbangan, menari dalam sinar tipis itu sebelum jatuh tepat di wajah Cempaka. Gadis itu tersentak bangun, napasnya terhenti ketika sadar dirinya tengah terperangkap dalam lingkar lengan kekar seorang pria. "Astaga..." serunya tertahan, tapi tubuhnya langsung menegang. Ia beringsut menjauh, namun kain seprai tipis yang menutupi mereka terlepas, memperlihatkan tubuhnya yang tak berbalut sehelai kain pun. Jantungnya berdegup kencang, telinganya terasa panas. Sebuah denyut nyeri menyambar kepalanya—sisa mabuk semalam—membuat langkahnya terhuyung saat meraih baju yang teronggok kusut di lantai papan. Di antara lipatan kain, secarik kartu kecil tergeletak—lambang pelabuhan tercetak buram di sudutnya. Jantung Cempaka berhenti. Pegawai… Pelabuhan? Ia kini kembali menatap sosok yang membuat hatinya seketika merasakan jeri. Pria itu, yang kini tidur membelakanginya, memiliki wajah yang tak mungkin dilupakan: garis rahang tegas, hidung mancung seperti pahatan, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Beberapa helai rambut pirang kecokelatan jatuh menutupi matanya yang terpejam. Sepasang bola mata biru cerah yang tampak tajam, tapi seolah menyimpan kekaguman setiap kali bersitatap dengan Cempaka. Semalam. "Apa yang... terjadi semalam?" bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. Kilasan ingatan datang bagai hantaman ombak: dirinya di sebuah warung arak dekat pelabuhan, lampu minyak berkelip, denting gelas bercampur tawa kasar para serdadu. Ia mencoba meneguk minuman pahit itu untuk pertama kali. Lalu... tawa yang berubah kabur, tatapan pria itu yang semakin dekat–Cempaka bahkan tak tahu siapa yang memulai lebih dulu. Hanya ada rasa putus asa bercampur keberanian sesaat ketika ia menenggak arak pahit itu. Selebihnya hanyalah hangat tubuh yang bukan miliknya, ciuman yang membuatnya gemetar, dan kenyataan bahwa ia tidak lagi mampu berkata “tidak.” Cempaka menutup wajah dengan kedua tangannya. “Gusti... aku sudah membuat kesalahan yang takkan diampuni,” gumamnya lirih, hampir menangis. Namun, sudah terlambat menyesalinya sekarang. Ia sendiri yang datang pada pria itu dan meminta untuk membawanya pergi ke warung penjual arak tersebut. Ia sendiri yang datang dengan pikiran konyol bahwa dirinya bisa menentang ucapan sang ayah. Hasilnya? Cempaka tak mau memikirkannya sekarang. Perempuan yang seharusnya berada dalam masa pingitan itu, terlalu malu untuk mengakui kesalahan yang sudah dilakukan. Ia buru-buru mengumpulkan pakaian, lalu mengenakan baju yang dipakainya semalam dengan tangan gemetar. Lantas keluar dari kamar itu tanpa mengatakan apa pun setelah memakai pakaiannya. Bahkan sekadar berpamitan atau mengucapkan selamat tinggal pada pria yang ... Wajah perempuan itu memerah. Ia tak mau mengingat adegan panas yang telah mereka lewati semalam. Langkah Cempaka terseok. Ada nyeri di area kewanitaannya saat ia mencoba berjalan. Ditambah sakit kepala yang tak juga berkurang. Tak ada pamit, tak ada kata apa pun untuk pria itu. Ia melangkah keluar, menahan perih yang terasa di setiap gerakan pahanya. Lorong losmen sempit dan pengap. Bau anyir laut bercampur asap rokok kretek memenuhi udara. Samar-samar Cempaka juga mencium aroma pekat yang berasal dari tubuhnya. Aroma kemalangan atau ... "Jangan pikirkan apa pun! Aku harus segera pergi," bisiknya dengan langkah buru-buru di sepanjang lorong losmen itu. Ia sempat berhenti sejenak. Memasang telinga ketika dari bilik lain terdengar suara langkah berat dan bahasa Belanda yang terdengar keras. Lampu gantung minyak memercikkan nyala kecil saat ia melewatinya. “Apa yang kau harapkan, Raden?” “Aku butuh bantuan, Tuanmu.” Langkah Cempaka berhenti sepenuhnya di balik pintu. Ia seperti pernah mendengar suara pria tersebut, tapi ... di mana? "Sudahlah, bukan urusanmu menguping pembicaraan orang sepagi ini, Cempaka! Kau punya masalahmu sendiri!" Begitu sampai di pintu belakang, seorang gadis muda berwajah tegas dengan kebaya cokelat pudar dan jarik lurik langsung menyongsongnya. Wajahnya pucat, matanya membulat penuh cemas. “Den Ayu... Gusti, apa yang Den Ayu perbuat? Bagaimana bisa sampai di tempat hina ini?” suara Lastri terdengar seperti bisikan marah, tapi juga ketakutan. Cempaka menahan napas, menatap ke kiri-kanan untuk memastikan tak ada mata yang mengintai. “Jangan banyak tanya, Lastri. Kita harus segera pulang. Sekarang.” Lastri mengangguk cepat, lalu mengeluarkan selendang batik dari buntalan di tangannya. “Ini... untuk menutup tubuh Den Ayu. Bajunya—” “Kau bawakan kebaya sutraku?” potong Cempaka terburu-buru. Lastri ragu sejenak, lalu menyerahkan lipatan kain halus berwarna biru muda. Cempaka segera menyampirkan selendang itu di bahu, menutupi gaun putih berenda selutut yang masih melekat di tubuhnya—gaun asing yang ia kenakan semalam untuk menyelinap keluar dari kaputren. Angin laut membawa aroma asin dan sedikit bau amis ikan dari pelabuhan yang tak jauh dari sana. Denting lonceng gereja dari kejauhan menandakan waktu sudah melewati pukul tujuh pagi. Cempaka menarik napas panjang. Minggu depan ia akan menjadi istri seorang pria pilihan keluarganya. Malam yang ia lalui semalam—dengan seorang pria yang mengaku sebagai pelukis—adalah noda yang tak boleh tercium oleh siapa pun. “Ayo, Lastri,” bisiknya, “sebelum ada yang melihat...” Lastri memegang lengannya, membimbingnya menyusuri gang belakang losmen. Langkah mereka cepat, menghindari tatapan para kuli pelabuhan yang sudah sibuk memanggul karung. Cempaka tak menoleh lagi. Ia takut sekali jika sosok lelaki itu muncul di ambang pintu, memanggilnya dengan bahasa yang tak ingin ia dengar lagi.Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba
Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak
Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala
Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re
Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"







